Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Se-Islam-islam-nya orang Jawa tetap saja Jawa. Se-Jawa-jawa-nya orang Jawa tetap saja Islam

Berpantang atau berpuasa terhadap sesuatu dalam kebudayaan dunia telah dikenal dan dilakukan sejak ribuan tahun lalu. Demikian juga dalam kebudayaan Jawa, pantangan adalah hal umum dilakukan orang dengan tujuan dan kepentingan tertentu. Biasanya adalah alasan-alasan keyakinan yang banyak melatari pantangan ini. Beberapa sarjana melihat pantangan ini sebagai bentuk pengaruh Hindu Jainisme dan Budha di Jawa. Beberapa pantangan yang biasanya dilakukan oleh orang Jawa misalnya adalah pantangan makan selain dedaunan, makan daging binatang berkaki empat, makan dari sesuatu yang bernyawa, makan beras dsb.

Agama-agam Islam, Protestan dan Katholik yang datang belakangan, juga membawa ajaran berpantang atau puasa. Namun pengaruh Islam yang kuat semenjak jaman Walisanga, menjadikan doa-doa dalam bahasa Jawa dan Arab dengan Muhammad atau kadang syahadat sebagai syarat laku pantangan. Identitas kultural yang cair  merupakan hal yang paling bisa menjelaskan ke-Jawa-an  manusia Jawa diatas. Persis ungkapan Clifford Geertz dan juga Robert Hefner tentang manusia Jawa yang mereka temui dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda : “Se-Islam-islam-nya orang Jawa tetap saja Jawa. Se-Jawa-jawa-nya orang Jawa tetap saja Islam”.

***

Di sebuah desa di pinggiran Wonosari, Gunungkidul terdapat seorang spiritual Jawa. Dia tidak mau dirinya disebut dukun. Dia, menurutnya, hanyalah petani yang menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dia menyebut dirinya adalah wong kuno¸yang masih teguh menjalankan ritual Jawa dan Islam-nya dengan khusyuk. Dia dijuluki sebagai Mbah Ponco, janda kelahiran 1935 di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pengalaman hidup yang luar biasa dalam suasana pendudukan Jepang, perang Revolusi dan pembantian politik terhadap PKI pada tahun 1965 membekas dalam dirinya. Pun begitu dengan berbagai rupa penderitaan, kelaparan, penyakit, kekejian fitnah dan kehancuran solidaritas Jawa, telah dia alami sebagai saksi mata.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]
Baca juga:  Sukiman Mati, Senin Pagi

Menjadi saksi sekaligus berhasil melewati gelombang kegawatan itu membuat, batin dan spiritualitasnya teruji. Keyakinannya menjalankan pantangan dan berbagai ritual Jawa semakin mendedah di diri Mbah Ponco. Salat 5 waktu, puasa wajib ramadan, salat sunat seperti tahajud dan malam tak pernah lewat dari kesehariannya. Mbah Ponco adalah identitas Jawa yang cair itu.

***

Harinya dimulai pada pukul 4.00, ketika suara adzan subuh belum berkumandang dan solah-solah sayup-sayup terdengar. Segera ia ke dapur untuk minum air putih, memasak air hangat untuk kopi dan teh, sebagai teman kegemarannya merokok.

Ketika semuanya beres, ia bersiap untuk salat subuh, merendam pakaian yang akan dicuci dan mematikan lampu-lampu. Kadang jika kambing peliharaannya mengembik, ia akan segera ke kandang, melihat keadaan dan sekedar menambah makanan untuk peliharaannya itu.

Dia tidak pernah mengeluh, dimasa senjanya, jika setiap hari, harus bangun sedini itu. Terlebih sebelumnya pada pukul 00.00, Mbah Ponco juga sudah bangun untuk salat malam. Sebagai perempuan sepuh, ia merasakan, semakin bertambah umur, semakin berkurang juga jatah tidurnya. Ia pikir itu alamiah, selain ada keinginan di dalam dirinya untuk selalu dekat kepada Tuhan.klobotgg - Lelaku Manusia Jawa

Baginya adalah kebahagiaan tersendiri di usia senjanya masih banyak beraktivitas lebih dari 18 jam sehari. Meski bukan aktivitas berat, tapi bagi orang sesepuh dia tentu luarbiasa. Dia membandingkan dirinya dengan berita-berita dan dari tetangga-tetangganya, banyak diantara mereka telah stroke. Seingatnya umur mereka jauh lebih muda darinya.  Bahkan dirinya termasuk perokok berat sejak muda. Bukan sembarang rokok, tapi rokok racikan sendiri,tembakau dan cengkeh:  Tengwe, mlinthing dewe. Dalam bahasa Indonesia, akronim tengwe artinya bikinan sendiri.

Mengenai urusan makan, mbah Ponco menurut anaknya tidaklah terlalu susah. Menu utamanya adalah tiwul, sayur-sayuran dan sedikit nasi. Dirinya hanya menghindari makan daging binatang berkaki empat dan jenis kacang-kacangan. Pantangan itu telah dilakukan sedari remaja. Situasi sulit pangan, prihatin dan lelaku Jawa menjadi latarnya.

Baca juga:  Susunan Bata Kehidupan

Mbah Ponco ingat kakek – neneknya adalah seorang haji. Seorang haji yang tekun bekerja dan beribadah.Konon dari merekalah, bapaknya dan dirinya mendapatkan ajaran berpantang makan pada binatang berkaki empat dan kacang-kacangan.  Kenapa harus berpantang?  “Ben oleh pitulungan Gusti Allah lan beja terus uripe,” terang menantu Mbah Ponco, duduk tidak jauh darinya.

***

Ingatan perempuan ini masih sangat kuat. Sekuat isapan rokok yang selalu menyertainya. Pandangannya jauh kedepan melayang ketika bercerita tentang peristiwa 1965. Entah ada apa. Dia hanya menceritakan, di desa tempat tinggalnya dan di desa orangtuanya, situasi begitu gawat dan mencekam. Orang tidak bisa sembarangan keluar rumah tanpa alasan jelas. Ia ingat waktu itu, ia sedang merawat sang bapak yang sakit keras ketika banyak orang mencari anggota dan simpatisan PKI.

Kala itu, ia ingat, fitnah bertebaran kemana-mana. Siapa saja bisa dijadikan PKI atas dasar fitnah, dengki dan iri. Atau alasan apapun yang tidak jelas. Pada waktu itu, semua orang tidak kenal siapa saudara dan siapa kawan atau lawan. Berhati-hati-lah berucap dan betindak, karena semua adalah mata negara, yang siap menangkap dan bahkan membunuh dia yang dianggap sebagai orang atau simpatisan PKI.

Mbah Ponco, yang telah menikah dan memiliki anak besar kala itu, merasa beruntung. Dirinya dan keluarganya lepas dari marabahaya itu. Padahal di banyak desa di sekitarnya, banyak orang hilang, konon “diambil” karena dia adalah PKI. Entah benar atau tidak tuduhannya itu, semua bisa terjadi. Dari sorot matanya, ia nampak trauma.

Sesungguhnya ia tidak bisa memaklumi kekejian yang dilakukan sesama manusia, apalagi sesama bangsanya sendiri. Atas nama dan alasan apapun. Namun apaboleh buat. Dirinya hanyalah perempuan desa biasa. Suaranya tidak pernah terdengar dan didengarkan.

Baca juga:  Bitjara tentang Semangat Belia (Jeugd)
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Dia mengenang, ketika suatu ketika perang hebat terjadi di Bantul, tempat bapak ibunya mengungsi, dirinya sempat lepas dan hilang di antara kerumunan. Belanda datang dan semua orang dewasa menghilang. Suara senapan menderu bising disana-sini. Mulutnya hanya bisa komat-kamit berdoa dan menangis kala itu.

Konon seorang dari mereka, pengungsi dan tentara telah menjadi mata-mata, hingga lokasi pengungsian dan tentara Indonesia terendus Belanda.  Mata-mata itu kemudian ditemukan gantung diri di sebuah pohon, tidak jauh dari pengungsian. Entah siapa yang membunuh.

Kira-kira peristiwa itu terjadi ketika dirinya berumur 10 tahun. Dia dan keluarganya di Bantul itu, sedang menumpang di rumah keluarga jauh. Tentara Belanda menyelamatkan dia, bahkan seorang keluarga Belanda hendak merawatnya, dikiranya dia sudah yatim piatu. Namun dirinya menolaknya.

Ponco kecil memilih bertahan di rumah keluarga jauhnya. Firasat dia benar, sang bapak pun datang pada malam hari, mengendus-endus melalui sungai kecil dan berpelindung anyaman daun kelapa.

Zaman itu, ia mengenang, adalah zaman agresi Belanda. Ia ingat perang pada hari kamis wage itu begitu membekas didirinya. Dirinya sempat ketakutan luarbiasa bahwa kedua orangtua akan pergi selamanya.

Mbah Ponco mengenang, kekejaman Belanda dan Jepang tidaklah sekeji kekejaman orang terhadap sesama bangsanya. Ia ingat, pada waktu ia kecil dengan riang diajari bernyanyi dalam bahasa Jepang. Ia masih hapal lagu itu dengan baik. Sayang, ketika ditanya apa artinya, dia menjawab tidak tahu. Ia hanya ingat, di pengungsian itu ia diajari parikan Jawa, sejenis pantun perang berbunyi:

// Pring tumpuk, mbumbung adah wedang. Cilik diepuk-puk, bareng gedhe maju perang. Kowe bocah endi le? Kulo bocah desa. Kowe nggowo arit le? Kangge mbacok londo. Londo luput opo le? Njajah negoro kita.//

Misbach Tamrin – PerjuanganPerempuan Indonesia2011Oil on canvas150x250 cmMullerMulyadi - Lelaku Manusia Jawa

Misbach Tamrin – Perjuangan Perempuan Indonesia – 2011 – Oil on canvas – 150 x 250 cm – [ Foto: Muller Mulyadi ]

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi