Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Islam berpandangan bahwa totalitas mayapada (dunia) diciptakan dari ketiadaan. Di dalam mayapada, segalanya diciptakan atau menjadi sebab-sebab alamiah, dengan sarana material, formal, efisien, dan final yang dibangun oleh Pencipta untuk alam. Hubungan sebab-musabab ini dengan akibatnya selalu sama, sehingga membentuk pola-pola dalam alam.

Hal ihwal ini juga membentuk cara-cara bagaimana benda-benda dilahirkan, tumbuh, berubah, mati dan terurai, dan dilahirkan kembali. Pola-pola ini adalah hukum alam. Mereka mengatur semua keberadaan di alam, baik proses menjadinya, “kehidupan” atau hubungan mereka dengan wujud lain, atau kehancurannya.

Aspek ciptaan inilah yang menjadikan alam suatu kosmos, bidang yang teratur, panggung sandiwara di mana objek berada, dan peristiwa terjadi, berdasarkan hukum. Dalam aspek ciptaanlah observasi, studi, dan penemuan hukum-hukum ini dimungkinkan karena ketetapan dan kekekalan hukum ini, dan ramalan pelbagai peristiwa menjadi mungkin.

Keteraturan alam semesta mensyaratkan tak adanya jurang kausal di dalam alam. Segala sesuatu merupakan akibat dari sebab, dan sebab dari akibat lain. Sebab serupa melahirkan akibat serupa, dan akibat serupa pasti menyiratkan sebab serupa. Dengan demikian, mayapada menjadi jaringan hubungan kausal yang saling berkait-kelindan dan saling bergantung, terus berulang sehingga membuatnya dapat diketahui.

Mengetahui dan menentukan validitas pola atau hukum ini, penerapannya pada kejadian alam, adalah sains. Sains, karena itu menuntut–dan kemungkinan menyiratkan–kausalitas sebagai hukum pertama dari semua yang ada atau terjadi dalam alam. Tanpa kausalitas, yaitu tanpa kepastian bahwa sebab-sebab identik akan melahirkan akibat identik, maka posibilitas sains akan gagal, bahkan hancur sama sekali. Jika ada batuan karang yang jatuh menjauhi pusat jagat dengan kondisi yang sama, maka hukum gravitasi tidak akan dapat dirumuskan, atau bahkan ditemukan. Tatanan alam tak mentoleransi jurang kausal. Tatanan alam adalah universal dan pasti. Karena itu, semua kualitas alam yang telah disebutkan penting bagi sains. Di satu pihak, keharusan profanitas dan regularitasnya adalah jelas. Tanpa mereka, hanya ada mitos, bukan sains.

Di lain pihak, bertujuan dan ketundukan diharuskan oleh moralitas. Tujuan adalah perspektif lain dari kausalitas dan tidak terpisahkan darinya. Tidak menjadi soal apakah proses alam ditentukan oleh kesejahteraan manusia atau bukan. Yang jelas, gempa, letusan, banjir, kekeringan, kebakaran, wabah, dan bencana alam lainnya menceritakan kejadian yang berbeda dari pengabdian manusia. Yang penting ialah bahwa proses alam saling berkaitan untuk berkesinambungan dan keteraturan alam.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Islam dan Feminisme
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Metode Ilmiah

Perpecahan pengetahuan menjadi penelitian yang menggunakan metode ilmiah dan penelitian yang tidak menggunakan metode ilmiah, adalah suatu fenomena modern. Perceraian ini tiba di dunia Barat dengan berkembangnya ilmu-ilmu alam pada abad ke enam belas. Karena ilmuwan berhasil membebaskan diri dari kekuasaan gereja dan memberikan warisan nan dinamis, maka “ilmu-ilmu sosial” pun menyusul.

Di tangan sarjana Auguste Comte, ilmu-ilmu sosial ini berupaya merdeka dari kekuasaan yang sama, dengan meninggalkan pengetahuan manusia–filsafat, kesusastraan, seni, bahasa, dan agama–pada “kemanusiaan”. Yang mempertegas hasil ini adalah penilaian bahwa ilmu-ilmu alam mengikuti metode kritis dan karena itu membawanya kepada pengetahuan pasti tentang kebenaran.

Ilmu sosial melepaskan diri dari kemanusiaan dan menyebut dirinya “sains”, karena memakai metode ilmiah. Dengan dominan, mereka menjamin pada dirinya kebenaran bersama dengan ilmu alam. Pada zaman yang didominasi oleh romantisisme, kemanusiaan meliputi apa yang tertinggal dari kehidupan manusia–nafsu dan perasaan, harapan dan keindahan. Namun pembagian ini telah mencampakkan mereka ke alam pendapat, di mana kebenaran subjektif dapat diungkapkan, tetapi kebenaran objektif tak dapat ditemukan. Filsafat tetap tidak tercirikan sampai pada abad ke dua puluh. Empirisme dan analisis melemparkannya pada sisi ilmu alam atau pada sisi instrumentalisme konvensional, di mana relevansinya pupus.

Penyebab perkembangan ini adalah metode ilmiah; dan metode ini didefinisikan sebagai metode untuk mencapai kebenaran alam melalui pengamatan, hipotesis dan eksperimen. Metode ini selanjutnya dicirikan dengan pendefinisian data dan bukti dalam terma material semata, yang dapat diamati oleh indera dan secara secara kuantitatif terukur.

Para sarjana Muslim mengajukan pertanyaan serius menyangkut kepantasan “metode ilmiah” ini, ketika diterapkan pada ilmu-ilmu sosial. Mereka mengajukan pertanyaan yang tak kurang pentingnya mengenai kecukupannya ketika diterapkan pada ilmu-ilmu alam, di zaman di mana ilmu-ilmu amoral yang tak bernilai tampaknya membawa mayapada ke kehancuran.

Namun, kritik seperti ini tidak memengaruhi pengamatan, hipotesis dan eksperimen yang berdasarkan data indrawi yang terukur. Dalam pengamatan, hipotesis dan eksperimenlah upaya mencari pengetahuan tetap berlangsung dan absah. Karena itu, pertanyaannya adalah apakah metode ini hanyalah hasil penemuan Eropa modern?

Baca juga:  Kiai Kus dan Kitab Fushus al-Hikam

‘Ilm atau fiqih (ilmu atau pengetahuan) pertama kali digunakan kaum Muslim dalam kaitannya dengan pengetahuan mengenai wahyu, data, tradisi, dan maknanya. Dengan cara ini, ilmu melestarikan makna linguistiknya. ‘Ilm mulai memperoleh makna teknis ketika diterapkan pada pengetahuan perihal hukum Tuhan. Di sini ‘Ilm berarti pengetahuan melalui istidlal (memerlukan bukti), yang mencari lewat bukti untuk membuat yang tidak diketahui menjadi diketahui.

Istidlal menyiratkan pengamatan data melalui eksperimentasi, pengukuran, dan pengamatan lebih lanjut. Perbedaan lebih lanjut dibuat antara istiqra’ (data apa adanya) dengan istinbath (menyimpulkan isi data). Yang pertama identik dengan metode empiris induktif, sedangkan yang ke dua identik dengan metode analitis. Ini mudah terlihat di mana-mana, khususnya dalam prestasi medis Jabir bin Hayyan (w. 813 M), Ibn al-Haitsam (w. 1039) dan Abu al-Rayhan al-Biruni (w. 1048).

Dari karya-karya mereka terlihat bahwa ilmuan Muslim sangat kritis terhadap orang-orang sebelum mereka–Yunani, Timur Dekat, India, dan Persia–yang sangat mereka hormati, seperti halnya pendahulu mereka sendiri. Ibn al-Nafis menyatakan bahwa ilmu pembedahan telah membuktikan bahwa Galen dan Ibn Sina keliru. Al-Biruni menolak menerima pernyataan guru-guru ini tanpa mengujinya dalam pengalaman dan menegaskannya dengan tajribah (penyelidikan).

Kaum Muslim menyadari pentingnya bukti indrawi, serta kelemahan dan kekeliruan indra manusia. Karena itu, mereka mengembangkan instrumen untuk mengoreksi dan mengembangkan bukti indrawi. Mereka akan mengulangi riset sebagai sarana untuk menguji hasil dan menghindari kesalahan. Jabir bin Hayyan punya nama khusus untuk eksperimen ilmiah, al-tadrib; dan Ibn al-Haitsam menjulukinya al-i’tibar.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Memanfaatkan Alam

Hatta, bagaimana memanfaatkan alam? Jawaban Islam langsung dan tegas, “Allahlah yang menciptakan langit dan bumi … agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS 11:7). Dalam ayat lain al-Qur’an menyatakan Allah menciptakan hidup dan mati agar engkau dapat membuktikan nilai moralmu dalam perbuatan baikmu (QS 67:2). Oleh karena itu, semua Muslim sepakat, bahwa alam dimaksudkan untuk dimanfaatkan mencapai tujuan moral. Alam tidak diciptakan sia-sia atau main-main (QS 21:16), namun sebagai teater dan sarana untuk mencapai upaya moral. Alam itu sendiri tidak baik dan juga tidak indah. Tetapi alam diciptakan oleh Allah secara baik dan indah dengan tujuan melayani manusia dan memungkinkan manusia untuk menyemai kebajikan.

Baca juga:  Gerakan Umat Beriman

Kebaikan alam berasal dari kebaikan tujuan Ilahi. Bagi Muslim, alam merupakan ni’mah (karunia) Allah, yang dianugerahkan kepada manusia untuk dimanfaatkan dan dinikmati, untuk diubah dengan tujuan mencapai nilai etika. Alam bukan dimaksudkan untuk dimiliki atau dihancurkan manusia, atau untuk digunakan semaunya, sehingga merusak diri manusia/kemanusiaan manusia atau alam itu sendiri sebagai makhluk Tuhan.

Karena alam adalah karya Tuhan, ayat (tanda) Tuhan, dan instrumen tujuan Tuhan yang merupakan kebaikan mutlak, maka alam dalam pandangan Muslim mempunyai martabat yang tinggi. Seyogyanya, masyarakat Muslim memperlakukan alam dengan hormat dan rasa syukur yang dalam kepada Sang Maha Pencintanya. Setiap perubahan terhadap alam dinyatakan sah bila mempunyai tujuan yang jelas dan berfaedah bagi khalayak.

Dengan demikian, kaum Muslim tidak mengalami rintangan atau kerumitan berkenaan dengan pemanfaatan alam. Allah telah menetapkan alam untuk dapat dimanfaatkan oleh mereka tanpa perasaan bersalah. Mereka juga tak memandang alam sebagai roh jahat, dewa terkutuk, atau musuh yang harus ditentang, direbut, dan ditundukkan. Alam bukanlah kekuatan iblis.

Kaum Muslim juga tidak memandang alam sebagai alam sebagai perwujudan dewa atau roh baik, sehingga sesuatu yang Ilahiah, yang harus ditakuti, dicintai, atau dipuja. Pernyataan al-Qur’an bahwa segala sesuatu yang Ilahiah, yang ada di alam merupakan ayah (tanda) tidak menunjukkan bahwa ada hubungan ontologis antara Pencipta dan makhluk. Makhluk sama sekali bukanlah Pencipta yang mewujudkan makhluk dan yang mengatur makhluk dalam ruang-waktu.

Dalam Islam, antara manusia dan alam tidak ada permusuhan, kebencian, perang, dan pemujaan. Tidak ada hubungan pribadi apa pun antara keduanya. Sebagai karya Allah, alam harus dihormati dan dikagumi. Kompleksitas dan keteraturannya, rancangan dan karakter organisnya, ketundukan dan keterbentukan alam oleh manusia merupakan penyebab ketakjubatan manusia, untuk menghargai ciptaan Tuhan, dan untuk memuji dan menaati-Nya.[]

islamsains - Islam, Alam, Sains

Islam, Alam, Sains

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi