Jika Jokowi adalah Dokter Gigi

Ilustrasi Historead
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang kejahatan dan hukuman

Jika Jokowi adalah dokter gigi, maka semua pasien yang datang padanya mungkin tak akan punya gigi lagi. “Kita tidak lagi mengagumi dokter gigi yang mencabut gigi”, kata Nietzsche saat menganalogikan penilaian moral yang fatalistik. Mempunyai gigi yang sering sakit itu lebih baik daripada tidak punya gigi, atau punya gigi palsu.

Hukuman mati untuk tindak kejahatan adalah sama halnya dengan “mencabut gigi”. Pemerintah tidak tahu cara menghentikan peredaran narkoba yang masif, maka untuk menunjukkan keseriusannya mereka memutuskan hilangnya nyawa bagi para pelakunya. Iya, mereka cuma sedang menunjukkan keseriusan, pamer ketegasan, perayaan kekuasaan.

Kita tahu kejahatan peredaran narkoba tidak akan selesai dengan hukuman mati, dengan “mencabut gigi” yang sakit itu. Hukuman mati terlalu sederhana sebagai solusi menghentikan peredaran narkoba. Freddy Budiman tahu bahwa hukuman mati adalah konsekuensi, dan orang seperti dia menjadi kebal dari segala teror tentang hilangnya nyawa. Dia tahu apa hukumannya, dia tahu apa yang dihadapi –pendek kata, dia adalah orang yang bertanggung-jawab. Para penjahat kakap itu tahu diri, dan mereka tetap melakukan peran yang seharusnya dilakukan untuk bertahan hidup. Hukuman mati hanyalah teror bagi orang baik, sedangkan para penjahat menganggapnya hanya sebatas resiko.

Ini berarti kejahatan timbul bukan sebab penegakan hukum yang tidak tegas, namun terdapat faktor lain yang lebih halus, faktor yang hanya bisa dicium oleh hidung yang lebih peka (tentu seorang polisi atau penegak hukum lainnya tidak punya jenis hidung seperti ini). Para penegak hukum masih meraba secara kasar penyebab-penyebab kejahatan, sebab itu pula tindakan yang diambil juga gegabah dan tidak menyelesaikan masalah. Mereka malas berpikir dalam (lebih lagi, mereka lebih sibuk mempertahankan nama baik).

Baca juga:  Jejak Erangpolea

Kejahatan akan terjadi, tidak peduli ada atau tidaknya hukuman. Besar kecilnya hukuman tidak akan punya pengaruh signifikan pada jumlah kejahatan. Itu sebabnya dengan santai Anas Urbaningrum bersedia digantung di Monas jika terbukti korupsi. Kejahatan timbul sebab sulitnya mencari pekerjaan dan biaya gaya hidup yang meningkat. Rakyat menjadi dipaksa bekerja lebih keras dalam memenuhi hidupnya. Dan Freddy Budiman, bagi saya dia hanyalah orang beruntung yang tahu celah untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Peduli usahanya legal atau tidak, dia mampu melihat kesempatan dalam kebobrokan aparat negara untuk memuluskan usaha miliknya. Jadi, bukan semata Freddy sendiri yang memperjuangkan nasibnya hingga dia hidup makmur. Dia hanya punya dua tangan dan kaki, tentu dia punya dukungan yang lebih besar yang memungkinkan dia menjalani takdir sebagai gembong narkoba sukses.

Pemerintah Sama Buruknya dengan Teroris

Pemerintahan ini tidak lebih baik pejuang khilafah di tanah air dalam konteks penanganan pelanggaran hukum. Pemerintah memilih (paling tidak mengizinkan) aparatnya untuk melakukan tindakan fatalistik, tindakan yang lebih memilih mengamputasi organ tubuh yang sakit ketimbang menyembuhkannya. Masih ada dalam ingatan kita bagaimana aparat tidak mengizinkan buku-buku kiri dijual di toko buku. Penangkapan mahasiswa yang memakai kaos, memasang poster, pin, dan atau stiker komunis. Hukuman kebiri pada pelaku kekerasan seksual. Sensor bagian tubuh wanita di televisi. Mengebom kapal pencuri ikan (dengan seremonial berlebihan). Dan yang paling hangat ini adalah hukuman mati pengedar narkoba.

Baca juga:  Djemilah

Kita tahu bahwa kontol bukanlah sumber masalah kekerasan seksual, siapa orang bodoh yang jika ditanya, “mengapa pelaku memperkosa korban?” akan menjawab, “karena pelaku punya kontol.” Siapa juga orang bodoh yang membaca buku komunis hanya karena buku komunis dijual di Gramedia? Siapa yang menghentikan pekerjaannya sebagai pengedar narkoba hanya karena takut dihukum mati?

Pemerintah telah salah mendeteksi faktor terjadinya kejahatan. Dan mereka telah putus asa mencari dalam-dalam di hati nurani mereka untuk memutuskan tindakan yang tepat. Alhasil, bagi saya pemerintahan Jokowi sama gilanya dengan para penganut agama yang menyebar teror. Mereka sama bodohnya. Jika sang teroris mengatakan, “yang kafir harus mati demi tegaknya agama!”, pemerintahan Jokowi mengatakan, “kamu sang teroris juga harus mati juga atas nama hukum.” Keduanya mempunyai berhala yang disembah secara berlebihan, teroris memberhalakan agamanya, pemerintah memberhalakan hukumnya.

Hingga pada akhirnya, hukum dan agama telah melenceng tujuannya. Menurut Frederic Bastiat, hukum adalah ‘alat’ (sebab itu tidak bisa dipuja secara berlebihan) untuk membela diri individu yang dirampas haknya. Sedangkan agama kita tahu lebih mengajarkan perdamaian ketimbang pembunuhan. Sedangkan saat ini, hukum adalah semangat untuk menghukum itu sendiri. Dan agama diinterpretasi sebagai program sapu bersih kaum kafir. Kita sebenarnya ingin tahu, antusiasme Jaksa Agung untuk kukuh pada hukuman mati itu adalah semangat memerangi narkoba atau semangat membunuh rakyat secara legal?

Baca juga:  Perempuan yang Membuat Meja Makan di Rumahku

Perspektif hukum yang dianut pemerintahan saat ini dan agama menurut versi para konservatif tidak menyelesaikan masalah. Keduanya hanya berpengaruh pada berkurangnya jumlah musuh yang berada di pihak lain akibat penghilangan nyawa.

Setiap kegiatan penumpasan kejahatan adalah kejahatan itu sendiri. Oh, ya? Benarkah? Saya mungkin salah, tapi memang apa benarnya menghukum mati seseorang atas nama hukum. Melahirkan anak yatim yang lebih banyak, yang nantinya mungkin menyimpan rasa dendam pada pemerintah. Melahirkan janda dan duda yang menangisi kematian tulang punggung keluarga. Kita harus menanyakan lebih lanjut, apa tanggung jawab pemerintah setelah menghukum mati seseorang. Apakah mereka menyediakan pekerjaan yang lebih baik untuk para penjahat sebelum mereka memutuskan menjadi penjahat? Apakah mereka punya santunan bagi keluarga yang ditinggalkan? Apakah proses hukum yang menghasilkan vonis hilangnya nyawa sudah sangat mulus tanpa cela?

Sejatinya, kita tidak sedang menuju tatanan yang lebih baik, melainkan sedang melihat genosida yang memberondong habis manusia dengan pandangan yang berbeda dengan diri kita. Kita sedang melihat orang-orang baik menjadi beringas dan bersenjata lengkap untuk memusnahkan kejahatan bukan demi kebaikan masyarakat umum, namun semata-mata melenyapkan musuhnya sendiri. Sama seperti saat Tiongkok menjajah Tibet dengan dalih memperbaiki kehidupan rakyat Tibet, orang bodoh pun tahu itu semata-mata soal kekuasaan.[]

uploadjokowi - Jika Jokowi adalah Dokter Gigi

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi