Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Perihal Denny JA dan kawan-kawan

Ya, sastra bisa datang dari siapa saja. Juga bisa datang dari dokter hewan, empu lembaga survey, juga siapapun. Dan jika kita meng-cap seorang sebagai bukan sastrawan hanya karena sifat yang tidak kita senangi, atau karya yang tidak cocok dengan pribadi kita, maka kita tak jauh beda dengan Fatin Hamama.

Melihat riuhnya kasus Saut melawan  Fatin Hamama membuat para pendukung masing-masing menjadi kalap. Saya mendukung Saut, dengan rasionalisasi yang akan saya tuliskan nanti. Namun, izinkan saya pertama-tama menyampaikan pendapat saya tentang apa yang terjadi pada kedua kubu. 

Dari kubu Fatin Hamama, kita bisa melihat bahwa dia telah melakukan manuver untuk mengadili Saut lewat peradilan akibat dugaan penyebutan Fatin sebagai “lonte”. Dan di pihak lain, kumpulan pegiat literasi di Jogja memilih bertahan dan membantu Saut Situmorang selama proses peradilan, ada juga yang bernada menyerang dan kalap, dengan menganggap Fatin Hamama tidak layak disebut sastrawan. Pertanyaannya, setelah manuver Fatin feat Denny JA, dkk. apakah mereka masih masuk kategori sastrawan?

Menurut saya, tidak penting apakah Fatin Hamama dan Denny JA layak atau tidak disebut sastrawan. Sastrawan (sastrawati) bukanlah sebuah pekerjaan profesi yang mempunyai kode etik yang bisa dijadikan acuan untuk menghukum sastrawan agar dia menanggalkan predikatnya tersebut. Siapapun bisa muncul menjadi sastrawan dengan karya yang mempunyai pengikutnya masing-masing. Dan opini kalap yang menyebut Fatin Hamama dan Denny JA tidak layak disebut sastrawan patut dipertanyakan.

Saling lawan adalah seni yang rumit. Kita tiba-tiba bisa mempunyai perangai yang sama dengan orang yang kita lawan. Namun di sisi lain, kita merasa juga harus menciptakan dinding batas setinggi mungkin untuk membedakan diri kita dengan lawan bebuyutan. Dalam satu waktu, kita bisa tiba-tiba berubah mirip dan berbeda sama sekali dengan musuh kita. Kita menggunakan pedang yang sama, kebengisan yang sama –hanya tempat dimana kita berdiri saja yang berbeda.

Fatin Hamama dan Denny JA memang sastrawan nge-hek. Mereka menciptakan sulap sehingga Denny masuk dalam lingkaran semu sastrawan keren se-Indonesia. Lingkaran itu, angka 33 itu, semu dan tidak berharga sama sekali di mata seorang besar macam Pramoedya atau HB Jassin. Mereka hidup untuk mencerahkan masyarakat dan menyalurkan hasrat untuk menulis, tanpa ada cita-cita untuk menjadi urutan teratas dalam kompetisi manapun. Pramoedya tak menampakkan kebanggaan maupun kekecewaan saat dia masuk sebagai nominasi Nobel Sastra, apalagi hanya sekedar masuk dalam lingkaran beradius 33 centimeter itu.

Dalam hal ini, Denny JA berusaha dengan sambil tidur ngorok untuk bisa masuk “Lingkaran Elit 33” yang dia ciptakan sendiri itu. Dia semacam silau dengan cahaya ketenaran 32 “Dewa” Sastrawan Indonesia. Sebuah cara agar dirinya memiliki sinar yang sama dengan mereka, ya dengan memasukkan namannya di buku “33 Tokoh Sastra yang Paling Berpengaruh” itu. Implikasinya luas, dengan kebutaan generasi mendatang, dia mungkin akan benar-benar dianggap sebagaimana harapannya kini. “Kebohongan di masa kini, akan menjadi kenyataan di mata sejarah,” kata pepatah.

Fatin Hamama juga tak jauh beda dengan Denny, sebagai wanita yang murah air mata, dia merasa dicemarkan nama baiknya. Dia berusaha membangun tembok elit yang memisahkan dirinya dengan makhluk macam Saut. Mengatakan secara tak kasat telinga bahwa, “Saya adalah orang beradab, dan mulutmu terlalu hina untukku, Saut.” Sastrawan, sebagai orang yang hidup dalam dunia kata, seharusnya tidak pernah malu untuk mengeksplorasi setiap kata yang ada di dunia. Peduli itu buruk, cemoohan, hinaan. Apalagi semacam Saut Situmorang, siapa yang tak kenal kata-kata pedasnya? Bayangkan, betapa sempitnya dunia sastra jika dia tidak boleh menggunakan kata-kata cemoohan (yang jumlahnya sama dengan kata-kata pujian, bahkan lebih banyak!). Jika saja Fatin Hamama menganggap itu sebagai tindakan pencemaran nama baik dan menginginkan Saut menarik kata “lonte” itu, Fatin Hamama melakukan kesalahan besar. Sebab sastrawan lain mungkin bisa menerbitkan sindiran-sindiran dengan kata memuja yang sebenarnya membunuh.

Saya membaca Saut lewat Bumiputera. Kata-katanya menusuk ke uluhati jika saya membayangkan sebagai GM yang dibicarakan dalam karya itu. Sempat saya menganggap Saut sebagai ahli kitab kata-kata kotor, namun saya kilaf dan merasa Saut sebagai seorang pendobrak dengan keluasan bahasa yang dipakainya.

Bagaimanapun rusaknya karya dan tabiat Fatin Hamama maupun Denny JA, saya menganggap siapapun bisa menjadi sastrawan dan tidak ada orang yang berhak melepaskan predikat itu kecuali dirinya sendiri. Setiap orang, tak peduli dengan latar belakang pendidikan, garis keturunan, gaya bahasa, sifat tetap bisa menjadi sastrawan. Lebih-lebih lagi, predikat ini tidak berarti apa-apa. Apa hak kita untuk men-judge orang sebagai “bukan sastrawan”? Kita tak punya hak sama sekali untuk itu. Jika sastrawan dan akademisi mempunyai hak untuk mencabut predikat sastrawan dari seseorang, maka syarat apa yang harus dipenuhi seseorang agar bisa disebut sastrawan lagi? Kelompok mana yang berhak mengakui seseorang sebagai sastrawan? Kelakuan menendang orang dari lingkaran sastrawan, menurut saya mirip dengan kelakuan Denny JA. Denny JA memberi predikat pada dirinya dan 32 orang lain sebagai sastrawan berpengaruh, kita marah. Dan, sebab kemarahan yang buta, kita sebut Fatin Hamama (anak buah Denny JA) sebagai bukan sastrawan, hanya karena kecengengannya. Draw!! Toh, HB Jassin yang menghadapi tuntutan Buya Hamka atas tuduhan melecehkan umat Islam, tak pernah menyerang balik lawannya dengan mengatainya sebagai bukan sastrawan…..

Kanonis dan Omong Kosongnya

Baca juga:  Desersi Sang Penyair, Kisah Arthur Rimbaud

Kata Kanonisme yang pertama saya dengar mengarah pada bidang jurnalistik. Suatu metode untuk langsung menuju ke narasumber utama sebagai informan yang dapat dipercaya. Ternyata kemiripan ini juga ternyata ada pada buku “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia” itu. Ya, seakan buku itu merupakan capaian paling agung bagi seorang sastrawan. 

Diksi kanonisasi digunakan juga pada penobatan santo pada Katolik Roma, Ortodoks Timur. Gelar tersebut digunakan sebagai penghargaan atas kepahlawanan mereka. Hal yang sama, Denny JA melakukan kanonisasi pada sastrawan Indonesia termasuk dirinya. Alhasil, 33 sastrawan masuk. Hitung-hitung berhadiah dengan angka dan parameter yang tidak jelas tapi mutlak: 33, tak boleh lebih tak boleh kurang. Seperti Umberto Eco yang mengkritik metode pengambilan sampel dalam penelitian: mengapa Denny JA dan timnya memilih angka 33? Mengapa tidak 34, 35 atau 100? Atau bahkan 1? Atau bahkan 0 sekaligus? Mengapa para sastrawan seakan harus berjubel untuk masuk ke lingkaran 33 itu?

Aih, angka-angka itu hanya ilusi. Fatamorgana belaka. Sama fatamorgananya dengan buku “100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” Michael Hart, lebih buruk dari “The Most Influental People” versi majalah TIME, dan hanya sedikit lebih baik dari kumpulan tips&trik macam hipwee. Denny JA yang kebetulan pemilik lembaga survey memang gila angka, gila statistik! Tanpa angka, dia tidak bisa hidup. Kepastian dari angka lah yang memabukkannya selama ini.

Denny JA menganggap semuanya bisa diukur dengan satuan yang pasti, termasuk kualitas narasi para sastrawan pun dijadikan obyek kajiannya. Nyatanya, angka hanyalah elemen kecil dari rangkaian narasi, dan sampai kapanpun angka tidak mempunyai super-power untuk memberi penilaian pada narasi.

Kita perlu menahan diri agar tidak jatuh pada lubang yang sama dimana Denny JA dan kawan-kawannya berkubang santai. Sebagai contoh, kanonisasi yang dilakukan Denny JA bisa saja dilakukan oleh pihak kita sendiri, teman kita sendiri. Kanonisasi yang “lain”, juga bisa dilakukan dengan mendepak seseorang dari statusnya sebagai sastrawan.

Angka 33 itu, adalah kerjaan iseng Denny JA. Menabur kapur secara melingkar di tengah-tengah kuburan para sastrawan terkemuka. Dan, ternyata ada juga orang yang melawan Denny JA dengan cara yang sama, yakni menabur lingkaran berhias moral dan etika bagi para sastrawan. “Hei, kakimu keluar lingkaran, enyah kau dari kami yang suci!”[]

DJACOVER 1 - Lingkaran Semu Sastra

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi