Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Marx sebagai seorang tokoh dari abad ke-19

JONATHAN Sperber dikenal khalayak sebagai seorang ahli sejarah Jerman abad 19, khususnya ihwal ‘Gerakan Rhineland’. Buku-bukunya terdahulu termasuk: Rhineland Radicals: The Democratic Movement and the Revolution of 1848–1849, Property and Civil Society in South-Western Germany 1820–1914, The Kaiser’s Voters: Electors and Elections in Imperial Germany, dan The European Revolutions, 1848–1851.

Lantas, apa yang membedakan Karl Marx: A Nineteenth-Century Life (2013) ini, dari karya penulis biografi Marx lainnya? Sejarawan Sperber tidak mengidealkan Marx dalam narasi yang ideologis. Buku lebih berwarna-warni. Sperber lebih menyoroti Marx sebagai seorang tokoh dari abad ke-19, yang menunjukkan betapa sulitnya sosok ini untuk ditarik dari fenomena sosial-politik kontemporer.

Kitab ini dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing setebal hampir 200 halaman. Bagian pertama, ‘Shaping’ berkisah perihal latar belakang keluarga Marx, jejak langkahnya, dan perkembangan pemikiran intelektualnya sampai dengan akhir 1846. Yang kedua, ‘Struggle’, dimulai dengan keterlibatan Marx dalam revolusi tahun 1848 dan selanjutnya saat pengasingan London-nya hingga 1871, dan pengalaman ala Komune Paris, suatu peristiwa yang kemudian membawa Marx tiba-tiba begitu masyhur di seluruh dunia. Bagian ketiga dan terakhir, ‘Legacy‘, selain menggambarkan fase 12 tahun terakhir kehidupan Marx, termasuk bab tematik yang bertutur secara lebih detail dan cergas soal aspek pemikiran, dan menawarkan refleksi pada hidup Marx secara menyeluruh.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box] Pada bagian pertama buku ini kita belajar tentang ‘Society of Orders’ di masa kanak-kanak Marx. Sperber melukiskan akar perilaku memberontak dalam diri Marx dan prilaku ini kemudian larut sepanjang hidupnya. Dia menjelaskan bahwa hal ihwal itu ialah dampak dari berbagai peraturan Prusia yang diterapkan di Rhineland, dan ia juga memaparkan kaitannya terhadap peristiwa penting yang lain, yakni keputusan ayah Karl, Heinrich Marx, yang semula adalah seorang Yudaisme yang kemudian berpindah ke Agama Protestan pada 1810-an. Dalam bab kedua kita tahu, mengapa cerita cinta Marx dengan Jenny von Westphalen adalah salah satu aspek yang paling radikal dalam hidupnya. Awal keterlibatan keduanya, jauh sebelum Marx berada dalam posisi untuk memiliki penghasilan yang stabil, bagi seorang wanita empat tahun lebih tua darinya, tanpa mas kawin, berani untuk menantang konvensi budaya yang begitu kuat di Barat abad ke-19. Sperber meyakinkan kita, bahwa Marx dan Jenny yang diskestsakan sebagai kisah cinta sejati, dan deskripsinya perihal hubungan Marx dan istrinya ini adalah salah satu sorotan dari bukunya.

Baca juga:  Marx Zaman Now

Bab-bab berikutnya membahas ihwal Marx sebagai Hegelian Muda dan aktivitas jurnalistiknya untuk kantor berita Rheinland. Sperber menceritakan kembali aspek yang lebih akrab dalam kehidupan Marx, seperti awal dari persahabatannya dengan Engels, tetapi juga menguraikan isu-isu yang sebelumnya seperti benang kusut. Misalnya, Sperber menekankan peranan Karl Grün, karakter yang hanya sepintas lalu, jika tidak benar-benar absen dari biografi-biografi Marx sebelumnya. Grün saat ini hampir tidak dikenal, tapi dia adalah salah satu saingan Marx yang paling penting pada 1840-an. Seperti Marx, dia menemukan ide-ide sosialis di awal 1840-an, dan kemudian mereka mempromosikan gagasannya itu di dalam Konfederasi Jerman namun, pasca pengusirannya, sebagai pekerja Jerman di pengasingan Paris. Karena pengaruhnya di kalangan masyarakat Paris, figur Grün semakin dilihat sebagai saingan serius oleh Marx dan Engels pada paruh kedua tahun 1840-an.

Sperber melukiskan tentang pelembagaan gerakan radikal periode sebelum Revolusi 1848, di mana Marx memainkan peranan utama dalam Institusi Liga Komunis. Saat inilah, Marx dan Engels menulis karya penting berjudul Manifesto Komunis. Sperber mengambil secara terpisah unsur Manifesto Komunis itu–yang sekarang menjadi salah satu karangan Marx yang paling terkenal–dan menjelaskan asal-usul keduanya dalam biografi intelektual Marx hingga publikasinya pada awal 1848. Pada akhir musim panas 1849, Marx terpaksa melarikan diri dari Jerman dan hijrah ke pengasingannya di London. Ia menetap di Inggris hingga akhir hayatnya. Marx secara serius memertimbangkan kembali untuk pulang kandang pada 1861. Namun saat itu, isteri dan anak perempuan remajanya, telah menjadi begitu terbiasa dengan kehidupan London. Lantas, mengapa pula dia harus pulang kampung?

Baca juga:  Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

Terpenjara oleh masalah finansial, situasi keuangan Marx di London menjadi bala bencana. Kronisnya penghasilan Marx adalah topik yang Sperber eksplorasi panjang lebar, dan memberikan ilustrasi yang jernih, seperti kisah putra Marx saat berusia enam tahun, yang melindungi ayahnya dari kreditur, ketika mereka muncul di rumah mereka. Edgar sendiri, putera Marx itu, akhirnya menjadi korban kemiskinan dari “Marxisme”. Dia meninggal di usia delapan tahun pada 1855, sebuah trauma yang kemudian sangat memengaruhi keluarga ini selama bertahun-tahun.

Periode awal kehidupan Marx di London juga dibayangi oleh kelahiran anak haramnya. Pengurus rumah, Helene Demuth, melahirkan seorang putra, Frederick, tahun 1851. Alih-alih, sang sahabatlah, Engels (meskipun dia belum menikah) mengaku ayah dari Frederick. Diduga ini dilakukannya untuk menyelamatkan reputasi intelektual dan bahtera pernikahan Marx. Kisah Marx sebagai ayah adalah contoh penceritaan, bagaimana cara biografi telah menjadi medan perang kepentingan politik. Dalam biografi Marx lainnya, karya Paul Thomas (yang berkualitas buruk), telah meragukan kebenaran cerita ini. Thomas menyoroti bahwa kisah ini pertama kali termasuk dalam biografi Marx pada 1960, saat di mana iklim politik sangat bergema.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Dia juga menunjukkan bahwa laporan itu didasarkan pada satu sumber tunggal: sebuah surat yang ditulis oleh istri dari filsuf sosial demokrat Karl Kautsky (1898), yang belum pernah bertemu Marx. Ini adalah surat ini yang menceritakan, bahwa saat dipenghujung hidupnya, Engels mengungkapkan ihwal ayah biologis yang sebenarnya dari anak Helene Demuth itu. Tidak ada sumber lain yang pernah disebutkan dalam cerita, dan sang penerima surat, August Bebel, juga tidak pernah membawanya. Ketidaktersediannya bukti, seperti rumor yang beredar di sekitar waktu kelahiran Frederick Demuth itu sendiri, ketika banyak lawan politik Marx di London, akan melahap setiap kesempatan untuk bergosip ria tentang dirinya. Sperber, bagaimanapun, memosisikan diri untuk membela fakta bahwa Frederick merupakan anak biologis Marx, meskipun hanya dengan bukti laporan kronologis . Apakah seseorang dapat memercayai fakta versi  Thomas atau Sperber? Masalah ini menunjukkan bahwa rincian kehidupan Marx tetaplah kontroversial.

Baca juga:  Perempuan yang Membuat Meja Makan di Rumahku

Pada 1850-an, Marx mendedikasikan sebagian besar waktunya kepada dunia pewarta. Sebuah fakta yang tidak diketahui oleh sebagian besar publik adalah bahwa potongan-potongan berita itu merupakan sebagian dari tulisan-tulisan Marx. Diantaranya adalah apa yang diakui menjadi bagian yang paling brilian, misalnya The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, di mana Marx menganalisis Kudeta Napoleon Bonaparte pada Desember 1851. Tahun 1850 juga, Marx mulai berharap kepada munculnya krisis ekonomi yang akan mengakhiri kedigdayaan Kapitalisme. Keterlibatan politiknya yang aktif sebelumnya, sementara dipindahkan ke balik layar. Hatta, gelora di dalam diri Marx ini hanya bisa dihidupkan kembali oleh Ferdinand Lassalle, yang mengunjungi Marx di London pada 1860. Dan dia pada tahun berikutnya, hampir meyakinkan Marx untuk kembali ke Jerman, dalam rangka untuk terlibat dalam gerakan buruh yang baru di sana. Nyatanya, Marx lebih memilih untuk tetap tinggal di Inggris dan sebaliknya, dari tahun 1864, menjadi terlibat dalam kegiatan organisasi (yang membosankan) bernama Asosiasi Buruh Internasional, yang membuncah dalam konflik yang terkenal dengan Mikhail Bakunin, era awal 1870-an.

Sebagai pungkasan, membaca buku Sperber ini sepertinya aku sedang bersawala dengan “Nabi Khaidir” bernama Karl Marx: hanya berjabat tangan, namun sangat meninggalkan kesan yang mendalam. []

karlmarx - Marx sebagai Manusia

Karl Marx

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi