Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah refleksi

Ada teman yang meminta pendapat saya terkait mana yang lebih baik antara oat dan thiwul? Jika ditinjau dari kandungan gizi, memang oat bisa dikatakan lebih unggul, mengingat thiwul merupakan pangan yang membutuhkan pengolahan lebih panjang dibanding oat sehingga memungkinkan sebagian kandungan nutrisi singkong rusak karena pengolahan. Namun, meski demikian,  apakah bisa diartikan jika oat lebih baik dibanding thiwul?

Untuk menilai makanan- apakah lebih baik antara satu dibanding lainnya- tidak bisa hanya diukur ‘sesempit’ hanya dari kandungan gizi-nya saja. Setiap makanan punya ceritanya sendiri. Makanan tidak ‘ujug-ujug’ ada di depan kita. Hadirnya tiap makanan, tak mungkin begitu saja jatuh dari langit bukan?  Setiap makanan itu punya prosesnya sendiri, bagaimana diproduksi (dibudidayakan dan diolah), didistribusikan, hingga dikonsumsi. Untuk menyimpulkan makanan itu baik atau tidak untuk disantap, takbisa dilihat dari satu sisi dari nilai gizi nya saja, penting pula melihat bagaimana makanan itu diproduksi dan didistribusikan. Makanan diproduksi tak bisa dilepaskan dari 2 unsur, yaitu 1. manusia yang memproduksi, dan 2. alam dan lingkungan sebagai sumber daya untuk memproduksinya, seperti tanah, air, mikroba, hewan lain, matahari, iklim, dll.

Pertama, makanan diproduksi (dibudidayakan) oleh manusia, sehingga tidak akan lepas dan selalu terhubung dengan kehidupan dan kebudayaan dari petani/buruh/produsen yang memproduksi makanan itu. Bagaimana sistem produksi makanan tersebut dijalankan ? Apakah sistemnya adil bagi petani, buruh, dan pekerja yang memproduksinya? Pada industri makanan, siapa yang paling mereguk keuntuhan terbesar dari produksi tersebut, pemilik usaha atau buruh nya? Pada sistem usaha tani kecil, apakah petani yang memproduksi mendapatkan pendapatan yang adil dan dari proses memproduksi tersebut? atau malah sebaliknya. Pada suatu waktu,  harga pangan tinggi, misalnya harga beras, apakah kenaikan harga tersebut menaikkan pendapatan petani/buruh tani yang memproduksi beras? Belum tentu, sistem distribusi yang panjang dimana banyak pemburu rente yang terlibat, seringkali mengakibatkan petani takdapat apa-apa, selain kenestapaan. Rantai pangan, terutama rantai distribusi yang panjang, umumnya tidak memberikan keadilan bagi petani/buruh tani itu sendiri. Pada tataran ideal, setiap proses produksi pangan membawa keadilan bagi siapapun yang terlibat memproduksinya, baik bagi petani, pemilik usaha, maupun buruh- bahkan buruh yang bekerja di struktur dan level terendah dalam sistem produksi pangan. Singkat kata, makanan yang baik, seharusnya membawa keadilan bagi siapapun yang terlibat dalam proses produksinya.

Baca juga:  Nasionalisme, Sosialisme, Keperempuanan

Kedua, alam dan lingkungan menjadi unsur kedua yang takbisa dilepaskan dalam produksi pangan. Untuk makanan/pangan yang sebenarnya (real food), tentu saja tak bisa lepas dari tanah (lahan) sebagi media ruang hidup, benih sebagai pangkal makanan, air, matahari, hewan yang menghasilkan pupuk, jutaan mikroba (seperti bakteri, nematoda, jamur, aktinomiset, dll) yang menguraikan menjadi zat hara untuk pangan yang diserap. Maka dari itu untuk melihat apakah makanan itu baik atau tidak , tak mungkin bisa dilepaskan dari dampak produksi makanan tersebut bagi alam. Apakah makanan yang diproduksi tersebut membawa keadilan bagi alam, atau justru sebaliknya membawa ancaman dan kemusnahan bagi bagi benih, tanah, mikroba, air dan semesta alam?  Pada tataran ideal, demi kelestarian dan keberlanjutan alam sebagai ruang hidup bersama, seharusnya setiap pangan diproduksi dengan cara yang lestari, dengan cara yang tak eksploitatif sehingga tak membawa kehancuran bagi unsur-unsur alam.

Dari penjelasan diatas, sebagai manusia yang berbudi dan dikaruniai Tuhan dengan akal pikiran, dalam menilai makanan, baik atau tidak-nya, tidak bisa semata-mata hanya melihat apakah makanan itu sehat untuk tubuh kita saja. Kita perlu melihat bagaimana makanan tersebut diproduksi, asal usul dan cerita dibalik makanan tersebut. Apakah makanan tersebut telah memberikan keadilan pada manusia yang memproduksinya maupun alam sebagai sumber daya-nya.

Untuk memahami konsep diatas, kita coba melihat kembali kasus oat dan thiwul diatas. bagi teman-teman yang belum tahu oat, silakan mencari info terkait. Saya melakukan searching beberapa info melalui google, ada jutaan inforamsi tentang oat. Beberapa info standar tentang Oat diantaranya : oat dikenal juga dengan nama Haver (Avena sativa L.), merupakan serealia yang dibudidayakan di daerah beriklim subtropis dan sedang. Oat tidak dibudidayakan di Indonesia, mengingat iklim kita tropis. Negara-negara penghasil oat terbesar di dunia adalah Rusia, Kanada, Finlandia, Polandia, Australia. Oat bisa hadir di Indoensia, dengan cara mengimpornya. Selaku pangan impor, Oat perlu jarak ribuan km untuk sampai ke meja makan kita. Karena jarak yang jauh dan rantai distribusi yang panjang, selaku konsumen, sulit bagi kita untuk mengetahui bagaimana oat itu diproduksi. Rasanya akan sangat rumit karena perlu upaya dan kajian tersendiri untuk mengetahui : darimana asalnya ; siapa yang memproduksinya ; dimana lahan produksinya ; bagaimana sistem budidaya-nya ; apakah ditanam secara eksploitatif atau tidak ? Apakah sistemnya memberi keadilan bagi petani dan buruhnya, atau justru sebaliknya? Perlu penelusuran dan penelitian yang tak singkat dan realtif tak mudah. Yang jelas, 2 hal yang bisa kita ketahui dan pastikan tentang oat : 1. Sedikit (terbatas) informasi terkait asal-usulnya, 2. oat adalah pangan impor. Umum diketahui jika jenis-jenis pangan impor perlu rantai distribusi yang panjang untuk mendapatkannya. Konsekwensi dari panjangnya rantai distribusi ini, selain tingginya bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi yang akan berdampak negatif pada alam, kita juga takbisa menjamin kualitas pangan tersebut, misalnya seberapa besar zat zat kimia (pengawet, penyegar dll) untuk menjaga kestabilan komoditi tersebut. Biasanya, pangan komoditi impor ditanam secara monokultur dalam luasan ribuan hektar. Monokultur memberikan dampak negatif bagi lingkungan karena mengancam biodiversity, menggusur hutan dan berkontribusi pada perubahan iklim (McMahon, 2013). Monokultur adalah sistem yang khas dari industry pangan bermodal besar, dengan sistem hirarki dan struktur organisasi perusahaan besar, kita akan sulit dan tidak bisa melihat secara langsung bagaimana wujud keadilan bagi buruh di struktur terbawah.

Baca juga:  Isabelle Eberhardt

Sedangkan thiwul, berkebalikan dari oat. Sebelum era 1980-an, thiwul pernah menjadi makanan pokok Gunungkidul. Thiwul dibuat dan diolah dari singkong. Thiwul biasanya dikembangkan oleh industri rumahan kecil. Sebagai pangan pokok, thiwul sudah menjadi hal ‘biasa’, taka sing bagi warga Gunungkidulan. Terkait pengecekan asal usul nya, justru karena kelokalannya, lebih memungkinkan bagi kita (konsumen) untuk melacak siapa dan bagaimana thiwul diproduksi. Jika mau memastikan bagaimana thiwul diproduksi masih memungkinkan dan lebih mudah. Misalnya, thiwul instan dari Sekolah Pagesangan. Jika mau dilacak, dia diproduksi oleh Kelompok Tani/Pengolah sekolah pagesangan, Wintaos-Gunungkidul. Menurut keterangan dari para petani/pengolah thiwul Sekolah Pagesangan didapat keterangan : mereka adalah kumpulan dari petani kecil dengan luasan rata-rata 0,7 ha (sehingga mereka bukan industri pangan besar) ; para petani menanam beberapa macam tanaman dalam satu lahan ; untuk menumbuhkan singkong, para petani di Wintaos-Gunungkidul Tidak menggunakan pestisida maupun urea ; pengolahan singkong menjadi thiwul instan juga dilakukan secara alamiah ; tanpa penggunaan 4P (pengawet, pewarna sintesis, pemanis buatan, penyedap rasa). Selain aspek yang berhubungan dengan ekologi, anggota Sekolah Pagesangan menjelaskan bahwa usaha bersama yang dilakukan berupaya membangun sistem yang adil bagi petani, dengan cara tak hanya memberikan harga yang pantas dan adil pagi petani dan pengolah thiwul tapi juga membangun sistem yang partisipatif dan terbuka bagi anggotanya. Sekolah Pagesangan sedang berproses membangun sistem pangan yang adil bagi  petani/pengolah/produsen juga meminimalisir sistem yang eksploitatif bagi lingkungan.

Baca juga:  Punahnya Persepsi Timur dalam Arsitektur

Dari penjelasan diatas, saya pikir tidak cukup bijak jika kita menghakimi makanan, baik atau tak baik, hanya didasari dan diukur dari sisi kemanfaatan gizi dan kebutuhan tubuh kita. Karena setiap jenis pangan itu punya cerita panjang untuk sampai di depan kita. Bagi saya, kasus thiwul dan Oat diatas sebenarnya mengajak kita melihat dari cara pandang yang lebih luas dari sekedar melihat dunia untuk kepentingan diri dan tubuh kita sendiri. Kita diajak untuk berefleksi dan merenung kembali selama ini bagaimana kita meletakkan kepentingan dan hajat hidup kita. Apakah demi hidup kita, kita sudah berlaku adil bagi sesama manusia maupun alam.[]

tiwulvsoat - Mana yang Lebih Baik, Oat atau Thiwul ?

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi