Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kisah Pemangku Reyog Ponorogo

Sebagai manusia Jawa, lelaki 78 tahun ini (2013) adalah sosok yang sempurna. Laki-laki ini memenuhi syarat: kukila, curiga, wisma, wanita, dan turangga dalam budaya Jawa. Dia selalu memiliki waktu luang untuk segala kesenangannya: seni, rokok dan kopi. Nama laki-laki itu adalah Kirman atau biasa disebut sebagai Mbah Jito.

Kirman adalah seorang petani, juragan kayu Jati, penyiar agama, pesilat, pemaju tari, penjudi, seniman dan pengorganisasi masyarakat. Dan tentu saja, dia adalah kepala rumah tangga sukses, dengan 6 anak yang berpendidikan sarjana. Beberapa anak dan cucunya, mewarisi kecintaannya pada seni. Ya, seni, apapun jenisnya.

***

Ponorogo medium 1964. Kirman muda yang telah berumahtangga memulai hidup baru di sebuah dusun bernama Kleco. Tahun itu adalah tahun-tahun awal menapaki jenjang rumahtangga. Berbagai godaan dan ujian hidup datang silih berganti. Namun Kirman adalah Kirman, ketua pemuda desa yang pemberani.

Keberaniannya termasuk menolak tawaran menjadi pimpinan Partai Komunis Indonesia. Padahal pada jaman itu, PKI adalah partai berpengaruh dan penunjang kekuasaan Orde Lama. Dia tidak gentar.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Berulangkali dia memperingatkan para kerabat dan temannya untuk tidak peduli pada politik. Ia ingat betul peristiwa Madiun. Ia memperingatkan jangan berlebihan berhubungan dengan partai. Terlebih pada bujuk rayu sekelompok orang beridentitas PKI bergerilya kesana-kemari mencari dukungan.

Pada waktu itu, untuk menggalang dukungan, berbagai pertemuan beriming-iming pembagian sembako dijalankan dengan rapi. Begitu juga dengan berbagai pertemuan mirip dengan dalih yang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang penduduk yang ada. Janji ekonomi dan reformasi agraria menjadi magnit populer. Pun  dengan model intimidasi, bujukrayu dan ancaman menjadi hal jamak dalam penggalangan massa waktu itu.

Baca juga:  Pesantren Waria al Fatah, Kisah Waria Pencari Tuhan

Satu, dua, tiga orang di desa tersebut terpesona dengan janji-janji partai itu. Tak berselang lama, peristiwa G30S terjadi. Kondisi berbalik arah. Mereka yang dicap dan dituduh sebagai PKI diburu tentara dan massa. Di desa itu, beberapa pemuda akhirnya dijemput oleh kelompok massa, entah dimana. Tahun-tahun itu, situasi begitu mencekam. Siapa kawan dan siapa lawan, begitu tipis bedanya.

Belajar dari peristiwa buruk tersebut, Kirman, tokoh pemuda Kleco, semakin giat mengorganisir para pemuda desanya untuk berkegiatan. Kirman mengorganisir warga desanya untuk mendirikan mushola kecil, yang kini telah berubah menjadi masjid. Walau tergolong bukan seorang muslim yang taat, Kirman menjadi pelopor formalisasi Islam di desanya.

Waktu berlalu, kegiatan pemuda juga didorong tidak hanya untuk kegiatan bermasyarakat, gotong-royong tetapi juga melestarikan budaya Jawa Panaragan seperti Reyog, Jathilan dan Tayub. Kelompok Reyog pun mulai dihidupkan dan diramaikan kembali kegiatannya. Kegiatan pemuda mulai ramai dan guyub kembali.

Waktu itu, dalam setiap festival atau parade Reyog di Ponorogo dan sekitarnya, konon pertunjukan Reyog dari Kleco, desa Kirman, selalu dinanti. Jika belum muncul, maka dianggap belumlah semarak. Cerita seperti itu sangat membuat bangga Kirman, terlebih secara langsung dia terlibat sebagai pemangku penguri-uri Reyog dari desa perbukitan Jati itu. Jabatan pemangku Reyog Kleco ini, kemudian baru diletakan secara formal oleh Kirman pada tahun 2000. Kini, dia berada dibalik layar secara finansial dan pemikiran. Selain lebih banyak mendorong anak-anak muda desanya untuk mencintai dan memajukan Reyog.

Namun malang bagi Kirman, kesenangannya pada seni dan hiburan rakyat memiliki konsekuensi beragam bagi Kirman. Terlebih kesenangannya pada seni ini secara langsung menempatkan Kirman situasi pesta dan kesenangan. Tak pelak dunia judi dan minum arak menjadi salah satu dampak yang harus dijalani Kirman.  Maklum, waktu itu, Kirman masih muda. Umurnya baru 35 tahun.

Baca juga:  Lelaku Manusia Jawa

Seperti umumnya dalam kehidupan sosial Jawa, pesta, jagongan dan kerumunan selalu disertai dengan suguhan minuman beralkohol dan judi. Kedua hal itu seolah sudah menjadi konvesi bersama. Semua harap memaklumi itu. Pernah, bahkan sering, Kirman tidak pulang ke rumah selam 3 hari. Semua itu demi judi, arak dan kehidupan seni.

Kirman tidak menyesal pernah menjadi peminum alkohol dan penjudi. Yang disesalkan oleh Kirman saat ini malah perkembangan Reyog itu sendiri. Di desanya, Kleco dan Ponorogo umumnya, Reyog sudah tidak  berkembang seperti halnya jaman orangtua dan jaman mudanya dulu. Ritual-ritual sesajen sebelum mementaskan Reyog kini telah tiada. Begitu juga, dengan permohonan doa restu pada leluhur pembuka hutan, sing mbaureksa dan bupati pertama Ponorogo, Bathara Katong. Kirman tidak rela, Reyog tersungkur menjadi pertunjukan tanpa makna dan tercerabut ritualitasnya.

***

Barisan pepohonan Jati yang sedang menggugurkan daunnya menjadi pemandangan indah sekaligus penanda puncak kemarau di Kleco. Dari depan rumah gebyog jati Kirman, barisan pepohonan jati yang meranggas itu bisa dinikmati lebih intim. Gugusan pohon jati dan sang empu rumah memiliki riwayat khusus yang saling menghidupi.

Dari tangan sang empu rumah, Kirman, ribuan pohon jati itu tumbuh dan berkembang kokoh.  Di perbukitan itu pula, setiap hari dari pagi sampai sore, Kirman menghabiskan harinya dengan bekerja sebagai petani. Dan dari pokok jati itu, sang empu rumah menggantungkan hidup, menumbuhkan harapan anak-anaknya sekaligus Reyog yang dicintainya.

Dari hasil pepohonan jati dan budidaya ketimun, kacang-kacangan, jagung di perbukitan Kleco, lebih dari 24 tahun, mampu membiayai pendidikan keenam anaknya. Kepada anak-anaknya dia selalu bercerita bagaimana susahnya membiayai kuliah mereka. Dengan cerita ini, Kirman ingin anaknya memiliki motivasi kuat untuk menyelesaikan kuliah dan sekolah setinggi-tingginya. Kunci rahasia keberhasilan membesarkan anak-anaknya, menurutnya adalah membiarkan begitu saja anaknya berkembang, tidak pernah anak-anaknya ditekan dengan kewajiban-kewajiban tertentu. Satu yang dia minta, hanyalah, anak-anaknya menyelesaikan kuliah.

Baca juga:  Tuhan, Rokok, dan Hujan

Jika dihitung, lebih dari sekali sebulan dalam 288 bulan, Kirman mengirim jatah uang kuliah anak-anaknya. Dia tidak peduli kakinya menjadi kepala, kepalanya menjadi kaki; semua untuk untuk pendidikan terbaik dan tertinggi bagi anak-anaknya. Kirman ingin membalas dendam nasibnya yang  hanya sekolah apa adanya. Ia tidak ingin nasibnya terulang pada sang anak. Padahal ayah Kirman adalah juga seorang berpendidikan tinggi Belanda.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Hari-hari ini Kirman telah merdeka. Tugasnya sebagai orangtua Jawa hampir tuntas sudah. Satu persatu anaknya telah berhasil kuliah dan memeroleh pekerjaan. Dan kesempurnaannya sebagai orangtua, memang akan baru tuntas ketika semua anaknya sudah menikah. Untuk urusan itu, Kirman hanya tinggal menunggu waktu saja. Kebahagian baginya adalah melihat anak-anak dan cucunya berhasil, dadi wong!

Hari-hari Kirman kini diisi dengan membebaskan diri dari segala pikiran dan beban hidup. Berumur panjang, bahagia dan bebas dari penyakit merupakan bonus dari kebiasaan Kirman membebaskan diri dari segala pikiran dan beban hidup.  Dia menyadari, membebaskan pikiran inilah jurusnya sedari muda untuk tetap berpikir positif dan selalu bersyukur.

Kini, Kirman selalu memiliki waktu luang untuk segala kesenangannya: seni, rokok dan kopi. Ini merupakan rejeki terbaik baginya. Meski tergolong sebagai seorang perokok dan penikmat kopi, Kirman yang sepuh ini merasakan badannya baik-baik saja. Bahkan jika mengurangi kebiasaan merokok dan menikmati kopi, menjadikan dirinya lesu dan kehilangan semangat.[]rokokpriyayi - Manusia Jawa dari Kleco

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi