Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Kegagalan manusia mengenali diri dan Tuhannya menjadikan manusia itu sebagai sosok Hitler.

Jakarta awal tahun 1963. Seorang pekerja muda Direktorat Jenderal Pajak tergesa-gesa pulang ke rumah indekos di bilangan Kramat Sentiong. Langkah lari kecilnya limbung  diburu-buru bayangan tanpa nama. manusia pancasila

Sore itu adalah titik awal hari-harinya yang selalu resah menemukan jawab diantara nyata – ilusi dan ada – tiada.

Sore itu, sepucuk kertas yang melayang-layang dilangit dan dikejarnya dengan limbung mendarat di tangannya. Laki-laki 30 tahun itu tidak tahu, kenapa dia harus mengejar kertas itu. Laki-laki tinggi, tegap, berkulit putih dan berparas ganteng itu seolah dijalankan secara gaib. “Apakah aku menerima wahyu?” tanyanya kala itu.

Kertas “gaib” itu adalah “Preambule Undang-undang Dasar 1945.”

***

Malam itu suasana wilayah Banyuwangi begitu dingin. Hembusan kencang angin dari Selat Bali begitu menusuk tulang. Orang-orang memilih untuk sejenak menikmati malam di pinggiran jalan, depan rumah mereka masing-masing. Maklum, selain angin kencang, jalanan Banyuwangi malam itu gelap, pemadaman aliran listrik telah berlangsung selepas Magrib. Perjalanan kami menemukan rumah Mas Supranoto pun harus dilalui dengan memacu pelan kendaraan kami.

Beruntung, rumah Mas Supranoto terletak di komplek pertokoan waralaba Internasional. Pemadaman lampu menjadi tidak begitu berarti di wilayah itu. Genset listrik besar dipacu memenuhi pasokan listrik di komplek pertokoan yang baru setahun buka itu. Dulu di lokasi pertokoan ini, berdiri hotel keluarga Mas Supranoto. Bisa dikatakan hotel ini adalah hotel tertua di kabupaten Banyuwangi. Bisa ditaksir betapa makmurnya riwayat keluarga Mas Supranoto sejak dulu kala.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Rumah Mas Supranoto terletak di belakang pertokoan itu. Untuk mencapai rumah tersebut, tamu harus masuk melewati gang kampung sebelah pertokoan. Ada semacam kontras antara komplek kampung dan pertokoan itu. Pendar cahaya lampu genset tak menjangkau gang kampung itu. Tamu-tamu Mas Supranoto harus berjalan menyusuri gang yang bisa dilalui hanya oleh satu mobil. Persis disebelah kiri, di lahan kosong dengan pohon besar tinggi, terdapat rumah berpagar tembok tinggi yang memanjang. Ditengahnya ada belahan gapura sebagai pintu masuk rumah. Rumah itu mirip sekali istana berbenteng kaum ningrat Solo atau Jogja. Itulah rumah Mas Supranoto yang beradu pantat dengan komplek pertokoan modern itu.

Baca juga:  Susunan Bata Kehidupan

Kedatangan kami di depan gapura disambut salakan sekawanan anjing. Kira-kira ada sepuluh ekor anjing non ras bergantian menyalak. Laki-laki separuh baya, yang akhirnya kami tahu adalah penjaga malam rumah mas Supranoto, datang menghampiri kami. “Sudah ada janji dengan bapak ya?” tanyanya retoris kepada kami. “Bapak masih di dalam, mungkin nanti jam sepuluh baru keluar. Silahkan saja di tunggu di paviliun, ada banyak orang kok disana,” ujarnya ramah.

Paviliun yang kami tuju itu lebih mirip dapur umum yang berpadu dengan ruang rapat terbuka. Diruang pojok luar, seorang jurumasak sigap memasak sekaligus menyuguhkan kopi, teh, kudapan dan makanan pada para tamu. Sungguh, paviliun ini lebih mirip dapur umum terbuka nan egaliter.

Didalam paviliun sendiri, ada seorang penerima tamu, yang seolah mewakili empunya rumah, beramah tamah, menanyakan keperluan dan mencatat-catat sesuatu. Asap rokok dan aroma kopi menjadi semacam pewangi alami dalam paviliun itu. Laki-laki dan perempuan duduk rapi, berbicara perlahan sekaligus memasang raut muka ramah kepada sesamanya. Sesekali mereka menengok ke arah rumah induk sembari mengudap, menyeruput kopi dan menghisap dalam-dalam rokok yang ada.

Sebentar-bentar penerima tamu ini masuk kedalam rumah besar di sebelah paviliun. Pada mondar-mandirnya yang keempat kali, dia memberitahukan bahwa Mas Supranoto akan segera datang. Laki-laki itu meminta ijin kami, untuk mendahulukan tamu jauh yang ingin pendek saja bercakap dengan sang empu rumah. Malam itu, sepasang suami istri dari Bali datang mengadukan persoalan hidupnya. Beberapa orang dari sekitar Banyuwangi juga hendak berbicara khusus dengan Mas Supranoto. Entah soal apa.

Pukul 22.00 tepat, seorang laki-laki berambut putih dengan mengenakan celana pendek dan poloshirt keluar dari rumah. Disela-sela jarinya menyala sebatang rokok berwarna hitam, keluaran pabrikan dari Kudus, Jawa Tengah. Laki-laki berusia 80 tahun ini masih begitu gagah. Bekas kegantengan di masa muda masih kentara di roman mukanya. Mungkin, dia dulu, adalah laki-laki idaman gadis juga. Suaranya yang bernada tegas dan ramah segera memecah kesunyian penghuni paviliun. “Biar tidak ngantuk, diminum kopinya loh.”

Baca juga:  Tato Dayak Iban

Menurut orang-orang dekatnya, Mas Supranoto adalah manusia rokok dan kopi. Sejak belia telah menghisap rokok berbungkus-bungkus dan meminum kopi bergelas-gelas. Adalah kakeknya yang pertama kali memperkenalkan rokok pada Mas Supranoto remaja. Bapaknya sering marah, jika memergoki dia merokok. Namun kepalang suka pada rokok, Mas Supranoto pun pergi ke rumah kakek setiap ingin merokok. Untung rumah sang ayah dan kakek hanya bersebelahan. Mas Supranoto yang badung dan pemberani itu pun sampai kini tidak bisa lepas dari rokok. Maka tidaklah mengherankan pemandangan di dalam ruangan itu, selain pajangan-pajangan ajaran perkumpulan Eka Dharma adalah tempayan kopi dan slop-slop rokok.

Seperti hari biasanya yang telah dilakoninya sejak empat puluhan tahun lalu, di dalam paviliun ini selalu hilir mudik para pencari Tuhan, orang-orang yang risau dalam hidup, dan mereka yang bersyukur dalam hidup. Mereka ingin berbicara dengan Mas Supranoto. Telinga sang empu rumah, disediakan menampung segala beban hidup para tamunya. Dari bibi sang empu rumah pun meluncur deras wejangan-wejangan bijak yang tiada henti. Satu per satu tamu beraneka roman muka itu berbicara dengan sang empu rumah. Dan sejurus kemudian para tamu, meminta diri kepada semua dengan wajah penuh harapan.

Biasanya ketika kumandang adzan Subuh terdengar, kerumunan dalam paviliun itu berhenti. Sang empu rumah kembali ke dalam rumah induk, beristirahat hingga sore harinya. Ketika magrib datang, hilir mudik dalam paviliun itu mulai berjalan. Dan pada pukul 22.00, sang empu akan kembali hadir disitu dengan kopi dan kepulan rokok. Begitu seterusnya, dari dulu hingga kini.

***

Pada awal tahun 1970an, ketika laki-laki kelahiran Banyuwangi 20 Oktober 1933 itu memilih kembali ke kampung dan berdinas di Dinas Pendapatan Daerah, pengalaman religius dan magis itu semakin menemukan keyakinan dan kebenaran di dalam laku hidupnya.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Setelah Revolusi Tak Ada Lagi
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Seketika itu pengalaman dan keyakinan religius itu ditularkan dari mulut ke mulut ke kerabat dekatnya. Laki-laki keturunan bangsawan Using Blambangan bernama Mas Supranoto ini pun mulai mengadakan pertemuan rutin dan peringatan hari raya. Mereka bukan sekelompok sekte, aliran kepercayaan atau sempalan agama. Mereka menyebutnya perkumpulan Eka Dharma, manusia ber-Tuhan yang Mahakuasa dengan kecintaan luarbiasa pada Pancasila.

Laki-laki ini yang dijuluki sebagai Mas Pran ini, kepada para kerabatnya mengajarkan manusia untuk hidup dalam kemanusiaannya berdasar Pancasila dan Undang-undang 1945. Dia melihat panitia sembilan yang merancang Undang-undang Dasar 1945 dan perumus Pancasila adalah orang-orang terpilih Tuhan. Mereka dipercaya membawa Indonesia petunjuk bagi bangsa Indonesia.

Mas Supranoto percaya bahwa kebahagian dalam hidupnya adalah ketika dia hanya berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Ketentraman hatinya adalah ketika ia tidak lagi berbicara mengenai materi. Tuhan dan immaterialitas adalah jalan bahagia dan panjang umur Mas Supranoto.

Hidup Mas Supranoto — yang juga dikenal sebagai pengusaha, mantan pejabat dan budayawan —   adalah permenungan dan perayaan akan Tuhan yang Mahakuasa. Permenungan ini membawa Mas Supranoto berhenti bekerja dan kuliah di Jakarta. Ada kegelisahan yang terus merasuki jiwa muda Mas Supranoto.  Kegelisahan itulah yang kini melahirkan perkumpulan Eka Dharma.

Perkumpulan Eka Dharma ini mengajarkan kecintaan pada manusia dan kemanusiaannya yang luhur. Bagi mereka, ketidaktahuan pada kedudukan sebagai manusia adalah bencana. Artinya manusia telah gagal membedakan diri dengan binatang yang hidup dengan insting dan tanpa akal.

Kegagalan manusia mengenali diri dan Tuhannya menjadikan manusia itu sebagai sosok Hitler. Bagi mereka sungguh aneh ketika manusia memiliki nalar membunuh sesama manusia. Pun demikian dengan agama-agama yang sering ditegakan manusia dengan jalan kekerasan. Tidak ada satupun agama mengajarkan kekerasan terhadap sesama manusia. Dunia yang kacau sekarang ini dipandang sebagai akibat manusia telah gagal memahami kemanusiaanya.[]indonesiatanahairku - Manusia Pancasila

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi