Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Kosa Feminisme Historead

Kewarganegaraan adalah salah satu pemikiran dalam filosofi politik barat yang berkembang dari tradisi klasik Yunani dimana kewarganegaraan dipandang, oleh Aristoteles, sebagai partispasi aktif perorangan dalam polis atau pemerintahan kota. Namun ironisnya, ‘perorangan’ disini bukanlah perorangan yang berjenis kelamin perempuan atau laki-laki namun berarti perorangan laki-laki yang memiliki kekayaan sendiri yang tentunya berarti akan mampu dan memiliki peran dalam kepemimpinan. Titik tekan pemahaman kewarganegaraan yang berkembang saat ini lebih banyak merujuk pada revolusi politik yang terjadi pada abab XVIII yang merangkul ide-ide universalisme semacam kemerdekaan, persamaan dan kebebasan. Berberapa pakar kewarganegaraan, seperti Bryan Turner, menganjurkan kewarganegaraan modern itu harus konstitutif baik dalam prakteknya (seperti budaya, ekonomi dan simbolik) dan seperangkat hak dan kewajiban yang didefinisikan secara hukum, politik dan sosial. Dalam hal in i, tindakan dan ide-ide universal sebagai basis dari hak dan kewajiban kewarganegaraan dipahami akan dilindungi dengan keanggotaan atau konrak yang terikat antara perorangan dan masyarakat politik secara umum. Meski begitu kewarganegaraan dalam demokrasi liberal Barat saat ini sebagai proses pengikutsertaan dan penyingkiran  keanggotaan dan sebagai separangkat penjudulan atau kewajiban sosial dalam komunitas sosial dan politik. Juga sebagai pengikat yang menandai titik balik penyertaan dan penyingkiran dalam lintasan sejarah dan lokasi geopolitik, dimana perempuan harus mengkonfrontasikan paradoks klaim kewarganeraan universal yang abstrak dan pembatasan patriarkis praktik kewarganeraan.

Baca juga:  Raja atas Diri Sendiri
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Sejak kelahiran hak politik modern yang ditandai oleh deklarasi universal hak asasi manusia dan kewarganeraan, perempuan telah berjuang untuk pemenuhan dan persamaan pengakuan politik dan sosial. Sepanjang perkembangan teori demokratisasi barat, warga negara berbasis pemikiran yang tidak ambigu bahwa individualisme itu hanya bisa diwakili oleh laki-laki. Jadi disini sentralitas abstrak sosok universalitas laki-laki  telah melahirkan konsep kewarganegaraab dimana perempuan disingkirkan dari hak politik dasar yang disebabkan oleh adanya hirarki patriarki dalam masyarakat. Penyingkiran hak kewarganegaraan dasar menjadi pokok terbentuknya dan terus berlangsungnya perlawanan perempuan untuk pemenuhan dan persamaan pengakuan dalam masyarakat. Beberapa generasi gerakan perempuan, dari generasi pertama sampai kontemporer, yang berjuang untuk pemenuhan dan persamaan hak warganegara, mengalami persoalan yang sama yaitu konsep universalitas yang menempatkan laki-laki sebagai subyek. [Seri Kosa Feminisme Historead Data Center]
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Di Negeri Ini, Kaum Buta Dikalahkan Dua Kali
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]aristoteles - Kewarganegaraan 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi