Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Bagaimana roman Max Havelaar, yang mengupas persoalan kemanusiaan dan keadilan yang kompleks, menjadi karya klasik dan selalu kontekstual sampai hari ini.

Ayah Saidjah adalah seorang petani kecil yang hanya memiliki seekor kerbau untuk membantu mengolah sawahnya yang tidak seberapa luas. Namun kerbau yang merupakan kekayaan utamanya dan menjadi kawan akrab Saidjah sebagai penggembalanya itu diminta dengan paksa atau dirampas oleh wedana, kepala distrik. Dengan menjual keris leluhurnya kepada seorang Tionghoa, dia bisa membeli lagi seekor kerbau.Tetapi kerbau yang besar, kuat dan sangat patuh kepada Saidjah ini juga diminta-paksa oleh wedana. Ketika itu Saidjah yang berusia sembilan tahun, mendalam kesedihannya. Apalagi dia menduga kerbau itu disembelih. max havelaar hikayat kerbau

Dengan menjual miliknya yang terakhir dan berharga, berupa sepasang kaitan kelambu dari perak, warisan orangtua ibu Saidjah, ayah Saidjah bisa membeli kerbau lagi. Kerbau ini lebih kecil daripada pendahulunya karena hasil penjualan kaitan kelambu tidak banyak. Meskipun kalah kuat daripada kerbau yang sudah dirampas, ia sangat penurut di bawah perintah Saidjah. Dan ternyata kerbau inilah yang menyelamatkan jiwa Saidjah. Ia membentengi Saidjah dengan tubuhnya, sambil menghadang dengan tanduknya serangan seekor harimau terhadap “tuan kecilnya.” Meskipun si kerbau terluka, harimau itu tewas, dan Saidjah selamat. Betapa sedih Saidjah dan ayahnya, ketika kerbau yang menjadi “pahlawan” itu akhirnya dirampas oleh wedana.

Ayah Saidjah sudah tidak mampu lagi membeli kerbau. Hal ihwal ini berarti bencana, karena dia tidak akan bisa lagi membayar landrent, pajak-tanah. Tanpa bantuan kerbau, pengolahan sawah tidak bisa optimal. Padahal, barangsiapa tidak bisa membayar pajak-tanah harus masuk penjara. Banyak petani kecil di desa Saidjah mengalami nasib serupa, termasuk ayah Adinda. Adinda adalah tetangga Saidjah yang juga calon isterinya.

Diceritakan selanjutnya oleh Multatuli, Saidjah meninggalkan desanya mencari pekerjaan di Batavia, ayahnya masuk penjara, sementara ibu Adinda meninggal, dan ayah Adinda melarikan diri ke daerah Lampung bersama sejumlah penduduk desa yang kerbaunya juga dirampas oleh wedana sehingga tidak mampu lagi membayar pajak-tanah. Akhirnya ayah Adinda bersama mereka semua menggabungkan diri dalam gerakan pemberontakan di Lampung.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Museum, Kenangan, Melankoli
Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Ketika Saidjah pulang dari Batavia, pasca berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli tiga ekor kerbau dan siap menikahi Adinda, dia ternyata tidak bisa menjumpai Adinda. Bahkan rumah kekasihnya itu pun tinggal puing-puing. Akhirnya dia menyusul ke Lampung. Tetapi di sana dia menjumpai ayah Adinda dan ketika adik Adinda yang masih bocah sudah tewas berlumuran darah. Mereka baru saja terbunuh dalam pertarungan melawan serdadu-serdadu kolonial. Dan Adinda? Mayatnya dalam keadaan telanjang dengan luka di dada ditemukan tidak jauh dari saudara-saudaranya yang juga sudah tak bernyawa. Bagaimana reaksi Saidjah? Dia mendatangi serdadu kolonial yang masih berada di arena pembantaianitu, menghunjamkan diri pada sangkur si serdadu.

Kritik sosial max havelaar hikayat kerbau

Max Havelaar of De Koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy, “Max Havelaar atau Pelelangan Kopi Maskapai Dagang Belanda”, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker (1820—1887), mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputera.

Dengan nama pena Multatuli (bahasa latin), yang berarti “aku sudah banyak menderita”, dia mengisahkan kekejaman Sistem Tanam Paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha “membayar” utang mereka kepada pribumi.

Eduard Douwes Dekker sendiri yang memang banyak menderita dalam hidupnya, menyaksikan penderitaan luar biasa para petani ketika dia hanya beberapa bulan (4 Januari-23 Maret 1856) menjadi asisten residen di Lebak, Banten. Apa yang disaksikannya itulah yang dituangkannya dalam kisah Saidjah dan Adinda.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

Apakah karya Max Havelaar dapat dipandang sebagai dokumen pibadi yang memuat rasionalisasi dan pembenaran diri sendiri (self justification), dan dengan begitu merusak lukisan ihwal realitas sosial? Apakah Multatuli bermaksud mengungkapkan bagaimana rasanya menghayati pengalaman sebagai birokrat yang sensitif? Apakah tujuannya menjadi juru wicara kelas menengah yang berpedoman pada prinsip liberalisme? Apakah dia mencari perlindungan dari pelariannya dari situasi yang penuh frustasi dan menciptakan utopia yang mengidealisasikan ruang lingkup metahistory sebagai lawan dari masyarakat yang sangat korup?

Berdasarkan hubungannya dengan kaum pribumi (meskipun dangkal dan tidak lama), dia mencoba memakai kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosional mereka. Terutama dari rakyat, dan dengan demikian memberi pengertian mendalam tentang kondisi kehidupan mereka. Karyanya Max Havelaar adalah ekspresi tidak hanya dari kesadaran sosial, tetapi juga situasi sosial yang paradoksal. Sebagai aparat pemerintahan, dia terlibat dalam order sosial sistem kolonial yang sifatnya birokratis-feodalistis. Sementara itu, order sosial yang sedang diperjuangkan di Belanda berpedoman pada prinsip-prinsip liberalisme dan demokrasi. Konflik batin terjadi, hati nuraninya memihak kepada idealismenya.

Dalam kritik sosialnya yang terbungkus di Max Havelaar, etos liberal-humanistis bergelora dan berhasil membangkitkan kesadaran publik Belanda mengenai nasib rakyat terjajah. Rupanya lebih dari pengaruh partai atau tokoh politik, dari Thorbecke sampai Abraham Kuyper, Max Havelaar dapat menyiapkan suasana politik matang untuk menghapus Sistem Tanam Paksa, menuju Politik Etis.

Kata sebagai senjata

Sebuah karya akan menemukan “keindahan” dan “keagungan”-nya bila berbicara dalam pusaran perikehidupan rakyat dan kemanusiaan. Keindahan karya tulis, bukan hanya terletak pada kemahiran mengutak-atik bahasa, melainkan lebih pada kemampuannya menyatakan dan memperjuangkan kebebasan, kebenaran dan keadilan. Karya yang mampu membahasakan nilai-nilai kemanusiaan dan menyentuh rasa keadilan, bisa menjadi ajaran yang membumi, dan bukan sekadar ajaran langit. Kemanusiaan dan keadilan merupakan dua entitas yang tak terpisahkan dalam sebuah karya.

Baca juga:  Teori Negara dan Feminisme

Karya yang berpihak pada persoalan kemanusiaan dan keadilan, akan menjadi sejarah tersendiri, termasuk kisah-kisah perihal kepahlawanan dan kesejatian. Max Havelaar adalah salah satu roman yang mampu bertahan lama (klasik) dan dibaca orang sepanjang masa, karena di dalamnya terkandung persoalan kemanusiaan dan keadilan yang kompleks. Multatuli menggunakan bahasa sastra untuk menumpahkan rasa kecewanya sekaligus melakukan perlawanan. Karya yang ditulis selama masa-masa sulit itu, menguak tabir nasib tragis sebidang bumi yang dijajah, agar diketahui masyarakat Belanda dan Eropa.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Khusus mengenai kerbau, dalam kisah Saidjah dan Adinda ini tercermin betapa besar peranan kerbau dalam masyarakat agraris, terutama sebelum digunakannya peralatan modern dalam pengolahan tanah. Kerbau bukan saja pembantu utama petani dalam pengolahan sawah, tetapi juga menjadi kekayaannya. Oleh karena itu, penyelamatan Saidjah oleh kerbaunya dalam cerita di atas bisa juga menjadi lambang bahwa kerbau adalah pelindung dan penyelamat petani. Dalam kisah Saidjah dan Adinda, perampasan kerbau milik ayah Saidjah dan ayah Adinda beserta rekan-rekannya sedesa menjadi sumber bencana besar yang bisa menyulut gejolak sosial, bahkan pemberontakan. Hal ihwal ini menjadi peringatan bagi kita akan pelbagai masalah konflik tanah di Indonesia dewasa ini.

Kejadian di Lebak sudah nun di belakang kita, namun pertemuan dengan Max Havelaar tetaplah aktual: individu yang mempunyai perasaan kemanusiaan, berjuang melawan kepentingan diri kolektivitas. Terutama motif-motif manusiawi, itulah titik tolak Multatuli, yang menjadikan prosa ini mengandung tenaga yang begitu dahsyat. []

hikayatkerbau - Hikayat Kerbau

Hikayat Kerbau

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi