Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan bagaimana rezim Orde Baru melakukan pemenjaraan terhadap orang-orang yang berseberangan haluan politiknya, stigmatisasi, sensor, pelarangan, menciptakan kebisuan, dan  ketakutan di kalangan masyarakat.

Sejarah Indonesia pascakolonial sarat dengan kekerasan. Ironisnya, baik korban maupun pelakunya adalah warga bangsa Indonesia sendiri. Semasa pemerintahan Soekarno, baik pada masa Demokrasi Parlementer maupun Demokrasi Terpimpin, berbagai kekerasan terjadi secara sporadis. Tetapi semasa rezim Orde Baru berkuasa, kekerasan menjadi instrumen dalam mengendalikan dan mengontrol kekuasaannya. Produksi dan tafsir sejarah yang dimonopoli rezim Orde Baru memberi legitimasi kelembagaan atas keamanan negara. Rezim ini berdiri di atas tragedi kemanusiaan yang membawa ratusan ribu hingga jutaan nyawa. Tidak terhitung pula korban yang dipenjara, diciduk, diasingkan, dan dibungkam tanpa proses pengadilan.

Dalam menjalankan praktik kekuasaannya, rezim Orde Baru melakukan pemenjaraan terhadap orang-orang yang berseberangan haluan politiknya, stigmatisasi, sensor, pelarangan, menciptakan kebisuan, dan  ketakutan di kalangan masyarakat. Ruang ideologis dan normatif dibentuk melalui kontrol yang dikenakan pada buku-buku panduan, media, penerbitan, monumen, upacara, serta simbol-simbol nasional lainnya. Tidak ada tempat bagi perbedaan pendapat, perspektif, atau suara kritis yang tidak sejalan dengan versi resmi pemerintah.

Runtuhnya rezim Orde Baru memberi harapan pada masyarakat untuk mengungkapkan dan meninjau ulang sejarah serta peristiwa kekerasan masa lalu. Harapan itu, tentu saja ditumpukan kepada rezim pemerintahan baru yang bisa menggunakan kekuasaannya melalui saluran hukum, pembentukan undang-undang baru atau komisi pencari fakta yang harus dipertanggung jawabkan ke publik, sebagai bagian dari proses demokrasi yang menjadi komitmen bersama.

Baca juga:  Foucault

Inilah tantangan bagi para sejarawan. Seyogyanya mereka dapat menyajikan eksplorasi, narasi dan tafsir ulang masa lalu Indonesia dari perspektif masa kini. Penulisan sejarah kini harus dapat melukiskan jejak-jejak gagasan yang mendalam, berkenaan dengan aneka kontestasi terhadap kohesi nasional, definisi kewargaan, kuasa, identitas, dan ingatan mengenai etnik, keagamaan, atau kedaerahan yang berlangsung saat ini. Isu itu merupakan wilayah di mana masa lalu, diartikulasikan dan dikonstruksikan kembali dalam pelbagai cara. [su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Dalam paradigma post-modernisme, digugat kembali perkara mengenai kebenaran dan dirayakannya ambiguitas. Kebenaran dalam pengertian ini, tidak mengacu pada kebenaran tunggal yang diproduksi oleh kekuatan dominan, melainkan kebenaran yang jamak diartikulasikan oleh setiap orang, termasuk mereka yang dipinggirkan atau menjadi korban. Demikian pula, perspektif dalam memandang sejarah yang dipakai para peneliti sejarah, menurut saya, sebaiknya tidak lagi bertumpu pada positivisme yang mendefinisikan narasi masa lalu secara tertata dengan tertib dan berisi dokumen resmi serta ceritera saksi mata yang dimafhumi sebagai sumber utama dalam pengungkapan peristiwanya. Sebaliknya, perspektif sejarawan justru mengacu pada subjek yang terpinggirkan, terbungkam, hingga yang ketakutan, dan mengalami krisis.

Baca juga:  Tiga Ahmad di Tikungan Gumitir

Membongkar warisan ingatan dari kekerasan masa lalu itu cukup rumit karena bertubrukan dengan sistem legal, politik dan kesejarahan yang dibuat oleh rezim otoriter yang pernah berkuasa. Terlebih lagi dalam rezim baru yang menggantikannya, para pelaku kekerasan masih melenggang menjadi bagian dari kekuasaan atau memiliki posisi tawar yang kuat berkat kapital ekonomi, kekuatan koersif atau alasan ideologis lainnya. Pembantaian sesama umat manusia nyaris menjadi peristiwa yang seolah-olah dilupakan atau bahkan ditimbun dalam-dalam melalui politisasi ingatan. Peristiwa demi peristiwa kekerasan yang dilakukan rezim otoriter itu hampir berlalu begitu saja tanpa penanganan memadai dari rezim yang menggantikannya. Lemahnya hukum dan sistem politik dalam mengelola masalah kekerasan masa lalu bisa menciptakan konflik dan ketegangan berkepanjangan.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Menurut Pricilla Hayner, kekerasan masa lalu memang tidak mudah diingat, tetapi tidak mungkin dilupakan. Pengungkapan kebenaran merupakan prasyarat penting. Hal ihwal ini tentu bukan sekadar membuka kembali luka masa lalu dan goresan yang ditinggalkannya, tetapi memberi pelajaran bagi masa kini dan yang akan datang. Pelaku harus bertanggung jawab melalui proses pengadilan dan pengampunan dipertimbangkan kembali kepada mereka yang terlibat dalam kekerasan masa lalu.

Baca juga:  Membajak Tanah Tandus

Dalam perihal ini, pengungkapan kebenaran bukanlah jalur peradilan, melainkan lebih merupakan klarifikasi perihal apa yang terjadi melalui pembukaan selubung pengingkaran dan kerahasiaan. Selain menjadi kebutuhan para korban untuk diakui penderitaannya dan memberi makna bagi hidupnya, pengungkapan kebenaran memberi kontribusi terhadap keadilan dan pertanggung jawaban yang bisa dipakai dalam proses hukum formal dan mendukung resolusi konflik.

Arkian, melihat masa lalu bukan sekadar mengingat-ingat atau mengungkit-ungkit peristiwa traumatis, melainkan belajar dari kekeliruan atau kekonyolan yang pernah dilakukan oleh warga bangsa ini untuk menjamin kehidupan bersama di masa depan. Dalam hal ini, demokratisasi penulisan sejarah menjadi hal yang penting karena memberi ruang bagi para korban dan mereka yang terpinggirkan untuk ikut berbicara. Dari masa lalu, kita bisa belajar perihal keadilan yang tidak hanya bermanfaat untuk perbaikan sistem hukum tetapi juga politik masa kini dan mendatang. Lebih dari semua itu, pelajaran yang amat berharga adalah kekerasan yang pernah terjadi di masa lalu tidak akan pernah terulang lagi. []

soeharto1 - Kekerasan, Masa Lalu, Sejarawan

Kekerasan, Masa Lalu, Sejarawan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi