Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Perjalanan hidupnya adalah perjalanan idealisme. Ia menapaki satu karir ke karir yang lain untuk mencapai idealisme itu. Berulangkali ia harus kecewa untuk mencapai idealisme tersebut. Ia tetap tidak menyerah. Jalanan terjal tetap ia tempuh, meski kini harus berzig-zag, berputar, turun, dan melangkah lagi. Ia adalah seorang Marhaenis sejati -cum- pemeluk ajaran Yesus yang teguh.

Namanya Opa Peter. Laki-laki kelahiran Maluku Barat Daya, 86 tahun yang lalu. Duda cerai mati ini kini mendiami sebuah kelurahan di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Hari-harinya kini diisi dari satu persekutuan doa ke persekutuan doa lain, di kotanya, Mataram.

***

Saat itu pukul empat sore di akhir September. Opa Peter telah rapi dengan setelan batik dan celana panjang bahan. Kaus kaki telah ia kenakan. Rambut telah ia minyaki. Sepeda motor telah ia keluarkan. Ia bersiap-siap untuk berangkat ke persektuan doa di keluarga A, yang saat itu mendapat giliran. Tapi pesan pendek dari salah seorang anaknya, Nona, menghentikan langkahnya. Pesan sang anak, ada kawannya ingin tahu apa rahasia panjang umur dan bahagia pada sang papa.

Ia rela menunggu sebentar. Sudah jadi wataknya, ia tidak bisa menolak, ketika diminta pertolongan. Toh jadwal persekutuan doa masih satu jam lagi. Sembari menunggu ia menyalakan rokok, jenis mild dari sakunya. Ia gemar sekali merokok, sudah berjenis-jenis rokok ia nikmati. Kopi susu instan dari sachet yang telah terhidang menjadi minuman pelengkap rokoknya.

Pikirannya melayang melintasi masa lalu, ia sedang mengorek apa yang menjadi kebahagiannya selama ini. Yang terlintas adalah rasa syukur kepada Tuhan bahwa ia selalu bahagia ketika ia bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Ia lega ketika melihat anak-anaknya wisuda kuliah. Ia puas ketika pekerjaannya bisa memberi manfaat pada orang. Ia bangga ketika para bekas bosnya menahan dirinya keluar dari pekerjaan. Ia girang ketika membantu menyelesaikan masalah. Ia selalu bergairah untuk selalu ada dalam persekutuan doa. Ia bahagia ketika dia berhasil berziarah ke kota suci Yerusalem.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Jalan Budaya Hasnan Singodimayan
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Ia telah belajar berbagai agama-agama untuk melihat diri dan imannya. Ada benang merah yang sama, bahwa semua manusia hendak mencapai Tuhan hanya untuk kemulyaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Tidak ada satu agamapun merelakan kebahagian itu dibangun dari batubata kebencian, semen ketidakadilan dan beton kekerasan. Begitu ia akan berkata kepada semua orang yang bertanya apa itu kebahagiaan?

Ia menyimpulkan, kebahagian itu: menjalankan sebaik-baiknya apa yang Tuhan kasih ke engkau. Dan meninggalkan sejauhnya apa yang Tuhan larang kepada engkau.

***

Ia mengawali karirnya sebagai kadaster di Dinas Pekerjaan Umum.  Profesi kadaster itru  semacam juru olah informasi pertanahan terkait hak, batasan dan tanggungjawab.  Karirnya berkembang cepat seiring dengan prestasi kerjanya. Dia tidak hanya mengukur,  tetapi juga merencanakan dan mengaplikasikan hasil analisisnya. Ia menyiapkan, merencanakan dan membangu bendungan, irigasi, bandar udara, kolam renang, gedung dan sebagainya. Flores, Timor, Bali, Lombok adalah daerah yang dia kerjakan.

Namun profesi sebagai pegawai PU ini kemudian ia tinggalkan. Ia ingin meneruskan sekolah lanjut. Pimpinannya melarang dirinya untu sekolah lagi. Peter pun pindah pekerjaan pada perusahaan kontraktor swasta. Sekali lagi Peter membuktikan kecakapanya. Yang membuat dirinya tersanjung adalah, ia kemudian dipinang kembali untuk bekerja di PU. Pimpinan yang tahu kemampuannya, mengijinkannya sekolah kembali. Ia mengabulkan cita-citanya sekolah, asal ia kembali bekerja di PU. Peter menolak bujukan untuk kembali ke PU. Ia memilih membuat perusahaan kontraktor sendiri. Dan dia berjaya dengan usahanya itu, hingga kini.

Baca juga:  Seni adalah Pemberontakan

Pada masa senjanya kini, dia masih juga bekerja dengan giat. Ia tidak pegang proyek. Hanya sebatas mengawasi saja. Anak-anak dan keluarga besarnya yang telah mengurusnya.

***

Ia masih gesit menunggang motornya ke sudut kota Mataram. Memang tidak gesit, tapi ia seperti orang berumur 50 tahun ketika berkendara. Fisiknya masih kuat.  Jalannya masih tegap. Matanya pun masih awas. Suaranya keras. Mungkin hanya kulit keriput saja penanda bahwa ia telah berusia senja.

Peter bersyukur tidak pernah sakit. Ia merokok. Minum kopi. Makan makanan kesukaannya, bebas saja. Tidak ada keluhan apapun dengan tubuhnya. Ia sehat sekali.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Ia mengenang, ratusan kilometer ia tempuh setiap tahunnya dengan jalan kaki untuk menjalani profesinya sebagai kadaster. Dari ujung ke ujung lahan, hutan dan kota dia mengukur luas tanah. Ia ingat harus berkeling mengukur tanah dari ukuran 20.000 hektar hingga 500.000 hektar. Semua ia ukur bersama kawan-kawannya dengan jalan kaki. Maklum tahun itu tidak ada teknologi canggih apapun di Flores, pun di Indonesia, untuk mengerjakan pengukuran tanah.

Kini di usia senja, ia memetik buahnya. Genjotan fisik dimasa muda sebagai kadaster maupun pemborong, pengusaha kontraktor kini telah ia petik. Fisiknya sehat, tidak gampang lelah, dan menjalani hidup tanpa penyakit berarti.

Baca juga:  Air Kebahagiaan

***

Tahun 1950 adalah awal karir politik Opa Peter. Pada waktu itu, dirinya sedang bekerja, di Ende, Pulau Flores, sebagai tenaga ahli teknik. Kala itu di Ende, kampung pembuangan Sukarno dan Hatta, akan dibangun bandar udara. Ia diminta kantor Pekerjaan Umum, tempat awal dia bekerja, untuk menjadi pelaksana sekaligus tenaga ahli.

Tak dinyana, ada kunjungan besar dari Sukarno ke Ende waktu itu. Dia yang sudah berbulan-bulan di Ende berkesempatan bertemu dengan Sukarno. Kala itu kaum Marhaenis, pengikut ajaran Sukarno berkumpul dan membuat pertemuan dengan Sukarno. Ia juga pengagum Sukarno, ia hadir di acara itu. Diputuskan akan dibentuk cabang Partai Nasional Indonesia di Ende. Dia terpilih sebagai wakil ketua. Ia gembira sekali.

Hari-harinya adalah menguatkan para masa marhaen. Dia ingin menuntaskan permasalahan kemiskinan di wilayahnya. Ia bikin program anti kemiskinan, semacam program tolong menolong. Lalu dengan suka ria, pada masa sela, ia membagi-bagikan majalah marhaen terbitan Makassar. Ia membagi-bagikan sampai ke pelosok dengan jip. Ia mengenang, seisi mobil jip yang sisa, ia sumpali dengan majalah marhaen.

Demikianlah awal dia menjadi Marhaen sejati hingga kini. Kenangan dan ikhtiarnya untuk meneladani Sukarno dengan marhaenisme membawanya kepada aktivitas partai politik. Itu ia lakoni secara aktif sampai dengan 2004. Ia masih berkampanye ke seluruh Nusa Tenggara Barat untuk partai berideologi Marhaen. Kini ia lebih banyak di belakang layar kegiatan partai, ia memusatkan diri pada persekutuan doa. Baginya ajaran Tuhan dan cita-cita marhaenisme adalah sama melawan segala bentuk penindasan dan anti kemiskinan. Dia bangga menjadi bagian dari itu.[]kapalapiopapeter - Jurus Bahagia Sang Marhaenis

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi