Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kisah serangan ke Masjidil Haram pada 1979 yang diarsiteki oleh Juhayman al-Oteibi sebagai titik balik sejarah Arab Saudi. Dan apa kemiripannya dengan agenda al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden hari ini?

Dini hari, 20 November 1979, Pangeran Turki al-Faisal–kepala intelijen Kerajaan Arab Saudi–menerima panggilan dari Raja Khaled, sang penguasa Arab Saudi. Turki sedang di kota Tunis bersama Putra Mahkota Fahd untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab. Saat itu, Turki berusia tigapuluh empat tahun dan tak lama lagi, dia akan menghadapi krisis terbesar dalam sejarah singkat Arab Saudi.

Pada hari itu, imam Masjidil Haram di Mekkah, Syeikh Mohammed al-Subayil, sedang bersiap untuk memimpin sembahyang sekitar 50.000 Muslim yang telah berkumpul untuk hari terakhir ibadah haji. Saat menghampiri mikrofon, dia didorong ke samping dan serentetan tembakan bergema di tempat suci itu. Sehimpunan pemberontak yang berada di antara para jemaah, tiba-tiba mengeluarkan senjata dari balik jubah mereka. Mereka menutup dan merantai gerbang masjid, sehingga memerangkap para jemaah haji di dalam masjid, serta membunuh beberapa orang polisi. “Mohon perhatian, kaum Muslim!” seru seorang lelaki berjanggut lebat yang nampak sangar. “Allahu Akbar! Imam Mahdi telah muncul!”

“Imam Mahdi! Imam Mahdi!” seru para laki-laki bersenjata itu.

Hari itu adalah Tahun Baru Hijriah 1400–sebuah inagurasi berdarah bagi abad baru yang penuh pergolakan. Menurut beberapa tradisi lisan Islam (yang masih diperdebatkan), Imam Mahdi, “Sang Pembimbing”, akan muncul tidak lama sebelum terjadinya kiamat. Konsep mengenai Imam Mahdi adalah hal ihwal yang kontroversial, terutama dalam Islam Wahabi, karena juru selamat itu tak disebutkan dalam al-Qur’an.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Tradisi menyatakan bahwa Imam Mahdi akan muncul dari keturunan Nabi Muhammad dan memiliki nama yang sama dengannya (Mohammad bin Abdullah), dan dia akan muncul saat musim haji.  Pada akhirnya Nabi Isa akan kembali ke mayapada (bumi) dan meminta pengikutnya untuk memeluk Islam. Bersama-sama, Nabi Isa dan Imam Mahdi akan mengalahkan Dajjal (anti-Kristus) dan mengembalikan keadilan dan perdamaian di mayapada.

***

Diceritakan dengan cergas oleh Lawrence Wright, dalam bukunya, Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11 (2006), bahwa lelaki yang mengklaim sebagai Imam Mahdi itu ialah Mohammed Abdullah al-Qahtani, namun pemimpin sesungguhnya dari pemberontakan itu adalah Juhayman al-Oteibi, seorang pendakwah dan bekas kopral di Garda Nasional Arab Saudi. Kedua orang itu pernah dibui karena menghasut pemberontakan, dan pada masa itulah, Oteibi menyatakan bahwa Allah Swt telah menurunkan wahyu kepadanya dalam sebuah mimpi, bahwa Qahtani adalah Imam Mahdi.

Qahtani berhasil diyakinkan oleh mimpi Oteibi bahwa dirinyalah Imam Mahdi. Pasca keduanya ke luar dari penjara, Qahtani menikahi adik Oteibi. Tak lama berselang, mereka mulai menarik pengikut dengan kabar keselamatan mereka, terutama dari kalangan mahasiswa teologi muda di Islamic University di Madinah, yang menjadi pusat radikalisme Ikhwanul Muslimin. Berkat sumbangan dari pengikut yang kaya, para pengikut Oteibi memiliki memiliki senjata lengkap dan terlatih. Beberapa di antara mereka, seperti Oteibi sendiri, adalah anggota Garda Nasional Arab Saudi yang bertanggung jawab melindungi keluarga kerajaan. Tujuan mereka adalah merebut kekuasaan dan menggantinya dengan pemerintah teokrasi, untuk bersiap menghadapi kiamat yang semakin dekat.

Banyak orang yang kaget mendengar dakwah Oteibi dan pengikutnya, yang menentang pemerintahan dengan begitu terbuka. Mereka bahkan menyobek dua uang riyal, karena di lembaran uang itu tercetak gambar raja. Tindakan seperti itu nyaris tidak pernah terjadi di negara yang dikendalikan dengan bagitu ketat; namun demikian, ada keengganan kuat dari pihak pemerintah untuk melakukan konfrontasi dengan ekstremis religius.

Suatu ketika, beberapa orang ulama sempat menanyai Oteibi dan Qahtani untuk menyelidiki apakah mereka telah sesat, tetapi mereka akhirnya dilepaskan. Mereka dipandang sebagai kenangan masa lalu, seperti halnya Ikhwan yang fanatik, pasukan terdepan Raja Abdul Aziz; dan memang, Oteibi adalah cucu salah seorang Ikhwan. Tak ada yang mengira bahwa mereka akan membawa bahaya nyata bagi pemerintahan saat itu.

Tepat sebelum para pemberontak itu memotong kabel telepon, seorang karyawan organisasi bin Laden, yang saat itu sedang merenovasi Masjidil Haram, menelepon markas besar perusahaan dan melaporkan peristiwa yang telah terjadi; seorang wakil perusahaan kemudian memberi tahu Raja Khaled.

Baca juga:  Budak, Perempuan, Non-Muslim

Turki berangkat dari Tunis dan tiba di Jeddah pada pukul sembilan malam. Dia mengemudikan sendiri mobilnya ke Mekkah. Seluruh kota telah dievaluasi dan jalanan tampak lengang dan mencekam. Lampu stadium besar yang biasanya menerangi masjid raksasa itu telah dipadamkan, beserta semua daya listriknya, sehingga bangunan itu nampak laiknya bayangan gunung. Turki menuju ke sebuah hotel tempat pamannya, Pangeran Sultan yang menjadi menteri pertahanan, sedang menunggunya. Selagi Turki memasuki hotel itu, terdengar sebuah tembakan dari penembak jitu pemberontak di menara masjid. Tembakan itu menghancurkan pintu kaca yang sedang dipegang Turki.

Larut malam itu, Turki pindah ke pos komando yang berjarak seratus meter dari masjid dan dia akan tetap berada di sana selama dua pekan berikutnya. Sebagian besar sandera telah dilepaskan, namun sejumlah sandera yang tidak dapat diperkirakan jumlahnya masih disekap dalam bangunan raksasa itu. Tak ada yang tahu berapa orang jumlah pemberontak di dalam masjid, berapa banyak senjata yang mereka miliki, persiapan apa yang sudah mereka lakukan. Sekitar seratus orang petugas keamanan dari Kementerian Dalam Negeri sempat melakukan serangan awal untuk mencoba mengambil alih masjid. Mereka ditembaki habis-habisan.

Pasukan dari Angkatan Darat Arab Saudi dan Garda Nasional segera bergabung dengan petugas keamanan yang berhasil selamat. Tetapi, sebelum para pangeran yang berada di sana dapat memerintahkan serangan militer terhadap masjid, mereka harus mendapat izin dahulu dari pemimpin ulama di Arab Saudi, dan tidak ada kepastian apakah mereka akan memperoleh izin itu atau tidak.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Al-Qur’an melarang segala bentuk kekerasan di dalam Masjid Haram–bahkan tanaman pun tak boleh dicabut–sehingga kemungkinan timbulnya tembak-menembak di dalam kompleks suci itu menjadi dilema baik bagi pemerintah, maupun bagi para ulama. Sang raja akan menghadapi penolakan dari tentaranya sendiri, jika dia memerintahkan untuk menembak di dalam masjid. Di sisi lain, jika ulama menolak mengeluarkan fatwa yang mendukung hak pemerintah untuk merebut kembali masjid, mereka dapat dianggap berpihak kepada para pemberontak. Aliansi bersejarah antara keluarga kerajaan dan para ulama akan pecah, dan siapa yang dapat menebak apa yang akan terjadi berikutnya?

Pemimpin para ulama itu adalah Abdul Aziz bin Baz yang telah buta dan berusia tujuh puluh tahun. Dia seorang cendekiawan religius yang masyhur, namun mencurigai ilmu pengetahuan dan memusuhi modernitas. Dia mengklaim bahwa matahari berputar mengelilingi bumi dan bahwa pendaratan manusia di bulan tak pernah terjadi. Bin Baz mendapati dirinya dalam posisi canggung dan menyulitkan: Oteibi pernah menjadi muridnya di Madinah. Apa pun tawar-menawar yang terjadi dalam rapat antara ulama dan Raja Khaled, pemerintah akhirnya berhasil memperoleh fatwa yang mengizinkan pemakaian senjata mematikan. Berbekal fatwa itu, Pangeran Sultan memerintahkan serangan altileri yang diikuti dengan serangan frontal ke tiga gerbang utama. Hasilnya: mereka gagal total menembus pertahanan para pemberontak.

***

Terdapat sekitar empat atau lima ratus orang pemberontak di dalam masjid, termasuk beberapa orang perempuan dan anak-anak. Mereka tidak hanya terdiri dari orang Arab Saudi, namun juga dari Yaman, Kuwait, Mesir, dan bahkan segelintir orang Amerika Serikat pengikut Black Muslim.

Beberapa minggu sebelum musim haji, mereka telah mencuri senjata otomatis dari gudang senjata Garda Nasional dan menyeludupkannya ke dalam kompleks masjid melalui keranda yang biasa dipakai membawa jenazah untuk dimandikan di masjid. Para pemberontak menyembunyikan senjata dan perbekalan mereka di dalam ratusan ruang bawah tanah yang sering dipakai oleh jemaah haji untuk menyepi dan berada di bawah lapangan utama. Kini, mereka telah terlindungi dengan baik dan mengambil posisi strategis di lantai atas masjid. Para penembak jitu pemberontak menembaki pasukan Arab Saudi, manakala pasukan itu menampakkan diri.

Di dalam markas besar lapangan di luar masjid, berkumpul sejumlah pangeran senior dan jenderal dari pelbagai angkatan bersenjata. Perintah mereka yang sembrono, diperparah oleh nasihat yang saling bersomplokan dari atase militer Amerika Serikat dan Pakistan, menciptakan belingsatan dan korban jiwa yang sesungguhnya tak perlu terjadi. Pada siang hari bolong, Pangeran Sultan memerintahkan serangan dengan helikopter untuk menurunkan tentara lewat tali ke lapangan luas yang berada di tengah masjid. Mereka langsung dibantai. Pada saat itulah, sang raja meminta Pangeran Turki yang masih muda untuk memimpin usaha pembebasan.

Baca juga:  Kompas Si Baha

Turki membuat strategi yang akan memperkecil korban jiwa dan kerusakan terhadap tempat suci itu. Prioritas pertama adalah intelijen, dan untuk itu, dia meminta bantuan klan bin Laden. Mereka punya peta dan denah kelistrikan, serta semua informasi teknis mengenai masjid itu yang akan sangat berguna bagi serangan yang sedang direncanakan Turki.

Salem bin Laden, yang tertua dari para putera Mohammed bin Laden dan menjadi pemimpin klan, tiba di sana sambil bertengger di atap mobil dan menggenggam senapan mesin. Salem adalah karakter luar biasa, sangat bertolak belakang dengan ayahnya yang saleh dan pendiam. Dia dikenal luas di kerajaan itu, karena tingkahnya yang berani dan selera humornya yang sinting, sifat yang membuat sang raja menyukainya, meskipun sang raja sendiri terkadang menjadi korban gurauan Salem.

Kakak dari Osama bin Laden ini adalah seorang pilot yang sangat berani dan sering membuat keriuhan di kamp padang pasir sang raja, serta berakrobat sedemikian rupa di angkasa, sampai-sampai dia akhirnya dilarang terbang oleh raja. Seperti ayahnya, Salem pun tewas dalam kecelakaan pesawat. Dia sedang memiloti sebuah pesawat ultra ringan tak jauh dari kota San Antonio, Texas, ketika dia tewas pada 1988. Suatu ketika, menurut cerita dalam keluarga, Salem menjalani operasi wasir dan mengirimkan kaset video operasi itu kepada sang raja. Dalam kebudayaan yang begitu kaku, hanya sedikit orang–mungkin malah hanya dirinya sendiri satu-satunya–yang bertindak gila-gilaan sebebas itu.

Oteibi dan pengikutnya mengendalikan sistem pengeras suara di masjid itu dan mereka menggunakan kesempatan itu untuk menyiarkan pesan mereka kepada dunia. Walaupun pemerintah berusaha mengecilkan arti pemberontakan itu dengan mengecap mereka sebagai Muslim fanatik yang murka karena penyebaran video game dan sepak bola, tuntutan Oteibi yang blak-blakan bergema di jalanan kota Mekkah dan menjadi topik panas di warung kopi dan tempat mengisap shisha di seantero negeri.

Oteibi bersikeras menuntut dijalankannya nilai-nilai Islam yang tidak tercemar budaya Barat dan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Barat, dengan demikian memundurkan perubahan yang telah membuka masyarakat itu terhadap modernitas. Arab Saudi yang ingin diciptakan para pemberontak itu ialah Arab Saudi yang sangat terisolasi. Keluarga kerajaan akan terlempar dari kekuasaan dan mereka harus mempertanggungjawabkan uang yang telah mereka ambil dari rakyat Arab Saudi. Bukan hanya sang raja, para ulama yang telah mendukung pemerintahannya pun akan dikecam sebagai pendosa dan telah berbuat tidak adil. Ekspor minyak ke Amerika Serikat akan dihentikan dan semua tenaga ahli sipil dan militer asing akan diusir dari jazirah Arab.

***

Sampai hari Jum’at, hari keempat pendudukan masjid itu, pasukan Arab Saudi telah merebut kembali lantai atas Masjidil Haram dan dua dari sejumlah menara di masjid itu. Pertempuran terjadi di koridor beratap yang mengelilingi Kabah dan bau kematian menyelimuti udara. Mayat-mayat pemberontak yang mampus telah dirusak–wajah mereka ditembak oleh pemberontak perempuan–untuk menggagalkan identifikasi. Salah satu mayat yang berhasil diperoleh tentara pemerintah dalam keadaan relatif utuh adalah mayat Mohammed Abdullah al-Qahtani, sang Imam Mahdi, yang telah kehilangan rahangnya dalam sebuah ledakan. Tetapi, bahkan kematian Imam Mahdi sekalipun tidak mengakhiri pemberontakan itu.

Dengan menggunakan peta kompleks masjid yang diberikan oleh Salem, Turki mengatur serangkaian misi pengintaian oleh Pasukan Keamanan Khusus, yang menyelinap masuk dan ke luar melalui ratusan pintu di masjid itu, sambil mengeluarkan mayat prajurit yang telah tewas. Namun Turki ingin melihat sendiri keadaannya. Dia mengganti jubah menterinya dengan seragam khaki seorang tentara biasa; lantas bersama sejumlah rekan, termasuk saudaranya Pangeran Saud dan Salem bin Laden, memasuki masjid suci itu.

Jalan panjang yang menyusuri masjid itu dan lapangan besarnya nampak kosong. Turki dan rekan-rekannya mendapati bahwa sebagian besar pemberontak itu telah berlindung dalam ruang doa bawah tanah yang dulunya dibuat dengan memahat batuan lava di bawah lapangan masjid. Labirin bawah tanah itu kini dikuasai para pemberontak dan mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan mempertahankannya.

Pemerintah tidak tahu berapa lama para pemberontak dapat bertahan dengan memakan kurma dan tirta yang telah mereka simpan dalam serangkaian tempat penyimpanan; serangan ke dalam labirin ini pun tidak mungkin dilakukan karena banyaknya tempat yang rentan penyergapan. Ribuan tentara dan sejumlah sandera yang tak dapat diperkirakan jumlahnya akan mati. Selama setengah jam, kedua putera Faisal dan putera tertua Mohammed bin Laden mengendap-endap sambil menggambar posisi musuh dan pertahanan yang mungkin mereka miliki. Nasib kerajaan bergantung di pundak mereka, karena jika mereka gagal mengamankan tempat suci itu, mereka akan kehilangan kepercayaan rakyat Arab Saudi.

Baca juga:  Timurlenk

Bagi mereka dan setiap Muslim di mana pun, tidak ada lagi tempat lain di mayapada yang lebih suci dari masjid ini. Dan masjid itu kini menjadi lokasi pertempuran yang tak terbayangkan. Pemboman awal telah menimbulkan kerusakan luar biasa. Turki mengamati bahkan kawanan burung merpati telah pergi; padahal catatan perjalanan jemaah haji sejak zaman dahulu kala sering kali mendedahkan kawanan merpati, yang tak henti-hentinya memutari Masjidil Haram dengan berlawanan arah jarum jam. Dia merasa bahwa keindahan alam di masjid telah dirusak oleh perselisihan berdarah antarmanusia.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Salah satu gagasan yang dihiraukan pemerintah adalah membanjiri ruangan bawah tanah, kemudian menciptakan kejutan listrik dengan kabel bertegangan tinggi. Tetapi, rencana itu tidak membedakan antara sandera dan penyandera, lagipula Turki menyadari, “kita akan membutuhkan seisi Laut Merah untuk membanjirinya.” Buah pikiran yang lain adalah menaruh kantung berisi bahan peledak pada anjing dan meledakkannya lewat remote control.

Menghadapi alternatif yang tak mungkin ditamsilkan itu, Turki bisa saja meminta bantuan Central Intelligence Agency (CIA) yang saat itu tak jauh dari sana, di kota Taif. Namun dari pengalamannya, dia mendapati bahwa saat dibutuhkan tindakan segera, orang Prancis tidak serumit orang Amerika Serikat. Dia berkonsultasi dengan mata-mata legendaris Count Claude Alexandre de Marenches, yang saat itu memimpin dinas rahasia Prancis. Sang mata-mata yang bertubuh besar dan berwibawa itu menyarankan pemakaian gas. Turki setuju, tetapi dia mengharuskan pemakaian gas yang tidak mematikan. Tujuannya adalah untuk membuat pingsan para pemberontak itu.

Sebuah tim yang terdiri dari tiga orang komando Prancis dari Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale (GIGN) tiba di Mekkah. Karena non-Muslim dilarang memasuki kota suci itu, mereka harus masuk Islam dalam upacara formal yang singkat. Para komando itu pun memompakan gas ke dalam ruang bawah tanah, namun mungkin karena begitu rumitnya hubungan antara berbagai ruang bawah tanah itu, rencana tersebut gagal dan pemberontakan tetap berlangsung.

Dengan jumlah korban yang terus memulur, pasukan Arab Saudi melubangi lapangan itu dan menjatuhkan granat ke dalam ruangan di bawahnya, yang mengakibatkan kematian banyak sandera, tetapi berhasil menggiring para pemberontak ke area yang lebih terbuka, agar dapat dilumpuhkan oleh penembak jitu. Lebih dari dua minggu sejak dimulainya pendudukan itu, para pemberontak yang tersisa akhirnya menyerah.

Oteibi berada di antara para pemberontak yang bertekuk tutut. Dia tampak laiknya manusia liar dengan rambut nan centang-perenang dan janggut yang mencuat kaku ke kamera televisi, yang merekam peristiwa keluarnya para pemberontak dari ruang bawah tanah itu. Sikap menantangnya segera lenyap begitu tragedi itu berakhir. Turki mengunjunginya di rumah sakit, tempat luka-lukanya sedang dirawat. Oteibi melompat turun dari tempat tidurnya, mencengkeram tangan sang pangeran dan menciumnya. “Mohon mintalah kepada Raja Khaled untuk mengampuni diriku!” tangisnya. “Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi!”

Awalnya, Turki terlalu kaget untuk menjawab. “Pengampunan?” akhirnya dia berkata. “Mintalah pengampunan dari Allah Swt.”

Pemerintah memilah-milah Oteibi dan enampuluh dua orang pengikutnya ke delapan kota yang berbeda dan pada 9 Januari 1980, mengayau kepala mereka. Itulah eksekusi terbesar dalam sejarah Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi mengakui bahwa seratus duapuluh tujuh orang dari pasukan keamanannya telah terbunuh dalam pemberontakan itu dan 461 yang lain mengalami luka-luka. Kira-kira dua belas orang jemaah haji terbunuh bersama dengan 117 orang pemberontak. Namun, hitungan tidak resmi mencatat angka kematian yang melebihi 4.000 orang.

***

Bagaimanapun, kerajaan itu telah mengalami guncangan hebat. Tempat paling suci di mayapada telah diremuk-redam–oleh kaum Muslim sendiri. Otoritas keluarga kerajaan telah ditentang secara tergelohok. Segalanya berubah sejak pendudukan itu. Dan, dalam bulan-bulan di antara menyerahnya para pemberontak itu dan eksekusi massal mereka, telah timbul guncangan baru terhadap mayapada Islam: pada malam Natal 1979, tentara Uni Soviet menduduki Afganistan.

Arkian, Peristiwa serangan Masjidil Haram pada 1979 yang diarsiteki oleh Juhayman al-Oteibi itu, telah menjadi titik balik dalam sejarah Arab Saudi. Tuntutan para pemberontak tersebut mirip dengan agenda al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden kelak.[]

Tidak ada artikel lagi