Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip tulisan MD dalam Memorandum 7 September 1980

Pernah ada olok-olok yang ditujukan kepada pengarang Pramoedya Ananta Toer. “Masukkan saja ia ke dalam tahanan agar dapat membikin karya sastra yang bernilai tinggi.” Padahai sekitar tahun 1950-an Pramoedya Ananta Toer adalah orang bebas yang juga menciptakan karya sastra. Tetapi karya Pramoedya pada saat itu, oleh pengamat sastra dinilainya tidak bermutu. Berbeda dengan karya-karya Pramoedya yang diciptakan ketika dalam tahanan Belanda.

Barangkali olok-olok yang dilontarkan oleh teman-teman Ajip Rosidi dan kawan-kawan, para pengarang yang muncul sekitar tahun 1950-an, adalah olok-olok yang beralasan. Ini terbukti dengan munculnya novel “Bumi Manusia” yang baru saja terbit di Jakarta, mendapat sambutan hangat dari beberapa penulis di media massa. Parakitri, wartawan “Kompas” telah memuji karya Pramoedya ini tidak kalah pentingnya dengan novel-novel kaliber dunia yang telah memperoleh Hadiah Nobel untuk kesusastraan dari Akademi Swedia.

Dalam “Bumi Manusia” ini Pramoedya bercerita tentang kehidupan wanita Indonesia. Yang tersirat dalam novel itu ialah penindasan yang dilakukan kepada orang kecil, tidak menjadikan dirinya pipih, luluh dan tergencet. Melainkan satu kebangkitan untuk menentang siapa yang telah menindasnya.

Baca juga:  Di Sebuah Bioskop, Suatu Hari

Novel ini oleh pengarangnya ditujukan kepada kaum wanita Indonesia. Kepada “Tempo’* Pramoedya mengatakan bahwa jasa para wanita cenderung untuk tidak mau diakui sebagai orang yang telah berbuat. Padahal apa yang sudah dibikin itu memiliki arti yang besar pada zamannya. Dan kesan demikian ini. Pramoedya mendapatkan inspirasi dari orang-orang yang dekat dengan dirinya. Yakni istri dan ibu yang pernah mengandung dan melahirkannya.

“Bumi Manusia” yang diciptakan Pramoedya selama ‘ pengasingan” di Pulau Buru, juga sudah dipersembahkan kepada Ibu Tien Soeharto oleh pimpinan penerbit “Hasta Mitra Pemberian kepada Ibu Negara ini tidak dimaksudkan sebagai basa-basi. Melainkan ada maksud khusus yang berkaitan dengan isi novel tersebut.

Kehadiran pengarang Pramoedya Ananta Toer di tengah- tengah percaturan dunia sastra Indonesia pada saat ini memang sungguh tepat. Karena karya-karya Pramoedya seperti Bukan Pasar Malam”, “Blora”, “Perburuan”, “Di Tepi Sungai Bekasi dan sederet karya lainnya telah pernah mengisi kejayaan percatur¬an sastra Indonesia pada sekitar tahun ’50-an. Karya-karya Pramoedya tidak hanya dikenal oleh peminat sastra di negara Indonesia. Peminat sastra di negara-negara lainnya juga sudah mengenal siapa Pramoedya. Karena buku-buku Pramoedya sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Baca juga:  Hamka Setuju Larangan Buku "Bumi Manusia"

Munculnya karya Pramoedya ini perlu disambut dengan gembira. Karena kehadiran karya-karyanya, yang merupakan hasil penghayatan -diri pribadinya atas apa yang pernah terjadi, tidak mendapat kecurigaan apapun dari Pemerintah Orde Baru, yang pernah 11 tahun mengasingkannya dari dunia ramai. Ini satu bukti kedewasaan berpikir pada Pemerintah, bahwa ‘’musuh pun ‘ kalau dapat diperbaiki, apa salahnya diterima kembali dengan tangan terbuka.

Marilah kita menengok ke belakang Pada sekitar tahun 1969. pernah ada yang mengusulkan agar buku-buku seperti “Bukan Pasar Malam”nya Pramoedya Ananta Toer. “Manusia Kota* karya Utuy Tatang Sontani dan kumpulan puisi “Surat Kertas Hijau’ nya Sitor Situmorang agar memperoleh Anugerah Seni 1969. Tetapi Mashuri, SH yang saat itu menjadi Menteri P dan K menolaknya. Alasan yang dikemukakan bahwa ketiga pengarang tersebut ada¬lah anggota Lekra/PKI dan LKN. Mashuri. SH. bertolak dari In¬struksi Menteri P dan K bernomor 1381/1965 yang ditanda-tangani oleh Pembantu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan bidang tehnis pendidikan. Pada saat itu Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo sebagai Pembantu Menteri P D dan K telah melarang buku-buku yang ditulis oleh anggota dan oknum Organisasi Massa/Organi- sasi Politik yang dilarang pemerintah.

Baca juga:  Pak M Berpuasa di Penjara

Dan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang, Rivai Apin, memang tak boleh diedarkan dan diajarkan di sekolah-sekolah.

Larangan demikian Ini tentu saja perlu ’’diputihkan”. Agar buku-buku bernilai sastra ini perlu kembali diajarkan kepada anak- didik di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Karena dalam buku-buku tersebut memang sama sekali tidak ada sangkut-paut­nya dengan ajaran Komunisme/Marxisme yang memang dilarang pemerintah. Siapa lagi yang dapat menghargai karya pengarang Indonesia, kalau bukan orang-orang yang berdiam di negeri ini.[] Kayu Roya

Pram Historead - Kehadiran Karya Pramoedya

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi