Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ada satu cerita menarik tentang Montaigne. Suatu kali seorang temannya menyeka ingus yang berlendir kental dari hidungnya dengan tangan. Bagi orang Prancis semacam Montaigne menyeka lendir dengan tangan dianggap tidak lazim, bahkan menjijikkan. Ingus Berlendir, Montaigne, dan Arogansi Intelektual

Kembali ia menatap temannya dan berpikir ulang. Mengapa ingus berlendir yang kotor begitu istimewa hingga perlu disiapkan kain yang halus? Sebuah kain bersih untuk menyeka dan membungkus lendir yang menjijikkan. Sesuatu yang kotor dibalut oleh sesuatu yang bersih, lalu dijauhkan dari orang lain, pikir Montaigne.

Jelas, menjijikkan adalah kriteria buruk. Jika penilaian semacam itu dilebih-lebihkan di hadapan orang lain yang punya kriteria berbeda dengan kita, tentu saja kita akan merasa sebagai manusia yang beradab. Kriteria tentang cita rasa dan selera ternyata menginspirasi seseorang bersikap, lebih-lebih merendahkan orang lain.

Montaigne tinggal di sebuah kastil megah di atas bukit 30 mil timur Bourdeaux—yang dibeli kakeknya pada tahun 1477. Pada salah satu bagian kastil, ia bangun ruang khusus perpustakaan. Di antara rak buku yang tersusun rapi berjajar buku-buku tentang suku Indian dan sejarah Amerika Selatan. Ia mengaku memiliki perhatian khusus dengan keduanya.

Dari koleksinya yang sekitar seribu volume buku, Montaigne mengetahui bahwa penduduk setempat memang suka memakan laba-laba, semut, kadal, belalang, dan kelelawar. Mereka memasak dan menyajikannya dengan beragam rempah-rempah. Setiap negeri memiliki kriteria perihal keistimewaan dan kebenarannya masing-masing, pikirnya.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Di Peru, telinga besar itu dianggap indah. Para penduduk sengaja menariknya selebar mungkin. Maka, melubangi kuping dan memberinya gantungan sebagai pemberat adalah suatu kemuliaan.

Bagi perempuan Mexico dahi yang tipis adalah tanda kecantikan, maka mereka menarik rambutnya lebih ke muka. Di tempat lain, ada penduduk yang menghitamkan gigi mereka karena tidak suka terlihat putih. Penduduk tertentu di tempat lain mewarnai gigi mereka dengan warna merah.

Montaigne juga tertarik mempelajari suku Indian Tupi di Brazil yang hidup hampir telanjang. Suatu ketika seorang Eropa memberi pakaian kepada seorang perempuan Tupi. Karena merasa geli dan tidak nyaman, lalu ia melepas pakaian itu. Sekilas, bagi orang kebanyakan di Eropa akan menganggap bahwa mereka tidak punya rasa malu. Tetapi, pikir Montaigne, mengapa harus mengenakan sesuatu yang memang tidak nyaman?

Tidak lama setelah “penemuan dunia baru” Columbus pada 12 Oktober 1942, Spanyol dan Portugis mengeksploitasi tanah dunia baru. Yang dimaksud tanah adalah kehidupan manusia di atasnya, yakni penduduk setempat. Belakangan kita tahu motivasi mereka bukan hanya “god, glory, dan gold”, tetapi juga proyek peradaban dan pengetahuan. Manusia Eropa yang menyebut dirinya beradab itu menganggap penduduk setempat hanya sedikit lebih baik dari binatang.

Baca juga:  Djemilah

Villegagnon, seorang bangsawan Katolik, menilai bahwa mereka itu ‘binatang’ liar berwajah manusia. Richer, seorang pendeta Calvinian, menyebut mereka tidak bermoral. Bahkan yang lebih mencengangkan seorang dokter yang setelah melakukan penelitian terhadap perempuan Brazil, Laurent Joubert, menyimpulkan bahwa mereka tidak haid dan karena itu mereka tidak termasuk  spesies manusia. Mereka merasa menguasai pengetahuan tentang manusia, bahwa  yang disebut manusia itu ialah yang berpakaian, tidur di ranjang, tidak makan laba-laba, dan seterusnya.

Berdasarkan penilaian moral dan pengetahuan semacam itu, orang-orang Spanyol kemudian membunuh penduduk setempat seperti membantai binatang. Pada tahun 1534 atau empat puluh dua tahun setelah penemuan Columbus, peradaban dan kerajaan Aztec dan Inca dimusnahkan dari muka bumi. Penduduk yang tidak dibunuh dijadikan sebagai budak. Siapa yang sebenarnya yang beradab dan biadab, yang barbar, atau primitif?

“…penampilan dan kebiasaan mereka jauh berbeda dengan kita. Siapa diantara kita yang tidak menganggapnya barbar dan liar? Siapa diantara kita yang tidak menganggapnya mereka sebagai kebodohan? Akhirnya, mereka…tidak tahu cium tangan dan membungkuk,” tulis Montaigne. Mereka mungkin tampak seperti manusia, “Ah, tapi mereka tidak punya senapan…”

Montaigne banyak membaca—mungkin tepatnya tidak hanya membaca tapi juga belajar—dari laporan-laporan petualangan ke Amerika. Salah satunya dari laporan ketualangan Jean De Lery yang menghabiskan 8 tahun di Brazil dengan penduduk setempat.

De Lery adalah seorang pelukis yang berupaya membuktikan pengetahuan tentang suku Indian Tupi, sebab di Eropa mereka dianggap sebagai manusia berbulu seperti binatang. Dari laporannya (1578) terungkap bahwa orang Indian Tupi suka mencukur rambut kepalanya, tapi perempuannya memanjangkan dan mengikatnya dengan jepitan berwarna merah.

Orang Indian Tupi juga sangat suka mandi. Bahkan, mereka bisa jadi dua belas kali mandi dalam setiap hari. Sebab setiapkali mereka bertemu dengan sungai, mereka akan mandi seketika itu.

Mereka juga sangat ramah. Ketika mereka kedatangan orang asing, para perempuan Tupi menutupi wajah mereka dan menangis sembari menyeru, “Siapa anda? Anda sudah susah payah datang dan mengunjungi kami.”

Mereka mengganggap orang asing yang datang sebagai tamu. Mereka akan memberi suguhan terbaiknya, sebuah minuman favorit yang terbuat dari akar tanaman dan diberi pewarna semacam anggur. Rasanya agak pedas di lidah tapi baik untuk perut.

Baca juga:  Revolusi Prancis, Laksana Air Terjun

Antara tahun 1533 sampai 1588, Montaigne mencatat bahwa penduduk setempat berkurang dari 80 juta menjadi 10 juta orang. Salah satu sebab orang Indian dapat dikalahkan ialah karena keramahan mereka, selain persenjataan dan kemampuan perang mereka sangat lemah dibandingkan pasukan para penakluk. Lantas, apakah arogansi dan pengetahuan terlibat dengan pembantaian 70 juta orang Indian?

Montaigne memberi kita nasehat tentang kesewenangan kaum berpengetahuan, arogansi intelektual. Katanya, semua orang menyebut barbar untuk segala sesuatu yang tidak biasa baginya. Padahal, kita tidak punya kriteria lain mengenai kebenaran, atau akal-sehat, kecuali sekedar contoh dan bentuk-bentuk opini dari negeri kita sendiri, dari kebiasaan bangsa kita masing-masing.

Lebih lanjut, menurutnya, kebangsaan dan adat adalah suatu kriteria absurd yang digunakan untuk menentukan kebaikan. Arogansi itu disebabkan oleh keterbatasan intelektual dalam memikirkan perbedaan kriteria, dan tentu saja telah bercampur dengan kepentingan tertentu: keuntungan.

Yang disebut perbedaan diatas adalah persoalan kebiasaan. Soal kelaziman yang diproduksi dan diedarkan melalui pengetahuan agar berlaku dan dilakukan oleh masyarakat.

Dalam masyakaratnya, Montaigne memang kurang memiliki pengaruh dan pandangan-pandangannya tampak kurang diakui.

Michel de Montaigne adalah seorang keturunan bangsawan—lebih tepatnya cucu dari pedagang ikan laut. Ia pernah menjadi kanselor Parlemen Bourdeaux. Tapi setelah 13 tahun menjabat, ia mengundurkan diri. Alasannya, ia akan mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan.

Pada suatu hari di musim panas Montaigne melakukan perjalanan mengelilingi Eropa. Itu adalah perjalanan pertamanya keluar dari Prancis. Dengan berkereta kuda selama 17 bulan, menempuh jarak sekitar 3.000 mil. Ia melintasi Jerman, Austria, dan Swiss, berakhir di Roma menjelang malam di akhir November 1580. Ia menyaksikan cara hidup dan kehidupan negeri-negeri lain.

Dari atas punggung kuda ia berpikir bahwa identitas-identitas sempit menjadi sekat penghalang untuk menjadi manusia. Ia membuka mata, bahwa pengetahuan bukan doktrin semata. Ia menyesalkan arogansi intelektual yang nyatanya telah menimbulkan tragedi kemanusiaan.

“Aku manusia, bagiku tidak ada manusia yang aneh.” Sebuah tulisan di tiang ruangan perpustakaan Montaigne, yang diambil dari satu dari 57 inskripsinya.

Di kemudian hari, setidaknya hari ini dalam masyarakat kita, ketika membaca ulang teks Montaigne dan sejarah masyarakat lain, saya teringat pesan Montaigne: Sekali meninggalkan desa, mereka seperti ikan kehabisan air. Kemana pun pergi mereka selalu memegang kebiasaan mereka dan mengutuk kebiasaan asing.

Baca juga:  Sebuah Kota Masa Depan

Hari ini kita masih melihat suatu penduduk digusur, kehidupan mereka dipaksa berakhir, dan kebudayaan penduduk dimusnahkan. Soal ini tentu kita ingat dengan Jean-Jacques Dozy yang terperangah ketika melihat bukti hitam pekat setinggi 75 meter di atas padang rumput. Tidak salah lagi, kata Geolog asal Belanda dalam sebuah ekspedisi ke pegunungan Ngga Pulu (puncak Cartensz) Papua tahun 1936. Pada tahun 1939 ia menulis temuannya itu.

Sekitar 20 tahun kemudian, seorang geolog Amerika bernama Forbes Wilson menemukan laporan Dozy yang teronggok berdebu di Perpustakaan Universitas Leiden. Spontan bulu kuduknya berdiri. Seperti bermimpi, ia menemukan harta karun.

Pada 1960 ia ke Papua. Jika, kata Montaigne, keramahan bisa jadi sebab suku Indian dikalahkan, maka demikian penduduk Papua. Untuk mencapai puncak Ngga Pulu, Wilson diantar oleh beberapa pemuda penduduk lokal. Jika pendahulunya, Dozy, perlu 57 hari, Wilson cukup 17 hari. Sepertinya Wilson mengetahui betul kekuatan tenaga kaum muda.

Sampai di puncak Wilson terbelalak. Ketinggian bukit temuan Dozy ternyata bukan 75 meter, melainkan 179 meter, dengan perkiraan kedalaman 360 meter. Tetapi, Wilson harus bersabar, menunggu sampai Soeharto berkuasa di tanah Papua.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Yang perlu dicatat ialah Wilson tidak hanya memiliki kesabaran, ia juga punya segudang pengetahuan. Pada Juni 1966 Wilson ke Jakarta. Setelah empat bulan ia menyusun rencananya, pada April 1967 ia sudah mengantongi izin proyek. “Freeport adalah pelopor penanaman modal asing di Indonesia,” kata sang jenderal ketika peresmian kota Tembagapura.

Sejak dimulai eksplorasi dan pengeboran pada Desember 1967 sampai hari ini, tidak ada yang tahu seberapa besar hasil alam yang telah ditambang. Mungkin hanya tuhan yang tahu, sebab mereka barangkali sudah lupa jumlah besarannya. Seperti ikan kehabisan air, kata Montaigne, Freeport terus menambang. Puluhan tahun setelah itu, bahkan sampai kini, tragedi kemanusiaan di tanah Papua belum berhenti.

Hubungan pengetahuan dan tragedi adalah seperti tanah dan isi yang terkandung di dalamnya. Semakin digali dan dieksploitasi, maka semakin kayalah ia. Ya, Freeport terus menambang. Meski kita tahu bahwa air, udara, tanah dan seisinya dilindungi negara dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Meski kita tahu bahwa tanah dan pengetahuan adalah tempat kita berpijak.[]fathoni - Ingus Berlendir, Montaigne, dan Arogansi Intelektual

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi