Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang 1965

Majelis hakim internasional dari International People’s Tribunal (Pengadilan Rakyat Internasional) tentang Kejahatan terhadap Kemanusiaan Indonesia 1965 menyatakan, sudah terjadi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh negara pascaperistiwa 1 Oktober 1965. Putusan itu menyatakan, Indonesia sudah melakukan dua pelanggaran hak asasi manusia yang berat, yakni kejahatan kemanusiaan dan genosida.

Keputusan tersebut mengharapkan, pemerintah Indonesia mau meminta maaf kepada para korban, penyintas, dan keluarga mereka yang terkait peristiwa 1965. Selain itu, mengharapkan pemerintah bisa menyelidiki dan menuntut semua pelaku kejahatan itu, serta mengusahakan ganti rugi bagi korban dan penyintasnya.

Namun, sudah bisa diduga, pemerintah mengabaikan keputusan itu. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan sendiri secara tegas menolak semua keputusan itu. Alasannya, Indonesia memiliki sistem hukum sendiri yang tak bisa diintervensi negara dan lembaga asing.

Saya teringat kisah Sukarti. Perempuan korban tragedi 1965 yang kisahnya dibukukan dalam buku Suara Perempuan Korban Tragedi 65 dengan judul “Ya, PKI itu Impoten!” bertutur dengan bernas di acara peluncuran buku itu, di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, pada medio 2014 lalu.

Baca juga:  Perempuan yang Membuat Meja Makan di Rumahku

Sore itu, saya memang tak sempat mewawancarai langsung perempuan senja tersebut. Namun, saya bisa menangkap dengan tuntas kisah pedihnya saat luka sejarah itu mulai digoreskan.

Oktober 1965, Sukarti mengaku tengah mengandung anak pertamanya. Usia kandungannya sudah tujuh bulan. Sejatinya, Sukarti buta politik. Namun, orientasi politik kakaknya membuat ia terseret ke situasi yang sangat mengerikan.

“Kakak saya seorang pimpinan PKI,” kata Sukarti.

Setelah terjadi kekacauan politik di ibu kota, menurutnya, serombongan tentara datang ke rumahnya di Malang, Jawa Timur. Mereka mencari kakak Sukarti. Namun, di rumah itu yang ada hanya ia dan orang tuanya.

“Semua [isi rumah] diobrak-abrik. Keluarga kami dituduh ingin melakukan pemberontakan,” kata dia.

Sukarti sendiri, kala itu mendapatkan kekerasan fisik. Pipinya dilubangi peluru, karena dituding memfitnah tentara. Kemudian, ia lari dari rumahnya, dan dikejar komandan operasi tadi. Ia kabur menuju rumah sakit setempat, dengan pertolongan seorang pemuda.

Baca juga:  Tentang Julius dan Ibunya

“Ternyata ada tentara yang meninggal di rumah saya. Saya tahu karena tentara itu di rumah sakit. Waktu itu saya di rumah sakit cuma satu malam dan tidak diberi pertolongan,” katanya.

Sukarti lalu minta dipindahkan ke Yogyakarta. Akhirnya, dia dapat pengobatan dan melahirkan anaknya.

Kepedihan Sukarti tak berhenti. Saat masih berada di rumah sakit, ia ditangkap dan ditahan, dengan alasan yang tak jelas. Setelah itu, hidupnya berpindah dari penjara ke penjara.

“Tahun 1965 ditahan sampai dua tahun. Sampai di rumah kira-kira 8 bulan, saya ditangkap lagi dengan anak saya. Karena waktu itu kakak dan suami saya belum ketangkap,” katanya.

Di dalam bui, beragam siksaan sadis diterima Sukarti. Rambutnya digunduli, ditelanjangi, dan dipukuli.

“Saya sampai tidak bisa jalan,” katanya.

Ia pun menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekejaman di dalam penjara. Suatu hari, ia melihat temannya disetrum dan kemaluannya dimasukkan gagang sapu.

Di penjara, ia kerap ditanyakan keberadaan kakaknya, dan menerima pukulan berkali-kali. Tercatat, beberapa penjara pernah disinggahinya. Ia pernah dipindah ke Solo, Lampung, dan Jakarta.

Baca juga:  Lelaku Petani Jawa

“Dua tahun di Jakarta. Dilempar [ditahan] lagi ke Semarang,” katanya.

Sukarti mengalami trauma mendalam atas perlakuan kejam pascatragedi 1965. Menurutnya, sekarang ia bisa bercerita karena sudah melalui proses yang panjang.

“[Sekarang] saya ingin membangkitkan semangat ibu-ibu lain yang masih trauma,” katanya.

Hingga sekarang, Sukarti masih berjuang meyakinkan bahwa masih ada bagian kelam sejarah bangsa ini. Ia yakin, banyak orang tidak berdosa jadi korban.

Buku Suara Perempuan Korban Tragedi 65 sendiri ditulis oleh Ita F. Nadia. Ita mewawancarai 10 perempuan dan menuliskan kisah mereka di buku terbitan Galang Press, tahun 2007 itu. Saya tak tahu apakah buku itu masuk kotak paranoid politik, ketika terjadi penjarahan buku yang dicap kiri beberapa waktu lalu.

Saya juga tak bisa pastikan, sampai kapan bangsa ini bisa dengan legowo membuka tabir sejarah dengan sebenar-benarnya. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.[]

coversukarti - Ingatan Pedih Sukarti

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi