Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Bagaimana jalan sepakbola seperti di Spanyol mampu digunakan untuk meredam gejolak di Papua

Spanyol berpesta. Namun andaikata Jenderal Franco masih hidup, akankah dia ikut berpesta, saat melihat sekelompok pemain Barcelona tak segan menunjukkan identitas Katalan?

Selama rezim fasis Franco berkuasa, orang-orang Katalan adalah musuh. Keinginan Katalunya (dengan ideologi Katalinisme) untuk merdeka adalah ancaman bagi cita-cita satu negara Spanyol yang didengungkan Franco. Pemerintah Spanyol, atas restu Sang Raja, melarang dikereknya bendera Katalunya dan digunakannya bahasa Katalan di tempat umum.

Tak pelak Barcelona menjadi sasaran utama Jenderal Franco. Ia menghukum mati Presiden Barca Josep Sunyol. Nama klub diubah paksa, dari Footbal Club Barcelona menjadi Club de Football Barcelona. Semua yang berbau Katalunya dihapuskan.

Intelijen dan aparat keamanan mengintimidasi Barcelona. Tahun 1943, Barcelona takluk 1-11 di tangan Real Madrid, klub pujaan Franco, dalam semifinal Piala Generalissimo. Namun, sebelum pertandingan, menurut Franklin Foer, kepala keamanan memberikan ‘pesan sponsor’ lebih dulu di ruang ganti Barcelona.

Menarik, berbeda dengan rakyat Basque yang memilih melakukan perlawanan dengan kekerasan, warga Katalan justru tidak menempuh jalan itu. Orang Katalan menggunakan FC Barcelona dan stadion sebagai katarsis, tempat pelepasan amarah terhadap rezim Madrid. Barcelona adalah bagian dari simbol perjuangan separatisme Katalan dari Spanyol.

Baca juga:  Museum, Kenangan, Melankoli

Franco pun membiarkan hal tersebut. “Tujuannya cukup jelas: agar rakyat Katalunya bisa menyalurkan energi politik mereka ke dalam acara pengisi waktu luang yang tidak membahayakan,” tulis Franklin Foer, jurnalis The New Republic.

Kebijakan Franco (menindas tapi memberikan katup pengaman sosial) pada akhirnya justru cukup jitu bagi sepakbola Spanyol. Liga Primer Spanyol selama puluhan tahun menjadi tempat persaingan dua kekuatan besar: Real Madrid dan Barcelona. Dari persaingan tersebut, tim nasional yang tangguh dilahirkan. Hari ini, ada tujuh pemain Barcelona dan lima pemain dari Real Madrid, klub kesukaan Franco semasa hidup dan berkuasa. Mereka bersatu padu merebut Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012.

Saya adalah salah satu orang yang percaya, bahwa apa yang terjadi di Spanyol, bisa dilakukan di Indonesia. Saat ini, Papua bergolak kembali. Jakarta memilih melakukan pendekatan represif untuk menekan setiap potensi gerakan separatis. Bintang Kejora dilarang untuk dikerek, karena ini bendera dianggap sebagai simbol pemisahan diri Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga:  Soccer War

NKRI harga mati. Demikian para pimpinan politik dan militer Indonesia selalu berseru. Seruan ini menunjukkan tekad, namun juga bisa memunculkan masalah stigma saat berhadapan dengan rakyat Papua. Secara tak sadar, ada kecurigaan terhadap mereka, meragukan kadar kebangsaan selama ini.

Kekerasan pun tak pandang bulu, bahkan terhadap warga sipil yang tak bersalah, hanya dengan berbekal kecurigaan. Kita tidak belajar dari apa yang dilakukan pemerintahan masa lalu di Aceh. ‘NKRI harga mati’ diserukan, dan mendadak warga sipil pun menjadi korban. Ini memicu semangat separatisme dan kebencian semakin berkobar terhadap Jakarta.

Indonesia seharusnya bisa menempuh ‘jalan sepakbola’ seperti di Spanyol untuk meredam gejolak di Papua. Pemerintah tak perlu cemas dan paranoid oleh bendera bintang kejora. Di balik bendera ada manusia, dan setiap manusia membutuhkan kebanggaan sebagai bagian dari eksistensi diri. Sepakbola seharusnya bisa memberikan kebanggaan itu, sebagaimana yang terjadi di Katalan dan Spanyol.

NKRI bisa saja diserukan sebagai harga mati. Namun itu tidak kemudian membuat kita menjadikannya sebagai parameter untuk meragukan nasionalisme putra Papua. Justru sebagian dari kita seharusnya belajar soal nasionalisme dari trio Papua: Patrich Wanggai, Titus Bonai, dan Oktavianus Maniani.

Baca juga:  Generasi Pasca - Televisi

Tiga pemain muda berbakat ini dengan gagah berani melawan kebijakan klub mereka sendiri yang melarang memperkuat tim nasional. Mereka memilih tetap merapat ke Jakarta untuk bermain bersama tim nasional, mengharumkan nama bangsa dalam Turnamen Al-Nakbah di Palestina.

Di lain pihak, kita patut mempertanyakan rasa nasionalisme para bos klub dan pengurus Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia, yang melarang para pemain dari Liga Super Indonesia untuk memperkuat timnas. Di Spanyol, tidak ada yang membantah, Barcelona adalah klub tertindas dan ‘nomor dua’ di mata pemerintah Spanyol. Namun, urusan politik tidak lantas membutakan segalanya. Para pemain Barcelona tetap menjadi pilar timnas Spanyol dan dengan bangga ikut merayakan kejayaan negara yang dibenci rakyat Katalan.

Rakyat Spanyol memberikan hormat kepada tujuh pemain Barcelona. Dan di sini, di tanah pertiwi, kita memberikan hormat setinggi-tingginya kepada Wanggai, Bonai, dan Okto. Nasionalisme mendapat maknanya di kaki mereka yang menggocek bola di lapangan. Bukan di bibir para politisi yang mengurusi sepakbola.[]

Jalan Sepak Bola

Tidak ada artikel lagi