Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sejarah biasa. Orang biasa.

Saya mengenalnya pada lima tahun lalu, ketika saya dan istri baru pindah ke Kalisat. Kus namanya. Ia seorang pengamen. Orang-orang menyebutnya Kus Jing-jing. Mereka bilang, ketika sedang bernyanyi, Kus Jing-jing tak pernah mempedulikan irama dan tempo. Itulah sebabnya ada tambahan ‘Jing-jing’ di belakang namanya. Saya tidak tahu istilah apa lagi yang tersemat pada diri Kus. Tapi saya mengerti, dari penuturan para tetangga, Kus mengalami depresi. Entah karena apa. Saya menebak, ia terlalu sibuk menjalani hari-harinya demi bertahan hidup. Mungkin kemiskinanlah yang mengganggu suasana hatinya.

Rumahnya ada di tepi sungai kecil, tak jauh dari rumah kontrakan kami yang lama di desa Ajung kecamatan Kalisat, Jember. Di sana Kus tinggal bersama sang istri. Oleh para tetangga, Kus dikenal aktif bersosialisasi bila ada tahlil kematian saja. Tentu, ada saja yang menghubungkan itu dengan keadaan ekonomi Kus Jing-jing. Apalagi ia paling sering hadir di tahlil hari ketujuh.

Pada bulan September hingga Desember 1998, muncul berita tentang pembantaian dukun santet di Banyuwangi. Tak sedikit yang jadi korban amukan massa. Dalam tempo yang cepat sekali, di pemula tahun 1999, rasa panik segera menjalar hingga ke Jember.

Saat malam tiba, orang-orang sibuk melakukan ronda. Di tepi jalan terlihat gerombolan pemuda dan Bapak-bapak. Beberapa perempuan menyajikan hidangan ala kadar. Mereka siaga sepanjang malam, hanya untuk memastikan bahwa wilayahnya baik-baik saja, tak dijamah oleh ninja sang pembantai dukun santet. Kabar yang beredar tak hanya dukun santet yang disasak, melainkan juga tokoh masyarakat serta guru mengaji. Nyatanya, eksekutor dukun santet bukanlah para ninja yang dimaksud, yang saya sendiri tak tahu bagaimana wujudnya, melainkan adalah orang-orang yang berkumpul dan memiliki rasa curiga tinggi.

Baca juga:  Jurus Bahagia Sang Marhaenis

Adanya kabar yang datang silih berganti di masa krisis itu, tanpa bisa diketahui dengan pasti mana informasi bermutu mana yang palsu, membuat keresahan mudah sekali menjalar. Maka, tiba-tiba ada semacam kesepakatan kolektif, jangan ada ninja yang melintas di sekitar rumah kita. Sedangkan sang ninja sendiri, ia digambarkan sebagai sosok yang hebat. Jika terdesak, ia bisa berubah menjadi kucing, bisa sembunyi di dalam batang pohon pisang, bisa terbang dan memiliki ilmu menghilang.

Isu ninja di tahun 1999 adalah kabar buruk bagi para pejalan yang tak membawa surat-surat identitas. Jika salah bicara, ia bisa saja mati di salah satu pos ronda. Rupanya kabar buruk itu hinggap juga pada seorang Kus Jing-jing.

Suatu hari di tahun tersebut, Kus Jing-jing sedang mengamen di kabupaten dekat Kalisat, Bondowoso. Di sana, ketika melewati salah satu pos jaga, ia dicurigai sebagai ninja yang menyamar pengamen. Nahas bagi Kus Jing-jing. Ketika salah satu dari mereka bertanya, “Kamu ninja ya?” Dengan tegas Kus menjawab, “Iya saya ninja! Kalian mau apa?”

Massa yang berkumpul menjadi marah atas jawaban itu. Mereka memukul Kus beramai-ramai. Rambutnya dipotong paksa. Ketika Kus diseret ke balai desa, syukurlah ada salah satu orang yang mengetahui jika ia adalah warga Kalisat. Selanjutnya, Kus dijemput oleh perwakilan perangkat pemerintahan dari Kalisat.

Baca juga:  Orang-Orang Hokkian di Jember

Saat mendengar penutup kisah itu, saya merasa lega. Terasa benar ada kehadiran negara manakala nyawa Kus ada di ujung tanduk. Semisal negara juga selalu hadir dalam bentuk keadilan dan akses seluas-luasnya dan semudah-mudahnya pada ilmu pengetahuan, kesehatan, dan ikutannya, alangkah indahnya.

Kisah lain tentang Kus Jing-jing, kadang-kadang ia dikaitkan masih berkerabat dekat dengan Lettu. Doel Arif, komandan Pasukan Pasopati yang kehidupannya tak pernah terpublikasi dengan rinci. Saya pernah menanyakan langsung pada Kus Jing-jing ketika suasana hatinya sedang baik. Dia malah balik bertanya, “Siapa itu?”

Itulah cerita kecil tentang seorang Kus Jing-jing. Sebagian orang yang mengenalnya terlanjur melabeli Kus dengan sebutan gila. Sebagian lagi menganggap Kus aneh, sebab saat sedang mengamen dan berjumpa dengan tetangganya, Kus tak pernah mau menyapa. Kadang ia memilih untuk lari saja. Tapi ketika saya silaturahmi ke rumahnya yang kecil, Kus baik-baik saja. Tutur katanya wajar.

Suatu hari di bulan Juni 2015, istri Kus Jing-jing sakit dan tak bisa bangun dari ranjang. Kus terlihat sedih. Wajahnya muram. Ketika itu, kami bercakap-cakap tentang kondisi istrinya, sama seperti percakapan sebelumnya ketika saya ke sana. Empat bulan kemudian, tepatnya pada 4 Oktober 2015, istri Kus Jing-jing meninggal dunia dalam sunyi.  Kus terpukul. Tentu saja. Dapat saya lihat kesedihan mendalam di wajahnya. Ia seperti tak peduli pada kata-kata yang menghibur dan segala kebaikan dari para tetangga. Kus dan istrinya, mereka menghadapi masa tua dengan saling menguatkan, saling menyuapi bila salah satu dari mereka sakit, berdua menghadapi rasa lapar yang tak jemu berkunjung. Ditinggalkan separuh napasnya, tanpa keturunan, Kus seperti sedang sendiri di kesunyian yang paling sunyi.

Baca juga:  Tuhan, Rokok, dan Hujan

Dalam minggu pertama, ia tak mau jauh dari makam istrinya.

Sejak itu kondisi kesehatan Kus menurun dan terus menurun. Namun sekali tempo ia masih tetap memaksa untuk mengamen, sebab memang seperti itulah berlangsungnya sistem ekonomi dunia yang Kus ketahui. Jika tak mengamen, maka tak ada beras, lalu kita mati.

Tujuh bulan kemudian.

Pada 2 Mei 2016, tepat ketika negeri ini merayakan Hari Pendidikan Nasional, Kus menghembuskan napas untuk terakhir kalinya.  Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semua orang menganggap itu wajar. Siklus alami kehidupan manusia. Biasa saja. Tapi entah mengapa jauh di lubuk hati, saya merasa kehilangan. Saya merasa di hari kematiannya, saya sedang ditempa oleh pendidikan yang tak hanya kelas nasional, melainkan kelas dunia akherat. Rasanya saya butuh memiliki mental yang lebih besar lagi dalam menjalani hidup, menjalani apa saja yang telah digariskan pemilik semesta, sekira tak berjalan sesuai dengan yang kita ikhtiar, usaha, dan doakan. Beberapa waktu setelah kematian Kus Jing-jing, saya memahat kalimat ini di bio twitter.

“Tamasya, belajar, bertahan hidup, berdendang dan menua bersama Api Kecil, lalu belajar untuk dilupakan.”

Terima kasih, Kus Jing-jing.[]

cover - Kesunyian Kus Jing-jing

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi