Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan Perubahan Produksi Pangan Lokal

Erangpolea bisa diartikan persiapan pangan untuk panen musim selanjutnya. Isitilah erangpolea biasa digunakan oleh para petani yang berpenutur Makassar di Jeneponto. Istilah tersebut, sering digunakan pada saat masa panen berlangsung.

Secara turun-temurun Erangpolea dimaknai sebagai cerita seorang petani yang sedang sibuk di kebun atau di sawah, penanda masa panen telah tiba, lalu diangkut kerumah masing-masing, menggunakan kamboti (daun kelapa yang dianyam berbentuk bulat) bersama lembarang ( bambu yang dibelah, berbentuk lurus, panjang satu meter setengah), kedua alat tersebut ketika digunakan disebut A’lembara’. Begitu para petani di Jeneponto membawah Erangpole-nya masing-masing kerumah, namun A’lembara ini, mayoritas yang melakukan hanya petani jagung. Ada yang lain tapi tidak sebanyak petani jagung melakukannya.

Aktivitas panen petani, dari A’lembara’ hingga Erangpolea tiba di rumah, tidak sebatas aktivitas semata, melainkan, bisa dikatakan sebagai penanda corak produksi pertanian tradisional di Jeneponto, dan belum cukup lima puluh tahun lamanya para petani tidak melakukan hal demikian.

Pastinya dengan beragam penetrasi, hingga hadir suatu logika yang menganggap pola produksi semacam itu tidak relevan lagi, dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara bersama beberapa petani jagung di Jeneponto, dan pengamatan langsung, dalam liputan kali ini, hal demikian akan berusaha semampunya, melihat, penetrasi apa saja, sehingga aktivitas tersebut yang konon dilakukan secara turun-temurung oleh para petani jagung, namun secara tiba-tiba perlahan ditinggalkannya.

Jejak Berasa Batara’ (Beras Jagung) sebagai Makanan Pokok

Sejak tahun 1960-an kebawah, setelah masyarakat Sulawesi mengenal beras, makan beras padi adalah makanan istimewa bagi petani jagung putih di Jeneponto, dan hanya orang-orang tertentu yang memakan beras padi secara murni. Sehari-hari hanya memakan berasa’ batara kadang dicampur dengan beras padi, kebanyakan berasa’ batara’ secara murni. Begitu makanan pokok para petani, sebelum mengenal beras padi, yang dijadikan sebagai makanan pokok, seperti saat ini.

Berasa’ batara’ atau beras jagung ini, berbahan dasar dari jagung putih, kemudian dihancurkan, entah itu ditumbuk atau dipabrik. Setelah hancur, disebut berasa’ batara’ yang siap untuk dimasak.

Baca juga:  Ode untuk Shankly, Nil, dan Indra

Sebelum para petani mengenal beras padi, jagung kuning, ataupun rumput laut diwiliyah pesisir Jeneponto (Baca: Tiro, Catatan Riset Jeneponto, 2017) mayoritas petani menanam, jagung sebagai pemenuhuan subsistennya. Mereka tidak mesti mengelurkan uang untuk membeli beras seperti saat ini, melainkan mereka bahkan memiliki persiapan makanan hingga panen selanjutnya. Erangpolea memang sangat dekat dengan jagung putih sebagai basis produksi, komoditas pertanian di Jeneponto, masa silam.

Jagung putih yang sudah tua dan belum terbuka kulitnya, kemudian dibawah kerumah masing-masing, diikat berbentuk seperti susunan bunga mawar yang mekar, kemudian disimpan diatas palfon rumahnya. Setelah habis berasa’ batara’  jagung yang sudah diikat berbentuk bunga mawar tadi, diambil sesuai kebutuhan, kemudian dibuka dan dihancurkan lagi hingga menjadi berasa’ batara’. Rutinitas semacam itu, berlangsung hingga panen, bahkan belum habis, adiknya sudah ada lagi dirumah, artinya hasil panen selanjutnya sudah tiba di rumah. Suatu alasan bagi petani di Jeneponto, mengapa jagung putih sangat dekat dengan istilah lokal, Erangpolea.

Belum Makan, Kalau Bukan Beras Makannya

Menonton film yang diproduksi oleh Watchdoc “The Mahuses” adalah cerita bagaimana orang-orang Mahuse diajari makan beras, lewat program satu juta hektar sawah oleh kebijakan pemerintah. Makanan poko orang Mahuse adalah sagu yang dikonsumsi secara turun-temurung karena program tersebut, mereka harus kehilangan pohon sagu, dan perlahan mengenal beras sebagai makanannya. Dalam satu pohon sagu, berhasil memenuhi enam bulan makanan pokok satu keluarga orang Mahuse, dan secara tiba-tiba mereka harus mengenal beras, dan untuk mengkonsumsinya harus dibeli.

Meskipun tidak setragis orang Mahuse rasakan karena program satu juta hektar sawah pemerintah, hutan disulap menjadi sawah, krisis air bersih dan kesehatan semenjak program tersebut berlangsung. Namun cerita bagaimana orang di Jeneponto mengenal beras, memiliki kepentingan ekonomi politik yang sama menyertainya.

Bagian selatan Kabupaten Jeneponto, jaraknya tidak terlalu jauh dari pinggiran laut flores, “Pabiringa” yang memiliki lahan pertanian tanah hujan, dan jagung adalah tanaman yang cukup relevan untuk status tanah seperti itu, bumin beras dengan berbagai praktiknya, para petani secara terpaksa harus membeli beras demi memenuhi kebutuhan makan hari-hari.

Baca juga:  Tentang Julius dan Ibunya

Transisi orang  Pabiringa, mulai makan beras, awalnya hanya dicampur dengan berasa’ batar’, dan kini telah dikonsumsi secara murni tanpa ada campuran apapun. Padi tidak cukup subur dengan status tanah hujan, demi memakan beras, para petani kini mulai menanam jagung kuning sebagai basis produksi mayoritas komoditas pertanian di Pabiringa.

Mengapa harus jagung kuning?

Karena Jagung kuning salah satu komoditas subsektor tanaman pangan di Indonesia yang memiliki nilai ekspor tinggi setelah beras, sangat menunjang perekonomian nasional meskipun dalam situasi krisis, seperti sejak tahun 2003, kontribusi jagung sangat meningkat tajam, sebesar 18,2 trilyun. Sebagai bahan pangan yang mengandung 70% pati, 10% protein, dan 5 % lemak, jagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi beragam macam produk, selain industri pakan ternak.

Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilyah pemasok jagung terbesar di Indonesia, selain Jawa Timur, Jawah Tengah, Lampung, NTT, dan Jawa Barat dengan total produksi dari semua wilayah sebesar, 11.354,86 ton.

erangpolea - Jejak Erangpolea

erangpolea2 - Jejak Erangpolea

Dimana-mana ada kampanye keberhasilan produksi jagung kuning oleh pemerintah, sebab memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan nasional, dan hal demikian menjadi petanda baik yang kerap mewarnai dunia pertanian kita di Indonesia.

Alhasil jagung kuning, diproduksi secara massal oleh petani, hasilnya dijual, untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya. Para petani kini mendapatkan model baru baru dalam bertani “menanam hasilnya untuk dijual” bukan lagi seperti sebelum-sebelumnya, bertani untuk kebutuhan subsisten.

Efisiensi dan efektivitas dalam pertanian, kini mulai dilakukan secara massal,  targetannya adalah profit. Dengannya jagung kuning cukup relevan  dengan model pertanian seperti itu, selain memiliki pasar yang jelas. Meskipun menanam jagung kuning memiliki ongkos produksi yang tinggi, karena sudah tidak adalagi yang memakan berasa’ batara’, meskipun dibeli, mereka harus menanam jagung kuning untuk mendapatkan beras.

Ongkos produksi jagung kuning yang dikeluarkan oleh petani,  hingga tiba dipedangan, dalam satu hektar tanah pertanian, membutuhkan 4 kantong bibit jagung kuning, jika dirupiahkan sebesar  Rp.240.000,  pupuk 2 sak, , sebesar Rp. 220.000, racun rumput 4 liter, sebesar,  Rp.320.000, hasil panennya sebanyak 60 karung jagung, biaya angkut dari kebun ke-jalan tani Rp.5.000/karung, total biaya angkut dari kebun ke-jalan tani sebesar, Rp.300.000,  biaya angkut dari jalan tani ke-rumah sebesar Rp.100.000, biaya dros sebesar, Rp.150.000,. biaya angkut dari rumah kepedagang sebesar Rp.100.000, belum termasuk konsumsi, total biaya produksi hingga tiba dipedagang sebesar Rp 1.400.000 dengan berat jagung 1 ton. Harga perkilogramnya jagung kuning dipetani sebesar Rp.2.700 (harga tertinggi) dikali 1 ton jika dirupiahkan sebesar Rp. 2.700.000 dikurang ongkos produksi sebesar Rp. 1.400.000 petani mendapat uang tunai sebesar Rp.1.3000.000, belum termasuk tenaga dan biaya lainnya saat masa perwatan hingga panen, beserta petani yang hanya menggarap tanahb orang lain, hasilnya dibagi dua.

Baca juga:  Lagu Cinta dan Kesyahidan

A’lembera semakin sulit menemukannya dalam situasi, dimana petani telah berproduksi jagung kuning sebagai komoditas andalan pemerintah, sebab tenaga manusia tidak cukup untuk mengangkutnya kerumah masing-masing. Sisi lain  jejak  Erangpolea masih kerap digunakan oleh para petani meskipun produksinya bukan lagi untuk memnuhi kebutuhan subsistennya.

Kampanye keberhasilan jagung kuning sebagai komoditas yang menunjang pendapatan negara, penting kiranya, mengecek ulang terhadap tingkat kesejahteraan petani di basis produksi.

Perubahan corak produksi pertanian tradisonal dengan aktivitas A’lembara’ sebagai salah satu aktivitas kerjanya bagi petani di Pabiringa, pasar jagung kuning cukup memberi pengaruh atas perubahan produksi berasa’ batara’, sebagai pangan lokal dengan pola,  memperkenalkan beras padi yang notabenenya, membutuhkan biaya untuk mendapatkannya. Karena jagung kuning sebagai komoditas pasar memiliki sedikit jaminan finansial, demikian petani di Pabiringa kini mulai banyak memproduksinya, demi sekantong beras.

Korporatisasi pola produksi pertanian di Pabiringa, dan jagung kuning sebagai komoditasnya, memberikan saya gambaran bahwa perubahan produksi pangan lokal yang cukup menjamin ketahanan pangan petani, melalui introduksi pasar dengan cara-cara terbaru, konflik ruang yang sedang berlangsung, tidak begitu terlihat seperti konflik ruang pada umumnya, namun skemanya tetap sama yakni menjerat petani masuk kedalam produksi yang eksploitatif dan alternatif.[]

Jagung Erangpolea - Jejak Erangpolea

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi