Memberontak dengan Lelucon

Memberontak dengan Lelucon
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Mas Marco Kartodikromo

“… kami cuma berharap dari ‘kuburan’ kami […] supaya menjadi cermin perbandingan bagi tuan-tuan Indonesiers yang palsu dan yang bersenang-senang hidup dengan gaji besar, yang bersemangat ‘burgerlijk tevreden’. Ingatlah, ada orang-orang sebangsa dan sedarah dengan tuan-tuan yang menunggu hari penghabisan di Digul.” – Mas Marco Kartodikromo

Mas Marco Kartodikromo adalah sosok wartawan paling luar biasa dari nasionalisme Indonesia yang sedang tumbuh di awal abad ke-20. Menurut sejarawan Rudolf Mrazek, Marco merupakan “pengarang terbaik untuk dibaca kalau ingin mencari jawaban”. Dia telah ditahbiskan sebagai wartawan dan penulis Indonesia modern yang pertama. Marco hampir tak pernah menulsi dalam bahasa “ibunya,” “bahasa aslinya”, “bahasa lamanya”, yakni bahasa Jawa. Praktis dia senantiasa menulis dalam bahasa Melayu, lingua franca kepulauan itu selama berabad-abad periode kolonial Belanda. Melayu, sebagai bahasa pertama di Hindia Belanda akhir masa kolonial, hanya digunakan oleh beberapa orang di kota-kota kosmopolitan, terutama Batavia. Bagi sebagian terbesar penggunanya, Melayu adalah medium komunikasi nan praktis, dan tidak hangat, dengan orang asing. Singkatnya, Melayu merupakan bahasa jalanan (Mrazek, 2002: 20).

Selain itu, bagi Marco, tertungkus-lumus dengan bahasa Melayu tampaknya juga merupakan bahasa pembuangan, “pengucilan linguistik,” pengasingan sukarela dari makna rumah yang gampang, dan perpindahan sederhana antara tempat-tempat. Lema-lema dalam kalimat-kalimatnya, dengan sebuah ucapan seolah-olah dari dunia liyan. Dia sering menggunakan kata-kata Belanda dan jargon teknis, bahkan terlalu sering memakainya. Terkadang, sepatah lema Jawa muncul sebagai kilasan yang tak layak dan tinggal sebagaimana adanya, tidak terpengaruh oleh lingkungan verbal maupun sintaksisnya, terkadang bahkan menonjol dari halaman surat kabar dengan tulisan Jawa.

Ketika majalah polisi Hindia Belanda, menyebut kuda Pak Koesir itu p.k. singkatan paardekracht, Marco, dengan kenikmatan seorang linguis dan seorang pemberontak, membuat Weltvaartscomissi (Komisi  Kesejahteraan) Belanda yang terhormat itu menjadi W.C., atau terkadang membuat lema yang digunakannya untuk menyebut saudara-saudaranya, anak negerinya, pribumi, boemipoetra menjadi singkatan b.p. yang teknis, konyol dan menggigit.

Baca juga:  Bitjara tentang Semangat Belia (Jeugd)

Sebagai ganti Kromoblanda milik Hendrik Freek Tillema, sebuah campuran yang seyogyanya melukiskan negeri “penduduk asli (dan) Belanda” yang tenang lagi bahagia, Marco menggunakan kromolangit, “langit kami”, kromorembulan, “bulan kami”, dan kromobintang, “bintang kami”. Dia menggunakan campuran Melayu-Belandanya sendiri secara ekspresif, seperti rasaloos, “tidak punya perasaan”, atau maloeloos, “tidak punya malu”.

Konon Marco menulis koyok Cino, (seperti Cina). Masih menurut Mrazek, bahasa Marco membuat ketidakpastian. Bahasa itu dapat mengacaukan tatanan yang merupakan pakem Kromoblanda–melintasi garis-garis rasial, misalnya. Marco menulis dalam bahasa yang dapat dengan mudah disalahpahami, atau diduga identik dengan Cina-Melayu, bahasa kaum Cina di Indonesia. Keduanya sering disebut dan disalahtasmiahi, “Melayu Rendah”, “Melayu Betawi”, “Melayu bazaar (pasar)” (Mrazek, 2002: 48).

Pria kelahiran 25 Maret 1890 ini nampak pandai menggores dan meretakkan apa saja yang mungkin telah dipoles dan diperhalus di koloni Hindia Belanda. Para penguasa Belanda, sekurang-kurangnya, bernalar demikian. Berulang kali, Marco ditangkap karena apa yang telah ditulisnya dan dilempar ke bui kolonial. Seringkali, kejahatannya dirumuskan–dalam perspektif penguasa–dengan tepat, mengingat kekebalan bahasa dan jalan-jalan akhir kolonial yang dijaga dengan baik nan ketat–sebagai haatzaai (menyebarkan kebencian). Wajarlah, begitu tampaknya, mengingat kebudayaan itu, Marco kemudian mati pada 1932 karena menderita tuberkulosis di kamp interniran kolonial Belanda yang terkenal di Boven Digoel, Guinea Baru (Irian Barat), dalam pembuangan dan di jalanan.

Bahasa Marco dengan tepat dilukiskan sebagai “cerdas” dan “tajam”, juga, dengan pembenaran yang sama, bersifat “cepat”. Hal ihwal ini sekali lagi mengingatkan kita kepada sebuah gagasan yang sangat tidak mengenakkan. Bukankah bahasa Marco–kendati pemberontakannya dan cintanya akan tanah air–jenis bahasa baru: bahasa yang dirusak bentuknya oleh sebuah logika peredaran tak terpermanai, bahasa kosmopolitan “pedagang”? Bukankah Marco ialah penulis kosmopolitan besar Indonesia perdana, sebetulnya, dengan memulai bahasa ini? Tidakkah dia mengikat tulisannya begitu rupa laksana jalanan yang “menggantung di awang-awang”?

Baca juga:  Menyegarkan Ulang Teologi Penciptaan bagi Praksis Kerukunan Antarumat Beragama

Marco suka sekali tampil dalam pakaian Barat, terutama serba putih. Dia gemar menyampaikan lelucon dalam majalah-majalahnya, dan dia memberi nomor lelucon-leluconnya itu dengan teliti dan detail–“lelucon no. 1…lelucon no. 35.” Dia gemar mengumpulkan foto-foto dan  mengirimkan kartu pos. Dalam majalahnya, Saro Tomo, pada 1915, misalnya, dia mendapatkan sejumlah duit dengan menerbitkan, menjual dan membagikan potret “dua orang wartawan Belanda yang membenci rakyat negeri ini daripada siapa pun,” dengan harga 25 sen per lembar (Mrazek, 2002: 202-3). Marco adalah bagian segmen budaya Hindia Belanda yang tepat pada masanya–karena diperintah apa yang yang harus dikenakan dan bagaimana berwicara–berteriak, terkadang dalam ironi.

Dalam Doenia Bergerak: Keterlibatan Mas Marco Kartodikromo di Zaman Pergerakan, 1890-1932, sejarawan muda progresif Agung D.H. (2017) mendedahkan bahwa Marco–paman sekaligus penganjur (sponsor) dari Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dalam masalah pergerakan. Kartosoewirjo kemudian mahsyur sebagai tokoh Darul Islam (DI)–adalah sosok yang laik untuk disebut “tokoh” sekaligus “ditokohkan”. Sejak remaja hingga akhir hayatnya, Marco melakukan perlawanan terhadap penindasan pemerintah Hindia Belanda. Di Medan Prijaji, ketika usianya 17 tahun, dia bersama Tirto Adhie Soerjo dan kawan-kawan menuntut  hak sebagai bangsa yang harus diakui derajatnya oleh Belanda. Persamaan derajat sebagai  bangsa terus diperjuangkannya hingga Marco meninggal dalam pembuangannya.

Semua pemikiran dan peranan Marco–seperti pada dijelaskan dengan cemerlang oleh Agung dalam bukunya–memiliki punya sumbangsih terhadap proses pembentukan kebangsaan Indonesia. Hal ihwal ini dibuktikan dengan keterlibatannya dalam Sarekat Islam dan pers. Sarekat Islam adalah organisasi Islam pada masa itu yang punya pengaruh hampir di seluruh Hindia Belanda. Organisasi inilah yang turut dalam membentuk kebangsaan, yang membedakan orang Hindia muslim, dan kolonial yang Kristen. Marco berusaha menjaga agar organisasi ini tidak bekerjasama dengan Belanda, sebab dengan itu akan mempertegas status Hindia Belanda sebagai bangsa yang diperintah dan bukan yang memerintah, dengan demikian nasionalisme akan timbul dalam benak orang Hindia Belanda ketika itu.

Baca juga:  Tato Dayak Iban

Pada akhirnya, di lapangan pers, dia menyerukan gagasannya dengan bahasa Melayu, bahwa semua manusia mempunyai derajat yang sama. Hal ini mengandaikan bahwa kemerdekaan adalah hak semua manusia, hak semua bangsa sebagaimana termaktub dalam undang-undang dasar Indonesia yang lahir pada 1945. Persamaaan hak inilah yang terus diperjuangkan Marco, maka dia memilih membela para kaum cilik yang tertindas, sekaligus yang mendominasi Hindia Belanda.

Meskipun mati muda (sekitar 40 tahun), kehidupan Marco tidaklah sia-sia. Rakyat Indonesia hingga kini mengenal semboyan-semboyan warisannya, seperti “berani karena benar, takut karena salah”, “sama rasa sama rata”, “rawe-rawe tantas malang-malang putung”, dari mulut para founding father Indonesia. Revolusi Agustus 1945 pekat diwarnai dengan pelbagai semboyan itu, kendatipun orang tak memafhumi siapa gerangan yang memperkenalkannya pertama kali.

Arkian, dari pergumulan pemikiran dan hayat Marco, kita dapat belajar memaknai kehidupan: bahwa tanpa keberanian, kita tidak akan sampai ke mana-mana walau punya pengalaman, pengetahuan dan kemampuan. Bagi Marco, keberanian tidak bisa diajarkan, ditularkan atau dicangkokkan. Keberanian hanya bisa dibentuk oleh diri sendiri –oleh pribadi yang kuat.[]

mas marco - Memberontak dengan Lelucon

Memberontak dengan Lelucon

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi