Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Mewarisi Hikmah Cinta Para Wali

Jauh sebelum Islam masuk ke Tanah Jawa,  Jawa telah memiliki kebudayaan yang tinggi. Terletak di simpang jalan peradaban dunia, Nusantara (baca Jawa) memiliki interaksi dan pertukaran kebudayaan yang intens. Adanya kebudayaan logam, arsitektur berbahan batu, pengolahan kayu, pelayaran, sastra dan budaya simbolis nan fungsional serta rumit menunjukan kebudayaan tinggi itu.  Dari sisi religi, spiritual, olah jiwa dan agama pun telah mapan di Jawa. Agama Hindu dan Budha serta aliran-aliran agama lokal telah berkembang baik. Semua begitu dalam dan penuh perenungan. Membaca Lir – ilir

Saya bisa membayangkan betapa rumit dan berat tantangan para penyebar agama Islam di Tanah Jawa kala itu. Kebudayaan tempatan telah mapan dengan pelbagai sistem nilai dan aturan. Tidak berlebih syiar Islam mau tidak mau harus masuk pada sistem nilai, aturan dan ketidaksadaran masyarakat Jawa saat itu. Maka jalan kebudayaan adalah satu diantara banyak pilihan paling mungkin  ditempuh. Jalan ini masyur digunakan oleh Walisongo, untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa.

Dalam pelbagai kebudayaan dan konteks yang berbeda, syair atau tembang dalam tradisi Islam dari zaman ke zaman sudah lama dipakai untuk memberikan pelajaran atau menyampaikan pesan hikmah kepada masyarakat. Dakwah dalam bidang ilmu tauhid, kalam, fiqih, nahwu shorof dan sufistik dsb disampaikan dalam bentuk ini. Syair “thala’al baqru” yang mashur dilantunkan sampai saat ini itu adalah  ungkapan kegembiraan kaum anshor yang berkembang dalam tradisi ini. Bahkan Alquran adalah bentuk paling puitis bersumber dari kalam Allah.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Adalah Shohibul Fadhilah wal Karomah Kanjeng Sunan Kalijaga salah satu dari sembilan wali di Tanah Jawa yang masyur menggunakan metode tembang ini. Beliau menggunakan metode dakwah lembut dan menyenangkan dengan lantunan tembang indah penuh untain-untain mutiara pesan yang sangat dalam. Salah satu yang terkenal dan masih dinyanyikan oleh berbagai kalangan adalah tembang Lir – ilir. Tidak hanya diaransemen dengan cara modern, dinyayikan dalam banyak konteks, tembang ini juga menjadi kajian akademis serta dimaknai dengan berbagai sudut pandang filosofis dan akademis. Secara historis, diduga tembang Lir-ilir ini dikarang dan dipopulerkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga sejak abad XIV. Dan dahsyatnya, pesan penuh hikmah ini masih dilantunkan hingga saat ini.

Baca juga:  Museum, Kenangan, Melankoli

Mengawali tembang sekaligus menjadi judul tembang adalah kata Lir-Ilir yang berarti ngelilir (bangunlah) atau bisa diartikan bangkitlah, sadarlah. Kata lir-Ilir dalam bahasa arab bisa dipandankan dengan kata Nahdlah yang dalam ilmu tata bahasa arab itu termasuk masdar marrah yang bermakna bangkit dan berlangsung terus. Seperti Kata Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) bermakna kebangkitan ulama yang terus menurus sebagai warotsatul anbiya mengemban misi nabi yang diutus untuk memperbaiki akhlak.

Dalam Lir-ilir kita membaca hakekat dari hakekat manusia. Jika ditelaah secara filosofi Islam, hakekat manusia diciptakan dimuka bumi adalah sebagai ‘abdun (hamba), dalam arti tugasnya tugasnya sebagai manusia telah tertulis dalam Al-Qur’an surat Ad-dzuriyat:56 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ yang mempunyai arti Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”. Kemudian hakekat manusia diciptakan secara peran dibumi sebagai khalifah bermakna pemimpin, kata ini mempunyai kata dasar khalaf yang berarti dibelakang atau maknanya orang yang dating dibelakang, seperti termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh: 30 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً yang mempunyai arti  “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“.

Baca juga:  Isabelle Eberhardt

Jadi dalam membaca Lir-ilir, kita dibawa pada konteks ngelilir, kesadaran, kebangkitan sebagi peran manusia sebagai khalifah. Pertama, memimpin dirinya sendiri dimana didalam diri manusia ada segumpal darah jika darah itu baik maka akan baik pula dhahirnya atau perilakunya dan sebaliknya. Segumpal darah itu disebut qulb atau hati, secara spiritual merupakan sesuatu yang halus, rabbaniyyah (ketuhanan), ruhaniyyah (kerohanian) yang mempunyai kaitan keterkaitan hati yang bersifat jasmaniyyah atau bersifat prilaku.

Dalam dunia tasawuf tekanan terpenting dari ajaran ini adalah pembersihan hati (Tashfiyat al-qulub) dan pensucian diri (Tazkiyat al-nafsi), dan sajian dhahir-nya adalah keselahan sosial atau akhlak budi pekerti yang baik kepada sesama manusia dan kepada sesama mahluk dimuka bumi. Itu semua harus dibangkitkan, disadarkan, dibangunkan setiap hari dan setiap waktu seperti dalam awal tembang Iir-ilir, Lir-Ilir Tandure Wis Sumilir (Bangunlah, Bangunlah, Tanaman sudah Bersemi).

Kedua, adalah kita pemimpin diluar diri kita yaitu peran sebagai manusia yang selalu memberi manfaat kepada orang lain, kepada sesama mahluk Tuhan, seperti pesan Rasulullah dalam hadistnya, “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermafaat bagi orang lain”. Siapa orang lain? Sesuatu yang diluar diri kita, Ini bisa keluarga kita, anak istri kita, lingkungan kita, Negara dan sesama umat manusia. Karena pada hakekatnya saat kita berbaik kepada orang lain adalah kita sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Ini menunjukkan manusia secara proses hidup saling mengenal dan saling memahani antar suku, antar bangsa dan golongan untuk saling mengisi kemanfaatan bukan sebuah kerusakan. Sebuah hadist dinukil dari kitab Ihya Ulumuddin berbunyi “Addunya Mazroatul Akhiroh” yang artinya dunia adalah ladang bagi akhirat. Bait “cah angon cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo sebo menggko sore” inilah mengingatkan pada kita bahwa hidup itu berproses untuk saling memberi kebaikan sebagai buahnya nanti kita petik di kehidupan akhirat.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Negara Islam
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Proses manusia melaksanakan peran memimpin baik itu diri sendiri dan diluar diri sendiri itu didasari dengan mahabbah (rasa cinta). Rasa cinta ini tumbuh sebagai rasa syukur dan syarat untuk menuju iman. Untuk mencapi mahabbah maka harus observasi terhadap objek sehingga mengenal, setelah kenal mengerti maksud, setelah itu perlahan karena sudah mengenal dan mengetahui akan timbul rasa cinta, sehingga menimbulkan pada diri kita keshalehan qolbu yang memancar ke kesalehan tingkah laku dan pergualan.

Secara prinsip dalam berislam kita diajari Al Mukmin Akhul Mukmin (saudara semukmin), Al Muslim Akhul Muslim (saudara semulism),  dalam kontek bernegara kita diajari Ukhuwah Wathoniyyah (persaudaraan sesama muslim), dalam pergaluan lintas agama kita diajari Ukhuwah Basyariyah (persaudaran sesama manusia). Dalam istilah Jawa konsep pemimpin bisa diliat dari paribahasa “Ngesuhi Deso Sak Kukuban” yang bermakna memimpin entitas juga sekaligus mesinkronisasi keseluruhan aspek lapis potensi manusia, lingkungan, alam semesta sebagai kesatuan.

Saya ingin mengaitkan bait “Ya surak’o surak hiyo” Bergegaslah, Bergeraklah, Bergembiralah dengan kontek Mahabbah (Rasa Cinta) menjadi dasar atas akvitas baik itu menjadi seniman, perupa, pengusaha, penulis, guru dan apapun itu. Dengan cinta maka segala yang dikerjakan menjadi indah dan bermakna bagi diri sendiri dan diluar diri sendiri, dan memancarkan pesan kebaikan bagi semesta. []ilir ilir - Membaca Lir – ilir

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi