Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ulasan buku "Di Bawah Tiga Bendera"

Buku setebal 378 halaman plus beberapa lembar kata pendahuluan karya mendiang Benedict Richard O’Gorman Anderson berjudul terjemahan “Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial” menuntun saya untuk berkenalan dengan wacana dalam perbincangan sosial-politk, sebuah cakrawala sejarah di luaran sana, yang sedikit-banyak memiliki persinggungan dengan Indonesia di masa kolonial. Membaca Ben, Menguji Konteks Anarkisme

Dalam salah satu review tentang buku tersebut, Andi Achdian menyebut tulisan Ben Anderson ibarat sebuah penjabaran dari ilmu astronomi politik. Review itu mendorong saya untuk mengkontekstualisasikan tulisan Ben sebelum memasuki karyanya. Saya membayangkan seperti mata seorang astronom (meneruskan pembacaan Achdian), Ben melihat perjuangan dalam peradaban politik layaknya hamparan bintang-gemintang yang bertebaran di jagad raya yang tak terbayangkan banyaknya, sangat beragam, acak, khas, dan jarak ruang-waktu antara satu dengan yang lain tak dapat diukur secara tepat. Namun melalui daya magis imajinasi, instuisi serta perhitungan tertentu, bintang yang acak itu mewujud ke dalam pola-pola, suatu penanda yang menstimulus kegiatan produksi makna dalam siklus peristiwa pada bentangan sejarah kebudayaan manusia.

Imajinasi (demikian saya mengasumsikannya) yang mengerangkai tulisan Ben bukan berarti tanpa landasan. Dalam disiplin keilmuan, epistemologinya dapat ditemukan dari perdebatan sejak zaman Plato dan Aristoteles melalui pengibaratan manusia goa dan istilah analogi, yang diteruskan oleh Thomas Aquinas untuk mengangkat wacana teologis ke taraf ilmiah (lihat, Sugiharto, 1996: 124), yang kemudian dihidupkan kembali oleh pemikir paska-strukturalis melalui istilah metafora. Thomas Kuhn menyebutnya sebagai – seperti dijabarkan Ahimsa-Putra, dalam istilah “model”. Pengertian “model” yang oleh Ahimsa-Putra ditempatkan hanya sebagai bagian dari paradigma, seolah mengalami keterbalikan begitu saja di tangan orang-orang yang menerabas rezim metodologis dalam keilmuan modern seperti Ben. Perbincangan “model” dalam bidang filsafat, bagi pemikir paska-strukturalis memang lebih familiar dipahami sebagai “metafora”. Istilah tersebut bukannya tanpa perdebatan. Di kalangan penganut paham hermeneutika radikal dan filsafat bahasa – seperti Gadammer, Paul de Man, Paul Riceour, Derrida dan Wittgenstein hal itu memicu perdebatan tersendiri. Bukan sekedar debat belaka, melainkan dialektika cerdas yang menghasilkan karya dan diikuti oleh para peneliti di masa selanjutnya. Sebutlah misalnya Riceour dalam karyanya The Rule of Metaphor, Paul de Man dengan The Epistemology of Metaphor dan Derrida dengan The Retrait of Metaphor. Untuk lebih mengetahui kegunaan metafor itu, barangkali kita dapat menyimak kutipan berikut ini;

Baca juga:  Jurus Bahagia Sang Marhaenis

“… Kekuatan metafor … tentunya adalah untuk merintis logika baru di atas reruntuhan pendahulunya …. tidakkah kita dapat membuat hipotesis bahwa dinamika pemikiran yang menembus kategori yang ada sebetulnya sama dengan yang telah melahirkan semua klasifikasi? … Lalu dapat saja diusulkan bahwa cara bicara yang kita sebut metafor, yang awalnya dianggap penyimpangan itu, sebenarnya sama dengan yang telah melahirkan segala bentuk ‘medan semantik’ (R.M: Sugiharto, 1996: 142).”

Perdebatan metafor dan hubungannya dengan kegiatan produksi pengetahuan itulah yang selanjutnya dapat kita temukan benang merahnya pada karya-karya dalam disiplin ilmu sosial seperti misalnya Anna Louwenhaupt Tsing yang terkenal dengan metafora “Friksi”-nya, Saya Shiraishi dengan “Keluarga”-nya, Suhartono Pranoto dengan “Bandit Pedesaan”-nya, George Junus Aditjondro dengan “Gurita Cikeas”-nya dan Ben Anderson sendiri yang dikenal melalui metafora “Imagine Community”-nya.

***

Membaca seri ketiga dari buku Anarkisme yang diterbitkan oleh Marjinkiri – setelah “Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan” karya Sean M.Sheehan dan uraian pemikiran tentang Friedrich Nietzsche yang ditulis keroyokan oleh pengkaji Nietzsche (bagi saya dua karya terakhir tersebut tidak mudah untuk dipahami, karena mungkin belum terbiasa dengan wacana anarki), saya dihadapkan pada daftar panjang pembunuhan para elit politik di masa lalu. Sebuah daftar (lengkap dengan peta dan dengan apa mereka dibunuh) mengerikan yang dilakukan para anarkis dalam memperjuangkan kebebasan di bawah eksploitasi kolonial daratan Eropa abad ke-18. Tetapi apakah hanya melulu aksi pembunuhan yang dapat ditunjukkan oleh para anarkis?

Ben Anderson memang lihai soal meramu cerita. Jose-Rizal yang menjadi salah satu pemeran utama dalam sepanjang ratusan halaman anarkisme global, memberi gambaran terperinci tentang orang Asia yang tumbuh di Eropa. Jose menyecap pendidikan modern yang kemudian membuat matanya terpaku melihat bagaimana kekejaman kolonial di tanah kelahirannya. Gambaran semacam itu mengingatkan saya pada apa yang pernah berlangsung di negeri jajahan Hindia-Belanda. Niat negara kolonial mendirikan institusi pendidikan di tanah jajahan demi menghemat biaya supaya tak perlu mendatangkan tenaga-tenaga profesional dari Eropa untuk bekerja di tanah jajahan, justru harus dibayar dengan mahal. Berkat didikan ala barat, para bumiputera keturunan ningrat menjadi kian kritis akan nasib bangsanya, sebagaimana dilukiskan dengan memikat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi pulau buru; segelintir orang yang merasakan sekolah modern, terbiasa berdiskusi, membuat perkumpulan, berorganisasi, lalu mengorganisir perlawanan. Pengalaman hidup seperti itulah yang juga dilalui Jose-Rizal bersama kawan-kawannya.

Baca juga:  Tamu Allah dari Negeri Bawah Angin

Saya menduga (dan memang hanya bisa menduga) imajinasi Ben ketika menyusun bukunya tersebut tak lepas dari pengalamannya sebagai sarjana sastra yang menjalin perkawanan dengan Pramoedya Ananta Toer. Rangka besar tulisannya barangkali telah ditemukan sejak ia membaca tetralogi pulau buru, yang kemudian mendorongnya untuk mewujudkan bongkahan logika Pram tersebut – yang mewakili gagasan pribumi Asia di negara-negara koloni – ke dalam riset serius. Dari persinggungan imajinasi itulah lahir karya brilian yang mampu meramu imajinasi dan mengisahkan bagaimana tumbuhnya kesadaran, pergerakan dan perlawanan Asia melawan penjajah.

Lalu di mana letak anarkisme dalam konteks itu?

Sebetulnya, jika kita sedikit jeli terhadap frase “anti-kolonial”, istilah tersebut sudah dengan sendirinya mewakili gagasan anarkisme itu sendiri. Para penganut paham anarkis memegang teguh asumsi dasar bahwa mereka menolak kehadiran negara (kolonial). Mereka tidak menghendaki negara bukan dalam artian “administrasi sistem politik”, tetapi yang paling pokok adalah penolakan tegas terhadap gagasan tentang suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan warganya (kalau perlu nyawa warganya) dalam otoritas sentral yang disakralkan dalam wujud Negara (Hutagalung, 2007: xv). Dalam pengertian itu, jelas perjuangan berdarah-darah orang pribumi melawan (negara) Hindia Belanda adalah tindakan yang didasari atas ketidaksetujuannya dengan tatanan kekuasaan pada saat itu. Dengan kata lain, melalui karyanya yang diterjemahkan dan diluncurkan di Jakarta – yang menjadi akhir dari pengembaraan intelektualnya itu – kita dapat mengartikan bahwa usaha mengenalkan karyanya kepada pembaca Indonesia adalah sekaligus untuk memberitahukan kepada kita bahwa perjuangan leluhur dalam melawan kolonial juga membawa spirit anarkisme akan tetapi menciptakan ambivalensi karena justru melahirkan penguasa korup dari rahim perjuangan bangsa sendiri.

Membaca riwayat pengasingan Jose-Rizal yang dituturkan oleh Ben, juga membuat saya seperti menjumpai apa yang dialami oleh tokoh-tokoh pergerakan di Hindia-Belanda maupun sesudah Hindia Belanda. Samin Surosentikno dan Diponegoro yang diasingkan dan mati dalam pengasingan. Tirto Adhi Soerjo dan Marco, yang pergerakannya dikebiri dengan mengasingkan keduanya. Soekarno dan Hatta yang diasingkan. Pramoedya Ananta Toer yang ditahan tanpa proses pengadilan, Widji Thukul yang lenyap di tahun 98, Salim Kancil yang dibunuh dan sederet daftar panjang penangkapan, penghilangan dan pembunuhan yang dilakukan rezim berkuasa untuk menikam jantung pergerakan yang menganggu stabilitas kekuasaan.

Baca juga:  Apa itu Budaya Populer?

Barangkali peristiwa demi peristiwa yang dinarasikan oleh Ben melalui catatan abad silam itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa dunia yang sebagian besar dihuni oleh kaum tertindas pernah meradang, kekuasaan pernah terjangkiti wabah – bukan kolera – melainkan anarkisme. Gerakan anarki massif tidak hanya berlangsung di negara dunia ketiga yang menjadi obyek negara penjajah, melainkan juga merembet hingga ke negeri koloni itu sendiri. Lihat saja daftar yang ditampilkan Ben di dalam bukunya. Dalam rentang waktu antara 1894-1914 ada 13 pembunuhan di Italia, Polandia, Rusia, Portugis, Korea dan Serbia yang dilakukan oleh kelompok-kelompok revolusioner dan anarkis. Sampai di sini, mari kita melihat fenomena yang berlangsung di tayangan televisi kita. Sekedar membuat perbandingan pembunuhan tersebut dengan maraknya terorisme di Indonesia. Dalam pembasmian teroris antara rentang waktu 2010-2012, 19 nyawa polisi melayang. Jumlah itu meningkat jika melihat korban pada tahun sebelumnya, dari tahun 2000-2009, pembasmian teroris menewaskan 12 anggota polisi (Mabes Polri, dikutip dari Mohd Adhe Bhakti, www.scribd.com). Bila data statistik itu tepat, artinya kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teror di Indonesia terhadap aparatur negara mengalami peningkatan signifikan jika melihat angka-angka tersebut.

Akhirnya, saya ingin menutup pembacaan ini dengan mengemukakan tiga pertanyaan yang tak harus dijawab sekarang: Apakah tindakan terorisme yang marak terjadi di zaman ini bila kita tempatkan ke dalam konteks pergerakan tahun 1920’an di Hindia Belanda – dapat dikatakan sebagai anarkisme? Adakah kesamaan/perbedaan antara anarkisme di masa lalu dan terorisme di masa kini? Bagaimana menempatkan keduanya tanpa mengeliminasi subyektifitas teroris dan anarkis dalam dunia yang dibayangkannya?

Membaca Ben, Menguji Konteks Anarkisme

Tidak ada artikel lagi