Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Refleksi atas ketimpangan

Selasa siang di bulan Februari 2011. Rumah-rumah itu berdempetan dengan tembok setinggi empat meter. Di balik tembok, ada gedung-gedung tinggi.

Saya tak sedang bicara tentang lagu ‘Kontrasmu Bisu’ yang dinyanyikan Iwan Fals. Saya bicara tentang kampus Universitas Jember, kampus milik pemerintah dengan 20 ribu mahasiswa.

Perkembangan kampus Universitas Jember boleh dibilang luar biasa dibandingkan saat saya pertama kali berkuliah di sana pada 1996. Kini fakultas-fakultas baru dengan bertumbuhan di wilayah Tegalboto, kawasan kampus tersebut. Fakultas Pertanian bukan lagi satu-satunya fakultas bidang eksakta.

Namun, di tengah kemajuan luar biasa, ada ‘kontras bisu’. Di tengah area kampus, mudah ditemui perkampungan penduduk dengan mutu rumah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan mutu bangunan kampus Unej. Mereka warga asli Tegalboto, yang tinggal selama bergenerasi-generasi, jauh sebelum kampus Unej ada. Mereka menyebut diri ‘wong kampungan’ atau orang kampung.

Baca juga:  Dari Kartun Anak-Anak

Beberapa di antaranya membuka warung di dalam area kampus. Rumah mereka juga dijadikan tempat kos mahasiswa dengan harga lebih miring.

Pak Wakik, seorang warga kampung yang berada di area kampus, menyadari keberadaan perumahan warga setempat di area kampus akan terlihat aneh. Dari dulu sebenarnya ia siap saja pindah, namun tak ada tawaran pembelian yang layak untuk rumah dan tanah keluarganya.

Menurut Wakik, banyak warga yang masih belum menjual tanah dan rumahnya dan berada di dalam area kampus. Semuanya menanti tawaran yang bagus. Ia sendiri saat akan pikir-pikir lagi, jika ada tawaran menjual tanah dan rumah.

“Harus rundingan dulu seluruh keluarga. Jangan sampai nanti dijual, tapi uangnya tak cukup untuk membeli tanah dan membangun rumah baru,” kata Wakik.

Baca juga:  Saniyeh dan Bagaimana Kemiskinan Mengakrabinya

Seperti layaknya warga Madura, Wakik dan keluarga besarnya tinggal di sepetak tanah yang terdiri atas beberapa rumah dan sebuah musola. Tak mudah baginya dan keluarganya untuk membangun tempat tinggal serupa, jika tanah miliknya dijual.

Salah satu pejabat kampus mengatakan, semestinya tidak boleh ada rumah warga di dalam kampus. “Berarti kan harus dibeli. Tapi kalau tawar-menawar belum ada, kesepakatan kan belum bisa,” katanya, mengaku tidak tahu sejauh mana proses pembelian tanah milik warga.

Ayu Sutarto, guru besar Fakultas Sastra Universitas Jember saat masih hidup, menyebut adagium: ombak besar selalu memakan ombak kecil. Dalam perkembangannya, warga lokal Tegalboto di sekitar kampus Unej adalah ombak kecil itu.

Baca juga:  Metamorfosa Nasionalisme

Tak mudah meminta kepada ‘wong kampunganan’ untuk pindah. Sejak lama mereka menganggap rumah dan tanah sebagai pusaka. “Ada orang yang tetap bertahan tak mau menjual tanahnya, apalagi jika belum cocok harga. Ketika harga tanah makin tinggi, kini mereka jadi pemenang,” kata Sutarto.

Sutarto menyarankan Unej melakukan pendekatan, tak hanya material tapi juga sentimen primordial. “Hargai mereka. Beli tanahnya dengan harga bagus, lalu jadikan sebagian mereka sebagi karyawan,” katanya.[]

Tidak ada artikel lagi