Mardi

Karya Rudi Rahmat - Menunggu di Lampu MerahKarya Rudi Rahmat - TerikatKarya Rudi Rahmat - Tulang Punggung KeluargaRudi Rahmat - Menatap JauhRudi Rahmat - Di Pintu BusRudi Rahmat -Mengasong NasibRudi Rahmat - Jembatan KehidupanRudi Rahmat - TersingkirRudi Rahmat-Hitam Putih KehidupanRudi Rahmat-Para Pengasong
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang hilangnya negara dalam hidup keseharian pekerja lepas

Tiba-tiba saya membayangkan Santiago, nelayan renta di masterpiece Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea, ada di hadapanku saat ini.

Seorang renta nestapa yang 84 hari melaut tanpa beroleh ikan. Lantas, apakah namanya jika nelayan berhari-hari tak mendapatkan buruan? Masihkah ia disebut nelayan? Kini saya seperti melihatnya lekat-lekat. Bukan di perairan lepas Havana, tapi di sebuah terminal. Bukan dengan topi jerami yang tersuruk ke belakang, tapi dengan kopiah lusuh hitam yang kumal.

Namanya Sumardi. Kutemui ia di sudut terminal Maospati, Magetan, dua pekan silam. Ia seorang pedagang asongan: rokok, air mineral, tisu, kembang-gula.

Saat itu saya duduk di pojok terminal. Di kejauhan, di ruang tunggu penumpang, suasana hingar sungguh. Tak jauh dari tempatku ternyata ada sesosok tua itu.

“Rokok, Mas?”

“Nggak. Aqua botol dan tisu saja, Pak. Berapa?”

Saya mengeluarkan beberapa lembar uang sambil berpikir keras bagaimana cara memulai obrolan dengannya.

“Lumayan panas, ya, Pak?” kataku.

“Ya. Wis pirang-pirang dino ora udan (sudah berhari-hari tak turun hujan), Mas. Dari mana sampeyan?” responsnya sambil duduk di sebelahku. Dan kami pun berbincang lumayan lama, hampir sejam. Ia berbincang lepas seperti sedang menguliahi cucunya.

* * *


Membicarakan pria berumur 62 warsa itu seperti menemukan berlarat-larat kearifan. Mardi juga sebuah kaca benggala yang kikir retakan–setidaknya bagiku.

Sudah hampir dua dekade ia bekerja di terminal. Ia orang terminal. Mulai dari tukang sapu, sesekali memijat supir yang penat, hingga berdagang rokok dan kembang gula; semua dilakoninya. Sempat merantau ke Surabaya dan menjadi pesuruh di sebuah pabrik, tapi kemudian pulang lagi ke Magetan karena pabrik tempat bekerjanya limbung.

Dengan penghasilan rerata Rp 8-10 ribu per hari, ia berjuang keras menghidupi keluarganya. Nilai riil penghasilan itu nyaris stabil sejak ia mulai kerja di usianya yang belia. Pendapatan Mardi tak kenal kalkulasi kenaikan menyesuaikan inflasi lazimnya gaji karyawan di sebuah perusahaan. Mardi lahir miskin (harta), hidup miskin, dan kelak mungkin mati miskin.

rudi rahmat terikat - Mardi

Karya Rudi Rahmat – Terikat

Dua anaknya tak sempat duduk di bangku SMA, tak sempat menghelat promnight party, tak kenal bimbingan belajar, dan pasti tak tahu apa itu SPMB atau UMPTN.Kini keduanya sudah menikah. Satu yang masih tinggal seatap dengannya, Rahayu, kini 40 tahun, anak sulungnya, yang ia nikahkan di usianya yang ke-19.

Baca juga:  Syair Perahu Hamzah Fansuri

Sebenarnya ia punya tiga anak, tapi satu di antaranya meninggal kala berumur tujuh tahun karena, demikian ia berkata, “badan yang teramat panas”. Mardi tak bisa membawa sang anak ke rumah sakit atau puskesmas bukan karena tak sayang, tapi karena tak ada uang di tangan. Sampai kini ia tak tahu penyakit apa yang membuat jiwanya getas tak keruan itu.

“Sampeyan tahu rasanya mengantarkan anak menuju kematian? Sampeyan tahu rasanya menggali tanah untuk tubuh anak sendiri?” tanyanya gemetar.

Saya tak sanggup menatap wajahnya.

Mardi memendam luka yang teramat dalam. Bukan luka sebenarnya, tapi rasa bersalah. Mungkin sepanjang hidupnya ia digodam perasaaan bersalah itu: rasa tiada guna menjadi orangtua. Mungkin di setiap helaan nafasnya, yang terbayang ialah sengal sang anak ketika akan wafat tanpa pernah tersentuh jarum infus atau tangan dokter yang mahal.

 

* * *

 

Mungkin sulit bagi sebagian kita membayangkan hidup dengan Rp 10 ribu per hari. Bahkan, di kota kecil macam Magetan sekali pun. Tetapi, itulah hidup: ia selalu menyisakan ruang yang menjanjikan ketakterdugaan dahsyat, selarik puisi yang menyajikan tragika paling perih sekaligus keriangan menghadapinya.

Baca juga:  Hegemoni

Mardi adalah contoh nyata tentang itu. Sepanjang hidupnya, kecemasan menjelma tanah yang selalu terlihat ketika ia menyusuri terminal. Tapi, di sepanjang hidupnya pula, keriangan ialah langit yang melulu tergambar di bola matanya kala ia bersimpuh tengadah-pasrah.

Mardi, seperti halnya Santiago di karya Hemingway, berani menghadapi hidup sekaligus takluk pada hidup dalam waktu yang bersamaan: wujud tanggung jawab tertinggi terhadap kemanusiaan, yaitu pantang menyerah, hidup yang tak sungsang. Bagi saya, pantang menyerah di tengah kepapan yang sangat adalah manifestasi nyata kemanusiaan: bahwa kita benar-benar manusia.

Santiago, nelayan tua itu, begitu heroik berlayar seorang diri di tengah lautan luas. Tulang yang tua, kulit tangan yang tersayat senar pancing, dan sinisme pahit dari lingkungan yang disaputkan kepadanya tak membuat Santiago mundur sedepa pun. Melawan ikan seharian, hingga matahari timbul-tenggelam, adalah sebuah Hidup bagi Santiago.

Santiago tak butuh hidup yang tenang dengan riak yang gemulai, tapi ia perlu bahu yang kuat untuk melawan karang melawan ombak melawan angin yang kabarkan perih. Maka, wahai ikan, kata Santiago, aku mencintaimu tapi aku akan membuatmu lungkrah tak berdaya.

Adakah harapan dalam hidup semacam itu? Mardi adalah pancaran harapan itu sendiri. Di situlah iman (saya sebenarnya lebih suka menyebut iman sebagai “kesetiaan”) menemukan manifestasinya paling konkrit.

Ia memuji Tuhan bukan lewat kaligrafi indah yang dipajang di ruang tamu atau baju takwa sutra yang membekap tubuh. Ia mencintai Tuhan bukan lewat tasbih mahal yang melingkar di tangan; juga bukan lewat raung pilu suara di malam-malam Ramadan.

Ia mencintai dan setia kepada Tuhan dengan caranya sendiri: berani menghadapi hidup sekaligus takluk di dalamnya. Waton urip, kata orang Jawa.

Ia luntang pukang terjun ke riuh-dunia: kerja sana sini, utang sana sini. Ia tak lantas berlari ke tiang-tiang masjid yang sunyi atau deretan kursi gereja yang lengang. Tapi ia juga sadar bahwa hidup adalah batas yang tak mungkin bisa disangkal sekaligus dijangkau.Di situlah Hidup dirayakan dengan poster pemberontakan paling menghujam sekaligus kepasrahan paling takzim.

Baca juga:  Peta Kebudayaan

Di manakah negara? Ah, negara sudah tanggal dalam kehidupan orang seperti Mardi.

 

* * *


Obrolan kami berakhir. Saya harus segera berangkat ke Surabaya dan meninggalkan–tapi tak melupakan–terminal ini dan Mardi.

Bagi Mardi, terminal adalah ruang yang pepak dengan gaung kecemasan sekaligus koar keriangan. Bagi saya, terminal ialah persinggahan untuk sejenak menikmati susu hangat di sela kelana-perjalanan.

Saya menghabiskan waktu di bus dengan membaca majalah Campus Asia edisi Maret 2009. Di sana kutemukan sebuah “totalitas”–dalam arti yang sungguh sumir–di advertorial Starbucks di halaman 36-37. “I found my passion and love for coffee here; that is why decided to develop career here,” kata Dwi Pramono, barista yang kemudian menjadi ahli dalam jagat perkopian sebagai District Coffee Master, menceritakan perjodohannya dengan Starbucks.

Bekerja di Starbucks menjadi sangat menarik, demikian Pramono di advertorial itu, bukan hanya karena ia bekerja untuk salah satu raksasa bisnis kopi siap saji, tetapi lebih dari itu: ia merasakan “ekstase” saat menemukan pesona keahlian dan pengetahuan untuk membuat berbagai ramuan kopi bercita rasa “high-class”.

Tentu sulit membayangkan Mardi akan bilang seperti ini: “memang pendapatan pedagang asongan hanya Rp 8-10 ribu, tapi pekerjaan ini menyembulkan passion tersendiri tentang bagaimana menyusuri hasta demi hasta terminal, tentang kebanggaan yang tak mungkin terterakan di buku harian”.

Pramono punya pilihan, Mardi tidak.

Deru bus melaju di jalanan. Dunia kembali lengang.[]

mardi - Mardi

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi