Lelaku Petani Jawa

Lukisan koleksi Museum Tembakau Jember
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kisah Mbah Aman dari Yogyakarta

Pulau Jawa oleh banyak intelektual dunia diakui sebagai peradaban Asia Tenggara purba. Pulau ini merupakan persilangan berbagai peradaban dunia: India, Cina, Arab, Eropa. Lokal dan global jejaknya terasa dalam kebudayaan Jawa. Tradisi dan spiritualitas lokal Jawa, hidup saling mempengaruhi, berdampingan dan bernegosiasi dengan peradaban-peradaban itu. lelaku petani jawa

Bagi orang Jawa, menjaga keseimbangan kosmos itu penting. Mereka rela melakukan berbagai hal sulit dan mahal untuk mematuhinya. Berpuasa, bersih desa, selamatan, tirakatan, nglakoni adalah beberapa wujud kerelaan itu. Semua demi menata kosmos pada letaknya. Sampai sekarang, penduduk Jawa masih banyak memegang teguh tradisi dan spiritualitas Jawa itu.

***

Salah satu orang Jawa yang masih kental memegang teguh tradisi dan spiritualitas Jawa itu adalah Mbah Aman.  Perempuan, janda cerai mati itu, kini mendiami daerah berbukit kapur dan karang di pinggir kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk hidup dan menghidupi keluarganya, Mbah Aman janda 5 anak, memilih menjadi ibu tunggal sekaligus petani pekerja keras.

Setiap hari, pagi sekali Mbah Aman meninggalkan rumah menuju sawah dan ladangnya di pinggiran hutan. Hal itu dilakoninya hampir setiap hari. Untuk mencapainya, ia harus menaiki dan menuruni bukit-bukit batu dan kapur. Jarak rumah sampai tujuan mencapai lebih dari 5 kilometer.

Jarak yang terbilang jauh tersebut ditempuhnya dengan jalan kaki. Itu pilihan sadarnya. Semua tawaran memboncengkannya dengan motor atau sepeda, dia tolak. Kerap dia merasa segan, tapi apa boleh buat, dia tidak nyaman, dan dia ingin berolahraga alami dengan jalan kaki.

Secara ekonomi, pilihan berjalan kaki bagi Mbah Aman itu membuat dirinya makmur dan sehat. Terdengar tidak masuk akal. Namun itulah kenyataannya. Setidaknya dalam perjalanan pulang dan berangkat, perjalananya dipenuhi aktivitas ekonomi. Ia selalu memunguti rencek, kayu bakar, untuk disimpan. Jika kayu bakar itu berlebih, biasanya dia simpan, kalau tidak ia barterkan kepada yang membutuhkan. Sembari itu pula, dia memotong rumput-rumput segar buat ternaknya. Tidak lupa, meramban atau memetik dedaunan untuk jadi sayur mayur. Pilihan jalan kaki, ternyata berdampak secara ekonomi: irit dan ubet.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]
Baca juga:  Negara Islam
Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Sebagai bekal, Mbah Aman membawa gembolan berupa tiwul, ubi dan air putih. Atau sering juga hanya air putih kemasan botol saja. Ia akan menghabiskan gembolannya itu dalam sehari dua hari. Sebelumnya, ketika bertata-tata hendak ke sawah dan ladang, Mbah Aman memanjakan diri dengan meminum teh dan menyulut rokok.

Setiap pagi teh pahit dan rokok menjadi pengganti sarapan pagi. Hanya dengan dua barang itu, Mbah Aman mampu bekerja hingga siang, bahkan sore. Bagi Mbah Aman, teh dan kopi  adalah kesenanganya yang memperpanjang umur dan memperbanyak rejekinya.  “Ibu tidak biasa sarapan pagi. Tapi ibu akan marah jika pulang dari sawah tidak ada lauk makan siang,” ungkap sang menantu.

Sebagai orang Jawa, ia laku prihatin, Mbah Aman pantang memakan daging lembu dan ayam. Pun dengan beras, ia lebih suka mengurangi konsumsi beras, dan menambah tiwul, ketela dan sebagainya sebagai tambahan. Soal sayur, daun ketela, daun pepaya, dan jenis-jenis sayuran lain adalah menu utamanya.

“Orang sekarang yang makan enak, daging enak, ayam, mie itu malah cepat mati muda. Wong makanannya mengandung pengawet semua. Orang sekarang ini makan dari hasil pertanian yang tidak sehat,  hasil taninya sendiri dijual, dan semua malah beli makanan hasil pabrik,” terang sang anak mengenai rahasia sehat sang ibu.

***

Seperti halnya Mbah Aman, orang sepuh, yang berusaha menjadi Jawa yang njawani. Orang Jawa yang telah mencapai usia tua pernah menjadi saksi perubahan besar lingkungan sosial budayanya, mungkin lebih lebih dari generasi-generasi lain dalam sejarah Indonesia. Mereka melintasi jaman, melintasi nilai. Belanda, Jepang, Republik Serikat, Orde Lama, Darul Islam, Komunisme, Orde Baru dan Reformasi.  Namun semua tidak melunturkan ke-Jawa-an orang Jawa.

Semua titimasa ini, dengan tanda-tanda jamannya sendiri, bagi orang Jawa, dikenang banyak menumpahkan darah dan airmata. Tak pelak, sikap eling dan waspada menjadi bagian penting dalam kehidupan orang Jawa. Semua adalah tanda-tanda jaman yang harus diterjemahkan dengan bijak, kalau tidak ikut binasa dalam putaran sang kala.

Baca juga:  Kontradiksi Dewi Sri

Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan, di gudang barang Mbah Aman selalu tersedia beras, palawija dsb untuk kebutuhan keluarga selama satu musim panen. Di sawah dan ladang Mbah Aman pun telah ditanam padi dan jagung secara bergantian. Disela-sela pematang sawah dan galengan, ditanami cabai, tomat, kacang kara, terong dan sebagainya. Tumbuhan ini cukup memasok kebutuhan sehari-hari keluarga Mbah Aman. Jika diperkirakan lebih, sampai masa panen baru, maka tidak jarang persediaan jagung dan padi itu dijual. Kadang persediaan itu ditukarkan dengan barang lain dengan para tetangga atau kerabat.

Titimasa yang tidak bisa dipastikan dan cenderung suram, menjadi pelajaran hidup Mbah Aman. Selain berserah kepada Tuhan, kekuatan laku hidup prihatin adalah jalan keluar bagi petani desa, perempuan kepala keluarga, macam Mbah Aman. Itu semua bagian dari sikap eling lan waspada.

Sedari muda, sebagai seorang Muslimah Jawa, selain menjalankan salat lima waktu dan puasa wajib ramadhan, ia menjalani hidup prihatin. Hidup prihatin a la Mbah Aman itu adalah menjalani puasa senin – kamis, puasa neptu selama 24 jam, puasa daud, puasa ngebleng (dalam jangka waktu sehari, seminggu dan seterusnya), poso mutih menghindari makan nasi dan sebagainya.

Berpuasa, menjalankan slametan, dan patuh pada hitungan neptu adalah bagian dari prosesi mengembalikan keseimbangan kosmos dalam masyarakat Jawa. Begitu Mbah Aman percaya.

***

Tubuh perempuan ini sudah tidak muda lagi. Kulit yang berkeriput, rambut yang memutih merupakan buktinya. Menurut catatan sipil yang tertuang dalam kartu tanda penduduknya, umurnya telah mencapai 72 tahun. Sungguh bukan masa perkasa lagi.

Tapi coba lihat, bagaimana dia menjinjing jagung berberat lebih dari 50 Kg di punggungnya. Atau coba dengarkan letupan suara yang keluar dari mulutnya. Atau bahkan makian kesalnya. Tubuh perempuan ini begitu sehat, bergas dan cekatan.

Orang yang tidak pernah bertemu dengan mungkin akan heran. Bagaimana perempuan yang jarang lepas dari rokok ini bisa begitu gesit di usianya yang tua ini. Mbah Aman menafsir, semua berpulang pada kearifannya menjaga kesetimbangan kosmos di sekitarnya. Ini adalah rahasia panjang umur dan bahagianya.

Baca juga:  Manusia Jawa dari Kleco

***

September pertengahan 2013 lalu, adalah waktu Mbah Aman untuk wiwit. Musim hujan memang masih jauh untuk mengguyur bumi Gunungkidul dan Jawa umumnya. Namun menurut petungan Mbah Aman, hari tersebut adalah neptu yang baik untuk wiwit benih. Yaitu menebar benih, menurut aturan hari baik, untuk selanjutnya diolah ketika musim hujan tiba.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Lahir dan besar dari keluarga Jawa yang njawani, menjadikan Mbah Aman seorang Jawa yang paripurna.  Menurut pandangan Mbah Aman, tidak ada satupun di dunia ini berjalan secara kebetulan. Perjalanan hidup seseorang telah ada dalam kehendak Tuhan. Jadi bagi orang Jawa, mereka tidak bisa bertindak sembarangan, semua harus dalam petungan.  Dengan petungan, seorang Jawa itu dianggap lengkap ke-Jawa-an nya.

Petungan adalah perhitungan waktu dan hari baik menurut peristiwa kelahiran, kematian (geblag) untuk melakukan perjodohan, pernikahan, memulai menanam padi, pindah rumah, bepergian jauh, membangun rumah, pindah rumah, dan lain-lain.

Petungan ini menggunakan penanggalan Jawa dan penanggalan Islam yang digabung dalam perhitungan hari yang khusus. Dalam penanggalan Jawa yang berganti dalam 5 hari (pasaran) dan 35 hari (sepasar) serta penanggalan Islam yang berganti dalam 7 hari (seminggu) dan 30 hari (bulan).

Dalam hari-hari itu, orang Jawa menetapkan angka (neptu). Dalam hari pasaran Jawa yang berurutan: legi, pahing, pon, wage dan kliwon memiliki angka 5, 9, 7, 4 dan 8. Sedangkan senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan ahad memiliki angka 4, 5, 3, 7, 8, 6 dan 9. Semua itu dijumlah untuk menghasilkan hari baik.

Mbah Aman percaya dengan bersikap njawani, kosmos ini tertata dengan baik. Begitu pula dengan hasil panen, rejeki, kesehatan, pikiran menjadi damai dan tenteram. Orang njawani itu orang yang tidak asal dalam berbuat. Patuh pada perhitungan neptu. Tradisi dan spiritualitas seperti ini, telah merosot dan menghilang di kalangan orang Jawa kebanyakan. []

lukisan di museum tembakau jember - Lelaku Petani Jawa

Lukisan koleksi Museum Tembakau Jember

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi