Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Pada sepasang matanya kutemukan sesuatu yang aneh. Muara darah yang berlumur hitam. Serasa darah apkir sapi yang menjadi tumbal di rumah jagal. Mengalir begitu pelan. Kental bagai getah pohon para. Aneh. Darah itu tidak amis dan anyir. Tak nyana ada lelaki yang bermata merah seperti itu. Sangat ganjil.

Entahlah, aku lupa proses kejadian itu. Yang kuingat, kali pertama aku bertemu dengannya saat menumpang bus trans-kota. Di dalam bus, lelaki itu langsung mendekatiku. Tanpa sepatah kata. Lelaki itu langsung mencium pipi kanan-kiriku. Aku tertegun menatapnya kosong saat ia duduk di sampingku.

Aku diam sejuta bahasa. Lelaki itu menggenggam lembut tanganku. Telapak tangannya begitu dingin-basah. Tapi kenapa telapak tangannya mengalir air mata. Bukan dari kedua bola matanya. Sepertinya air mata itu merembesi dingin tanganku. Aku terlarut dalam perasaan lelaki asing itu  hingga tangan rela dipegang olehnya.

Apa mungkin aku jatuh cinta padanya?

Ah, aku bukan wanita murahan yang terlalu cepat untuk menyintai seseorang. Nama lelaki itu saja belum tahu. Anehnya ia—seakan—telah paham dan mengenaliku sejak dulu. Padahal pakar psikonalisa Sigmund Freud saja tak sisa umur untuk memahami karakter/psikis sosok wanita.

Aku tak pernah punya teman atau kenalan sepertinya. Perawakannya bikin hati miris. Ia anak berandal, asumsiku. Bibir bawahnya terdapat piercing bermodel paku kecil, seukuran lidi. Lebih-lebih pakaian lelaki itu tidak necis. Renyuk dan kotor. Pokoknya, lelaki itu tak masuk dalam kategori cowok idamanku.

Apa mungkin Tuhan mengirimnya sebagai jodohku?

Tak mungkin. Janji Tuhan, wanita yang baik pasti mendapatkan lelaki yang baik pula. Jadi tak mungkin mendapat jodoh seperti lelaki yang duduk di sampingku. Sekali, kulirik wajahnya. Lelaki itu malah asyik melihat ke muka.  Ke punggung kursi bus. Tak tahu, apa yang ia lihat! Apa ia lagi melamun atau sedang merangkai kata-kata untuk mengajakku ngobrol! Namun hingga kondektur bus berteriak menyebut daerah yang kutuju lelaki itu tetap gagu. Mungkin ia tunawicara.

Akhirnya, aku tiba di mulut gang tempat menuju indekos. Dalam setiap langkah, wajah lelaki itu tetap membekas dalam benak. Amat nyata. Serasa tustel merekam sebuah objek. Sepertinya lelaki itu lihai memberikan kesan pertama yang cukup menggoda hati. Sampai aku tak kuasa dengan tingkah lakunya yang cukup aneh. Susah menghapus wajah lelaki itu dari layar benak ini.

Baca juga:  Keberlanjutan dan Perubahan Kebudayaan

Setiba di kamar indekos, kulihat kertas-kertas gambar sketsa kasar bangunan menjelma wajah lelaki asing itu. Yang sedang tersenyum sembari lelehan darah dari sepasang matanya deras mengalir. Sampai-sampai gambar-gambar yang tertempel di dinding semuanya kulepas. Membuangnya ke lantai. Semua gambar berserakan. Namun wajah lelaki asing itu masih saja bertengger di atas kertas gambar. Huuhh. Palak. Kupecal semua gambar hingga berubah bentuk menjadi bulat. Tak pikir panjang, aku buang gambar-gambar ke tempat sampah.

***

Petang mulai menabur warna hitam di langit. Suasana indekos terserang pasukan senyap. Amat sepi. Tak seperti biasa. Lazimnya, hawa ramai sering berkelindan menghiasi gaun malam. Penuh dengan cengkraman hangat sepasang para kekasih. Penuh bunga tawa yang cukup merangsang gelap.

Saat itu, malam bagai jurang tua. Seram. Pengap. Dan miris adalah keris yang menghunjam tepat di jantung. Jendela mata tak bisa tertutup. Hanya memandang hiasan sawang-sawang di eternit yang putih buram.

“Isha…”

Daun telingaku menangkap suara gaib. Memanggil namaku. Tapi siapa! Dalam kamar, aku hanya seorang diri. Tanpa siapa-siapa. Ketir. Aku melongak-longok. Tak ada seseorang di sekelilingku.

“Isha…”

Aku dengar suara itu lagi. Saking tak percaya, kusingkap gorden. Melihat suasana di luar kamar. Tak ada siapa. Sepi. Selimut senyap telah bergumul dengan malam. Perasaanku kian cemas bercampur takut. Jangan-jangan ada momok.

M-o-m-o-k…

Momok itu suka mengganggu gadis, katanya. Perihal itu yang kutahu. Semenjak kecil, aku sering mendengar cerita anak gadis sering hilang dicuri oleh momok. Ibu pun sering berkisah seperti itu juga. Momok itu suka sama gadis desa, ketimbang gadis kota. Entahlah kenapa momok suka sama gadis desa! Kenapa bukan gadis kota!

Setahuku, gadis desa tak punya kelebihan yang bisa ditonjolkan. Dari perawakannya saja cukup sederhana. Tak cantik. Biasa-biasa saja. Berbeda dengan gadis kota yang menor dalam berdandan. Tubuhnya seksi dan montok. Intelektualitasnya tak bisa diragukan lagi. Tapi apa alasan mendasar momok sangat suka terhadap gadis kota! Mungkin gadis kota terlalu murah. Murah dengan segalanya. Masa’ belum punya ikatan resmi sudah berani kumpul, sekamar lagi, seperti teman-teman indekos. Bahkan, tiap kali pertemuan mereka tak segan-segan melakukan ciuman bibir di muka umum. Aku melihatnya saja sudah jengah. Mungkin saja karena aku katrok.

Isha…”

Suara itu memanggil, kali ketiga. Jantung tercengkram rasa takut. Nafas tersengal-sengal. Serasa mengidap bengek. Mataku hanya bisa melotot kekosongan kamar.

Baca juga:  Desersi Sang Penyair, Kisah Arthur Rimbaud

“Jangan takut sayang.”

Dari mana suara itu bermuasal? Aku bingung. Hendak lari keluar kamar juga tak bisa. Tubuh terasa terikat dan tersekap di dalam karung. Tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali hanya komat-komit dengan sebagian potongan ayat suci.

Itu saja belum cukup. Takut masih  mencengkram dadaku kian kencang dan erat. Takut menjelma anak ayam di cengkraman kaki elang. Kedua mata kupaksa terpejam. Bagai mata domba yang dipaksa terpejam sebelum orang-orang menggoroknya dengan pisau di Hari Raya Kurban. Aku pasrah sejuta rasa. Tak berdaya. Tawakal. Mungkin malam ini adalah malam terakhir bagiku.

Tiba-tiba gelap menyelungkup. Mata membelalak seisi kamar. Padahal, sebelumnya, lampu TL kamar nyala. Entahlah, mengapa mendadak gelap gulita! Hatiku bertambah yakin, suara itu adalah suara momok.

Lalu kupasang selimut di atas sebujur tubuhku. Berharap menepis ketakutan yang mengganjal. Tiba-tiba saja; bruk. Seperti ada sesuatu yang jatuh dari langit, tepat di atas atap kamar indekos. Kaget. Aku pun terpelanting dari kasur. Prak; kira-kira seperti itu bunyi tubuhku yang terjatuh di lantai. Untungnya aku tak merasakan apa-apa. Tak sakit. Dan tiba-tiba lampu kamar terang benderang. Seisi kamar tampak nyata.

Lega rasanya. Semua kejadian kembali normal. Aku tak percaya dengan kejadian tadi. Serasa mimpi. Ganjil. Hitam penuh misteri. Sebuah metafisika; antara nyata dan tak nyata.

Lalu, kubasahi tenggorokanku dengan sebotol air agar menormalkan seluruh goncangan dalam tubuh. Plong rasanya. Aku pun beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu’. Ingin sekali aku mengusir kekhawatiran dalam hati dengan sembahyang kepada Sang Dzat. Siapa tahu, Tuhan menolong umatnya yang gelisah dengan rahmat-Nya. Lalu kubaringkan tubuhku di atas ranjang kembali tanpa melepas telekung sehabis sembahyang. Jemari tangan kananku sembari memutar tasbih supaya kantuk cepat tiba dan hinggap di bulu-bulu mata dengan segera. Hingga akhirnya kuterlelap dan dibuai mimpi.

Dalam mimpi, tubuhku serasa ringan bagai kapas. Tubuhku terseret ke pusaran angin. Membawaku ke liang hitam. Dan di sanalah aku bertemu dengan seseorang. Wajahnya tak asing lagi, bagiku. Sepertinya lelaki itu. Lelaki yang aku kenal di bus trans-kota. Ia mendekatiku dengan penuh hasrat sampai-sampai ia mengulum lidah. Menciumku tiba-tiba. Ciumannya begitu menyeret jiwa ke lorong sunyi yang dikebaki gemintang dan rembulan seraya mereka mengucapkan ‘salam’. Kita sudah seperti sepasang ular yang bertarung. Demi meredam birahi.

Baca juga:  Cinta Dunia Maya

Kuterperanjat dengan mata lelaki asing itu. Matanya tak lagi mengalirkan darah. Berhenti meleleh. Mungkin karena berciuman! Lelaki asing itu masih asyik menciumku. Sebenarnya, hatiku menolak untuk melakukan ciuman ini. Lebih-lebih, lelaki itu memeluk sangat erat. Tangannya begitu keras. Tubuh tak kuat untuk menepis. Serasa rantai besi terlilit pada sekujur tubuh. Aku berontak dengan itu. Badan telah kukibas agar terlepas dari pelukan lelaki asing itu. Seperti amuk macan yang terperangkap dalam jaring pemburu. Ah. Emoh. Lepaskan aku, gumamku.

Lelaki itu melepaskan bibir dan tubuhku dengan segera. Ia menghempaskan tubuhnya. Serasa ia mampu mendengarkan suara bisik hati ini. Ia hanya menatap mataku dengan tajam sekan ia mereka-reka batin supaya bisa membaca perasaanku. Kian lama, saat kutatap lelaki asing itu, tubuhnya serasa kabur. Berganti asap putih. Hilang. Aku bingung. Kenapa ia menghilang. Tiba-tiba tubuhku tersorong oleh kekuatan dahsyat. Kuterpental ke belakang. Aku terjerembap pada sebuah danau.

Danau? itu bukan danau yang seperti pada umumnya. Danau itu berair darah kehitam-hitaman. Tak amis dan tak anyir. Harum. Sepertinya, air danau ini serupa dengan air mata yang meleleh pada si lelaki asing itu. Tapi—

Belum sempat aku berpikir lebih lama, tubuhku terseret ke pusaran darah menjadi bulan-bulanan gelombang itu. Hingga akhirnya tubuhku tenggelam di pusaran danau itu. Lubang hidung dan mulutku penuh dengan darah. Nafas pun megap-megap.

Ya tuhan…

Kuterbangun dari tidur. Sadar. Aduh. Aku telah bermimpi yang bukan-bukan. Lega dan puas, rasanya. Serasa kepompong telah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik nan bisa terbang bebas. Mimpi seram telah menjelungkap.

Tubuh bersandar ke dipan, sebagai langkah stimulus perasaan agar lebih tenang sembari kumenelan ludah sedikit. Membasahi tenggorakan yang kering. Bibirku janggal. Terasa tertempel sesuatu. Mungkin bekas ciuman bibir lelaki itu. Aku raba, ternyata ada lendir, air liur. Mungkin air liurku saat tidur. Tidak. Aku tak pernah ngiler. Mungkin ini liur lelaki asing yang bertemu dalam mimpi.

Kuraba lagi bibirku. Bengkak. Mustahil. Pasti gara-gara lelaki itu. Mungkin momok. Lalu aku mengulum sendiri bibir bawah seraya menggoyangkan lidah membasahi permukaan bibir bawah. Ada ganjil yang tercecap. Lalu aku mengusapnya, ternyata ada sisa-sisa darah yang menempel. Merah yang kehitam-hitaman. Semisal darah yang meleleh dari sepasang mata lelaki asing itu. []

memorat - Memorat

Ilustrasi Historead

 

 

 

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi