Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Bagi Mas Joko, kebahagian yang didapat seorang lelaki adalah ketika sudah berkeluarga. Mendapatkan istri cantik, anak-anak manis, pekerjaan jelas, memiliki rumah sendiri. Betapa indahnya, tiap hari kita bisa bercengkrama dengan orang-orang tercinta, istri dan anak kita. Bermain, bergaul dengan ceria dan bebasnya. Mas Joko yakin surga ada di dunia saat itu. joko rajin masjid

Namun semua itu mulai berubah, saat anaknya nomor dua, bicara padanya selepas sholat isya’, istrinya sedang ke rumah tetangga menanyakan jadwal yasinan selasa depan.

“Pak”

“Ya nak”

“Pak, apakah di dalam masjid itu diperbolehkan kentut?”

Mas Joko yang aslinya orang Jawa Timur terdiam sejenak. Karena bukan Jawa Timur daerah Surabaya dan Malang, tapi daerah barat selatan, Joko tidak dipanggil Cak Joko melainkan Mas Joko. Soal tambahan Mas dari namanya, kabarnya dia masih keturunan ningrat mataram kuno di Jawa Tengah yang pindah ke Jawa Timur, entah karena bencana alam atau kalah perang. Tapi ada pula yang menyebutkan, tambahan Mas itu olok-olokan karena namanya Joko, meski istrinya empat, cucunya delapan, tetaplah Joko, bukan duda atau eyang.

Dari pertanyaan anaknya, Mas Joko menyadari anaknya ini sudah dimasuki hawa sekolahan. Rasa ingin tahunya sudah berkembang. Tentu saja Mas Joko bisa menjawab dengan mudah.

“Nak, kentut di dalam masjid itu tidak boleh, ya nak”

“Kenapa tidak boleh pak?”

“Karena masjid itu rumah Allah, tempat suci, tidak boleh dikotori oleh suara dan baunya kentut”.

Begitu mudahnya memberikan penjelasan dan pengertian kepada anak kecil tentang masalah kentut di dalam masjid. Dan Mas Joko merasa seperti guru ngaji.

Mas Joko mengira anaknya tidak akan bertanya lagi soal kentut dalam masjid. Namun tiga hari setelah itu, anaknya bertanya kembali, ketika istrinya sedang masak di dapur, sementara dirinya dan anaknya sedang nonton televisi menunggu pertandingan sepak bola liga Inggris.

“Pak, di dalam masjid tadi ada yang kentut”

“Bagaimana kau tahu ada kentut di masjid, bukan kamu kan yang kentut nak?”

“Bukan aku pak yang kentut, aku dengar suaranya pak, yang kentut itu Darsono pak, kentutnya bau telur busuk pak”.

Mas Joko menyadari bahwa setiap manusia pasti kentut. Memang tidak ada ceritanya orang dipenjara karena kentut, tapi lebih berkaitan dengan etika dan rasa malu.

“Nak, masjid itu tempat bersujud, orang beribadah, orang ke masjid untuk sholat, dzikir dan membaca Qur’an. Makanya kentut di dalam masjid itu tidak diperbolehkan, nak”.

Baca juga:  Merayakan Rumi di Bulan September

“Tapi kan orang-orang datang ke masjid, tidak semuanya langsung sholat dan langsung pulang, ada yang ngobrol-ngobrol sambil udad-udud, di teras masjid. Terus di masjid tidak hanya sholat dan baca Qur’an kegiatanya pak, tuh kalau ada pengajian umum, kan tidak baca qur’an dan sholat, terus ada membersihkan masjid, menyapu, mengepel, mengecat, mengganti keramik, mengganti jam dinding, aku dan teman-teman ngaji iqro kan juga tidak langsung ngaji, main dulu, sehabis ngaji juga tidak pulang dulu, main dulu di masjid.”

Begitulah nasib seorang bapak yang berusaha memberi penjelasan tentang suatu masalah, seorang anak selalu memiliki stok pertanyaan lagi.

“Tapi kan orang punya rasa malu kalau kentut di masjid, suara dan baunya mengotori tempat suci, itu kan memalukan?

“Berarti kalau kentutnya tidak bau dan tidak bersuara tidak usah malu ya pak?”

Untuk sesaat Mas Joko tidak menjawab pertanyaan anaknya. Mendidik masalah moral keseharian memang tak semudah dalam buku. Dan orang tua memiliki kebiasaan tak mau disalahkan dan dikalahkan. Maka Mas Joko balik bertanya.

“Kau pernah kentut di masjid ya nak, kentutmu tidak bersuara dan tidak berbau ya nak?”

Basuki, nama anaknya itu, lari keluar rumah setelah menjawab singkat;

“Aku tidak mengerti pak”

Mas Joko tahu anak itu mengerti pertanyaanya.

Namun semenjak itulah anak itu tidak bercerita lagi tentang kentut di dalam masjid. Mas Joko senang dengan perubahan tersebut. Karena membicarakan kentut pada anak-anak itu sungguh melelahkan. Dan Mas Joko sadar kalau usia masih anak-anak kentutnya bisa diatur dan baunya tidak terlalu busuk. Tapi kalau sudah kepala 40 tahun ke atas kentutnya sulit diatur, sulit ditahan, baunya menyeramkan.

Tidak sampai setahun, setelah bulan syawal, Mas Joko bukan lagi mendengar cerita dan pertanyaan anaknya tentang kentut dalam masjid, melainkan dia sendiri mengalaminya. Namun menurutnya bukan dirinya sebagai pelaku kentut, namun sebagai korban tindakan kentut seseorang di dalam masjid. Mas Joko tidak mendengar kentut tapi merasakan kentut seseorang.

Pertama kali Mas Joko merasakan ada yang kentut dalam masjid sewaktu sholat jum’at. Waktu itu khatib jum’atnya tetangga dekatnya, Mustakim, seorang makelar tanah yang waktu mudanya jago minum, tengah membaca pembukaan khutbah jum’at.

“…marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah…”

Di saat khotib Mustakim bicara begitu, Mas Joko mulai merasakan ada bau kentut. Dan bau kentut ini khas sekali, kentut bau telur busuk, persis yang pernah diceritakan oleh anaknya. Batinya gelisah, ‘ini sungguh kurang ajar, bagaimana perasaan orang yang kentut itu. Tahu diri tidak, punya rasa malu tidak. Sudah begitu tidak ada yang keluar untuk wudhu sebelum sholat jumat dua rakaat, sebagai bentuk pengakuan. Dan herannya kok pada tenang jama’ah jum’at itu, tidak ada yang ngedumel, minimal dehem atau batuk-batuk’.

Baca juga:  Zakariya Al-Qazwini dan Novel Alien

Namun kemudian Mas Joko berprasangka baik, bahwa sebenarnya yang kentut di dalam masjid itu tidak ada. Bisa jadi itu memang bau dari telur busuk yang sengaja dibuang oleh orang di selokan sebelah timur dekat masjid. Bisa jadi pula dia sendirilah yang hanya merasakan adanya bau kentut tersebut, sebagai bentuk sentilan gusti Allah, karena dia manusia yang banyak melakukan kesalahan, suka melupakan dosa, banyak berbuat maksiat.

Mas Joko punya prasangka demikian ketika khotib membacakan khotbahnya yang berbunyi;

“…..kita sebagai manusia selama ini suka menyombongkan diri, merasa benar sendiri, merasa baik dan suci sendiri, segala dosa, kesalahan yang pernah dan sering kali dilakukan tak diakuinya….kita suka berburuk sangka, kita suka mengikuti hawa nafsu setan, kita suka menyalahkan orang lain kalau mendapatkan situasi yang tidak enak, apa itu kemiskinan kita, keburukan kita, tidak memiliki kekuasan, tidak punya kerjaan…”

Namun jum’at minggu depanya Mas Joko mendapatkan bau kentut telur busuk kembali ketika khotbah jum’at mulai dibacakan khotib Sudarmin, mantan Kepala Desa yang istrinya dua.

“….hadirin jama’ah jum’at, pertama-tama marilah kita tingkatkan iman dan ketakwaan kita…”

Mas Joko ngedumel, ‘dosa apa yang sebenarnya kulakukan. Sungguh busuk betul bau kentut ini’. Mas Joko dari semula berusaha untuk berprasangka baik, namun sayangnya sampai khotib menyelesaikan khotbah keduanya, bau kentut telur busuk itu betah mendekam di hidungnya. Kalau jum’at kemarin hanya pertengahan khotbah, ini baru hilang baunya ketika dimulainya sholat jum’at dua rakaat.

Akhirnya pertahanan Mas Joko jebol juga. Mas Joko menggerutu, ‘sungguh orang yang kentut ketika khotbah jum’at ini sangatlah bejat moralnya’. Dan anehnya semua yang lain seperti jum’at kemarin, pada diam, enak tidurnya sambil duduk bersila. Dan Mas Joko bertanya kembali pada dirinya sendiri, ‘apakah hanya aku sekali lagi yang merasakan bau kentut ini’. Akhirnya Mas Joko bertanya-tanya dalam hati, ‘Apa begitu besar dosaku?’

Mas Joko tidak pernah bercerita pada siapa-siapa tentang apa yang dialaminya selama mengikuti dua sholat jum’at itu. Tentu Mas Joko malu menceritakan pada anaknya. Mas Joko takut dianggap gila kalau sampai menceritakan yang dialaminya pada istrinya atau orang lain.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

Pada jum’at selanjutnya, jum’at ketiga, Mas Joko berusaha berprasangka baik dari awal ketika mau berangkat ke masjid. Baginya, tidak mungkin ada bau kentut lagi, jum’atan tiga kali berturut-turut.

Namun berprasangka baik dari awal itu susah. Mau sholat jum’at kok mikirin kentut. Dan, ternyata bau kentut itu muncul kembali pas ketika khotbah jum’at mulai dibacakan oleh Sugiyanto, carik desa yang dulunya mantan preman pasar kembang;

“….hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah, marilah pertama-tama kita tingkatkan iman dan ketakwaan kita, saya mengajak diri pribadi saya dan kita semua,….”

Kembali Mas Joko berusaha berprasangka baik dari awal sekuat tenaga. Mas Joko sebenarnya heran, kenapa bau kentut itu bisa bertahan lama, padahal ruangan masjid itu lebar dan tinggi, ada jendelanya, pintunya terbuka, ada kipas anginya.

Maka selama khutbah jum’at Mas Joko terus berdzikir, mengalihkan kosentrasinya tidak terfokus pada bau kentut telur busuk dalam masjid. Mas Joko bacakan kalimat istiqfar, tasbih, hamdallah, takbir, tahlil, sholawat, nama-nama Allah yang dikenalnya disebut-sebut pula.

Kurang ajarnya bau kentut itu semakin menyengat, bahkan kali ini sampai sholat jum’at dua rakaat. Dan baru dzikir bersamalah, bau kentut telur busuk itu mulai berkurang. Dan baru benar-benar hilang ketika pulang sudah di rumah.

Ini sungguh aneh. Dan keanehan ini tak bisa Mas Joko jawab. Akhirnya keanehan yang tak bisa Mas Joko jawab sendiri itu mengganggunya, dan tak bisa lagi untuk tidak dibicarakan pada orang lain. Akhirnya di hari sabtu Mas Joko menceritakan pada istrinya tentang yang dialaminya. Setelah puas bercerita, istri dengan sederhana menjawabnya;

“Sampeyan itu terlalu berprasangka buruk mas. Nyebut Mas, istiqfar mas. Ingat sampeyan tiap malam jum’at kan makan telur, ingat itu mas.!”

Begitulah ceritanya Mas Joko kala rajin ke masjid yang dulunya dikenal sebagai pendekar. Mas Joko sekarang usianya sudah 50 tahun ke atas, meski tubuhnya tetap pendek dan masih kekar. Kabarnya, Mas Joko sekarang masih belajar untuk tidak berprasangka buruk kepada orang lain, semenjak dirinya mendengar cerita ada kentut di dalam masjid dari anaknya bernama Basuki dan pengalaman pribadinya sendiri. [] Temanggung, Juli, 2016

joko - Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi