Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Karya Rudi Rahmat - Menunggu di Lampu MerahKarya Rudi Rahmat - TerikatKarya Rudi Rahmat - Tulang Punggung KeluargaRudi Rahmat - Menatap JauhRudi Rahmat - Di Pintu BusRudi Rahmat -Mengasong NasibRudi Rahmat - Jembatan KehidupanRudi Rahmat - TersingkirRudi Rahmat-Hitam Putih KehidupanRudi Rahmat-Para Pengasong
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Teks dan lukisan oleh Rudi Rahmat

Rudi Rahmat Menunggu di Lampu Merah - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Menunggu di Lampu Merah 100x135cm Acrylic & Oil On Canvas 2017 Photo : Pribadi

Karya ini berjudul “Menunggu di lampu merah” memvisualkan bahwa lampu merah merupakan rambu lalu lintas di persimpangan jalan bagi pengendara. Lampu rambu lalu lintas di atas dapat dilihat, yang hidup hanya lampu warna kuning. Itu melambangkan bahwa hati-hati. Seorang pedagang asongan harus berhati-hati terhadap aparat keamanan yang akan melarang mereka berjualan di sepanjang jalan. Karena di setiap persimpangan jalan para pedagang asongan mengadu nasibnya untuk berjualan.

rudi rahmat terikat - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Terikat 100x135cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Dalam karya ini penulis membuat ketiga lampu rambu lalu lintas diikat dengan tali. Diikat memiliki makna bahwa kehidupan pedagang asongan tidak terlepas dari lampu merah. Lampu merah melambangkan bahwa stop atau berhenti, lampu kuning melambangkan hati-hati, dan lampu warna hijau melambangkan jalan. Bahwa di lampu merahlah para pedagang asongan turun ke jalan untuk menjual dagangannya. Pedagang asongan di kota-kota besar kehidupan sehari-harinya seakan terikat kepada lampu merah, karena disitulah para pedagang asongan menjual barang dagangannya untuk dijual kepada pembeli. Lampu merah di persimpangan jalan raya tampaknya menjadi lahan yang cukup bagus bagi para pencari rezeki.

rudi rahmat tulang punggung keluarga - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Tulang Punggung Keluarga 100x135cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Karya ini berjudul “Tulang punggung keluarga” dapat dilihat ada dua orang anak yang sedang duduk kelihatan lelah menjual barang dagangnya pada siang hari. Anak-anak seumur mereka pada siang hari ini, seharusnya duduk di bangku sekolah untuk mengenyam pendidikan. Tapi apa yang terjadi meraka berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena kemiskinan membuat mereka harus ke luar dari bangku pendidikan.

Rudi Rahmat Menatap Jauh - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Menatap Jauh 100x140cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Crane yang penulis buat dengan warna gelap bermakna suramnya harapan seorang ibu tua renta yang berprofesi sebagai pedagang asongan. Ibu tua renta yang duduk berharap para pekerja membeli dagangannya, tetapi hal tersebut tidak sesuai dengan yang di harapkan. Para pekerja hanya sibuk bekerja dan tidak peduli terhadap para pedagang asongan ini. Pesan moral yang disampaikan pada karya ini yaitu jika dilihat dari segi pembangunan, pembangunan di kota-kota terus meningkat, tetapi lapangan pekerjaan semakin sulit. Seharusnya dengan adanya pembangunan menjadikan lapangan pekerjaan semakin bertambah. Menjadikan masyarakat yang sektor informal tidak dapat mendapat pekerjaan yang layak.

Rudi Rahmat di PIntu Bus - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Dipintu Bus 100x130cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Karya ini menvisualkan begitulah sulitnya kehidupan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lahan pedagang asongan ini pun tergolong berbahaya bila dibandingkan dengan jenis perdagangan yang lain yang terfokus pada satu tempat saja. Lahan mereka adalah bus, benda bergerak. Mereka harus menaiki bus untuk bisa menukarkan barangnya menjadi uang. Pesan moral yang terdapat pada karya ini adalah seseorang yang tahan banting dan percaya dirinya kuat. Kalau tak seperti itu bagaimana mereka bisa naik-turun dari bus dengan selamat beserta barangnya, karena pada kenyataannya bus tak akan berhenti bila mereka ingin naik atau turun.

Rudi Rahmat Mengasong Nasib - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Mengasong Nasib 100x135cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Jika dilihat dua figur yang terdapat pada karya ini menunjukkan bahwa tidak adanya keseimbangan terhadap para pencari nafkah di jalanan dengan masyarakat yang terbilang ekonominya berlebih. Kemacetan lalu lintas tentunya merupakan sebuah berkah tersendiri bagi mereka, karena dengan situasi seperti ini memungkinkan para supir-supir dan juga penumpang akan membeli barang-barang.

Rudi Rahmat Jembatan Kehidupan - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Jembatan Kehidupan 100x170cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Jembatan bambu pada karya ini berguna untuk seseorang bisa melewati agar sampai ke seberang. Begitu juga kehidupan seorang pedagang asongan, karena pedagang asongan jembatan hidupnya adalah dagangan yang mereka jual sehari-hari. Berjualanlah cara mereka untuk mempertahankan kehidupan.

Rudi Rahmat Tersingkir - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Tersingkir 100x130cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Pada karya dia atas bermakna bahwa Satpol PP tugasnya adalah sebagai penegakan perda dan penyelenggara ketertiban umum. Pedagang asongan merupakan masyarakat yang terbilang kehidupan ekonominya menengah kebawah, dengan cara berjualan mereka bisa mempertahankan hidup dan menghidupkan keluarganya. Tetapi para aparat keamanan malah melarang dan membuat aturan-aturan merka berjualan di tempat tertentu.

Rudi Rahmat Hitam Putih Kehidupan - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Hitam Putih Kehidupan 100x135cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Figur pedangan asongan yang berwarna hitam dan putih terlihat lebih menoton dibandingan figur lainnya. Hal ini memiliki makna ke dalam kehidupan pedangan asongan. Jika di lihat dari sisi kehidupan pedagang asongan kehidupannya sangat sulit, ketika pedangan asongan sehari saja tidak berjualan ia tidak bisa mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Rudi Rahmat Para Pengasong - Kehidupan Sosial Pedagang Asongan. Pameran karya Rudi Rahmat.

Para Pengasong 110x170cm Acrylic & Oil on Canvas 2017 Photo : Pribadi

Pada karya ini bermakna bahwa para pengasong tidak memandang umur kakek dan nenek-nenek juga ikut untuk menjadi seorang pengasong hal ini dapat diambil sebagai pembelajaran hidup bahwa hidup itu keras tetapi jika kita bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dan kerja keras sejak kecil hidup ini pasti akan lebih baik.

Baca juga:  Memelukmu

Refleksi

Seorang seniman merasakan kegelisahan dari fenomena-fenomena yang dilalui dalam kehidupan ini. Bagi seorang pelukis, kegelisahan-kegelisahan terhadap fenomena di dalam kehidupan ini dapat diekspresikan pada salah satu media umum seperti kanvas. Penulis berupaya menjadikan media lukis sebagai wadah untuk menyampaikan informasi tentang fenomena-fenomena sosial yang terjadi di dalam kehidupan ini. Penulis berupaya menampilkan bentuk-bentuk yang mudah dipahami agar makna yang terkandung dapat disampaikan dan tidak terabaikan.
Penulis menginformasikan beberapa kehidupan sosial pedagang asongan, bahwa pedagang asongan tersebut dapat dijadikan sebagai informasi masalah sosial, khususnya pedagang asongan. Karena Makna yang tersirat dari keseluruhan karya adalah tentang kehidupan pedagang asongan yang melelahkan dan butuh perjuangan yang besar untuk tetap bisa melanjutkan hidup di bawah tekanan ekonomi yang melanda para pengasong ini.
Karya lukis yang ditampilkan dalam karya akhir ini dibuat dengan gaya realis kontemporer, penulis berharap mampu meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kemampuan penulis dalam berkarya seni khususnya gaya lukis realis kontemporer.

Baca juga:  Sukarno dan Revolusi yang Tak Rampung

Catatan : artikel ini disusun berdasarkan skripsi penulis dengan pembimbing 1 Drs. Erfahmi. M.Sn dan Pembimbing II Drs. Abd Hafiz, M.Pd

 

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi