Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Saya pecinta hujan yang mungkin fanatik. Sejak kecil —saya selalu jauh lebih bergembira saat hujan turun, ketimbang saat hari terlihat cerah. Meski hujan membuat jalanan desa menjadi becek dan berlumpur, tapi hujan selalu menjadi peristiwa yang paling menyenangkan perasaan saya. Hujan selalu menjadi perayaan hidup yang paling berlimpah.

Dalam hujan— saya merasa jauh lebih hangat, lebih memiliki dan abadi. Hujan membuat saya mengalami kebahagiaan hidup yang paling tanah, kesenangan-kesenangan yang begitu hijau, keyakinan-keyakinan baru serta sebentuk rasa yang begitu dekat pada perasaan yatim— saat jatuh dalam sendiri.

Hujan adalah kegembiraan yang dekat. Basah sederhana, serta tumbuhnya hati yang begitu tanpa henti. Intinya, saya memang mencintai hujan. Meski seiring dengan jalannya waktu, cinta saya ini pernah menjadi begitu kemarau, terutama ketika perjalanan hari-hari yang saya miliki, membawa saya pada hujan yang sama sekali  lain dari yang saya kenal.

Sebuah hujan ajaib tiba-tiba datang lalu memberi saya situasi tak tertolong. Saya menjelma hujan dan mulai menulis hujan, dan kembali ingat dengan kata-katanya. “Suatu ketika hujan memang membangunkan bumi yang mati. Akan tetapi di waktu yang lain hujan terkadang hanyalah hujan sedang selebihnya adalah awal yang menawan bagi kutukan yang paling mengerikan. Dimana seseorang yang tidak kamu kenal akan menyematkan tanda baru di keningmu sebagai makhluk yang sepenuhnya bukan hanya manusia melainkan juga seekor anjing.

Ini memang aneh. Seseorang yang terbiasa jeli mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana bisa hujan mampu melahirkan anjing?  Keajaiban jaman seperti apa yang sanggup menumbuhkan hujan yang mampu melahirkan anjing? Akan tetapi demi hujan yang paling hujan —kisah hujan yang seperti itu bukanlah kisah hujan yang sama sekali asing, setidaknya bagi saya.

***

Kisah tepatnya begini. Sore itu saya dalam perjalanan memenuhi undangan kawan lama, dan tiba tiba hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Padahal tadinya sebelum berangkat saya lihat langit sangat cerah. Sebab takut hujan saya pun berteduh. Dan kejadian berteduh itulah awal dimana saya sepanjang hidup melihat hujan tumbuh dengan cara paling tidak saya kenali. Saya tentu tidak ingin menjadi anjing. Tapi hujan sore itu, di sore itu telah turun dan melahirkan anjing.Tragisnya anjing adalah itu saya.

Hujan bukan hanya menyeret saya jadi basah tapi juga menyeret saya mengalami sejarah kemakhlukan paling tak terduga. Hujan menyulap saya tidak lagi sekedar manusia, melainkan juga seekor anjing. Persisnya anjing bodoh yang memilukan. Dan di sore itu, diam-diam saya mulai menyesali hujan. “Andai saja sore itu tidak hujan saya pasti tidak akan menjadi anjing”, begitulah sesal saya di batin. “Sebab jika sore itu tidak hujan maka saya pasti tidak akan pernah mengalami sesuatu yang namanya berteduh. Jika saya tidak membuat keputusan berteduh saya pasti tidak akan berlari sepanjang seratus meter untuk kemudian menemukan sebuah bangku panjang di sebuah halte, tempat dimana ia tengah duduk sendirian di sana. Jika saya tidak menemukan bangku panjang itu, saya pasti tidak akan meminta padanya untuk berbagi tempat. Jika saya tidak meminta berbagi tempat saya rasa saya tidak akan menjadi anjing bodoh yang memilukan. Tapi nampaknya penyesalan itu sia-sia dan tidak ada gunanya. Nasi sudah begitu bubur. Semua sudah menjadi basah, dimana pada kenyataannya di sore itu, sebab hujan turun dan sebab takut kedinginan, saya telah memutuskan berteduh di tempat itu, tempat di mana, saya menemukan dia duduk di bangku panjang, yang sebagian sisinya masih kosong.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

“Tentu saja keputusan berteduh, keputusan yang salah, terutama jika yang duduk di bangku itu, bukanlah dia atau setidaknya seluruh sisi bangku telah penuh dengan orang lain. Dengan begitu di sore itu, saya tetap berdiri, dan tidak meminta berbagi bangku padanya.

Cuma kenyataannya di sore itu, saat saya memutuskan berteduh, seseorang yang duduk di bangku itu tidak lain adalah dia sendiri, dimana sisi lain dari bangku panjang itu begitu kosong tanpa siapapun.

Waktu itu saya mungkin akan jauh lebih terselamatkan, jika mata saya jauh lebih awas sehingga bisa mengenali, bahwa yang duduk di bangku itu, bukanlah manusia sembarangan, melainkan sosok mulia yang datang dari negeri yang begitu tinggi.

Sayangnya hujan terlalu lebat. Dan dingin membuat otak saya tidak sanggup bekerja normal sebagaimana biasa. Karena itu saat saya melihat sisi bangku itu masih kosong, saya tidak menyadari apapun, selain dengan penuh tanpa beban meminta ruang untuk berbagi.

“Maaf, bisakah saya ikut numpang duduk di sini?Ucap saya datar. Dia yang duduk di bangku itu diam saja. Saya pun kemudian mengulangi permintaan saya itu.

“Maaf, bolehkah saya ikut numpang berteduh di sini?

Kali ini saya mengucapkan permintaan itu dengan volume suara dua kali lipat jauh lebih keras dari yang awal. Saya pikir ia tidak mendengar permintaan saya sehingga ia diam saja. Tapi hingga saya mengulangi untuk ketiga kalinya, ia tetap diam saja. Melihat dia diam saja,  saya pun kemudian mengambil ruang bangku kosong itu sebagai tempat  duduk di bangku itu.

Baca juga:  Aku Harus Mati Tahun - tahun Ini

Saya berpikir diamnya itu adalah tanda, bahwa ia tidak keberatan jika saya ikut duduk di sana. Tapi semua itu ternyata berbeda dengan yang apa saya pikirkan. Saat saya duduk, ia tiba-tiba membentak saya.

“Anjiinngg, luh!” Siapa yang menyuruhmu duduk di situ? Hah?

“Kau pikir kamu itu  siapa?

“Ngaca dong, ngacaaaa!!

Dibentak begitu rupa, saya tentu saja sangat terkejut. Muka saya terasa panas dan menebal. Seumur-umur saya tidak pernah diperlakukan seperti itu, terlebih dipanggil  “anjing”.

Saya mungkin memang bodoh, terutama untuk soal bangku dan soal kursi. Tapi saya tidak pernah jauh lebih bodoh, untuk mencintai kursi atau bangku itu sebagai tempat tinggal saya, sehingga saya harus mempeributkannya.

Sejak kali pertama saya berniat berteduh dan ingin duduk di situ, sedikit pun tidak terbersit keinginan untuk terus duduk di bangku panjang itu. Terlebih berpikir untuk ikut memiliki salah satu sisinya. Saya hanya berharap saya bisa menumpang sejenak saat hujan begitu lebat. Lalu jika hujan memang telah berhenti, dan saya akan segera pulang.

Tapi, yah begitulah. Dunia memang aneh. Dan hujan pun melahirkan anjing. Buruknya anjing itu bukan siapapun, melainkan diri saya. Dan saya sadar sepenuhnya, di beberapa kasus mungkin terdapat jenis manusia yang layak dipandang sebagai sosok yang “begitu anjing” atau “terlampau anjing”. Akan tetapi menurut saya tetap saja panggilan anjing tidak sepantasnya diberikan pada manusia.

Anjing bagaimana pun juga tetaplah anjing. Manusia bagaimana pun juga tetaplah manusia. Sehebat apapun definisi keanjingan seseorang sesungguhnya tidak bisa menggeser barang satu inci pun keberadaan diri manusia sebagai makhluk yang sejatinya bukanlah anjing.

Jika ada manusia dipanggil anjing, di lain tempat kita pasti akan melihat betapa anjing kemudian dipanggil manusia atau anjing yang begitu dimanusiakan.

Anjing adalah hewan dengan empat kaki, berekor, serta memiliki lidah selalu menjulur, saat hidup manusia masih dihutan. Meski di hari ini orang orang kota juga memelihara anjing. Hanya saja dulu anjing jauh lebih memiliki guna dan tempat. Anjing bahkan kerap dijadikan teman pemburu atau penjaga rumah dianggap baik. Orang-orang kaya, biasa memelihara anjing dengan beragam jenis. Meski belakangan memelihara anjing lebih banyak bermaknakan sekedar untuk kesenangan  sebab kulit dan rupanya yang dipandang lucu, ketimbang memanfaatkan jasanya sebagai pemburu atau penjaga rumah.

Baca juga:  Memorat

Sebab ini di kota-kota banyak festival-festival anjing dalam berbagai pengertian. Mulai dari lucunya, atau pun kepintaran anjing di dalam melakukan gerakan-gerakan yang diperintahkan tuannya. Lebih lanjut ada pula anjing yang menjadi bintang film.

Lama-lama saya menjadi bingung kriteria, ukuran atau batasan sebuah “keanjingan” dan batasan “kemanusiaan”. Apakah keanjingan itu bagian dari kemanusiaan. Atau kemanusiaan itu bagian dari keanjingan.

Saya tidak tahu secara pasti.Yang pasti hujan di sore itu telah mengubah saya menjadi anjing yang paling tak terbayangkan. Di sore yang lain, ia memanggil saya anjing dekil, anjing bodoh, anjing mengenaskan, kadang juga menyebut saya sebagai “anjing murahan”. Sementara di hari yang lain ia memaki saya sebagai anjing tanpa makna.

Panggilan itu, tentu saja seribu kali bukan panggilan yang menyenangkan. Saya pun tidak suka dengan panggilan itu. Akan tetapi begitulah, meski saya tidak suka. dari waktu ke waktu tetap saja, saya mesti terus bersabar saat dengan setia, ia memanggil saya dengan panggilan anjing.

Sikap ketidaksukaan serta perasaan sepenuhnya merasa masih manusia, sepertinya tidak menolong nasib saya  dalam kasus yang ini. Terbukti meski saya telah berulangkali melarangnya memanggil saya anjing, ia bersikukuh memanggil dengan panggilan  “anjing”. Belakangan ia bahkan menambahkan atribut baru pada leher saya dengan menambahkan kata-kata ‘bodoh yang memilukan’ pada panggilan anjingnya.

Saya sepertinya tidak lagi punya pilihan dengan panggilan itu sehingga lambat laun saya pun terbiasa dengan panggilan itu. Lama-lama saya pun  tidak lagi menyadari diri saya sekedar hanya sebagai manusia, melainkan juga sebagai seekor anjing, lengkap dengan berbagai atribut mewah yang ia sematkan dibelakangnya kata anjing yang ia gunakan untuk memanggilku.

Kau adalah anjingku satu satunya. Sebab kau satu satunya kekasihku di muka bumi. Begitulah. dan tiapkali ia bicara seperti itu. Aku selalu kehilangan sisi kemanusiaanku dan duduk sebagaimana seekor anjing.

bedanya sampai hari ini dalam keanjingan yang kumiliki. Aku tetap saja tidak tahu cara menggonggong. Meski tiapkali hari hujan, dan ia duduk di sampingku. Aku acapkali melihat hujan yang rahim dan sunyi. Hujan yang melahirkan anjing. Dan anjing itu tidak lain ternyata adalah aku. Dan demi anjing. Dan dia. Dia kurasa pecinta anjing dan hujan.[].

anjing - Hujan Melahirkan Anjing

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi