Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang novel yang mengubah wajah Amerika Serikat

“Tidakkah setiap orang Kristen Amerika berhutang kepada ras Afrika, sedikit upaya guna memperbaiki berbagai kesalahan yang telah dilakukan bangsa Amerika kepada mereka?” (Uncle Tom’s Cabin)

Harriet Beecher Stowe adalah seorang jurnalis, novelis dan tokoh antiperbudakan seumur hidupnya. Novelnya yang berjudul Uncle Tom’s Cabin memaparkan berbagai kekejian sistem perbudakan yang berlaku di Amerika Serikat, sekaligus membuka mata penduduk yang kebanyakan bersikap masa bodoh terhadap kekejaman yang pernah terjadi di negara mereka. Bukunya ini kemudian memicu ketegangan yang akhirnya menjurus pada pecahnya Perang Saudara. Gerakan ini membuka jalan bagi keberhasilan penghapusan perbudakan.

Harriet Beecher Stowe (1811-1896) terlahir sebagai Harriet Beecher di Litchfield, Connecticut, Amerika Serikat, satu dari sejumlah anak Lyman Beecher, seorang pendeta Protestan. Ibunya wafat ketika Harriet baru berusia lima tahun. Anak-anak Beecher dibesarkan dengan tradisi keagamaan yang ketat, dengan standar moral dan etika Kristen yang tinggi. Namun ayah mereka juga mendidik semua anaknya untuk memiliki toleransi beragama, dan mendorong mereka untuk berpikir bebas dan berani memperdebatkan pelbagai isu penting di masa itu.

Harriet adalah siswi dan di kemudian hari guru di sekolah seminari untuk anak-anak perempuan di Hartford yang dikelola saudara perempuannya, Catherine. Ini adalah satu dari sedikit sekolah yang memberikan pendidikan secara serius kepada anak-anak perempuan pada masa itu. Sekolah itu mengutamakan kecakapan menulis, di samping mata pelajaran manajemen rumah tangga.

Keluarga Beecher pindah ke Cincinnati, Ohio, pada 1832, ketika Lyman ditunjuk sebagai pimpinan Lane Theological Seminary. Perpindahan ini memberi kesempatan pertama kepada Harriet untuk menyaksikan sendiri berbagai akibat mengerikan dari perbudakan di negara bagian tetangga, Kentucky, yang hanya dipisahkan oleh Sungai Ohio. Tahun 1836, Harriet menikah dengan Calvin Stowe, dosen sastra Injil di Lane, dan keduanya dianugerahi tujuh orang anak. Calvin selalu mendukung minat sastra Harriet.

Baca juga:  Widodo Diminta Marah

Masa-masa ia tinggal di Cincinnati diwarnai oleh kemiskinan dan keterasingan. Keluarganya sempat dihantam kolera yang merenggut jiwa anak lelaki mereka yang baru berusia 18 bulan. Harriet pernah mengatakan kesedihannya ini memungkinkannya ikut merasakan jeritan para ibu budak yang dipaksa menyerahkan anaknya. Seluruh keluarga Harriet ikut mendukung pendapat Harriet atas keharusan dihapuskannya perbudakan, dan mereka selalu menyediakan tempat persembunyian bagi budak-budak yang melarikan diri.

***

Selama lima puluh tahun menjalani kariernya sebagai penulis, Harriet telah menerbitkan 30 buah buku, termasuk sejumlah novel untuk anak-anak dan dewasa, sejumlah cerita pendek, puisi, artikel majalah, kajian teologis, kisah perjalanan, dan petunjuk praktis ihwal penataan rumah tangga. Gaya berceritanya yang informal, laiknya orang yang sedang bercakap-cakap, bagaikan seorang ibu atau isteri biasa, ikut menunjang popularitasnya. Buku pertamanya adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen) yang berjudul The Mayflower: Sketches and Scenes and Characters among the Descendants (1843).

hbs 300x180 - Melawan Perbudakan

Pada 1850, Calvin ditunjuk sebagai guru besar di Bowdoin College di Brunswick, Maine. Saat itu, Amerika tengah bergejolak akibat diberlakukannya undang-undang baru perihal para budak yang melarikan diri. Siapa saja yang menyembunyikan atau memberikan perlindungan terhadap budak yang melarikan diri ke negara-negara bagian Utara (yang umumnya menentang perbudakan) dari negara-negara bagian Selatan (yang mendukung perbudakan), dinyatakan telah melakukan tindakan kriminal.

Di kota Brunswick inilah, ketika keluarganya bertambah besar dan Harriet kian sibuk mengurus rumah tangganya, ia justru menulis Uncle Tom’s Cabin guna menunjukkan kepada seluruh bangsa betapa kejamnya sistem perbudakan itu. Novel itu dipublikasikan secara berseri hingga 40 kali pemuatan sejak 1851, sebagai cerita bersambung di koran The National Era, sebuah koran penganjur penghapusan perbudakan.

Melalui koran itulah seluruh keluarga di Amerika menyimak semua episode yang dituturkan Harriet, penuh dengan ketegangan dan kejutan. Meskipun sistem perbudakan umumnya hanya terjadi di kawasan Selatan dan wilayah Utara tidak menganggap dirinya ikut bertanggung jawab atas berbagai kejahatannya, namun tidak urung novel Uncle Tom’s Cabin menimbulkan sensasi di mana-mana. Pada 1852, seluruh naskah buku itu diterbitkan dalam dua volume dan seketika itu pula menjadi buku yang paling laku, baik di Amerika maupun di luar negeri. Memasuki tahun 1857, setengah juta eksemplar buku itu terjual habis.

Baca juga:  Hikayat Keju

Novel itu mengisahkan tentang Paman Tom, seorang budak yang setia dan saleh milik keluarga Shelby, yang dipisahkan dari anak-anak dan isterinya untuk dijual ke seorang pedagang budak ketika keluarga Shelby mengalami kebangkrutan. Tom dibawa ke Selatan, dan di sana dia menyelamatkan Eva kecil. Ayahnya yang sangat berterima kasih lalu membelinya. Selama bermukim bersama keluarga Eva dan seorang temannya, Topsy, sampai akhirnya Eva dan ayahnya wafat dan Tom dijual kembali ke seorang Yankee kejam yang memukuli Tom sampai mati, ketika Tom menolak mengkhianati dua budak perempuan.George Shelby, anak dari majikan Tom pertama, datang terlambat untuk menyelamatkan Tom, dan dia lantas bersumpah untuk memperjuangkan penghapusan perbudakan.

Banyak kisah menyedihkan dalam novel itu yang menjadi sangat terkenal, seperti kegigihan budak pelarian Eliza yang melarikan diri sembari menggendong bayinya melintasi sungai yang separuh beku, karena ridak mau dipisahkan dari anaknya. Juga perihal kematian tragis Eva kecil. Harriet pernah mengatakan bahwa sebenarnya Tuhanlah yang menulis buku itu, dan “Saya hanya menuliskan apa yang Dia ucapkan.” Kombinasi kisah-kisah mengharukan, keyakinan pribadi dan gaya hangat dalam menceritakan kisahnya itulah, yang menjadikan daya tarik utama buku ini.

Kesusastraan antiperbudakan sebenarnya sudah berkembang sebelum Uncle Tom’s Cabin diterbitkan. Namun, Harriet-lah yang mampu menyajikan kisah itu sedemikian sentimentil, sehingga membuat isu itu menjadi pusat perhatian. Perang Saudara antara negara-negara bagian Utara melawan Selatan, sebenarnya tidak semata-mata disebabkan oleh isu perbudakan. Masih banyak penyebab lainnya. Presiden Abraham Lincoln, ketika diperkenalkan kepada Harriet dalam suatu resepsi di Gedung Putih, menyatakan, “Ah, jadi Anda lah nyonya kecil yang menulis buku pemicu perang besar itu.”

Berdasarkan karyanya, Harriet adalah seorang perintis. Ia bukan saja mahir menyajikan suatu polemik dalam bentuk fiksi, namun ia juga merintis cara baru menggunakan teknik realisme yang kemudian banyak ditiru para novelis lainnya, terutama dalam penggunaan dialek lokal, mendahului Sastrawan Mark Twain.

Baca juga:  Menapaktilasi Jejak Leluhur

Harriet banyak menerima surat makian, termasuk sepucuk surat yang disertai potongan telinga seorang budak, dengan ancaman bahwa si budak akan menerima perlakuan lebih kejam lagi jika Harriet terus menulis. Ia juga banyak menerima kecaman dari mereka yang menganggap novelnya berpihak dan tidak akurat, karena ia sendiri tidak pernah menyaksikan langsung kondisi perbudakan di Selatan. Hal ihwal inilah yang mendorongnya menulis buku pelengkapnya yang berjudul The Key to Uncle Tom’s Cabin (1853) yang berisikan kumpulan referensi dan dokumen yang ia gunakan dalam menulis Uncle Tom’s Cabin. Namun, novel Harriet itu memang tidak pernah lepas dari perdebatan.

Tahun 1860-an, keluarga Stowe membangun sebuah rumah musim dingin di Mandarin, Florida. Di sana, Harriet membantu pendirian sebuah sekolah khusus untuk warga Amerika keturunan Afrika, dan ia berperan penting dalam pembangunan gereja setempat yang menerima umat Kristen dari semua himpunan. Harriet wafat pada 1 Juli 1896 di Hartford, Connecticut, pasca ia memutuskan untuk kembali menetap di sana sejak 1873, di mana ia bertetangga dan bersahabat dengan Mark Twain.[]

coverantiperbudakan - Melawan Perbudakan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi