Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan etnografi budaya disko di bulan ramadan

I think music in itself is healing. It’s an explosive expression of humanity. It’s something we are all touched by. No matter what culture we’re from, everyone loves music ~ Billy Joel

Tubuh ikut bergoyang-goyang mengikuti irama, beban berat telepas, melayang bersama  dentuman musik yang dimainkan DJ, semua bahagia tak terkecuali. Apakah kamu tahu bahwa jiwa kita terdiri dari rangkaian harmoni?[1]

Musik memiliki rangkaian irama yang dinamis layaknya ritme hidup manusia yang turun naik. Alunan bunyi yang didengar bisa membuat orang merasa nyaman dan damai. Begitu kiranya sehingga musik tidak bisa terlepas dari keseharian manusia. Salah satu musik yang  lebih mementingkan tempo dari pada suara nyanyian adalah musik disko. Berawal dari tahun 1970-an, musik ini muncul pada kalangan orang kulit hitam yang menggunakannya sebagai lagu pengiring dansa di Amerika[2]. Semakin maju perkembangannya, musik ini  akhirnya semakin hit dan nge-pop dikalangan masyarakat belahan dunia, tak terkecuali di daerah tempat kelahiran saya.

Pada tulisan ini saya ingin menganalisa. Melihat tentang fenomena musik disko yang marak di kalangan para pemuda di kampung saya. Musik itu bergema layaknya musik pengiring yang dilakukan orang-orang yang sedang berdansa di bawah gemerlap lampu-lampu diskotik di tengah kota, musiknya juga terdengar dipelbagai acara ataupun sebagai teman setia disaat mengisi waktu luang ketika tidak sedang melakukan apa-apa. Musik ini adalah musik anak muda yang memiliki relasi dengan agama, dan dimaknai sebagai tanda bahwa hari kemenangan telah tiba.

Tabalong, Banjar, dan Islam

Tabalong. Begitu nama yang diberikan kepada kabupaten tempat kelahiran saya. Secara geografis, daerah ini berada di ujung timur Propinsi Kalimantan Selatan dan berbatasan langsung dengan dua Propinsi, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Penduduk yang tinggal di sana beragam suku, mayoritas dari suku Banjar dan Dayak sebagai pribumi dan suku-suku lain sebagai pendatang. Sedangkan agama yang dianut mayoritas penduduknya adalah Islam [3].

Sedikit membahas sejarah, sebelum dikenal dengan sebutan suku Banjar, orang-orang yang berada di daerah sini lebih dikenal dengan suku Dayak dan menganut agama Kaharingan. Setelah Islam masuk yang dibawa oleh orang-orang Melayu ataupun dari tanah kerajaan Demak, orang-orang Dayak yang memilih untuk memeluk agama Islam akhirnya menamakan diri sebagai orang Banjar.[4] Islam dan banjar adalah dua bagian yang mendarah daging. Kegiatan keseharian yang dilakukan masyarakat Banjar tidak pernah menjauh dari hal yang berbau Islam, baik itu sistem kepercayaan maupun sistem tindakan. Seperti anak-anak kecil yang diberi pelajaran mengaji sejak dini, begitu juga orang-orang dewasa yang sering menghadiri pengajian yang digelar oleh para ulama. Dari segi berpakaian juga bisa dilihat bagaimana masyarakat yang terbiasa menggunakan sarung, baju kiama, maupun peci sebagai busana sehari-hari. Sedangkan dari segi kesenian juga tidak jauh berbeda, misalnya seni bertutur lisan seperti Madihin dan Basyasyairan yang yang dipengaruhi oleh kasidah Arabi. Adapun alat-alat musik yang sering digunakan dalam berkesenian seperti tarbang, gambus, suling, panting yang lebih mirip dari alat musik orang-orang Melayu.[5]

Baca juga:  Pergumulan Iman - Nalar

Pemuda dan Musik Disko

Tak tahu kapan sebenarnya awal mula masuknya musik disko ke daerah Tabalong, karena sejauh ini saya belum menemukan data yang pasti. Seperkiraan saya, musik ini sudah mulai masuk berkisar tahun 70-an atau 80-an, bersama boomingnya musik ini di belahan dunia. Sebagai anak yang lahir pada tahun 90-an, sewaktu kecil saya sudah sering mendengarkann lagu ini diputar oleh beberapa tetangga, saat itu masih menggunakan kaset dan ketika saya beranjak remaja dengan munculnya teknologi pemutar musik berbetuk VCD, perkembangan musik disko semakin populer, hal ini dibuktikan dengan orang-orang yang memiliki mesin tersebut pasti memiliki VCD musik disko, termasuk saya pada saat itu juga membeli VCD musik disko walaupun orang tua tidak menyukai musik bergenre ini. Semarak musik disko ini semakin menjadi-jadi ketika munculnya teknologi yang lebih canggih seperti handphone yang bisa menyimpan audio berjenis mp3. Tak terelakan bahwa pada saat itu musik ini menjadi musik wajib yang harus dimiliki, setidaknya bisa digunakan sebagai nada dering panggilan telpon maupun SMS.

Sedangkan sekarang, perkembangan musik bergenre ini sudah sebagai bagian hidup para pemuda. Bukan lagi diperuntukkan sebagai konsumsi diri sendiri tetapi dijadikan sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, tak terhelakan hal yang bau agama-pun juga tak luput dimasuki musik ini.

Berdisko di Bulan Puasa

Masyarakat Banjar bisa juga disebut dengan suku Melayu, dimana ketika memasuki bulan Ramadan, penduduknya menyambut bulan suci ini dengan rasa yang sangat antusias. Di kampung saya, pada malam hari kegiatan rutin yang  biasa dilakukan adalah salat Isya dan taraweh secara berjamaah, lalu dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an. Di kala sahur, biasanya para remaja membangunkan para penduduk dengan berkeliling kampung menggunakan peralatan seperti panci, besi, botol, maupun barang-barang bekas yang bisa mengeluarkan bunyi, kegiatan ini dinamakan dengan Bagaraka Sahur. Di waktu sore menjelang berbuka, tidak jarang warga kampung mengadakan acara mengundang penduduk desa untuk melakukan buka bersama dirumah-rumah mereka. Dan di penghujung bulan, biasanya di malam lebaran masyarakat berkumpul di mesjid maupun langgar untuk membaca doa-doa serta menggemakan takbir sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadan sekaligus perayaan datangnya hari lebaran.

Di sisi lain, juga ada fenomena manarik yang terjadi di kampung saya ketika ramadan tiba. Fenomena ini mulai semarak pada beberapa tahun terakhir. Relasi antara musik disko dengan perayaan bulan ramadan bisa dilihat bagaimana para pemuda mengisi berbagai macam kegiatan yang diselingi dengan irama musik bergenre disko. Pertama kegiatan Bagarakan Sahur, jika dahulu para pemuda menggunakan peralatan barang-barang bekas, sekarang lebih sering terlihat para pemuda menggunakan seperangkat sound sistem yang diarak menggunakan gerobak mengelilingi kampung, adapun musik yang diputar adalah musik disko.

Kedua, acara Tanglong, acara semacam karnaval ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah. Di sini biasanya para peserta terdiri dari delegasi yang berasal dari pemuda-pemuda desa. Acara ini di selenggarakan untuk meramaikan malam lebaran, dengan acara pawai yang menggunakan mobil-mobil hias mengelilingi kota Tanjung , ibu kota kabupaten Tabalong.  Mobil-mobil itu biasanya membawa miniatur seperti Kabah, Quran, maupun simbol-simbol islam lainnya, tetapi sebagian dari mobil-mobil yang mengikuti acara tersebut juga ada yang hanya membawa seperangkat sound sistem saja. Nah, mobil seperti ini biasanya akan menyetel musik disko dan juga berkeliling mengikuti rangkaian acara. Mobil yang seperti ini biasanya banyak disukai para pemuda, karena mereka biasanya akan mengikuti di bagian belakang sengan sepeda motor. Tidak hanya sampai di situ, ketika mobil-mobil yang mengikuti acara Tanglong tersebut pulang ke kampung masing-masing, sebagian dari mereka masih menyetel musik-musik disko di sepanjang jalan yang mereka lalui, sering terjadi kemacetan tetapi para anak muda tidak terlalu mempedulikan dan mereka terlihat antusias berjoget ria, bahkan tidak sedikit yang berdiri diatas sepeda motor sambil melepaskan baju mereka. Setelah itu, terkadang mobil-mobil ini sebelum sampai pada desa masing-masing, mereka juga terkadang berhenti disuatu tempat dan bergabung dengan mobil-mobil yang lain, seperti di sebuah lapangan ataupun terminal, di sana anak-anak muda semakin menjadi-jadi berjoget layaknya orang-orang yang sedang bereuforia didalam sebuah diskotik dibawah penerang lampu jalanan maupun lampu dari mobil-mobil mereka.

Baca juga:  Etnografi Program Anak Usia Dini

Ketiga, bagi anak muda yang tidak mengikuti acara tanglong tersebut, biasanya mereka melakukan kegiatan-kegiatan sendiri bersama teman-teman sekampung. Kegiatan yang sering dilakukan adalah “ba ulur”. Kegiatan ini sebagai wadah berkumpul para remaja selama mengisi waktu menunggu subuh, seperangkat sound sistem biasanya diletakkan di tempat mereka sering nongkrong, seperti poskamling, kursi yang ada di pinggir jalan, maupun jembatan. Kegiatan ini biasanya berakhir sebelum azan subuh berkumandang dan di sini lagi-lagi musik yang biasa diputar adalah musik disko.

Keempat, di saat siang harinya, setelah selesai salat ied, warga kampung sering mengadakan acara seperti naik pinang, lomba makan kerupuk dan lain sebagainya. Acara yang biasanya diorganisir oleh para pemuda ini, sering menggunakan seperangkat sound system untuk memperjelas ketika memanggil, dan disela-sela tidak jarang musik disko kembali dimainkan. Dan yang terakhir, sebagian remaja juga sering mengadakan pawai menjelajahi beberapa desa maupun kecamatan dengan beriring-iring menggunakan sepeda motor, di sini juga sering terdengar lantunan musik disko terdengar dari handphone para peserta bahkan tidak jarang handphone tersebut terkoneksi dengan sound sistem mini sehingga suaranya terdengar keras.

Disko + Ramadan = Budaya Ketiga

Ketika melihat fenomena ini, sempat terpikir oleh saya bahwa anak muda yang identik dengan musik disko di kampung saya merupakan sebuah keinginan untuk menjadi kaum elit seperti yang dilakukan anak muda kota dengan menghabiskan waktu untuk menghilangkan kebosanan mereka dengan berdansa dibawah gemerlap lampu-lampu diskotik. Hanya saja dengan asumsi seperti ini, berarti saya menganggap anak muda tersebut sebagai subjek yang pasif, menerima kebudayaan dari satu arah tanpa ada sebuah inovasi. Asumsi ini juga bisa berarti bahwa kebudayaan baru telah menjajah anak muda di tempat saya, meminjam istilah kuliah budaya pop, asumsi saya ngardono banget.

Musik disko tidak jauh berbeda dengan acara karnaval ataupun pesta kembang api yang biasa digunakan sebagai acara untuk memperingati sebuah perayaan. Acara ini sama-sama diadopsi dari budaya luar yang disesuaikan dengan kondisi tempat kebudayaan baru ini tinggal. Dengan hal itu, sangat salah jika menganggap musik disko sebagai hal yang yang harus ditolak keberadaannya. Dalam teori globalisasi sendiri sudah dijelaskan bahwa perkembangan sebuah budaya tidak terjadi satu arah saja, tetapi disana telah terjadi pertemuan antara beberapa kebudayaan yang saling bernegosiasi antara satu sama lain, mempengaruhi dan akhirnya menghasilkan budaya baru, yakni budaya ketiga. Sehingga dalam hal ini saya melihat bahwa musik disko yang biasanya yang digunakan sebagai musik pengiring di bulan ramadan bukan sebagai musik yang bernilai negatif tetapi memiliki sisi inovasi untuk mengekspresikan diri, dia tidak menjajah tetapi memberdayakan.

Baca juga:  Kisah Tiga Kampung di Lembah Code

Untuk melihatnya lebih jauh, saya (petanda) mencoba memberi makna terhadap fenomena musik disko di bulan ramadan (penanda) yang saya lihat dan alami sendiri.Kajian mengenai semiotika yang saya lakukan bisa dibilang sebagai kajian terhadap fenomena yang ada dalam kehidupan manusia, dalam arti semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna. Untuk itu fenomena tersebut saya lihat bukan seperti apa yang nampak secara zahir (denotasi), tetapi lebih pada makna yang tersirat dan perlu dimaknai lebih jauh (konotasi).

Membandingkan antara budaya timur dengan budaya barat sama halnya membandingkan antara hitam dam putih.  Musik disko yang dibenturkan dengan perayaan keagamaan bisa saja menjadi sebuah anggapan bahwa hal itu sebagai bentuk pelecehan sebuah agama. Seperti kasus yang dialami oleh para siswa Tolitoli yang dianggap menistakan agama. Akan tetapi, makna konotasi yang saya tangkap dari fenomena ini adalah musik disko dimaknai oleh anak muda sebagai musik pengiring untuk memeriahkan bulan ramadan. Hal itu bisa dilihat bagaimana anak-anak muda menggunakan musik tersebut baik di saat siang maupun malam hanya sebagai musik ilustrasi dari acara inti (bagarakan sahur, acara tanglong, ba ulur, lomba, maupun pawai). Jika dilihat lebih jauh, ruang yang dilakukan oleh anak muda dan musik disko ini sangat berbeda dengan kasus yang dilakukan para siswa Tolitoli. Musik disko yang dilakukan anak-anak muda di kampung saya tidak berada para ruang ritual agama, dan tindakan yang dilakukan juga tidak menyangkut dengan tindakan ritual keagamaan. Yang dilakukan anak muda hanya menyambut hari kemenangan dengan menggunakan musik disko sebagai pengiring, sama halnya dengan pesta kembang api dan karnaval yang dilakukan.[]

coverramadandisco - Kita Muda, Kita Berdisko

Rujukan

Alan P Merriam, The Anthropology Of Music. 1964 (32-33)

 [1] Do you know that our soul is composed harmony? Leonardo da Vinci, Notesbook (1451-1519) via dictionary of musical qoutation Ian Crofton

Bayang-bayang tuhan, agama dan imajinasi oleh Yasraf Amir Piliang (hal 6. Hal

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi