Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Hampir senja mata Bambang memandangi lekat perempuan. Usia perempuan tak lagi muda namun cantiknya masih terasa. Rambutnya tak pernah panjang. Dari dulu sepanjang bahu. Sore itu tengah bercengkrama dengan tetangga di emperan masjid.

Semula Bambang mengenal perempuan itu dengan pakaian seragam berdiri di pertigaan jalan. Berdiri pas di pertigaan jalan itu pos ronda terbuat dari bambu. Bambang berangkat sekolah bersama dua kawannya laki-laki, perempuan itu menunggu dua kawannya.

Keduanya beda desa. Keduanya belum saling mengenal walau sebenarnya satu sekolahan. Perempuan itu tersenyum. Bambang belajar membalas senyum. Pagi menjadi indah. Begitu cerah matahari bagi anak sekolahan seperti Bambang.

Setahun kemudian baru Bambang tahu, perempuan itu kakak kelasnya. Dan semenjak Bambang kelas dua, pos ronda dipertigaan jalan itu sudah dibongkar dan diganti bangunan masjid cukup besar untuk ukuran desa kecil.

Sampai kelas tiga, perempuan itu melanjutkan sekolah tingkat atas, Bambang belum kenal namanya. Hanya dipertigaan jalan itu, Bambang dan perempuan itu bertemu, hanya sebentar, hanya berbalas senyum. Dan hampir dua tahun, di pertigaan itu, mereka hanya senyum berbalas senyuman.

Namun semenjak kelas tiga, Bambang tidak lagi menemukan senyumanya di pertigaan jalan. Enam bulan tanpa senyuman pagi yang indah di pertigaan jalan, Bambang merasa ada yang kurang, meski pos ronda telah digantikan sebuah masjid yang gagah.

Maka suatu hari sehabis pulang sekolah, sehabis bermain ke rumah teman, Bambang menyempatkan diri mampir ke masjid itu. Warga setempat menyebutnya, masjidnya pak Sunardi. Begitulah warga masyarakat desa mereka sering menyebut masjid itu milik seorang ketua takmir yang kebetulan rumahnya paling dekat dengan masjid. Padahal masjid itu sudah diberi nama Al-Mujahid, tapi warga masyarakat lebih suka mengatakan masjidnya pak Sunardi.

Waktu itu jam 4 sore, Bambang ingin numpang sholat asar. Masjid ini punya kebiasaan sholat asar berjama’ah jam 3 lebih seperempat. Beda dengan masjid di desanya Bambang, masjid Darussalam, sholat berjama’ah asarnya sekitar setengah lima sore. Masjid Darussalam oleh warga masyarakat disebuat masjidnya Pak Kaji Sarip, bapaknya Bambang. Malah kawan sepermainan Bambang sering mengatakan masjidnya, masjid Bambang.

Akhirnya, Bambang ketemu dengan perempuan itu. Bambang berada di emperan masjid, perempuan itu sedang berada di emperan rumahnya yang berdekatan dengan masjid. Perempuan itu sempat terkejut namun akhirnya tersenyum. Bambang tak sempat membalas terkejutnya. Bambang membalas senyumnya.

“Mbak, saya mau numpang sholat. Tempat wudhunya dimana ya?”

“Di samping kirinya masjid mas.”

Bambang lebih muda darinya dipanggil mas, seharusnya kan dik. Bambang tersenyum. Senang.

“Terima kasih”

Masjid itu bersih sekali. Tempat wudhu dan wc bersih. Lantai dan dindingnya keramik. Karpetnya halus, empuk dan tebal. Kitab Qur’an banyak, besar-besar dan apik-apik. Berbeda dan kebalikan dengan masjid di tempatnya Bambang; wc-nya bau pesing, keran wudhunya sering bocor, cat temboknya banyak yang mengelupas, karpetnya bau apek, kasar dan tipis, kebanyakan sampul Qur’anya hilang dan tidak sedikit halaman yang sobek dan hilang.

Baca juga:  Darah

Setelah sholat Bambang mau bilang terima kasih sekali lagi. Namun perempuan itu tidak ada. Begitu pula keluarganya. Maka Bambang langsung pulang. Ketika Bambang mengayuh sepeda ontel jengki menuju jalan raya, sempat didengarnya samar-samar, “Nur, cepat kau pel masjid”. Sempat pula Bambang mendengar suara perempuan yang belum dikenal namanya itu menjawab, “Ah, umi saja yang nyiram”, “Dasar anak sekolahan”.

-*-

Masjid Bambang dengan masjid perempuan itu serupa tapi tak sama. Tapi kebanyakan dari warga lebih banyak merasakan perbedaanya. Masjid Bambang terbuka untuk umum, siapapun bisa sholat, dzikir dan istirahatnya. Masjid perempuan itu setengah terbuka. Memang siapapun boleh sholat di masjid perempuan itu, tapi setelah orang yang menumpang sholat itu pergi, segera dipel atau disiram bekas orang numpang sholat itu, atau diganti karpet atau sajadahnya.

Sebenarnya Bambang sendiri tidak pernah melihat dan mengalami sendiri tentang apa yang tidak disukai warga masyarakat atas masjid perempuan itu. Bambang belum pernah dan melihat sendiri bagaimana setelah dirinya numpang sholat di masjid perempuan itu, lalu disiram, dipel, diganti sajadah atau karpet. Belum pernah sama sekali. Tapi Bambang banyak mendengar cerita warga diperlakukan tidak mengenakan hati. Karena kita yang numpang sholat dikira tidak suci, menajiskan, mengotori masjid perempuan itu.

Ayahnya sudah mendengar cerita Bambang tentang masjid di pertigaan jalan di desa tetangga itu. Tapi Bambang belum menceritakan tentang perempuan yang menjadi anak ketua takmir masjid itu. Setelah melanjutkan sekolah tingkat atas, Bambang sering bertemu dengan perempuan itu di jalan, saat sama-sama berangkat ke sekolah, Bambang ke barat perempuan itu ke timur. Selama itu pula mereka hanya berpandangan dan berbalas senyum. Bambang merasakan kembali keceriaan sekolahnya. Meski Bambang belum mengenal namanya.

“Setahuku, masjid itu tempat sujud, tempat beribadah, sholat, membaca Qur’an, beribadah, pengajian dan bersosial.”

Ayahnya Bambang sebagai ketua takmir masjid memberikan penerangan kepada warga jamaah masjidnya. Kegelisahan warga menjadi perhatian ayahnya.

“Masjid itu tempat umum, siapapun boleh masuk, kaum musafir, lelah dari perjalanan istirahat sejenak di masjid, termasuk orang numpang buang air kecil dan buang air besar atau mandi sekalipun”

Warga jamaah masjid selain mendengarkan juga ikut bicara.

“Begini pak kaji Sarip, ya menumpang sholat di masjidnya Pak Nardi jadi nggak enak to, la sehabis itu dipel, perasaan yang numpang jadi gimana gitu”

Baca juga:  Pram

“Masjidnya pak Nardi tertutup lo pak Kaji Sarip, yang ikut jamah sholat itu sedikit, paling dari keluarga, sedulur mereka sendiri. Terus kalau mengadakan pengajian yang datang itu dari jauh, bukan warga sekitar. Ya baru kali ini tahu ada masjid seperti itu.”

“Kalau rasullulah tidak mengajarkan masjid dipakai tempat ibadah kelompok islam tertentu, lantas mereka itu meniru siapa pak kaji Sarip?”

Bambang ikut dalam pertemuan itu, meski tidak semua didengar dan dipahaminya. Itu karena Bambang belum dewasa, belum mengerti tentang masalah sosial keagamaan, terutama aliran-aliran dalam agama islam yang berkembang di nusantara. Selain itu Bambang juga tidak terus duduk mendengarkan. Sebagai orang paling muda ditengah pertemuan itu, Bambang kebagian mengambil asbak, menyediakan minuman dan makanan ringan atau membelikan rokok.

“Ini memang masalah pelik…ya sebaiknya kita tidak usah memperpanjang perkara yang bisa menimbulkan perpecahan antara umat islam di wilayah kita…ya kita bersikap biasa, masjid kita ini biarlah seperti ini, tetap terbuka….sementara biarkan saja masjid kalangan pak Sunardi setengah tertutup, kita tak usah ikut memperkeruhnya, jadi kalau tidak kepepet banget tidak usah numpang istirahat, sholat, buang hajat, di masjid itu, biar kita tidak merasa tersinggung kalau diperlakukan seperti itu”

-*-

Akhirnya Bambang mengenal namanya. Siti Nurjanah. Ayahnyalah yang justru memperkenalkan nama itu dengan situasi yang rumit dan ajaib.

“Kamu sudah besar, rabi yo”

Saat itu Bambang memang laki-laki yang berumur untuk menikah. Tapi Bambang belum punya bayangan tentang perempuan yang layak jadi pendamping hidupnya. Sepertinya Bambang belum punya pacar.

“Kamu nikah sama Siti Nurjannah ya, anaknya pak Sunardi. Nanti malam aku mau melamarkan untukmu. Jangan banyak pikir.”

Sosok ayah bagi Bambang adalah sosok sempurna. Tidak pernah menyakiti, tidak pernah berkata kasar, tidak pernah memakai tangan. Paling marahnya cuma mendiamkan dirinya. Itupun tidak lama. Bapak menyekolahkan dirinya. Bapak menyuruhnya untuk menyayangi dan menghormati ibu.

Tidak terbersitpun untuk menolak ketika ayah mau menikahkan dirinya dengan perempuan yang sejak sekolah dikenalnya sebagai perempuan berambut pirang sebahu, perempuan yang selalu berdiri di pertigaan jalan, perempuan dengan senyumnya.

“Ya terserah ayah saja. Aku manut, asal baik untuk kita semua.”

Ayahnya memeluk Bambang dengan erat.

Setelah beberapa bulan menikah, ibunya menceritakan alasan ayahnya menikahkan dirinya. Ibunya bercerita, masjidnya pak Sunardi tidak diterima warga masyarakat. Warga mengucilkan keluarga pak Sunardi. Tak menunggu lama, karena pak Sunardi keras kepala dengan sikap menempatkan masjid setengah tertutupnya, sebagian warga masyarakat mulai merencanakan akan membakar rumah dan masjid pak Sunardi. Beberapa bangkai tikus, bangkai ular, bangkai bajing dibuang seseorang di sekitar rumah, halaman, samping masjidnya pak Sunardi.

Baca juga:  Tragedi

Ayah menurut penuturan cerita ibu, melamar anaknya pak Sunardi untuk mencegah terjadinya konflik dan pembakaran rumah serta masjid. Karena pak Sunardi saat itu sudah mendapatkan surat kaleng untuk segera meninggalkan desa secepatnya. Kemudian, jalan tepat di depan rumah pak Sunardi, juga terdapat tulisan bercat, “Kalau tidak mau srawung, nyedulur, silahkan pergi dari desa ini secepatnya”.

Tapi menurut ayahnya, Bambang dan perempuan itu memang jodoh, wajah, rambut mirip, perilaku juga sama dan utamanya sama-sama murah senyum. Memang sewaktu acara pernikahan, salah satu nasehat ayahnya secara pribadi, “witing tresno soko kulino”. Bambang sebenarnya tak tahu alasan apa yang mendasari pak Sunardi menerima lamaran dari ayahnya.

Akhirnya Bambang memang menikah dengan perempuan bernama Siti Nurjannah. Tiga bulan kemudian, mertuanya, pak Sunardi dan ibu Sukiyah pergi ke Kalimantan. Ada yang mengatakan merantau, ada pula yang mengatakan melarikan diri menghindari kebencian warga yang mendalam. Tapi pada Bambang, mertuanya mengatakan bahwa mereka ingin berdakwah dan berjuang di jalan Allah. Mereka juga menitipkan padanya; rumah, masjid dan anaknya yang sudah menjadi istrinya.

Lima bulan kemudian masjid peninggalan pak Sunardi diadakan pengajian, yang merupakan inisiatif warga dan ayahnya ikut serta. Itu menjadi tanda bahwa masjid itu terbuka untuk umum dan memperbaiki masa lalu. Nama masjid diubah menjadi Nurjannah.

Terkadang Bambang sebenarnya tidak tahu apakah benar mencintai istrinya. Tak pernah istrinya bertanya padanya. Bambang juga tidak tahu apakah istrinya mencintai dirinya. Bambang tak pernah tanya padanya. Sejak pertama menjadi istrinya, setahunya Bambang, istrinya tak pernah menangis. Dalam keseharianya Bambang selalu melihat perempuan itu tersenyum dan tertawa meski tak pernah lebar benar. Dan Bambang membalas senyumnya dan tawanya memang lebih lebar.

Begitulah, 25 tahun Bambang menikahi perempuan itu. Rambutnya masih seperti itu sepanjang sebahu. Dari dulu tak pernah Bambang melihat istrinya memakai kerudung seperti layaknya orang santri yang alim. Bambang tak pernah bertanya apalagi memaksanya.

Apakah Bambang bahagia? Entahlah. Yang jelas Bambang sekarang belum punya anak. Kalau nantinya diberi rejeki punya anak, Bambang ingin anaknya gagah seperti tentara. Tapi sekarang Bambang sedang menunggu kedatangan mertuanya yang terpaksa dipulangkan ke Jawa oleh pemerintah untuk menghindari konflik sosial. Bambang tak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Ditelpon, mertuanya menceritakan bahwa mereka hanya bertani dan berdakwah. Entahlah benarnya. Sementara itu ayah dan ibunya sedang haji dan umroh di Mekkah. [] Temanggung, Nopember 2016

Tidak ada artikel lagi