Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang awal semangat anti-komunisme menjadi dasar identitas bangsa

MESKI banyak versi sejarah telah ditulis, Peristiwa 30 September 1965 masih berselimut misteri hingga kini. Rezim Orde Baru menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalangnya. Namun, pasca Suharto jatuh, muncul dan menjamur analisis atas peristiwa Gerakan 30 September (G30S), salah satunya bahkan menunjukkan keterlibatan Suharto.

Banyaknya versi tersebut justru kian menimbulkan pertanyaan: Siapa sebenarnya dalang G30S? Versi lain, seperti buku yang ditulis oleh Benedict Anderson dan kawan-kawan (kemudian dikenal sebagai Cornell Paper), yang menganggap bahwa peristiwa itu merupakan persoalan intern AD (Angkatan Darat), dilarang dan penulisnya dicekal oleh pemerintahan Suharto masuk Indonesia selama 28 tahun.

Memang ada berbagai kelompok yang diuntungkan dengan kegagalan kudeta itu, namun apakah pihak tersebut mendesain peristiwa ini sedemikian rupa dengan skenario yang rapi dan semuanya berjalan seperti yang diharapkan mereka? Tampaknya tidak demikian. Namun, masing-masing teori itu memiliki kelemahan. Kalau disebutkan bahwa PKI secara keseluruhan melakukan pemberontakan, kenapa 3 juta anggota partai ini tidak melakukan perlawanan ketika diburu dan dibunuh setelah gerakan itu meledak? Kenapa partai komunis terbesar ketiga di dunia saat itu begitu mudah dirontokkan?

Analisis yang menyebutkan bahwa masalah ini adalah persoalan intern Angkatan Darat juga tidak memuaskan karena persoalannya tidak sesederhana itu. Bukankah Sjam dan Pono juga terlibat? Sementara itu, versi Soekarno sebagai dalang juga diragukan. Bila sang presiden mengetahui sepenuhnya rencana aksi ini sebelumnya, kenapa ia berputar-putar di kota Jakarta, sebelum menuju pangkalan udara tanggal 1 Oktober 1965? Mengapa Presiden Soekarno tidak langsung saja dari Wisma Yaso–kediaman isterinya, Ratna Sari Dewi–bandara menuju Halim Perdanakusuma?

Begitu pula dengan posisi Suharto. Tidaklah dia terlampau “jenius” untuk bisa merancang suatu perebutan kekuasaan secara sistematis. Masih perlu diinvestigasi lebih lanjut seberapa jauh Suharto mengetahui rencana tersebut sebagaimana disampaikan Kolonel Latif dalam pertemuan malam sebelumnya di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto.

Sejarawan John Roosa, lewat bukunya Pretext for Mass Murder The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia, mulai menguak misteri itu. Menggunakan dokumen yang selama ini diabaikan dan wawancara dengan tokoh-tokoh PKI, guru besar sejarah dari Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada itu, tidak hanya menyingkap “siapa dalang G30S”, namun juga “bagaimana seorang dalang menjadikan G30S sebagai dalih untuk melakukan pembantaian massal”. John Roosa berhasil menyusun sebuah narasi aktual dengan kandungan data dan metodologi baru, ihwal peristiwa 30 September 1965.

Baca juga:  Pak Guru Suhadi, Musala, dan Pohon Beringin

Riset yang dilakukan John Roosa menggunakan arsip yang jarang diulas secara utuh selama ini, seperti dokumen Supardjo, tulisan-tulisan Muhammad Munir dan Iskandar Subekti yang tersimpan di Amsterdam, wawancara dengan tokoh-tokoh PKI seperti “Hasan” yang meminta dirahasiakan identitasnya sampai ia meninggal. Muhammad Munir adalah anggota Politbiro PKI dan Iskandar Subekti adalah panitera Politbiro PKI, yang pada tanggal 1 Oktober 1965 mengetik pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan Gerakan 30 September.

Adapun “Hasan” memiliki posisi yang dianggap logis mengetahui kegiatan Biro Chusus. “Hasan” sendiri sudah menulis memoar yang sudah diserahkan kepada John Roosa yang dapat dipublikasikan setelah ia meninggal. Di samping dokumen-dokumen penting itu, serta wawancara mendalam dengan tokoh sentral organisasi kiri itu, arsip-arsip yang berasal dari Departemen Luar Negeri AS membantu menjelaskan pelbagai hal.

Dokumen Supardjo dianggap cukup sahih¨sebagai semacam pertanggungjawaban setelah peristiwa itu terjadi¨yang ditulis ketika ia belum tertangkap. Beberapa saksi, termasuk Letnan Kolonel Udara Heru Atmodjo, yang sama-sama di penjara dengan Supardjo, mengakui keberadaan surat tersebut. Pihak keluarga juga mengiyakan informasi yang pernah disampaikan Supardjo. Dokumen itu memperlihatkan bahwa kelemahan utama Gerakan 30 September adalah karena tidak adanya satu komando. Terdapat dua kelompok pimpinan, yakni kalangan militer (Untung, Latief dan Sudjono) dan pihak Biro Chusus PKI (Sjam, Pono, Bono dengan Aidit di latar belakang). Sjam memegang peran sentral karena ia berada dalam posisi penghubung antara kedua pihak ini.

Namun, ketika upaya ini tidak mendapat dukungan dari Presiden Soekarno, bahkan diminta untuk dihentikan, maka kebingungan terjadi dan kedua kelompok ini pecah. Kalangan militer ingin mematuhi permintaan Soekarno, sedangkan Biro Chusus tetap melanjutkannya. Ini dapat menjelaskan mengapa antara pengumuman pertama dengan kedua dan ketiga terdapat selang waktu sampai lima jam. Sesuatu yang dalam upaya kudeta merupakan kesalahan besar. Pada pagi hari mereka mengumumkan bahwa presiden dalam keadaan selamat. Sedangkan pengumuman berikutnya pada siang hari sudah berubah drastis (pembentukan Dewan Revolusi dan pembubaran kabinet).

Analisa Roosa ini telah membantu kita untuk menyederhanakan kerumitan misteri itu dengan metode a la detektif. Tokoh kunci Gerakan 30 September, Sjam Kamaruzzaman, bukanlah agen ganda, apalagi triple agent, melainkan pembantu setia Aidit sejak bertahun-tahun. Pelaksana Biro Chusus PKI yang ditangkap tahun 1968 ini, baru dieksekusi tahun 1986. Ia bagaikan putri Syahrazad yang menunda pembunuhan dirinya dengan menceritakan kepada raja sebuah kisah setiap malam, sehingga mampu bertahan selama 1001 malam. Sjam bertahan lebih dari 18 tahun dengan mengarang 1001 pengakuan.

Baca juga:  Sang Maestro Film

Dokumen Supardjo mengungkapkan mengapa gerakan itu gagal dan tidak bisa diselamatkan. Kerancuan antara “penyelamatan Presiden Soekarno” dan “percobaan kudeta” dengan membubarkan kabinet dijelaskan dengan gamblang. Jauh sebelum peristiwa berdarah itu, Amerika Serikat (AS) telah memikirkan dan mendiskusikan segala tindakan yang perlu untuk mendorong PKI melakukan gebrakan lebih dahulu, sehingga dapat dipukul secara telak oleh AD. Dan, Aidit pun terjebak. Karena sudah mengetahui sebelum peristiwa itu terjadi, maka Suharto adalah jenderal yang paling siap pada 1 Oktober 1965 ketika orang lain bingung dan panik. Nama Suharto sendiri tidak dimasukkan dalam daftar perwira tinggi yang akan diculik.

Suharto 247x300 - Membongkar Mitos Peristiwa G30S

Kudeta Suharto & Dalih Pembunuhan Massal

Peristiwa G30S itu lebih tepat dianggap sebagai aksi (untuk menculik tujuh jenderal dan menghadapkannya kepada presiden), bukan sebagai gerakan. Karena peristiwa ini merupakan aksi sekelompok orang di Jakarta dan Jawa Tengah yang dapat diberantas dalam waktu satu-dua hari. Namun, aksi ini (yang kemudian ternyata menyebabkan tewasnya enam jenderal) kemudian oleh Suharto dan kawan-kawan dijadikan dalih untuk memberantas PKI sampai ke akar-akarnya, yang di lapangan menyebabkan pembunuhan massal dengan korban lebih dari setengah juta jiwa. Kalau para jenderal yang diculik itu tertangkap hidup-hidup, mungkin sejarah Indonesia akan lain. Massa PKI akan turun ke jalan dan menuntut para jenderal itu dipecat. Presiden akan didesak untuk memberikan kursi departeman kepada golongan kiri itu, karena sampai tahun 1965 Soekarno tidak pernah mempercayakan pimpinan departemen kepada tokoh komunis, kecuali Menteri Negara.

Rezim Suharto menangkap lebih dari satu juta orang atas nama ’penumpasan G30S.’ Jelas penangkapan semasif itu sebenarnya tidak perlu sebagai reaksi terhadap aksi kecil. Pepatah yang dipakai Soekarno benar: tentara ’membakar rumah untuk membunuh tikus.’ G30S merupakan dalih saja untuk kepentingan yang lebih besar. Kelompok Suharto sangat berhasrat untuk membuktikan kesetiaannya kepada kampanye anti-komunis AS, supaya AS membantu tentara supaya bertahan lama sebagai penguasa.

Sebenarnya ada dua tujuan utama di balik pembantaian massal itu: represi terhadap gerakan nasionalis kiri (pengangkapan dan penahanan massal) dan pembunuhan terhadap gerakan itu. Represi, tujuan utamanya ialah menghancurkan kekuatan petani, yang sedang mendukung proses land reform, dan kekuatan buruh, yang sedang mengambil alih banyak perusahaan milik modal asing. Represi itu sebenarnya bisa dilakukan tanpa pembunuhan. Waktu itu PKI tidak melawan. Kenapa kelompok Suharto di dalam AD memilih membunuh orang yang sudah ditahan? Ada beberapa kemungkinan, tapi satu poin yang cukup penting: kelompok Suharto mau membuktikan kesetiaannya kepada kampanye anti-komunis AS, supaya AS membantu tentara bertahan lama sebagai penguasa. Suharto sadar bahwa rezim Orde Baru-nya, akan sangat bergantung kepada bantuan finansial dari AS untuk memperbaiki ekonomi Indonesia.

Baca juga:  Kapitalisme yang Dibangun di Bawah Bidikan Senjata

roosa 210x300 - Membongkar Mitos Peristiwa G30S

Ketegangan antara PKI dan organisasi anti-komunis sebelum G30S, misalnya antara PKI dan PNI di Bali, atau PKI dan NU di Jawa Timur, tidak bisa menjelaskan pembunuhan massal. Orang sipil yang ikut milisi, seperti Tameng di Bali dan Ansor di Jawa Timur, tidak mampu membunuh sebegitu banyak orang sendirian. Paling-paling mereka bisa mengorganisir tawuran-tawuran. Dalam tawuran-tawuran seperti itu, orang PKI berani melawan dan tidak akan banyak orang yang gugur. Pembunuhan massal terjadi sesudah banyak orang PKI rela masuk kamp-kamp penahanan. Kemudian tugas milisi menjadi algojo saja. Kalau tidak ada dukungan dari tentara, orang sipil di milisi-milisi itu tidak bisa berbuat banyak. Sekejam apapun orang PKI sebelum G30S (dan kekejaman itu juga terlalu sering dibesar-besarkan), tetap tidak bisa membenarkan tindakan extra-judicial killing yang dilakukan milisi maupun tentara.

Identitas bangsa Indonesia berubah total sesudah 1965. Semangat anti-kolonialisme hilang dan anti-komunisme menjadi dasar identitas bangsa. Hal ihwal ini, berarti kebencian terhadap sesama orang Indonesia menjadi basis untuk menentukan siapa warganegara yang jahat dan baik.  Sistem ekonomi dan sistem politik juga berubah total. Sesudah 1998 orang Indonesia menggali lagi ide-ide dari zaman pra-1965, dan juga pra-1959 (sebelum Demokrasi Terpimpin): ide-ide tentang rule of law, HAM, sekularisme, dan sebagainya.

Peristiwa G30S sendiri sebenarnya tidak begitu mengerikan. Seperti Bung Karno katakan, G30S merupakan gelombang kecil dalam sejarah Indonesia yang penuh dengan perang (RMS, DI/TII, PRRI/Permesta) dan kerusuhan. Berapa kali Bung Karno mau dibunuh? G30S membunuh duabelas orang (enam jenderal, satu letnan, anaknya Nasution, satpam di rumah sebelah rumah Leimena, keponakan Maj. Gen. Panjaitan, dan dua perwira di Jawa Tengah). Yang jauh lebih mengerikan adalah pembunuhan massal yang terjadi sesudah G30S. Seperti yang catat oleh Robert Cribb: Sekitar 78.000 hingga dua juta orang Indonesia yang dituduh komunis telah dibunuh! (Cribb: 1990).[]

coverg30s - Membongkar Mitos Peristiwa G30S

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi