Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ratusan doktor, magister dan sarjana telah lahir dari tanah Blambangan. Mereka datang dari Jember, Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Solo dan Banyuwangi sendiri. Pun tidak sedikit dari Amerika Serikat, Belanda, Inggris, dan Australia.

Akademisi kelas nasional macam Novi Anoegrajekti, Sri Margana, dan Heru SP Saputra , misalnya.  Lahir pula intelektual kelas sohor dunia macam Bernard Arps, Andrew Beatty, Paul Arthur Wolber, dan Robert Wessing.  Mereka adalah beberapa diantara intelektual yang lahir dari pergulatan di tanah Blambangan.

Anda boleh iseng bertanya pada mereka: kenal baik dengan Hasnan Singodimayan? Bisa dipastikan jawabannya: ya!

Mereka semua pernah melakukan perjumpaan intelektual dengan Hasnan. Dari sekedar sowan, berdikusi hingga betul-betul ngangsu kaweruh pada bekas pentolan HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) ini.

Hasnan Singodimayan adalah  sumur tanpa dasar bagi Kebudayaan Using di Blambangan.  Sebutan ini bernada hiperbolik, namun demikianlah beberapa orang yang saya temui menjuluki dan menghargai dedikasi Hasnan.

***

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box] Hasnan Singodimayan bersama para kolega sepantarannya seperti Mas Supranoto, Andang CY, Fatrah Abal, Hasan Ali (alm), Abdul Kadir Armaya lahir dan besar di tanah Blambangan ini. Mereka adalah elit-elit budaya Banyuwangi Dari pemikiran, pertarungan dan pergulatan budaya mereka pula, wacana kebudayaan dan identitas di Blambangan muncul. Mereka menyebut dirinya suku Using Blambangan.

Kehendak menemukan dan membentuk identitas Using bagi Hasnan dan kawan-kawan bukanlah tanpa sebab. Mereka merasa sedari jaman kerajaan Majapahit, Belanda hingga sekarang selalu distereotip buruk oleh Jawa Kulonan. Label-label tukang santet, licik, pemberontak telah lama disematkan pada diri mereka.

Stereotip dan label buruk tersebut, mereka lawan secara kultural. Salah satunya adalah dengan membuat narasi baru mengenai Minak Djinggo, adipati Blambangan yang dinarasikan oleh Jawa Kulonan sebagai pemberontak bermuka buruk. Dalam versi Using, Minak Djinggo tampil sebaik sosok tampan, bijaksana dan baik.

Mereka percaya, mereka adalah sisa-sisa keturunan Majapahit yang sudah memeluk Islam. Sedangkan, orang Bali, kerabat budaya terdekat mereka, adalah keturunan Majapahit yang masih Hindu. Hasnan dan kebanyakan masyarakat Banyuwangi, menolak diri mereka digolongkan sebagai sub suku Jawa, seperti identitas yang selama ini disematkan oleh negara dan intelektual luar.

Baca juga:  Celengan Islam Haji Misto

Blambangan, atau sekarang wilayah yang dikenal meliputi daerah Banyuwangi dan sekitarnya merupakan warisan kebudayaan Majapahit. Di wilayah ini, kebudayaan Jawa yang Islam dan kebudayaan Bali bertemu secara linguistik, tradisi dan seni. Di wilayah ujung timur Pulau Jawa ini, nuansa Bali dan Jawa begitu kental terasa.

Di kota ini pula, nampaknya Tuhan telah membuat miniatur Indonesia. Coba tengok saja barisan nama kampung di Banyuwangi: kampung Mandar, kampung Melayu, kampung Bali, Inggrisan, Keling, Arab dan seterusnya.

Di masa desentralisasi masa kini, perebutan identitas dan budaya asli Banyuwangi kembali meruncing tajam, baik diantara kalangan budayawan macam Hasnan ataupun kaum intelektual kampus yang berada di Jember, Jakarta dan Surabaya.

***

Bulan Agustus dan September adalah bulan yang sibuk bagi Hasnan Singodimayan. Berderet undangan acara kesenian dan birokrasi harus dikunjunginya. Sebagai budayawan kawakan, rasanya tak lazim bagi peristiwa kesenian tidak menuntut kehadirannya. Pun begitu dengan acara-acara seni dan budaya yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Banyuwangi. Pendapat, sumbang sarannya diperlukan dalam kebijakan di Banyuwangi.

Setelah wara-wiri dalam acara halal bihalal dan peringatan kemerdekaan bulan Agustus 2013, tak berselang lama Hasnan harus segera ikut memantau seleksi peserta yang terlibat dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2013. BEC adalah agenda rutin wisata budaya Banyuwangi yang diselenggarakan rutin pada minggu pertama September. Selain bertujuan untuk melestarikan seni, acara ini menjadi semacam bulan kunjungan wisata ke Banyuwangi. Di acara ini, Hasnan dipilih juga sebagai pemantau jalannya latihan 1000 penari gandrung, sebuah seni tari berpasangan sejenis tayub khas Banyuwangi. Hampir setiap hari, Hasnan dijemput panitia untuk melihat jalannya latihan 1000 penari gandrung tersebut.

Apa tidak capek? Apa tidak dilarang? “Wah bapak kalau disuruh dirumah saja, tidak beraktivitas, malah pusing dan tidak produktif. Bapak itu panjang umur karena banyak gerak, banyak aktivitas. Jadi kami tidak bisa melarangnya,” ungkap Bonang Prasunan mengenai bapaknya.

Baca juga:  Lelaku Manusia Jawa

finalHS - Jalan Budaya Hasnan Singodimayan

***

Kerutan tak beraturan di wajah, mata yang cekung dan rambut yang memutih perak, nampaknya tidak menghalangi semangat dan kekuatannya untuk beraktivitas seni dan intelektual. Tubuhnya yang tua seolah hanya tameng semangat Hasnan yang selalu muda, bahkan melampaui pemuda itu sendiri. Kemudaan Hasnan juga nampak ketika mengajaknya makan. Tidak ada pantangan bagi Hasnan dalam urusan makan. Bahkan saat itu, Hasnan melalap habis dua piring besar rajungan sebagai menu makan siang di sebuah anjungan makanan khas Banyuwangi. Makan tanpa pantangan, kata Bonang Pramunsyie, adalah rahasia sehat bapaknya.

Ada dua hal yang beda, jika diamati dengan teliti, jika anda bertemu dengan Hasnan pada dua atau tiga bulan yang lalu. Di bibirnya yang menghitam tidak lagi nampak batang rokok, yang dulu selalu setia menemaninya. Posisi rokok kini digantikan permen hisap. Hasnan kini juga tidak lepas dari kacamata hitam. Sesekali dia melepasnya, hanya dalam hitungan menit, dia sudah memakainya. Katanya dia takut terkena cahaya terang.

Kacamata dan rokok tersebut ternyata adalah dua hal yang saling terkait. Bagaimana bisa, Hasnan sedari muda menghisap rokok, tiba-tiba bisa menggantinya dengan permen?

Alkisah ditengah acara berkabung sepeninggal istri dan anaknya beberapa waktu lalu, Bupati Banyuwangi sering mengunjungi Hasnan Singodimayan. Selain sebagai bentuk kepedulian juga silaturahim kepada sesepuh kebudayaan Banyuwangi tersebut. Sang Bupati mengkwatirkan kesehatan Hasnan Singodimayan, terutama atas keluhan Hasnan bahwa matanya tidak sebegitu terang lagi.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Hasnan bagi Sang Bupati adalah “cagar budaya” hidup bagi masyarakat Using Blambangan. Kesehatannya adalah tanggungjawab Pemda Banyuwangi. Ia lantas sibuk menghubungi anak-anak Hasnan Singodimayan. Ia memberitahukan akan melakukan operasi mata bagi sang bapak. Ia juga meminta sang anak untuk melarang sang bapak terus merokok, demi kesehatannya. Anak-anak Hasnan Singodimayan pun setuju dengan anjuran sang Bupati.

Tak berselang lama, seorang dokter utusan bupati berkunjung ke rumah Hasnan Singodimayan. Dia hendak membawa Hasnan Singodimayan ke rumah sakit Pemda untuk operasi lensa mata. Sebelum berangkat, sang dokter membuat perjanjian lisan menjurus “ancaman” kepada Hasnan. “Ancaman” tersebut menyatakan, bahwa operasi ini mahal sekali, kalau lensa matanya sampai pecah, bapak tidak bisa membaca lagi dan saya akan dipecat bupati. “Nah untuk tidak pecah,” kata sang dokter, “bapak dilarang batuk, dan supaya bapak tidak batuk, bapak harus berhenti merokok.” Terdengar hiperbolik rasionalisasinya, namun pantas untuk seseorang sekaliber Hasnan Singodimayan.

Baca juga:  Orang Lain

Hasnan dalam sebuah pilihan berat antara terus bisa membaca atau berhenti merokok dan minum kopi. Membaca, merokok dan minum kopi adalah tiga aktivitas kegemarannya yang lekat lekat dengan 60 tahun aktivitas berkebudayaannya. Hasnan harus memilih. Hasnan tidak bisa membayangkan hidup tanpa membaca buku dan beraktivitas budaya. Mata adalah organ jendela dunia bagi Hasnan. Namun sepahit apapun pilihan, harus diambil: Hasnan, akhirnya setuju!

Kini kebiasaan membaca dan mengetik artikel masih lancar dijalani seperti layaknya 10 tahun lalu. Yang berubah adalah ketergantungannya pada kacamata hitam, tidak ada lagi kopi dan rokok sebagai teman membaca dan menulis. Dan dalam hal menjalankan sholat, Hasnan tidak lagi dilakukan dengan sujud dan rukuk. Hasnan yang merupakan penganut Islam Mu’tazillah pun akhirnya sholat dengan cara duduk. Kekwatiran lensa yang pecah, nampaknya kini menjadi hantu bagi Hasnan.

Memilih tetap membaca bagi Hasnan adalah pilihan budaya. Inilah jalan budaya Hasnan  sebagai “cagar budaya” Using Blambangan yang masih hidup.

***

Sebagai Muslim yang saleh, kebahagiaan adalah bersyukur dan berbagi dengan yang lain. Termasuk berbagi pengetahuan Using Blambangan lewat diskusi, ceramah, wawancara dan tulisan.

Sejak mengenal jurnalisme di Pondok Pesantren Modern Gontor pada tahun 1948, laki-laki bernama kecil Asnan Idris ini, hingga kini masih aktif dalam menulis. Tak terhitung jumlah karyanya dalam bentuk artikel, naskah drama, novel dan buku. Bahkan novel “Kerudung – Santet – Gandrung” yang diterbitkan oleh Desantara pada tahun 2003, sebelumnya telah menjadi nashkah skenario sinetron budaya di Televisi Pendidikan Indonesia. Judul sinetron besutan naskah Hasnan Singodimayan itu: “Jejak Sinden.”[]jalanbudayahasnansingodimayan - Jalan Budaya Hasnan Singodimayan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi