Menapaktilasi Jejak Leluhur

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Menulis kembali legenda Duta Taruna

Konon mangkatnya sang raja membuat kosong tahta kerajaan Negara Daha, salah satu kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Majapahit,  terletak di Kalimantan Selatan. Sebelum mangkat, Maharaja Sukarama telah berwasiat bahwa penggantinya kelak adalah Pangeran Samudera, sang cucu. Putra mahkota masih terlalu muda untuk dinobatkan sebagai pengganti. Untuk mengisi kekosongan tersebut, para petinggi kerajaan sepakat mengangkat Pangeran tumenggung, paman dari Pangeran  Samudera, menjadi penguasa sementara sambil menunggu sang pewaris tahta cukup umur dan layak untuk memerintah kerajaan.

Seiring waktu, ambisi kekuasaan ternyata menguasai sang paman. Ia ingin menjadi raja seutuhnya, bukan hanya pengisi kekosongan tahta semata sesuai dengan kesepakatan para petinggi kerajaan. Melenyapkan sang keponakan adalah satu-satunya jalan. Pangeran Samudera harus dibunuh!. Rencana pun dijalankan. Ia mulai merekrut para petinggi kerajaan yang bersedia mengabdi kepadanya.

Rencana sudah disusun dengan matang. Waktu pembunuhan terhadap putra mahkota sudah ditentukan. Dan pembunuh bayaran sudah disiapkan. Namun seperti kata pepatah “dinding pun mempunyai telinga,” rencana rahasia dan ambisius tersebut bocor kepada tujuh panglima  kerajaan yang masih setia pada raja lama. Para panglima ini mengadakan rapat rahasia guna menyelamatkan sang pewaris tahta yang sah.

Kebetulan, ketujuh panglima tersebut bukan hanya ahli dalam ilmu kanuragan, tapi juga ahli dalam kesenian dan karawitan yang mereka pelajari dari pulau Jawa. Pada malam pembunuhan, Wayang, tari topeng dan berbagai kesenian lain digelar guna mengalihkan perhatian. Dengan keahlian masing-masing, ketujuh panglima berhasil melarikan pangeran Samudera dari kerajaan. Di kemudian hari Pangeran Samudera berhasil merebut kembali tahta kerajaan Dipa dengan bantuan dari kerajaan Demak.

Baca juga:  Catatan Kaki dari Amuntai

2 1 - Menapaktilasi Jejak Leluhur

Legenda Datu Taruna

Setelah aksi penyelamatan sang Pangeran, ketujuh panglima kemudian berpencar ke segala penjuru daerah di Kalimantan Selatan. Ada yang menetap di tepian sungai Barito, juga ada yang ke Hulu Sungai. Salah satu dari panglima tersebut kemudian diketahui bergelar Datu Taruna. Ia melarikan diri dan menetap di suatu hutan  di daerah Hulu Sungai Tengah.

Sebagai seorang mantan tokoh kerajaan, tentu Datu Taruna memiliki kharisma tersendiri. Orang-orang berdatangan ke hutan tersebut, mulai membangun rumah dan membuka lahan persawahan disekitar tempat tinggal sang Datu. Datu Taruna adalah orang yang ramah dan sering dikunjungi oleh para sahabatnya. Sang Datu juga senang mengadakan jamuan. Hutan menjadi ramai dan lambat laun menjadi sebuah desa. Tempat tersebut  kemudian diberi nama Desa Taruna. Sekarang desa tersebut bernama Barikin, salah satu desa di Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Sebagian yang berkunjung ke rumah Datu tak hanya sekadar bertamu, namun juga meminta pertolongan. Datu Taruna hampir tak pernah enggan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. Kepiawaiannya dalam ilmu kanuragan sangat bermanfaat. Ia sering menyelamatkan penduduk dari aksi perampokan, begal dan melawan kekuasaan yang sering meresahkan masyarakat desa.

Suatu ketika ia diminta  seorang sahabat untuk membantu menanggulangi aksi perampokan yang  membuat resah warga Birayang, Hulu Sungai Tengah. Sebelum berangkat, ia menanam sebatang bunga. Ia berpesan kepada isteri di rumah, jika bunga itu tumbuh layu dan keris jatuh dari sandungnya maka berarti ia mengalami musibah berdarah, ia tak berhasil menumpas perampok tersebut. Jika itu yang terjadi ujar Datu, maka isterinya wajib membuang seperangkat gamelan emas milik mereka ke dalam sumur.

Baca juga:  Sendang Kapit Tambang

Datu Taruna ternyata sukses memberantas gerombolan perampok di Birayang. Ia secepatnya pulang kerumah. Dalam perjalanan, ia terjatuh dari kuda. Giginya patah, mulutnya berdarah. Di rumah, isteri Datu diliputi khawatir. Kekhawatiran memuncak kala sang isteri melihat bunga yang ditanam di depan rumah layu dan keris jatuh dari sandung.

Ia langsung melaksanakan petuah suaminya, membuang harta benda mereka ke sumur. Sang isteri yakin Datu Taruna telah gugur di tangan para perampok. Ia percaya para perampok akan datang dan berani menyatroni rumahnya dan merampas semua harta benda. Setelah melaksanakan perintah Datu, sang  Isteri pun moksa.

Namun dugaan itu ternyata salah. Datu Taruna pulang dengan selamat. Alangkah terkejutnya sang Datu saat ia tiba di rumah. Rumahnya kosong. Isteri dan seluruh harta bendanya tak ada lagi. Ia pun berkeliling kampung mencari sang isteri.  Hingga sampai di sebuah sumur, ia berhenti.

Datu melihat air sumur itu bergelombang. Dari gelombang air, Datu mengetahui seluruh harta bendanya telah dibuang ke sumur dan sang isteri telah moksa. Menyadari hal itu, sang Datu berujar bahwa jamuan yang sering dilaksanakannya jangan sampai ditinggalkan. Ia juga berujar tentang  harta benda yang ada di sumur tak akan pernah ditemukan oleh keturunannya kelak,  kecuali anak cucunya memakai tapih kalaras (sarung dari daun pisang kering) karena saking miskinnya.

1 1 - Menapaktilasi Jejak Leluhur

Mengharumi Tahun dan Menyelamatkan Kampung

Melalui Ritual adat Babunga Tahun Manyanggar Banua yang artinya Mengharumi Tahun dan Menyelematkan Kampung, petuah sang Datu sampai sekarang tetap dilaksanakan. Kebiasaan Datu yang senang menjamu tamu, peristiwa berkelilingnya  Datu ke seluruh kampung  mencari sang isteri, serta tiba di sebuah sumur sampai sekarang dinapaktilasi oleh juriatnya atau keturunan Datu Taruna di desa Barikin.

Baca juga:  Ibnu Hadjar dalam Sejarah Indonesia

Babunga Tahun Manyanggar Banua dilaksanakan sampai berhari-hari. Berbagai acara seni tradisi digelar. Dari pementasan wayang, tari topeng, main kuntaw (salah satu jenis bela diri tradisionall) bahkan  anak-anak yang piawai menabuh gamelan ditampilkan. Kadang bergiliran, kadang serentak di berbagai tempat di desa.

Selepas acara usai, beras, gula, kelapa dan berbagai sumbangan dari seluruh keluarga dibagikan kepada keluarga yang ikut bekerja dalam pelaksanaan upacara. Jika sedikit, barang yang dibagikan sedikit. Jika banyak, barang yang dibagikan pun banyak. Tak ada keluarga yang tertinggal mendapat bagian. Baik itu para penari, penabuh gamelan atau keluarga yang ikut membantu mendirikan panggung atau balai.

Upacara Babunga Tahun Manyanggar Banua tidak hanya mengajarkan pentingnya kebersamaan, tapi juga mempererat hubungan kekeluargaan meski terbilang jarak. Upacara yang digelar akan selalu menguatkan ikatan emosi antara keturunan Datu Taruna dan warga yang lain.

Seperti halnya upacara adat lainnya, permasalahan dana yang cukup besar menjadi kendala utama. Dalam upacara adat di desa Barikin itu harus melibatkan seluruh garis keturunan Datu taruna yang tersebar di berbagai daerah. arena itulah upacara seperti ini mulai jarang dilaksanakan.[]

3 - Menapaktilasi Jejak Leluhur

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi