Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan etnografis pertanian dan alih fungsi lahan

Kabupaten Klaten memiliki wilayah seluas 65.556 hektar. Dari luas tersebut, 39.758 hektar adalah  lahan pertanian. Menurut data BPS Klaten 2012, dalam 5 (lima) tahun terakhir terjadi alih fungsi lahan pertanian pangan menjadi non pertanian yang menyebabkan penurunan luas lahan sawah dan tegalan sebesar 35,67 Hektar. Alih fungsi lahan tersebut yang terbesar digunakan untuk perumahan yakni sebesar 86,18 % dan yang lainnya untuk industri serta perdagangan/jasa. Bahkan menurut BPN Klaten lahan pertanian di Klaten pada tahun 2005 – 2009 berkurang sebesar 245,3607 hektar, dengan rincian 61,38 % untuk perumahan dan selebihnya untuk industri,perusahaan dan jasa.

Tanggal 17 Oktober 2016, Solopos.com melaporkan bahwa penyusutan areal pertanian di Klaten dalam satu dekade terakhir dipastikan mencapai 463,9 hektar. Rata-rata penyusutan areal pertanian akibat alih fungsi lahan di Klaten dalam satu tahun berkisar 43,5 hektar. Alih fungsi terluas terjadi tahun 2013, yakni mencapai 113,2 hektar. Jumlah tersebut terdiri dari 44,8 hektar untuk perumahan; 31,1 hektar untuk industri; dan 37,1 hektar untuk kebutuhan jasa. Dilihat dari lokasinya, alih fungsi paling banyak terjadi di areal pertanian di sepanjang Jl. Solo-Jogja. Adapun jenis industri yang ada di Kabupaten Klaten antara lain cor logam, konveksi, mebel, gerabah, dan tembakau asapan. Luas areal yang digunakan untuk perindustrian pada tahun 2005 adalah seluas 787 Ha dan terus meningkat hingga tahun 2009 yaitu seluas 834 Ha.

Praktik alih fungsi lahan didasari oleh Undang-Undang (UU) No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan dan Perda No. 11/2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertan Klaten, Joko Siswanto, seperti dikutip Solopos.com, mengatakan bahwa alih fungsi lahan yang berlangsung di Klaten ditujukan untuk mendukung iklim investasi. Menurutnya alih fungsi di Klaten dipastikan tak akan mengganggu ketahanan pangan, sebab Klaten sudah memiliki luas areal pertanian yang tidak bisa diotak-atik lagi, yakni seluas 32.451 hektare. Sementara, jumlah areal pertanian di Klaten mencapai 33.450 hektare. Joko Siswanti merasa yakin alih fungsi di Klaten sudah memenuhi ketentuan dan tidak mengganggu pangan di Klaten.

Hal senada dijelaskan Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Tanaman dan Rehabilitasi Lahan (PTRL) Dispertan Klaten, Iwan Kurniawan. Menurutnya, mekanisme pengajuan alih fungsi lahan sudah diatur dalam UU dan Perda. Mekanisme pengalihan fungsi dari lahan basah menjadi kering itu dimulai dengan pengajuan warga ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Klaten. Kalau hasil survei menyatakan bisa dialihfungsikan, tanah tersebut bisa alih fungsi. Begitu juga sebaliknya [BPN berhak menolak pengajuan alih fungsi ketika lahan yang akan dialihfungsikan termasuk lahan lestari]. Data yang mereka pegang  juga berasal dari BPN.

Iwan Kurniawan juga menegaskan alih fungsi semata-mata untuk mendukung pengembangan investasi dan penataan permukiman. Lahan pertanian yang banyak mengalami alih fungsi umumnya berada di lokasi strategis, seperti di Ceper, Gantiwarno, Jogonalan, Delanggu, Karanganom, dan beberapa lokasi strategis lainnya.

Lokasi strategis yang disebutkan di atas pada kenyataannya adalah kawasan yang sangat subur bagi pertanian. Dari kawasan itulah kita mengenal “Beras Delanggu” yang menjadi ikon produktifitas pertanian Klaten khususnya dan Jawa Tengah umumnya. Sampai di sini timbul pertanyaan, kalau lahan pertanian subur beralih fungsi secara sistemais, terstruktur dan massif menjadi kawasan industri dan perumahan, lantas bagaimana nasib pertanian dan segala hal yang terkait dengan budaya mengolah tanah tersebut di masa yang akan datang?

Kebutuhan pangan khususnya beras terus akan mengalami peningkatan,seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk Klaten sebesar 0,26 persen/tahun, dan total penduduk yang telah mencapai 1.311.019 jiwa pada tahun 2011. Bukan hal mustahil apabila lahan sawah sebagai salah satu unsur produksi pangan vital lama kelamaan berkurang bahkan habis ,manakala tidak dilakukan pengereman, muaranya kedaulatan terganggu dan ketersediaan pangan khususnya beras akan menjadi barang langka di bumi subur yang pernah menyandang predikat lumbung padi di Jawa Tengah ini.

Studi kecil  ini bermaksud melihat: (1) bagaimana warga menyusun pengetahuan tentang ruang hidup, khususnya tanah pertanian yang mulai beralih fungsi;  (2) pengalaman apa yang mereka ingat dan apa saja yang mereka afresiasi dalam perjalanan hidup berkomunitas, serta (3) bagaimana dengan pengetahuan yang mereka miliki itu, mereka  merespon hal-hal yang berpotensi mengusik keberadaan mereka, khususnya yang terkait dengan alih fungsi lahan.

Penelitian di lakukan di Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, yakni salah satu kecamatan dengan jumlah industri terbesar di Klaten saat ini. Data dikumpulkan dengan cara mengajak warga mengingat kembali pengalaman apa yang paling berkesan dan mengapa dianggap penting, serta mendiskusikan implikasinya untuk hidup mereka hari ini dan masa depan.

Tradisi Bertani sebagai Dasar Berpengetahuan

Banyak warga yang merasa yakin bahwa kehidupan bertani di masa lalu telah membawa kesejahteraan bagi warga desa. Alasanya adalah tanah-tanah pertanian masih luas dan lebih subur, sementara populasi manusia belum sebanyak sekarang. Aktifitas khas komunitas seperti gotong-royong dan sambatan memiliki fungsi yang jelas serta kontekstual bagi kehidupan masyarakat tani di masa lalu. Selain itu yang paling penting adalah manusia kala itu dianggap lebih pandai mensyukuri dan mengharomati atas apa yang mereka dapatkan dari alam.

Bertani bukanlah aktifitas yang menaklukan alam, melainkan melainkan justru untuk menyelaraskan diri dengan alam. Ketika diri dan alam mencapai keselarasan, maka berkah semesta akan turun dalam bentuk  perasaan ayem dan tentrem. “Kalau kita menamam itu artinya kita percaya pada alam yang akan menumbuhkan, perkara hasilnya bisa saja diperkirakan, tetapi yang penting bagi petani, apa lagi jaman simbah dulu adalah perasaan tenteram karena telah menjalankan tugas memuliakan alam”, kata pak R (47 tahun).

Dengan cara berfikir seperti itu, bertani bukan sekedar diarahkan untik mendapatkan hasil panen yang banyak secara kwantitatif. Mengolah tanah justru dimaksudkan sebagai rasa berterimakasih kepada alam yang telah memberikan kehidupan yang ayem dan tentrem. Ruang hidup, selain dimaknai secara lahiriah tempat mengolah tanah, juga secara batiniah tempat mengolah rasa. Ritual bersih desa Tanjungsari yang sudah menjadi tradisi tahunan di Dlimas merupakan ekspresi puncak dari rasa sukur atas kemurahan alam yang memberi ruang untuk mengolah tanah dan mengolah rasa, sekaligus menjadi ajang “hari raya” bagi komunitas.

Upacara ini dilaksanakan setiap bulan Sura setelah tanggal 8 (tanggal jawa), pada hari Jumat Kliwon atau Wage. Hari ini ditetapkan karena hari Jumat Kliwon ditetapkan sebagai weton Nyai Tanjungsari dan Jumat Wage sebagai weton Nyai Songsong Gilap. Upacara ini dipusatkan di Sasana Kridha Budaya di mana terdapat pohon Tanjung besar yang berada tepat di tengah halaman. Di bawah pohon tersebut ada tiga patung yang terdiri atas dua patung wanita dan patung seekor sapi.

Pelaksanaan Upacara Bersih Desa Tanjungsari selalu disertai dengan aneka sesaji, antara lain Sega Wuduk, yakni beras yang ditanak dengan santan kelapa dan diberi beberapa lembar daun salam serta sedikit garam. Penyajian sega wuduk dilengkapi dengan lauk-pauk yang berupa kedelai, sambel goreng, kering tempe, rempeyek dan lain-lain. Kemudian ada Ingkung, yakni ayam jantan yang dimasak utuh dan dibumbui bawang putih serta garam. Salah satu ugo rampe penting dalam acara ini ialah Apem yaitu panganan yang dibuat dari tepung beras diberi gula merah dan dicampur dengan pisang sebagai adonan dan dicetak bulat, lalu digoreng dan diberi parutan kelapa di atasnya. Sajian lain yang menambah kemeriahan adalah tukon pasar yaitu makanan dan buah-buahan yang dibeli dari pasar seperti  kue-kue basah dan kue-kue kering,  buah semangka, salak, melon, jeruk, apel, dan lain-lain (padepokankyaisuluh.wordpress.com).

Baca juga:  Kuli Kontrak

Berbagai sajian itu dibawa dari setiap rumah untuk dikumpulkan di bangsal Sasana Krida Budaya. Setelah dilakukan doa-doa yang dipimpin seorang Modin, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Selain berbagai jenis panganan, acara bersih desa juga menyajikan Kinang, terdiri atas tembakau, gambir, injet, dan daun sirih. Selanjutnya ada juga Kemenyan dan bunga untuk ngalap berkah di hadapan patung Nyai Tanjungsari sebagai  pepundhen warga Dlimas. Mengiringi bersih desa, biasanya diadakan pasar malam selama dua minggu dan pertujukan kesenian seperti, tari-tartian,  wayang kulit dan kroprak yang selalu dibanjiri pengunjung dari dalam dan luar desa.

Umumnya warga Dlimas, baik tua maupun muda, merasa bangga dengan aktifitas seni budaya yang cukup semarak di desa mereka. Keigatan seni budaya itu semua berakar pada tradisi yang mencapai puncaknya pada upacara bersih desa yang digelar setiap tahun. Pada moment bersih desa itulah segala macam kesenian dipentaskan dan menjadi bagian dari jatidiri komunitas. Penciptaan seni seringkali mensyaratkan ketajaman perasaan, sementara ekspresi seni itu sendiri pada gilirannya dapat menumbuhkan prasaan yang sama pada para penikmatnya. Dengan cara berfikir seperti itu, berkesenian di bagi warga Dlimas juga menjadi cara dalam berkomunikasi dengan sesama.

Kontradiksi Dewi Sri

September 2015, Padepokan Kyai Suluh, sebuah komunitas seni anak-anak muda Dlimas, menggelar sebuah sebuah event kesenian yang diberjudul “Ngelemah Ngelumbung” yang merupakan respon kreatif mereka atas isu alih fungsi lahan. Festival yang digelar di pelataran SDN 3 Dlimas itu menampilkan serangkaian acara yang dipuncaki pentas Ketoprak berjudul “Adinda: Dlimas 1915”. Salah satu mata acara yang menarik perhatian penonton adalah pertunjukan  tari yang dipadu dengan seni instalasi bertajuk “Dewi Sri” karya Rudi Yesus. Pertunjukan ini dihadirkan dengan tarian jawa klasik dari remaja purti Dlimas yaitu Rufina Rahma Ajeng Setyaningsih.

Dari properti yang ada, terasa sekali tarian Dewi Sri ingin menyuguhkan suasana alam pertanian yang muram. Karung karung beras diisi dengan semen, dan patok-patok besi yang melambangkan sawah yang telah digusur dan beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan pabrik. Alunan Gendhing Bedaya Ketawang yang mengiringi tarian, dipadu mantra-mantra memunculkan suasana magis. Demikian pula efek suara gergaji dan gemuruh pohon-pohon tumbang yang berpadu dalam musik, terasa sebagai sebuah keganjilan yang mistis.

Rufina tampil anggun dengan busana dan riasan yang menampilkan citra klasik sang Dewi Padi. Di sela-sela gerak gemulai tubuh, sang Dewi terkadang menebar senyum, dengan pandangan mata yang penuh percaya diri. Mirip seorang putri duta wisata yang sedang mempromosikan keindahan alam dan budaya suatu daerah.  Dewi Sri terus menari, meski ekspresinya yang sumringah  terkesan kontradiktif dengan nuansa sekitar yang muram. Begitulah yang terjadi hingga tarian usai sekitar limabelas menit.

Penonton bertepuk tangan, kagum pada penampilan si gadis ayu yang menari dengan teknik yang cukup baik di usianya yang belia. Akan tetapi ada yang meresahkan Rudi Yesus, sang koreografer. Ketika mencipta tari itu, Rudi membayangkan lahan pertanian yang semakin habis, berganti pabrik yang berdiri megah dan pongah. Pertanian yang dahulu menjadi sumber kehidupan, mengalirkan berkah alam semesta pada mereka yang ingin hidup tenteram, kini di ambang krisis yang serius. Dewi Sri –sang ibu bumi, pemberi kesuburan, pujaan para petani– sedang terluka dan berduka. Tapi mengapa sang penari yang seharusnya menjadi titisan sang dewi itu justru tampil setengah ceria?

Ada dua tafsir yang bisa dikebangkan dari peristiwa ini. Pertama tentang persektif Rudi sebagai warga Dlimas berusia 40an tahun. Ikatan emosional Rudi (juga orang-orang segenerasi dengannya) dengan dunia pertanian jelas sangat kuat. Apalagi Rudi juga seorang seniman dan aktifis. Di saat yang sama dia merasakan begitu banyak perubahan di desa yang diwarnai konflik-konflik yang dirinya pun mungkin terseret di dalamnya. Bagi Rudi, Dewi Sri dihadirkan untuk mewakili kegundahan kaum tani, perlu ada “jiwa” yang mengisi gerak dan musik itu sehingga gugatan pada kenyataan bisa diekspesikan.

Kedua, tentang sang penari Rufina Rahma Ajeng Setyaningsih, siswi SMA berusia 17 tahun. Mungkin dunia pertanian dengan segala romantisismenya masih melingkupi alam pikirannya, karena dia lahir dan besar di Desa juga. Akan tetapi menjadi petani bukanlah cita-cita rata-rata anak muda seusia Rufina. Dunia Rufina dipenuhi jaringan informasi, suatu dunia mediatik  yang bisa jadi sangat jauh dari kenyataan di desa. Tentu bukan kesalahan Rufina, bagi remaja putri itu, apa yang bisa dimaknai dari tanah pertanian yang ditumbuhi pabrik-pabrik? Memerankan Dewi Sri bagi Rufina bisa jadi hanya soal teknis, sehingga “jiwa” yang ingin ditampilkan Rudi  tidak muncul di atas pentas.

Apapun yang terjadi, baik Rudi maupun Rufina, mereka telah menunjukkan kontradiksi besar yang ada di desa hari ini. Kontradiksi antara sawah dan pabrik, antara tradisi dan modernisasi, antara masa lalu dan masa depan. Intinya, kontradiksi yang perlu diberi makina baru oleh para penghuninya. Kontradiksi yang bila tidak dikelola dengan baik akan memunculkan konflik dan kerugian bagi banyak pihak. Untuk memahami kontradiksi tersebut, kita perlu menelusuri lebih jauh berbagai perubahan yang terjadi di desa hari ini.

Baik orang tua maupun anak-anak muda Dlimas mengenang desa mereka sekitar lima hingga sepuluh tahun yang lalu sebagai tempat yang menyenangan. Banyak tempat bermain di sekitar sawah dan sungai. Sungai masih cukup jernih dan dihuni banyak ikan gabus dan ikan lainnya. Keaakraban sangat terasa karena belum ada kesenjangan antar kelompok kepentingan. Kalaupun ada perselisihan maka itu bisa diselesaikan lewat mekanisme rembug atau musyawarah desa. Itulah salah satu makna ketentraman ruang hidup yang penting bagi mereka.

Saat ini sawah semakin sempit, pabrik dan rumah baru berdiri, air sungai mulai keruh, dan semakin langka ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Tempat bermain semakin berkurang, jenis-jenis permainan tradisional pun muai menghilang. Anak-anak mulai bermain sendir-sendiri dengan gadged masing-masing. Meida sosial dan game on-line bukan barang asing bagi sebagain anak muda. Orang tua tidak bisa melarang atau menasehati anak-anak seperi dulu lagi. Sebagian orang tua menganggap rasa hormat anak-anak dan anak muda kepada orang tua semakin berkurang.

Baca juga:  “Kapitalisme dari Bawah”

Mereka juga merasakan kebersamaan warga yang semakin menipis. Konflik antar kelompok di desa makin sering terjadi. Salah satu pemicu utama konflik adalah muculnya pengelompokan akibat pemilihan kepala desa beberapa waktu yang lalu, yang imbasnya masih berlanjut hingga saat ini. Aparat kelurahan terpilih ditangarai tidak berlaku adil dan transparan terkait akses informasi dan dana bantuan. Segala akses bantuan, misalnya, berada di tangan Gapoktan. Masalahnya adalah, Gapoktan ini terbentuk tidak melalui musyawarah tiga kelmpok tani yand ada, tapi bekerjasama dengan kelurahan sebagai kroni lokal dalam mengebiri kelompok tani. Gapoktan yg beranggotakan hanya tiga organisasi kel tani, tetapi tidak menjalankan fungsi dalam mengorganisasi petani. Secara tidak langsung ini melemahkan daya hidup dan daya juang kelompok kelompok tani. Beberapa warga menyebut Gapoktan hanya sebagai kelompok yang memproyekkan dana bantuan.

Meski banyak pabrik berdiri di desa, informasi tentang penerimaan tenaga kerja tidaklah bisa diakses setiap orang. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kedekatan dengan aparat kelurahan yang bisa mengakses informasi, artinya untuk dapat bekerja di pabrik juga diperlukan “orang dalam”. Tentu saja hal ini memunculkan konflik, baik terbuka maupun yang sifatnya laten. Hal semacam ini diyakini sebagai akibat dari krisis kepemimpinan di tingkat desa. Aparat kelurahan yang dekat dengan pengusaha seolah hanya mengakomodasi kepengingan kelompok dan individu tertentu, sehingga kepentngan desa dan warga menjadi terabaikan. Isu tentang alih fungsi lahan yang merugikan pertanian secara umum tidak pernah menjadi agenda pokok bagi pemerintah lokal. Pengangguran di desa semakin banyak dan tidak ada antisipasi sama sekali, bahkan untuk pendataanpun tidak pernah dilakukan secara serius.

Banyak pemuda desa yang mulai merantau ke kota untuk mencari pekerjaan, bahkan ada yang sampai ke Jakarta. Biasanya mereka yang berangkat ke kota itu sudah membangun komunikasi sebelumnya dengan pihak yang dituju. Misalnya ada warga Dlimas yang sudah terlebih dahulu bekerja di Jakarta, maka dia bisa menjadi tempat jujukan (tujuan)  para pemuda desa yang berniat menyusulnya.

Dari aspek ekonomi, bertani jaman sekarang ada  istilah “dicukup-cukupke”. Artinya kalau membandingkan antara pengeluaran yang digunakan untuk alat dan modal kerja dengan pendapatan ketika panen tidaklah menguntungkan. Rata-tara petani di Dlimas saat ini hanya memiliki lahan seluas satu pathok, atau sekitar 2.300 m2 . Biaya total produksi tanaman padi satu kali tanam adalah sekitar Rp.3.870.000,- dengan asumsi bibit tebar sendiri. Biaya itu belum termasuk konsumsi tenaga bantu yang mencapai Rp. 7.500  per orang tenaga bantu.  Seringkali masih ditambah biaya rokok untuk tenaga bantu laki laki.

Hasil rata-rata berkisar  antara 9 Kwintal – 1.2 Ton. Dengan harga jual berkisar Rp.4 juta.  Satu tahun ada tiga kali masa tanam (tiga kali panen), dengan pola tanam: Padi-Padi-Palawija; atau Padi-Palawija-Palawija.  Pola tanam tersebut akan tergantung  kepada musim juga. Hasil panen dijual basah (ditebaske).  Pemotongan dilakukan oleh pihak penebas/pembeli.

Penebas adalah pihak yang menyediakan bibit dan pupuk dengan syarat hasil panen akan dibeli oleh dirinya. Dengan demikian penjualan hasil tanam ini mutlak kepada pihak Penebas yang memberi modal kerja di awal. Total nilai tebasan akan dikurangi biaya bibit dan pupuk. Kadang juga dikurangi  pinjaman biaya perawatan tanaman atau biaya-biaya lainnya. Hubungan dengan Penebas terkesan bersifat eksploitatif, akan tetapi hanya penebaslah yang bisa diandalkan (selalu ada) untuk memperoleh modal kerja dan pinjaman-pinjaman mendesak lainya.

Saat ini tidak ada lagi petani Dlimas yang menggunakan tenaga hewan untuk membajak tanah, mereka sudah menggunakan traktor yang diperoleh dengan cara sewa.  Sutami adalah orang terakhir di Dlimas yang memelihara kerbau untuk membantu pekerjaan pertanian beberapa tahun yang lalu. Tetapi sekarang sudah tidak lagi dengan beralih ke buruh olah lahan dengan mesin.

Dicukup-cukupke,  itu istilah mereka tentang perbandingan hasil produksi pertanian dengan beragam kebutuhan keluarga dan sosial. Hal ini memang tidak bisa dinilai hanya dengan hitungan matematis. Kehidupan sehari-hari dapat dijalankan dengan makan apa yang ada dari pekarangan, atau kalau ada keperluan mendadak, terpaksa berhutang sana-sini, selebihnya adalah pasrah. Yang penting adalah urusan modal tanam sudah ada yang menanggung yakni penebas, meski dengan berbagai macam persyaratan yang membebani.

Tanah garapan petani Dlimas adalah tanah yang sudah dikerjakan turun temurun oleh para waris tanah garapan. Tidak ada yang tahu sejarah pasti tanah garapan persawahan di Dlimas. Luas tanah yang dimiliki dan dikerjakan  rata-rata  hampir sama pada setiap penggarap. Dengan demikian tidak ada penguasaan tanah secara besar-besaran oleh satu orang.  Saat ini hanya  ada satu orang pemilik usaha pertanian skala menengah,  yakni tebasan. Usaha itu adalah warisan dari orangtuanya.

Ada tiga Kelompok Tani dan satu Gapoktan di Dlimas. Kelompok tani itu antara lain: Agung Rejeki,  Tri Mulyo I, dan Tri Mulyo II. Dari ketiga kelompok tani itu, belum pernah ada kegiatan yang mengarah pada perjuangan terkait alih fungsi lahan. Nasip petani yang tergantung pada penebas, dan hidup “dicukup-cukupke” itu belum menjadi isu bagi Gapoktan. Seperti yang disampaikan di atas, oknum-oknum Gapoktan cenderung menjadi “kroni” pihak pemerintah desa. Mereka bersikap proaktif dengan adanya perubahan fungsi tanah terutama berkaitan dengan Perda Kabupaten Klaten no 11 th 2011 tentang rencana  tata ruang wilayah Kabupaten Klaten. Sikap itu ditunjukkan dengan keterbukaan penuh  pada  investor yang ingin mendirikan pabrik baru di Dlimas.

Sketsa Masa Depan: Upaya Menghadapi Kontradisi.

Bahwa alih fungsi lahan mendapatkan legitimasi dari undang-undang, masyarakat Dlimas sudah menyadarinya. Hal itulah yang terkadang menimbulkan sikap pesimis untuk memperjuangkan kembali tanah pertanian. Rudi Yesus mengatakan, sebagian dari mereka hanya bisa berharap semoga pabrik yang dibangun selanjutnya bukanlah pabrik tekstil yang memiliki daya rusak yang besar pada lingkungan. Bahwa ada pejabat daerah yang mengatakan tentang “lahan lestari” sebagai kawasan pertanian yang masih dipelihara, masyarakat tidak ada yang mengetahui hal itu. Selama ini sosialisasi regulasi tentang “lahan lestari” tidak pernah dilakukan di masyarakat. Mengingat letak Dlimas yang berada di jalan propinsi, merupakan jalur utama yang menghubungkan Klaten dan Wonogiri, maka sangat masuk akal bahwa kawasan ini memang hanya diprioritaskan bagi industrialisasi semata.

Ada beberapa petani yang bertahan, tidak menjual tanah pada pemodal. Akan tetapi bentuk perlawanan seperti itu sering kali kandas. Dalam kenyataannya tanah yang mereka pertahankan itu kemudian dikelilingi pabrik-pabrik, sehingga jangankan untuk bisa digarap dengan baik, untuk didatangipun tidak ada akses masuk. Akhirnya mereka terpaksa menula tanah dan mencoba mencari peluang lain di luar sektor pertanian.

Sebagian warga yang saat ini masih menjalani hidup sebagai petani mengaku hanya itu cara hidup yang bisa mereka jalani sebagai warisan nenek moyang. Dengan demikian sesempit apapun lahan dan sesulit apapun tantangan yang di hadapi mereka akan tetap bertani. “Isane mung dadi wong tani”, begitulah istilahnya. Lingkungan berubah, pabrik berdiri di mana-mana, tetapi alam pikiran tetaplah sebagai petani, seluruh pengetahuan tentang kehidupan pun diacu dari sana. Mereka ini contoh dari sebagian petani yang memegang nilai-nilai bahwa bertani bukan (sekedar) hitungan matematika. “Kepasrahan” adalah kata kunci yang membuat mereka tetap survive.

Baca juga:  Di Negeri Ini, Kaum Buta Dikalahkan Dua Kali

Akan tetapi sebagian anak muda memilih untuk bersikap lebih “realistis”, bahwa tidak ada lagi masa depan bagi pertanian di desa mereka yang sudah menjadi kawasan industri. Konsep hidup “dicukup-cukupke” seperti disampaikan di atas menujukkan sesuatu yang bisa diartikan tidak realistis. Kenyataan  ini terasa pahit, seperti yang diungkapkan Tanjung (17): “pertanian sudah tidak mungkin lagi diharapkan, tanah sudah tidak ada, tapi yang lebih menyakitkan itu kalau kita harus kehilangan kebersamaan: guyub rukun dan gotong-royong. Kebersamaan yang dimaksud Tanjung  adalah nilai-nilai yang dahulu tumbuh di kalangan para petani seperti gotong-royong, baik dalam bekerja mupun dalam menjalankan hidup sehari-hari, yang mencapai puncaknya pada Upacara Bersih Desa. Apapun yang akan terjadi di masa depan, bagi Tanjung dan anak-anak muda seangkatan dia, kebersamaan itu harus dipertahankan. Mereka merasa memiliki modal yang memadai untuk merajut kebersamaan itu, yakni melalui media seni budaya.

“Sejak kecil kami sudah dikenalkan dengan berbagai macam kesenian, itulah yang membuat hidup menjadi berarti, kalau hidup susah secara ekonomi itu sudah biasa”, kata Tanjung serius. Dalam suatu diskusi kelompok terfokus, anak-anak muda Dlimas membayangkan masa depan desa mereka sebagai sebuah ruang di mana kebersamaan tetap terjaga dan terpelihara. Dari sana mereka akan mengembangkan seni budaya, yang mereka sadar tidaklah serta-merta dapat membuahkan hasil secara ekonomi. Kaum muda seperti Tanjung umumnya mengaku belum begitu jelas apa yang harus dilakukan bila itu urusan ekonomi. “Mungkin saja ketika membuat suatu ivent kesenian akan berdampak pada ekonomi lokal, sifatnya temporer, misalnya munculnya warung-warung jajajan dan sebagainya”, kata Rudi Yesus. Akan tetapi mereka menyadari untuk membuat gagasan itu menjadi kongkrit dan berkelanjutan masih diperlukan perjuangan keras.

Beberapa waktu yang lalu pernah ada gagasan untuk membuat pertujukan rutin Sendratari Ramayana di Dlimas. Gagasan yang muncul dari kaum muda yang tergabung dalam Sanggar Kyai Suluh itu semua didukung banyak pihak, termasuk pemerintah desa. Selama ini Sendratari Ramayana hanya dipertujukan di Candi Prambanan sebulan sekali dengan tiket masuk yang sangat mahal karena untuk konsumsi turis asing. Kaum muda Dlimas merasa desa mereka memiliki sumberdaya melimpah sehingga mampu menggelar pertujukan sejenis dengan biaya yang jauh lebih murah. Dengan begitu harapannya orang yang ingin menyaksikan Ramayana punya alternatif selain Prambanan. Upaya “Memindahkan Prambanan” ke Dlimas itu sebenarnya tidak memerlukan banyak biaya, yakni untuk menggaji tenaga pelatih yang jelas-jelas mengeluarkan waktu dan tenaga. Akan tetapi hal ini ternyata tidak bisa dipenuhi pihak Dukuh, sehingga upaya yang brilian itu terpaksa kandas. “Persoalan pokok di sini memang tentang kepemimpinan”, kata Rudi.

Menyadari kenyataan bahwa sekarang ini lebih banyak pabrik daripada sawah, dan akan seperti itu di kelak kemudian hari, maka kaum muda menyatakan tidak menafikan industrialisasi. Para pemuda yang berminat mungkin bisa bekerja di pabrik, akan tetapi sementara ini belum ada transparansi tentang persyaratan dan prosedur rekrutmen pegawai. Masih terjadi kong-kalikoang yang melibatkan orang dalam. Kondisi ini masih harus diperjuangan, termasuk memperjuangan hadirnya pemimpin lokal (level desa dan dukuh) yang pro pada kepentingan masyarakat secara umum.

Masih terkait idustrialisasi, semakin hari jumlah pekerja pabrik semakin hari semakin bertambah, itu bisa saja menjadi potensi bagi masyarakat setempat yang ingin membuat warung makanan, misalnya. Potensi makanan olahan memang cukup baik di Dlimas, banyak orang yang dapat mengolah makanan dari bahan-bahan lokal. Selain itu sempat tercetus pula gagasan membuat usaha kos-kosan, dan bentuk-bentuk jasa lain.

Anak muda Dlimas mengetahui bahwa industrialisasi juga membuka peluang untuk agro-industri, di mana pertanian bisa dilakukan dengan media non-tanah, misalnya hidroponik. Meski semua masih seperti mimpi, dan masih perlu perjuangan keras, akan tetapi harapan tetap ada. Di atas semua itu, sekali lagi mereka menekankan niali-nilai kebersamaan dan tradisi berkesenian yang telah ditanamkan oleh kultur pertanian masih perlu dipelihara. “Dengan kebersamaan dan hidup rukun, serta menggiatkan seni-budaya kita bisa memiliki harapan untuk  menghadapi semua persoalan yang melanda desa ini”, kata Tanjuing.

Persoalan yang dimaksud Tanjung adalah konflik-konflik yang terjadi antar kelompok. Mereka  menyadari bahwa perubahan situasi yang sangat cepat telah menimbulkan banyak kontradiksi di dalam komunitas. Saat ini konflik terbuka memang belum terlalu tampak, akan tetapi potensi untuk terjadi semakin terasa. Yang menyedihkan adalah, konflik itu cenderung bersifat horisontal, sehingga melemahkan kemampuan komunitas untuk mengenali persoalan struktural (vertikal) yang sebenarnya adalah akar dari semua masalah tersebut.

Seni budaya diyakin bisa membuka sekat-sekat kelompok, lalu menjadi perekat komunitas, karena seni adalah bahasa bersama yang memungkinkan orang berkomunikasi. Dari sana kaum muda Dlimas percaya mereka dapat melakukan resolusi atas berbagai konflik, lalu membuka mata warga untuk melihat siapa “musuh bersama” yang sebenarnya. Padepokan Kyai Suluh mencita-citakan hadirnya pemimpin yang punya visi seni-budaya seperti itu, sehingga mampu mengayemi (memberi kesejukan) dan mangayomi (melindungi) semua golongan atau kelompok.

Kesimpulan

Sebagai petani, warga Dlimas pada dasarnya memiliki orientasi menjaga alam, baik alam lahiriah yang berupa tanah garapan, maupuan alam batiniah  yakni puncak kesadaran nilai dan kearifan yang secara kolektif dipegang oleh orang Jawa. Dari sanalah seluruh pengetahuan tentang hidup berkomunitas dibangun dan dijalankan.

Saat ini terjadi alih fungsi lahan yang bagi sebagain besar warga dianggap sebagai hal yang tidak terhindarkan. Dari sini muncul banyak kontradiksi yang mungkin belum pernah dialami oleh petani di masa lalu. Alih fungsi lahan telah menghilangkan dunia lahiriah mereka, tetapi tidak serta-merta menghilangkan dunia batiniah petani. Nilai-nilai lama sering bertabrakan dengan kenyataan lingkungan alam yang baru. Antar kelompok pun sering  bertabrakan, baik di level gagasan maupun dalam tindakan atau perbuatan.

Sebagian warga merespon situasi di atas dengan kepasrahan, meski secara ekomoni tidak produktif, tetap jadi petani dengan konsep hidup “dicukup-cukupke”. Ada juga yang bersikap pragmatis lalu mencoba mengintergasikan diri dengan industrialisasi yang sedang berjalan. Akan tetapi sebagian warga yang lain, khususnya anak muda, mencoba untuk bersikap “realistis” dengan memproyeksikan masa depan Dlimas yang meski tidak lagi bertani seperti nenek moyang, namun tetap mempertahankan nilai-nilai dunai batiniah melalu jalan seni budaya. Mungkin di masa depan tidak ada lagi tanah yang secara kongkrit dapat dipijak dan diolah, oleh karena itu seni-budaya itulah yang akan dijadikan tempat berpijak dan mengolah kehidupan. Yang ingin mereka warisi dari tradisi pertanian adalah nilai-nilai dan semangatnya, yang kini mewujud sebagai seni-budaya.

Mereka ingin mengambil Api, bukan abu.[]

Tidak ada artikel lagi