Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Refleksi Ramadan

Kau mencintai Ramadan. Ramadan tak ubahnya bulan bercocok tanam dan menyemai harapan tentang surga, menampik neraka. Tapi Ramadan membuat iman mengalami inflasi, dan sialnya, mendadak kau memperlakukan pahala bagaikan sembako yang diburu, ditimbun, yang memaksamu menunjukkan wajah sesungguhnya: makhluk Tuhan paling egois yang pernah ada.

Kau menatap iman dengan ambigu. Di suatu waktu, kau membanggakan iman bagaikan pohon yang tumbuh kokoh di jantung halaman rumahmu. Namun di waktu yang lain, kau merasa iman ringkih bagai bunga bakung, yang bahkan bisa diinjak oleh hal-hal sepele.

Di masjid, kau sebal melihat anak-anak kecil yang belum lagi berusia sepuluh tahun (sebagian malah masih berusia taman kanak-kanak) berlarian ke sana kemari sembari ketawa-tawa.

“Anak-anak diam! Kalau tidak salat, pulang saja!”

Bentakan di pelantang suara terdengar dari seorang imam salat yang seringkali menerbitkan rasa kagum karena hapalan-hapalan ayat sucinya. Sementara di deretan saf belakang, ada anggota takmir masjid yang menertibkan anak-anak itu tak ubahnya polisi pamong praja yang menggusah pedagang kaki lima.

Baca juga:  Sejarah Kebersihan

Tidakkah kau sedih, ternyata kekhusyukan sembahyang yang menjadi bagian dari pohon kokoh iman mudah dipatahkan oleh canda dan gurauan anak-anak kecil di masjid? Atau mungkin kau perlu mencoba memahami: mungkin imam dan takmir masjid memiliki keistimewaan. Mereka tak perlu melewati masa kanak-kanak, dan dianugerahi keimanan tanpa harus mengalami masa kecil. Mungkin mereka langsung tercipta di dunia ini, tanpa mengalami akil balik.

Tidakkah kau cemas, kelak imam dan takmir itu akan mengusulkan agar ada peraturan daerah atau mungkin undang-undang yang melarang anak-anak gaduh di masjid? Mungkin menurut mereka, iman memang mengeram di dasar hati, tapi tetap butuh regulasi dari parlemen untuk menjaganya agar tak terbang, sebagaimana aturan yang melarang warung-warung buka di siang hari saat Ramadan.

Baca juga:  Pak Guru Suhadi, Musala, dan Pohon Beringin

Kemudian kita berkelahi tentang siapa yang patut dihormati.

“Hormati orang berpuasa dong!”

“Hormati orang tidak berpuasa dong!”

“Anak-anak harus diajari menghormati orang yang sedang salat khusyuk!”

“Masjid bukan taman bermain!”

Aku tak tahu kita berkelahi untuk apa, marah-marah karena apa. Aku baru tahu, jika penghormatan itu diserukan dan harus diatur-atur, dan bukan dijalankan sebagai bagian alamiah adab, adat, dan sopan-santun kita. Akankah kelak kita harus masuk penjara atau dilarang makan, karena melawan adab dengan menyendok menggunakan tangan kiri?

Ramadan akan pergi. Masjid-masjid sudah sepi. Tak terdengar lagi suara anak-anak itu. Di jalanan, orang tak lagi berdebat soal kedai makan, dan memilih pergi ke pusat belanja: membeli baju, atau menggerutu karena tunjangan lebaran tak juga cair. Sejenak kita tinggalkan dulu iman yang menuntut kesederhanaan dan kebersahajaan di laci rumah saat berbelanja.

Baca juga:  Memaafkan, Tak Melupakan...

Semoga kau tidak amnesia, bahwa iman seperti pohon yang tak tumbuh kokoh dalam semalam. Pohon iman adalah pohon kehidupan. Bercabang-cabang penuh keinginan dan doa. Ada kalanya, kau siram dengan air kran dan kau rabuk dengan kotoran sapi atau urea pabrik. Tapi seringkali pula kau enggan merawatnya dan membiarkan saja ia tumbuh di bawah guyuran hujan dan terpaan badai. Dibutuhkan kapak yang tajam untuk merobohkannya memang, namun tak ada yang bisa membunuhnya. []

coverpohonramadan - Iman Seperti Pohon di Halaman Rumahmu

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi