Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Jembatan Subyektivisme - Obyektivisme

Ada dua sumbangan terbesar yang diberikan oleh Pierre Bordieu bagi perkembangan ilmu-ilmu sosial. Sumbangan pertama adalah, Bourdieu berhasil menjembatani oposisi antara pendekatan subyektifisme dan obyektivisme. Dua kutub yang selama ini selalu berseberangan sehingga memaksa para ilmuwan sosial untuk memilih salah satu di antara dua pendekatan tersebut. logika praktik

Sebuah perdebatan yang sebenarnya sudah dimulai sejak teori klasik diformulasikan, tetapi sesungguhnya merupakan tema besar bagi disiplin tertentu dalam sosiologi. Marx, misalnya, didiktumnya yang terkenal berargumentasi bahwa manusia dapat mengubah dunia melalui tindakan-tindakan mereka. Memang hal ini menunjukkan peran pelaku, tetapi manusia tidak bebas untuk melakukannya sekehendak hati mereka, ini menunjukkan dominasi sosial dan ekonomi atas tindakan manusia.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Bagi pandangan subjektivis, kepercayaan, hasrat, inisiatif, dan justifikasi ditempatkan sebagai bagian dari pelaku kebudayaan sebagai pusat gravitasi. Dalam subyektifisme pula, pelaku dibekali dan diperkuat sesuai dengan petunjuk dari aspek subjektif dalam tindakannya. Sebaliknya, sudut pandang objektivis lebih ditekankan dalam upaya menjelaskan pemikiran sosial dan tindakan di dalam kerangka material dan kondisi-kondisi ekonomis, struktur sosial, atau logika budaya. Padahal, hal-hal inilah yang dilihat Bourdieu sebagai superordinat, dan lebih menentukan daripada konstruksi, pengalaman, dan tindakan simbolik pelaku.

Dalam menjembatani dua oposisi tadi, Boudieu menggunakan istilah “praktik sosial”, sebuah upaya yang dimapankan melalui penciptaan metode yang membuat ilmuan dapat membebaskan diri dari jebakan yang berhulu baik dari perspektif subjektivisme maupun objektivisme. Tujuan Bourdieu, dengan menjembatani dua oposisional supaya terjadi transformasi antar konsepsi-konsepsi itu ke dalam hubungan dialektis antara struktur dan agensi. Dengan jembatan itu pula,akan terbantu dalam mengenali dan menjelaskan bermacam-macam tataran kehidupan praktik dengan menggunakan metafora ekonomi.

Sementara, sumbangan kedua Bourdieu adalah memposisikan antara struktur dengan agensi dalam wilayah yang masing-masing memiliki fungsi dan cara kerja yang berbeda. Dalam struktur dan agensi, perdebatan itu memusat pada peran dan pengaruh institusi dan struktur dalam membentuk masyarakat atau sebaliknya, sejauhmana tindakan-tindakan dan inisiatif individu bermain dalam proses yang sama.

Pada konteks ini, penjelasan Marxist dan fungsionalis dilihat sebagai strukturalis karena mereka menekankan kualitas yang menentukan dan yang menstruktur (structuring) dari masyarakat terhadap dan berlawanan dengan kemampuan inisiatif pelaku (agents). Sebaliknya, penjelasan Weberian dan fenomenologis tentang masyarakat dilihat sebagai voluntaris yang menekankan terlalu banyak pada tindakan-tindakan dan inisiatif individu dalam menghasilkan dan mendaur ulang dunia sosial, seakan-akan halangan eksternal atau struktural tidak ada. (Muridan, 2003)

Disini, Strukturalisme diletakkan di dalam dunia sosial sendiri, bukan hanya di dalam sistem-sistem simbolis, langage, mitos-mitos, dan lain-lain. Strukturalisme ala Bourdieu, mengacu pada struktur-struktur objektif, terlepas dari kesadaran dan keinginan pelaku-pelaku, yang mampu mengarahkan dan sekaligus menghalangi praktik-praktik atau representasi mereka. Memang ia tak sepenuhnya meninggalkan strukturalisme. Bahkan, teori yang ia buat, ia sebut dengan konstruktive-structruralism atau structuralisme génétique. Dalam proposisi ini, ia menyatakan bahwa terdapat genesis sosial dan skema-skema persepsi pemikiran dan aksi, serta bagian lain dari struktur sosial.Tentu tidak mudah membangun proposisi ini. Paling tidak, bisa dilihat diawal-awal tulisannya.

Bourdieu yang terpengaruh oleh strukturalisme Sausussurean. Dengan sudut pandang strukturalisme, Bourdieu membuat sebuah kajian teoretis yang digunakan untuk “teori umum tentang kebudayaan”. Namun, ia justru mengkritik asumsi teoretik Saussure, Ia berkesimpulan, bahwa teori baru dapat dibangun jika seseorang mampu melepaskan diri dari jebakan oposisi, dikotomi, dan keterbatasan visi yang di wariskan oleh pendahulunya. Salah satu kritik itu adalah pandangan oposisional antara kebudayaan dan langue dengan “praktik” dan parole. Pierre Bourdieu sendiri, dikenal sebagai filsuf dan sosiolog. Hal ini terkait dengan latar belakang pendidikannya dan hubungan langsung antara dua disiplin tersebut. Filsafat mengajukan pertanyaan baik secara implisit maupun eksplisit yang membentuk sosiologi serta mengisi tujuan teoretis dan politisnya. Karya-karyanya tentang Aljazair secara khusus juga memberikan sumbangan penting bagi penelitian antropologi. Selain itu, sumbangan Bourdieu juga signifikan dalam pengkajian karya sastra, ekonomi, dan bahkan fotografi. Karya-karya Bourdieu bersumber dan merupakan hasil pengolahan dari berbagai sumber daya intelektual semacam Marx, Durkheim, Weber, Saussure, Wittgenstein, Benveniste, Canguithem, dan dan rentangan pemikiran fenomenologi hingga strukturalisme, bahkan ke filsafat analitis.

Tidak sekadar sebagai pemikir eklektis, Bourdieu diakui telah merajut ide-ide inti pemikiran Barat ke dalam sintesisnya sendiri. Bagi para reviewers, prestasinya dilihat sebagal bukti adanya generasi baru dalam pemikiran intelektual yang mengubah konsepsi tentang masyarakat. Dengan habitus dan arena Bourdieu menggali cara-cara yang di dalamnya objektivisme (terutama strukturalisme) bergantung pada pemahaman dan orientasi yang tidak eksplisit bahkan bagi dirinya sendiri dan bagaimana satu versi tentang subjektivisme tidak menggali secara memadai kondisi sosial objektif yang memproduksi orientasi subjektif ke arah tindakan. Tidak satu pun dari posisi paradigmatis itu dapat menjelaskan kehidupan sosial secara memadai. Kehidupan sosial, bagi Bourdieu, harus dimengerti di dalam kerangka yang memperlakukan baik terhadap materi objektif, sosial, strukrur budaya atau pun terhadap praktik-praktik dan pengalaman individu dan kelompok yang juga ikut memberikan sumbangan secara dinamis. (Ibid, 2003)

Baca juga:  Satu Nama Terukir di Sebuah Kota

Habitus dan arena Dua perkakas konseptual yang layak diperdebatkan dalam karya Bourdieu adalah habitus dan arena (champ). Kedua konsep ini didukung oleh sejumlah konsep antara lain: modal (capital), praktik sosial (pratique sociale), pertarungan (lutte) dan strategi (stratégie). Dalam mengatasi oposisi klasik fenomenologi versus strukturalisme, misalnya, Bourdieu menawarkan konsep praktik. Di situ, Bourdieu memperlakukan kehidupan sosial sebagai suatu interaksi struktur, disposisi (kecenderungan), dan tindakan yang saling mempengaruhi. Bahwa praktik sosial tidak didikte secara langsung oleh struktur dan orientasi-orientasi budaya, seperti di dalam studi perilaku pada umumnya, tetapi lebih merupakan hasil dan proses improvisasi yang kemudian distrukturkan oleh orientasi budaya, sejarah perorangan, dan kemampuan untuk berperan di dalam interaksi sosial. Struktur sosial dan pengetahuan tentang struktur itu menghasilkan orientasi yang ajeg bagi tindakan yang kemudian sebaliknya ikut memberi bentuk bagi struktur sosial. sebagai hasil dinamika dialektis dari dua oposisi tadi.

Dari sini, maka terlihat bahwa, praktik sosial memiliki dua dimensi; Dimensi pertama adalah internalisasi segala sesuatu yang dialami dan diamati dari luar diri pelaku (agents). Dimensi kedua adalah pengungkapan dan segala sesuatu yang telah terinternalisasi dan menjadi bagian dan diri pelaku. Praktik sosial bagi Bourdieu tidak sepenuhnya otonom karena eksistensinya dilihat sebagai varian-varian dan struktur berterima dan bergantung pada hubungan antara ‘authorised, authorising language, and the group which who rises it and acts on its authority’. Praktik sosial seseorang atau kelompok merupakan produk interaksi antara habitus dan arena.

Dalam field yang didefinisikan sebagai suatu sistem hubungan-hubungan objektif kekuasaan antara posisi-posisi sosial yang berhubungan dari suatu sistem hubungan-hubungan objektif diantara titik-titik simbolis, misalnya karya-karya seni, manifesto-manifesto artistik, dan deklarasi-deklarasi politik. Struktur arena didefinisikan pada saat tertentu oleh keseimbangan di antara titik-titik simbolis ini dan di antara modal yang terdistribusi. Besaran modal yang dikuasai menentukan relasi objektif pada posisi-posisi yang berbeda serta akses bagi pemiliknya pada keuntungan tertentu di dalam dinamika pertarungan arena tersebut. Konsepsi arena ini digunakan dalam instansi-instansi substantive yang sebenarnya sebagian besar dan pekerjaan ini dapat dikatakan sebagai suatu percobaan untuk mengidentifikasi stutur dan pengunaan arena sebagai suatu metode yang mengkonstruksi objek penelitian. Arena-arena itu mengidentifikasi pelaku pelaku dan wilayah-wilayah pertarungan. Konsep arena memang diartikan sebagai suatu arena kekuatan-kekuatan (champ des farces).

Konsep ini dibutuhkan untuk menempatkan arena sebagai sesuatu yang dinamis, suatu arena yang di dalamnya bermacam-macam potensi hadir. Jadi arena tidak hanya merupakan arena kekuatan-kekuatan yang secara parsial otonom, tetapi juga suatu arena perjuangan demi posisi-posisi di dalamnya. Perjuangan-perjuangan ini dipandang mentransformasikan atau sebaliknya melestarikan arena kekuatan Posisi-posisi ditentukan oleh alokasi atas modal tertentu pada pelaku-pelaku yang ditempatkan dalam arena tersebut. Posisi-posisi yang dicapai dapat berinteraksi dengan habitus untuk menghasilkan pos tures (prise deposition) yang berbeda yang memiliki efek independen pada ‘position taking’ di dalarn arena tersebut. Ruang sosial (espace social) mengacu pada keseluruhan konsepsi tentang dunia sosial. Konsep ini memandang realitas sosial sebagai suatu topologi (ruang). Dalam cara ini, ruang sosial dapat dipahami sebagai terdiri dari banyak arena yang memiliki  keterkaitan penting satu sama lain, dan titik-titik kontak. Hierarki di dalam ruang sosial ditentukan oleh distribusi diferensial modal-modal. Semakin besar dan beragam modal yang dikuasai, pelaku dapat menduduki posisi yang lebih tinggi daripada yang lain. Ruang sosial individual dihubungkan dan waktu (4fi trajectory) kepada serangkaian arena-arena, yang di dalamnya orang berjuang untuk memperbesar atau memperoleh bermacam-macam modal baru. Dalam konteks arena, dunia sosial, dan pertarungan perebutan modal, terdapat koalisi-koalisi (kelompok politik, dll yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan dalam ruang sosial.

Definisi modal bagi Bourdieu sangatlah luas dan mencakup barang-barang material (yang dapat memiliki nilai simbolis), juga yang menampilkan dirinya sebagai sesuatu yang langka dan berharga untuk dikejar dan dicari di dalam suatu formasi sosial tertentu’. Kebudayaan dan Tindakan Salah satu cara memahami hubungan kebudayaan dengan tindakan adalah mengikuti pengandaian Bourdieu tentang perjalanan dan peta. Kebudayaan adalah peta sebuah tempat, sekaligus perjalanan menuju tempat itu. Peta adalah aturan dan konvensi, sedangkan perjalanan adalah tindakan aktual. Dengan jalan ini, akan terbentuk apa yang disebut Antariksa dengan kemelek-hurufan budaya. Tiang-tiang kemelek huruf budaya akan semakin kokoh, jika didukung oleh tiga hal; yang dijelaskan Bourdieu dengan ‘medan budaya’ (cultural field), habitus, dan ‘modal budaya’ (cultural capital). (Antariksa, 1999)

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Pertama, Medan budaya. Medan ini, didefinisikan Bourdieu sebagai institusi, nilai, kategori, perjanjian, dan penamaan yang menyusun sebuah hierarki objektif, yang kemudian memproduksi dan memberi “wewenang” pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas; dari konflik antarkelompok atau antarindividu yang muncul ketika mereka bertarung untuk menentukan apa yang dianggap sebagai “modal” dan bagaimana ia harus didistribusikan. Modal sendiri, sebagaimana meliputi benda-benda material (yang bisa mempunyai nilai simbolis), prestise, status, otoritas, juga selera dan pola konsumsi. Konsep modal Bourdieu bukanlah dalam arti Marxian dan bukan pula konsep ekonomi formal. Ia mencakup kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap masa depan diri sendiri dan orang lain.

Baca juga:  Saniyeh dan Bagaimana Kemiskinan Mengakrabinya

Modal juga bisa disebut sebagai suatu bentuk kekuasaan. Modal selalu tergantung dan terikat pada medan tertentu, ia bersifat partikular. Dalam medan gaya hidup remaja Indonesia sekarang misalnya, pengenalan akan film dan musik Amerika, kemampuan berbahasa gaul, atau berdandan dengan gaya tertentu, bisa disebut sebagai modal. Bagaimanapun, kemampuan-kemampuan ini, bukanlah modal, misalnya saja, dalam medan pelayanan diplomatik. Pemahaman seseorang akan modal juga berlangsung secara tak sadar, karena dengan cara begitulah ia akan berfungsi efektif. Contoh modal ini, diilustrasikan oleh Antariksa dalam newslatter Kunci, beberapa waktu lalu, dalam sebuah film Jepang berjudul Tampopo, ada sebuah adegan ketika sekelompok pebisnis Jepang makan bersama di sebuah restoran Perancis yang mahal. Selama ini, dikenal perilaku kelompok dalam budaya bisnis Jepang dikenal bersifat sangat hirarkis. Bahwa seseorang yang dianggap superior dalam sebuah kelompok akan terlebih dulu memesan makanan, kemudian baru orang lain mengikutinya. Tetapi, terjadi semacam small scandal. Pemimpin dalam kelompok itu ternyata buta huruf. Ia tak mengenal dan tak bisa membayangkan makanan yang terdaftar di menu. Pemimpin itu juga tak tahu mana makanan yang lezat dan anggur yang terpilih. Akhirnya, pemesan pertama itu memilih dan memesan makanan dan anggur sekenanya. Semua anggota kelompok itu, yang sama-sama buta huruf, mengikuti pemesan pertama dan memilih hidangan mengikuti pilihan pemimpinnya. Giliran pemesan terakhir, yang seorang pebisnis muda itu, ternyata mengambil sikap berbeda. Ia yang tampaknya tahu betul jenis makanan dan anggur, ketika mendapat giliran memesan, mengambil inisiatif berbeda dengan para pemesan sebelumnya. Dengan teliti, bisnismen muda membaca menu, berfikir sejenak dan bertanya ‘beberapa hal’ kepada pelayan. Tampaknya, bisnismen muda itu sangat tahu bagaimana memilih selera. Hal ini membuat semua koleganya sangat terkesan. Pilihan si pemuda, membuka peluang yang lebih baik buat si bisnismen itu meningkatkan posisinya dalam dunia bisnis.

Gambaran ini menjadi contoh, bagaimana masyarakat dengan individu termediasikan oleh modal. Dengan modal pula, masyarakat distrukturkan oleh perbedaan distribusi dan penguasaan modal. Pada sisi lain, individu-individu juga berjuang untuk memperbesar modal mereka. Hasil yang dicapai dalam pembesaran dan diversifikasi modal ini menentukan posisi dan status mereka di dalam masyarakat (social trajectory dan class distinction). Modal, oleh Bourdieu juga bisa dilihat sebagai basis dominasi (meskipun tidak selalu disadari atau disembunyikan oleh pelaku pelaku).

Bourdieu memperkenalkan banyak jenis modal yang terbuka untuk dikembangkan sendiri oleh pemakainya. Bourdieu membagi modal ke empat macam; (1) modal ekonomi, atau barang-barang produktif (uang dan obyek material yang bisa digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa); (2) modal sosial, atau posisi dan relasi dalam jaringan pengelompokan dan sosial; (3) modal kultural, atau keterampilan, kebiasaan, sikap, gaya linguistik, kredensial pendidikan, selera, dan gaya hidup; dan (4) modal simbolik, atau penggunaan simbol untuk mensahkan kepemilikan tingkat dan konfigurasi yang bervariasi dari tiga jenis tipe modal lainnya. Modal ekonomi adalah yang paling efisien. Modal ini berupa alat-alat produksi (mesin, tanah, buruh), materi (pendapatan dan benda-benda) dan uang yang dengan mudah digunakan untuk segala tujuan serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Modal budaya berhubungan dengan keseluruhan kualifikasi intelektual yang bisa diproduksi melalui pendidikan formal atau pun warisan keluarga. Wujudnya bisa berupa kemampuan mengekspresikan di di depan publik, pemilikan benda-benda budaya bernilai tinggi, pengetahuan dan keahlian tertentu dan hasil pendidikan, atau pun sertffikat dan institusi-institusi tertentu (termasuk gelar kesarjanaan). Hubungan sosial, jaringan, organisasi, dan dalam bahasa kita sehari-hari terdapat istilah ‘koneksi’ untuk menggambarkan jaringan seseorang dengan pihak lain yang memiliki kuasa, adalah unsun-unsur yang dalam teori Bourdieu digolongkan. Modal selalu tergantung dan terikat pada medan tertentu, ia bersifat partikular. Dalam medan gaya hidup remaja Indonesia sekarang misalnya, pengenalan akan film dan musik Amerika, kemampuan berbahasa gaul, atau berdandan dengan gaya tertentu, bisa disebut sebagai modal. Bagaimanapun, kemampuan-kemampuan ini, bukanlah modal, misalnya saja, dalam medan pelayanan diplomatik. Pemahaman seseorang akan modal berlangsung secara tak sadar, karena menurut Bourdieu dengan cara begitulah ia akan berfungsi efektif. Seperangkat pengetahuan, aturan, hukum, dan kategori makna yang ditanamkan secara tak sadar ini oleh Bourdieu disebut habitus. Habitus bersifat abstrak dan hanya muncul berkaitan dengan putusan tindakan: ketika seseorang dihadapkan pada masalah, pilihan atau konteks. Dengan begitu habitus bisa juga dimengerti sebagai “feel of the game”. Kekuasaan yang dimiliki seseorang dalam sebuah ‘medan’ (field), ditentukan oleh posisinya dalam medan itu, yang pada gilirannya akan menentukan besarnya kepemilikan modal. Kekuasaan itu digunakan untuk menentukan hal-hal macam mana yang bisa disebut modal. Dalam bentuk distribusi yang sudah tersedia, seseorang yang  memiliki kapital yang sangat kuat cenderung mengambil strategi konservasi, untuk melindungi bentuk doxa dimana struktur yang mapan tidak dipertanyakan. Mereka yang kurang diberkati kapital, cenderung mengambil strategi subversi, strategi klenik atau heterodoxy. Dengan membawa sesuatu yang tidak dapat didiskusikan ke alam yang dapat didiskusikan dan kerant itu bersifat kritis, heterodoxy memaksa agen atau kelompok dominan untuk keluar dari keheningannya dan memproduksi wacana defensif tentang ortodoxy. Hubungan antar strategi berbeda yang dapat diadopsi dalam karakter perjuangan (perebutan) pasar atau medan tertentu.(John.B. Thomson, 2003) Sementara, mereka yang terlibat dalam perjuangan mungkin memiliki tujuan yang berlawanan (antagonis) sekalipun secara umum mereka menawarkan interset dasar dalam perlindungan pasar atau medan. Dengan berpartisipasi dalam perjungan itu mereka membantu mengembangkan seluruh permainan yang aturannya telah menjadi obyek perselisihan.

Baca juga:  Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Dari modal, yang ditanamkan secara tak sadar ini oleh memunculkan habitus. habitus. Habitus, adalah sistem yang terdiri dari kecenderungan-kecenderungan ajeg yang berlangsung di dalam diri pelaku sepanjang hidupnya (durable), yang dapat mendorong praktik di berbagai arena berbeda (transposable), yang berfungsi sebagai basis pembentuk praktik yang terstruktur dan yang secara objektif disatukan. Kecenderungan-kecenderungan tersebut tercipta dan terumuskan melalui konjungtur struktur-struktur objektif dari sejarah individu maupun kelompok. Kecenderungan-kecenderungan itu dipupuk di dalam posisi-posisi sosial suatu arena dan menyiratkan suatu penyesuaian subjektif pada posisi yang dimaksud. Meskipun ajeg dan berpola, habitus tidak beku dan permanen. Skema habitus dan bentuk-bentuk klasifikasi primer bergerak di bawah aras kesadaran dan bahasa, melampaui jangkauan pengamatan introspektif atau kontrol oleh keinginan pelaku. Karena mengarahkan praktik secara praktis, maka, skema-skema menyatu pada apa yang disebut sebagai nilai-nilai di dalam gerak-gerak yang paling otomatis atau yang tampak sebagai gerak tubuh yang paling tidak signifikan, Habitus terkait pada prinsip-pninsip konstruksi dan evaluasi paling fundamental tentang dunia sosial; segala sesuatu yang secara langsung mengekspresikan pembagian kerja atau pembagian pekerjaan dominasi.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Habitus mencakup pengetahuan dan pemahaman tentang dunia, yang membuat kontribusi terpisah pada realitas dunia. Pengetahuan seseorang itu memiliki suatu kekuatan pembentuk yang genuine dan bukan semata-mata refleksi dunia ‘nyata’. Karena modus perkembangannya, habitus kemudian tidak pernah tetap, baik melalui waktu bagi seorang individu maupun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena posisi-posisi di dalam arena-arena berubah, kecenderungan kecenderungan yang membentuk habitus pun berubah. Namun demikian, kemungkinan-kemungkinannya jauh dan tak terbatas.

Bourdieu mengidentifikasi dua macam kendala bagi pelaku (agency). Sumber pertama adalah habitus dan pelaku yang memasyarakatkannya (yang pada gilirannya merupakan produk dari siklus reproduktif sebelumnya). Di dalam suatu situasi perubahan yang relatif cepat, kondisi-kondisi objektif lingkungan sosial dan material tidak akan sama bagi generasi baru. Hal ini membentuk kendala kedua habitus setiap generasi. Konstruksi teoritis di atas, hendak mengatakan tentang dua hal. Pertama, segala sesuatu tidak pernah mapan dan terus-menerus dihadapkan dengan hal baru yang mungkin membuatnya berubah atau sebaliknya mengeras sesuai dengan kondisi objektif dan subjektif yang berkembang dalam konteks tertentu. Hal itu sekaligus berarti bahwa perubahan-perubahan itu dapat ditemukan pola-polanya karena terdapat hambatan atau tembok yang menghadang para pelaku (baik individu maupun kelompok) dan kemungkinan untuk mengembangkan praktik sosial secara atbitrer. Ia dibatasi oleh berbagai hal yang membatasi pilihan termasuk keharusan-keharusan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi objektif dan peluang yang tersedia. Oleh sebab itu, praktik sosial, kata Bourdieu, hanya memiliki ‘otonomi relatif’. Habitus bersifat abstrak dan hanya muncul berkaitan dengan putusan tindakan: ketika seseorang dihadapkan pada masalah, pilihan atau konteks. Dengan begitu habitus bisa juga dimengerti sebagai “feel of the game”. Semakin besar ‘modal simbol’ yang dimiliki, semakin meningkat status seseorang. Dalam beberapa studi, Bourdieu sendiri sering mengaitkan kondisi kebahasaan dengan kekuasaan. Dengan bahasa, secara total (bersama bahasa tandingan) membentuk sebuah ‘ruang’ tempat berlangsungnya sebuah ‘perang bahasa’ atau ‘perang simbol’ guna memperebutkan ‘penerimaan publik’ atas gagasan-gagasan ideologis yang diperjuangkan. Relasi bahasa saling bertautan dengan relasi kekuasaan. Sistem kekuasaan berupaya melanggengkan posisi dominannya dengan cara mendominasi (mendistorsi) bahasa yang digunakan dalam komunikasi, tanda-tanda yang dipertukarkan, serta interpretasi terhadap tanda-tanda tersebut. Sehingga, yang dikembangkan adalah prinsip mono-signification dan monosemy –pertandaan dan pemaknaan serba tunggal–. (Yasraf,2002)

Contoh ini bisa dilihat, ketika beberapa waktu lalu, ada penyerahan terhadap orang-orang berbahasa indonesia terbaik. Pemberian penghargaan terhadap tokoh berbahasa indonesia terbaik diatas menjadi semakin menambah modal bagi para tokoh itu untuk berkibar. [] sarden - Logika Praktik

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi