Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

dari varian pengamen jalanan Jakarta

Jika naik angkutan umum, angkot atau bus, di Jakarta seringkali kita bertemu dengan sosok ini. Mereka adalah pengamen. Lazimnya, mereka membuka konser di atas roda empat  yang penuh penonton—dipaksa untuk nonton dan mendengar—dengan prolog: “Mungkin kehadiran kami mengganggu bapak ibu sekalian. Kami di sini hanya menghibur.” Lantas, setelah gonjrang-gonjreng dan sebelum meminta jatah buang suara, mereka mengakhiri dengan kalimat penutup: “Mungkin bapak ibu di sini ada yang kelebihan rezeki.”

Tentu varian rasa pengamen ini berbeda-beda. Tak adil jika semua disamarasa-samaratakan. Seringkali saya memperhatikan pengamen-pengamen itu, saat saya sedang naik bus kota di Jakarta.

Pertama, pengamen modal suara dan keahlian bermain alat musik. Pengamen jenis ini selalu saya apresiasi dengan memberikannya uang receh. Penumpang lain juga pasti memberikan uangnya dengan ikhlas. Pengamen jenis ini pandai bermain gitar dan suaranya renyah. Tak jarang, lagunya pun internasional, meski kadang-kadang liriknya salah. Atau kalau menyikan lagu musisi Indonesia, biasanya nyanyi lagu Iwan Fals, Franky Sahilatua, atau Ebiet G Ade.

Kalau keroyokan, masing-masing pegang satu alat musik, seperti gitar, biola, dan harmonika. Pengamen varian ini sadar betul suara dan kemampuannya bermusik bisa dijual.  Jika nasibnya mujur, pengamen jenis ini bisa diboyong produser dan menjadi artis. Misalnya saja Iwan Fals, Slank, almarhum Gombloh, atau pengamen cilik Tegar Septian.

Baca juga:  Berhadap-hadapan dengan Iblis

Kedua, pengamen minus suara dan kemampuan bermain musik. Biasanya varian rasa pengamen yang satu ini cuma modal tampang alias muka tembok. Bisa ditebak, alat musik yang dibawa adalah gitar kecil yang putus satu-dua senarnya, kecrekan, gelas plastik bekas dan biji-bijian. Soal suara jangan ditanya. Hancur. Liriknya sering salah.

Pengamen jenis ini juga pasti menyematkan prolog dan penutup. Lalu, menyudahi, sebelum lagu benar-benar habis. Tak jarang, meminta uang dengan memaksa. Kalau tidak dikasih, tetap saja tangan atau topinya ditaruh di depan kita, dengan mata membelalak.

Ketiga, pengamen tanpa modal dan alumni hotel prodeo. Mungkin pengamen yang satu ini adalah perusak profesi pengamen jenis pertama tadi. Biasanya, usianya pemuda tanggung. Pakaiannya seadanya yang ada di lemari kamar. Tak jarang, memperlihatkan gambar-gambar tatto di tubuh.

Ada pula yang berlagak ala punk. Meski sebenarnya secara harfiah mereka jauh dari nilai-nilai atau filosofi punk. Suaranya nyeret-nyeret. Mulutnya kadang bau anggur merah. Dan, dapat dipastikan, prolognya sebelum mengamen seperti ini, “Kami di sini hanya untuk mencari sekadar makan, daripada kami mencopet atau menodong lebih baik kami menghibur bapak ibu.”

Baca juga:  Bumi Manusia

Lantas, memberikan penutup,”Daripada kami nodong atau nyopet, harta kalian tak membuat kalian miskin hanya sekadar seribu dua ribu perak.” Nyanyi sekenanya, modalnya biasanya tepuk tangan.

Kalau jenis hotel prodeo, biasanya memberikan prolog tambahan berupa,“Saya baru keluar dari Cipinang. Daripada saya masuk lagi, lebih baik saya di sini menghibur.” Mau tak mau harus didengar. Penumpang yang memberi uang bukan lantaran ia terhibur oleh suara dan keahlian musik, tapi karena takut.

Saya tak akan membahas pengamen varian pertama. Sebab, sudah terbukti mereka menjual suara dan keahlian bermusik yang tak semua orang bisa. Yang saya soroti adalah pengamen varian dua dan tiga.

Pengamen varian dua dan tiga kadang membuat dada sesak dan telinga sakit. Jika tak diberi, biasanya melontarkan aneka maki. “Anj*ng! bla bla bla. Padahal nyanyi lagu Kangen Band sampai kelar saja sudah bagus. Varian dua dan tiga ini biasanya yang banyak ditemukan. Datang minimal dua orang setiap angkot atau bus ngetem, ia ikut gelantungan di pintu. Setiap tangannya menjulur meminta uang, jantung terasa berdebar dan bulu kuduk meronta.

Saya melihat televisi. Gaya mengamen di Eropa sangat jauh berbeda dengan pengamen jenis kedua dan ketiga tadi. Di Eropa, pengamen tampil elegan dan berdandan. Mereka membawa alat musik, seperti terompet, mandolin, atau gitar. Lalu, meletakkan boks alat musiknya, sebagai apresiasi orang yang hendak memberikan receh.

Baca juga:  Solidaritas Kemanusiaan

Mereka pun tak perlu naik angkot atau Kopaja. Cukup diam di trotoar atau taman, lalu melancarkan aksinya. Sebab, di sana pejalan kaki lebih banyak daripada penumpang angkot atau Kopaja. Ya jelas, karena tak ada Kopaja di Paris.

Terakhir, saya mau berhitung. Misalkan, di dalam angkot ada 6 penumpang dewasa. Satu penumpang memberikan Rp 2.000. Dalam sehari, pengamen itu misalkan naik 10 angkot. Berarti mereka sudah mendapatkan pendapatan bersih Rp 120.000. Jika konsisten terus dilakukan selama sebulan penuh. Artinya, mereka mengantongi Rp 3.600.000. Lumayan kan? Dibandingin kita yang lulus S1 diupah UMR. Kalau penghasilannya segitu, masihkan ngeluh hidup ini berat? Mungkin gitarnya yang berat 10 ton.

Saya mau berpikir absurd saja. Saya membayangkan, seandainya pengamen itu seseksi Aura Kasih, bertutur sopan dan wangi, serta suara merdu diiringi musik yang klop, tentu saja saya betah dan tak mau turun meski sudah ditujuan. Suaranya, alunan musiknya, semerbak harum tubuhnya. Eh, basah…[]

mengalamijakarta - Mengalami Jakarta

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi