Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Bagaimana kita bisa mengukur dan menakar keinginan rakyat dengan mempercayakannya pada sekelompok orang yang memiliki kepentingan sendiri di pemerintahan? Rasanya sulit.

Menyitir Walter Lippmann (wartawan penulis buku babon Public Opinion), Noam Chomsky menyatakan, bahwa dalam demokrasi yang berfungsi baik, ada dua kelas masyarakat. Pertama, kelas para ahli yang jumlahnya kecil saja, namun berperan besar karena merekalah yang mengambil keputusan dan melaksanakan segala hal di bidang politik, ekonomi, dan ideologi.

Kedua, kelas mayoritas yang disebut ‘kawanan pandir’. Fungsi mereka hanyalah penonton, dan bukan pemain. Mereka hanya dibutuhkan setiap lima tahun sekali, saat pemilihan umum, untuk memberikan legitimasi dan suara kepada seorang pemimpin.

Baca juga:  Darah

“Anda tidak boleh membiarkan kawanan itu menjadi partisipan…Kelas politikus dan penentu kebijakan harus memberikan pemahaman realitas yang cukup, juga menanamkan kepercayaan yang sesuai. Dan harus diingat, di balik itu ada alasan yang tak diungkap,” tulis Chomsky.

Mengabaikan suara rakyat yang seharusnya menjadi suara partisipan dalam kehidupan demokrasi memunculkan implikasi serius: turunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah,  yang membuka ruang kembali bagi hadirnya praktik ektra parlementer. Kita perlu ingat: gerakan tahun 1998 salah satunya berawal dari defisit legitimasi terhadap pemerintah.

Plato meyakini demokrasi adalah kata lain untuk kericuhan dan berkuasanya gerombolan begundal yang ganas dan berdarah dingin, yang menjadi alat para politikus. Ia kecewa, karena gurunya, Socrates, mati di tangan kaum demokrat Athena.

Baca juga:  Revolusi Secangkir Kopi

Saya percaya Plato keliru. Namun jika ternyata keadilan dan kebenaran dibunuh pelan-pelan, akankah ini berarti demokrasi hanya berhak dijalankan oleh para filsuf yang bijak-bestari? Kalau ternyata para bijak bestari yang bergerak atas dasar nurani dan akal sehat itu hanya bisa ditemui di Facebook di antara para jamaah fisbukiyah, betapa sialnya Indonesia.

Namun kita tetap harus bersyukur, Tuhan menciptakan seorang Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook, sebuah ruang lain untuk menyatakan ketidakpuasan dan protes. Kepada Facebook kita mengadu. []

facebook - Kepada Facebook Kita Mengadu

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi