Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Permasalahan Klasik

Saya mengakui bahwa teologi penciptaaan sudah sangat lama dibicarakan di Indonesia bahkan terkesan “kuno”. Namun saya mengingat petuah begawan teologi pendidikan agama Kristen, Andar Ismail, yang mengatakan,”Sering kita terjebak dalam anggapan bahwa suatu pemikiran yang baru tentang pendidikan pastilah paut (relevant) dibandingkan dengan pemikiran dari berabad-abad sebelumnya yang dianggap usang.” Walau Andar Ismail berbicara mengenai pendidikan, namun intinya adalah pemikiran termasuk dalam hal ini teologi. Berbekal petuah ini saya mau menyegarkan ulang teologi penciptaan yang menurut keyakinan saya masih paut untuk menjalankan praksis kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Persoalan pokok yang acap mencuat dalam kemajemukan agama di Indonesia ialah hubungan yang diwarnai dengan persaingan dan perusakan yang berakar secara historis. Pada zaman kolonial sudah terjadi persaingan antar-agama pada tingkat pusat kegiatan misioner dari agama masing-masing yang ada di Nusantara. Corak persaingan lebih ditandai oleh persaingan antara lembaga-lembaga, khususnya yang berpautan dengan persaingan yang bersifat doktriner. Semangat persaingan ini masih diwarisi oleh banyak orang hingga kini.

Permasalahan dalam hubungan antarumat beragama di Indonesia juga diwarnai dengan dikotomi mayoritas dan minoritas. Di kalangan mayoritas timbul perasaan tidak puas, karena merasa terdesak posisi dan perannya. Dalam pada itu kalangan minoritas timbul ketakutan, karena merasa terancam keberadaan dan hak-hak asasinya. Masalah klasik yang penting yang tidak pernah kunjung usai ialah cara penyebaran agama. Konflik dan ketegangan antarumat beragama dapat disimak dalam dua matra (dimension). Pertama, kalangan masing-masing terjebak pada peningkatan kuantitas pemeluknya. Kedua, persoalan sosio-ekonomi yang berkonotasi Islam adalah kemiskinan dan Kristen adalah kemakmuran. Cerapan (perception) seperti ini perlu dijernihkan agar umat beragama bersama-sama bahu-membahu menuntaskan ketimpangan sosio-ekonomi sebagai masalah bersama.

Persoalan lain yang kerap muncul ialah gagasan negara Islam dari kelompok Islam fundamentalis. Pada pihak lain gaya triumfalistik dari kalangan Kristen fundamentalis memacu ketegangan antara umat Kristen dan Islam.

Agama semestinya memersatukan dan mendamaikan umat manusia dan bukannya malah memecahbelah mereka. Kebangkitan beragama haruslah bernasabah positif dengan kebangkitan etika. Namun yang terjadi sebaliknya. Itu terjadi karena kebangkitan beragama berkecenderungan fundamentalistik.

Menghapus Prasangka

Istilah prasangka berbeda dengan prapaham. Menurut begawan teologi Emanuel Gerrit Singgih prapaham merupakan pengertian pendahuluan yang diperoleh seseorang dari apa dan siapa yang berada di luar orang itu. Hal ini lumrah terjadi pada setiap orang. Jadi sifatnya subjektif. Yang subjektif mesti dipautkan dengan dengan yang objektif. Dengan demikian orang dapat memahami hal yang sebenarnya pada objek tersebut. Prasangka merupakan pengertian pendahuluan yang langsung dijadikan pengertian atau pemahaman, yang akhirnya menjadi subjektif.

Proses pertemuan antara yang subjektif dan objektif tidak jarang menyakitkan. Keterbukaan membuat sebagian orang menjadi dewasa dan mandiri. Akan tetapi dapat juga terjadi sebaliknya, yang membuat orang kehilangan kepastian, pegangan, dan akhirnya ketakutan. Acap prasangka telah menjadi suatu kepastian dan patokan bahwa yang diyakini orang itu sudah benar, sedang yang lain salah.

Satu dari banyak wujud prasangka dalam rangka menyadari adanya orang beragama lain ialah cerapan bahwa agamaku lebih baik dan benar daripada agama orang lain. Bagi orang Kristen keselamatan dalam Kristus adalah unik, yang dengan sendirinya agama Kristen adalah unik. Kerap orang berpendapat bahwa agama adalah absolut adanya. Pendapat ini mengakibatkan orang merendahkan agama orang lain.

Acap orang Kristen membuat atau mencetak tulisan negatif tentang agama lain demi memerkuat anggapan agamanyalah yang paling benar. Jangankan dengan agama lain, dengan denominasi lain tidak jarang orang Kristen sendiri menelanjangi ajaran gereja lain dengan berkata,”Ini lho ajaran-mu, yang ternyata tidak ada apa-apanya!” dan selalu dengan dalih “Alkitab berkata demikian!”. Jarang orang Kristen mau mendengar langsung agama lain dari penganutnya. Lebih sableng-nya lagi ada yang beranggapan bahwa membuka kebejatan agama lain merupakan bagian misi Kristen.

Baca juga:  Kewarganegaraan 

Kegairahan orang Kristen dalam menjalankan misi mestilah menghapus prasangka dengan memperhatikan norma etika. Dengan demikian orang dapat membuka hati dan akalbudi untuk menerima kenyataan bahwa ada agama lain di luar agama Kristen.

Memahami tidak mesti kita meyakini ajaran agama lain sebagaimana penganut agama tersebut meyakininya. Namun hal ini mengharuskan kita mencoba untuk memahami umat Islam, misalnya mengapa mereka melakukan shalat lima kali sehari, berpuasa, naik haji, dan lain sebagainya. Gambaran ini memang belum sepenuhnya mencakup berbagai pokok penting dalam berbagai ajaran agama-agama lain. Namun demikian setidaknya orang Kristen terhindar dari pandangan picik mengenai ajaran agama lain, yang sangat bolehjadi akan mengimbas pada pelecehan agama. Melecehkan agama lain dapat memancing konflik fisik yang akan meruntuhkan tatanan masyarakat.

Perikemanusiaan dan Kepedulian Sosial

Menurut Singgih yang dimaksud dengan perikemanusiaan ialah hal-hal yang mewujudkan kemaujudan (existense) manusia atau dengan kata lain segala anasir yang menyebabkan kita menamakan diri kita manusia. Pengertian ini terkesan aneh. Kenyataannya pada pihak lain timbul masalah apakah kesadaran bahwa kita adalah manusia juga menjadikan kita mau mengakui bahwa orang lain adalah manusia juga. Dalam sejarah dunia betapa sukarnya manusia untuk mengakui bahwa mereka yang lain daripada mereka merupakan sesama manusia; yang berwarna kulit lain, berambut dan bermata lain, berideologi lain, beragama lain, dan lain sebagainya.

Perikemanusiaan berpautan dengan persoalan bagaimana manusia mengakui kemanusiaan orang lain juga. Dari sana ia bertolak untuk meng-gumuli permasalahan bersama manusia dan aspirasi bersama manusia. Agama semestinya mempersatukan umat manusia dan bukan malah memecahbelah.

Kepedulian sosial berpautan dengan permasalahan sosial yang dihadapi bersama oleh umat beragama, seperti kemiskinan yang parah dan penderitaan yang diakibatkannya. Selain itu ada juga penderitaan oleh karena keterasingan manusia yang disebabkan oleh tekanan dari struktur masyarakat modern yang memperlakukan manusia sebagai mesin produksi.

Untuk mengejawantahkan kedua pengertian itu tidak cukup sekadar mengumpulkan umat beragama untuk bekerja bakti. Ada hal yang lebih hakiki, yaitu umat beragama diajak untuk hidup berdampingan secara damai dalam rangka meningkatkan mutu kehidupan secara serbacakup baik rohani maupun jasmani. Namun demikian orang merasa tidak puas apabila tidak dilegitimasi secara teologis.

Halangan terbesar upaya teologis ialah cerapan bahwa suatu agama dalam segi ajaran pasti bertentangan dengan agama lain. Dalam pada itu ada yang menganggap semua agama sama saja. Jalan tengah yang bijaksana ialah memula dari cerapan bahwa banyak hal yang tidak sama dalam agama-agama, tetapi juga ada hal-hal yang sama yang dapat dijadikan kalimatun sawa. Kenyataannya agama masing-masing masih terlampau menonjolkan kekhasannya. Hal-hal universal dapat digali dari Alkitab untuk menjadi dasar teologis bagi kehidupan kristiani untuk mewujudkan kedamaian dalam berkehidupan di lingkungan kemajemukan agama. Memerlihatkan hal yang universal bukan berarti orang Kristen harus meninggalkan hal yang partikular.

penciptaan - Menyegarkan Ulang Teologi Penciptaan bagi Praksis Kerukunan Antarumat Beragama

Manusia dan Sesama Ciptaan Allah

Penciptaan langit dan bumi serta seluruh isinya, termasuk manusia yang berkembang menjadi bangsa-bangsa, menunjukkan suatu nasabah (relationship) antara Allah dan dunia bangsa-bangsa. Oleh Alkitab ia ditempatkan sebagai latar belakang sejarah bangsa Israel, sejak pemilihan Abraham, peristiwa pembebasan bangsa Israel, dan seterusnya sampai kedatangan Kristus dan pemenuhan langit dan bumi yang baru (Wahyu 21). Abraham dipilih agar ia menjadi berkat bagi bangsa-bangsa; partikularisme untuk universalisme.

Penyelamatan Allah bagi manusia bukan hanya untuk memulihkan hubungan manusia dan Allah, tetapi juga dengan sesama ciptaan-Nya. Karya penebusan Allah sekaligus menghasilkan hubungan baru bagi seluruh ciptaan dan mengakibatkan pemunculan ciptaan baru. Pengalaman penebusan ternyata berpautan dengan pengalaman penciptaan. Hal ini semestinya membebaskan kita dari karantina agama seperti yang ditulis oleh Choan-Seng Song dalam Christian Mission in Reconstruction: An Asian Analysis.

Kejadian 1:1 – 2:4a yang ditulis pada masa pembuangan bangsa Israel ke Babel merupakan produk penalaran religius bangsa Israel yang kreatif. Kekuatan spiritual Israel terkikis habis sampai ke dasarnya. Namun melalui pengalaman traumatis ini bangsa Israel mampu belajar memahami matra (dimension) lain dari iman yang selama ini diwarisinya, yaitu mengenai hubungan Allah dan dunia. Mereka melihat keselamatan dari Allah itu bukan hanya untuk bangsa Israel, tetapi juga untuk semua bangsa.

Baca juga:  Memberontak dengan Lelucon

Misi penciptaan mengungkapkan iman yang melampaui batas-batas ras, bangsa, kebudayaan, dan bahkan agama-agama. Allah Pencipta sekaligus Penebus tidak dapat dibelenggu ke dalam suatu golongan agama dan dogma. Itulah sebabnya C.S. Song mengecam misi Gereja Barat pada masa lalu yang memerkenalkan Allah dengan warna Barat.

Kebudayaan secara keseluruhan tidak lain adalah penyataan daya kreativitas Allah yang diterjemahkan ke dalam bentuk peristiwa aktual. Para penulis kisah penciptaan memberikan gambaran yang agung tentang kuasa penciptaan Allah dalam dinamika kultural, yaitu dengan memberi bentuk, ketertiban, dan kehidupan.

Makna hakiki setiap sejarah berasal dari Allah Pencipta. Untuk itu evaluasi atas sejarah mesti berdasarkan atas matra penciptaan ilahi. Manusia mesti menjadi pembuat peradaban dan sejarah.

Dalam seluruh Alkitab Perjanjian Baru titik pusat pada Kristus tidak eksklusif bagi bangsa-bangsa Israel saja, tetapi sudah diberi makna universal. Injil Matius, yang sering dianggap paling partikular ketimbang Injil-injil lainnya, ternyata universal sifatnya. Di dalam narasi Matius terdapat Khotbah di Bukit yang ditujukan baik kepada para murid maupun siapa saja yang mau mendengarkan dan isinya berpautan dengan bagaimana manusia yang satu berhubungan dengan manusia yang lain (Matius 5 – 7) seperti yang dikatakan oleh begawan teologi Singgih.

Dalam Yohanes 1:1-18 Firman yang nuzul menjadi Manusia tidak dapat dilihat sebagai tindakan Allah yang semata-mata berhubungan dengan pembaruan inidividu dan satu kelompok bangsa, tetapi juga dilihat secara universal sebagai tindakan pemulihan sesama ciptaan. Dengan demikian Kristus ada di dalam sejarah setiap bangsa termasuk bangsa Indonesia.

Tugas orang Kristen juga menjawab apakah suatu struktur kekuasaan manusia panggah (consistent) dengan struktur dan dinamika kekuasaan Allah. Sikap pasif orang Kristen di Indonesia terhadap pemerintah sangat disayangkan. Ada yang berdalih dengan dasar Roma 13. Padahal yang dimaksudkan Paulus ialah kebenaran yang menjadi dasar dari semua pertanyaan mengenai penguasa negara dan ketaatan sebagai warga negara. Orang Kirsten tidak boleh berpangkutangan ketika kekuasaan sering diselewengkan. Kekuasaan cenderung korup tanpa pengawasan. Kita dituntut aktif dalam penentuan hari depan bangsa. Orang Kristen dapat menjadi komunitas religius dinamis yang dapat mewadahi dan mendukung kepada semua orang, apapun agamanya, yang berjuang demi struktur politik yang lebih adil.

Kisah penciptaan dapat dijadikan pangkal tolak pemahaman teologis tentang karya penyelamatan Allah. Teologi penciptaan diharapkan mampu menggerakkan Gereja bersama-sama dengan umat beragama lainnya untuk menyelamatkan bumi Indonesia agar kehidupan sosio-ekonomi, keadilan, demokrasi, dan lain sebagainya tetap berkelanjutan. Teologi penciptaan mesti dilakukan secara nyata dalam usaha rekonsiliasi dan kebersamaan dengan umat beragama lainnya. Umat beragama mesti bekerjasama untuk saling menghargai sambil meninggalkan hubungan dikotomis, yang bermusuhan satu dengan lainnya, karena semua pemeluk agama di Indonesia dihadapkan per-soalan yang sama, yaitu kehidupan damai secara serbacakup.

Praksis Teologi Penciptaan

Teologi penciptaan dalam paradigma pelayanan dapat dipahami sebagai keterlibatan orang Kristen atau Gereja dalam misi Allah untuk memelihara dan melestarikan seluruh ciptaan bagi kepentingan umat manusia. Teologi ini mengandung pembaruan dalam banyak bidang kehidupan seperti budaya, sosial politik, dan juga ekologi.

Di Indonesia masalah lingkungan hidup muncul bersamaan dengan proses pembangunan yang industrialistis. Pemasukan zat-zat berbahaya ke dalam tanah membuat banyak akibat buruk bagi kesehatan manusia, produktivitas pertanian, dan ekosistem alami. Makin besar populasi, makin besar kebutuhan akan produksi pangan, ruang hidup, penyingkiran limbah, komunikasi, dan lain sebagainya. Kemakmuran menentukan jumlah bahan yang diperlukan untuk memertahankan baku mutu kehidupan, sehingga makin tinggi aras kemakmuran, makin banyak kebutuhan mengeksploitasi sumberdaya alam. Hal ini pada gilirannya menyebabkan banyak pencemaran.

Baca juga:  Isabelle Eberhardt

Di balik semua masalah lingkungan hidup terdapat kepentingan-kepentingan ekonomis sekelompok orang. Hal itu acap berbenturan dengan kepentingan etis-ekologis. Masalahnya menjadi rumit, karena permasalahan itu tidak hanya berpautan dengan kepentingan ekonomi dan etis-ekologis, tetapi juga politis. Kepentingan sekelompok orang itu kerap bersembunyi di balik berhala pembangunan nasional.

Teologi penciptaan merupakan perwujudan dari universalitas misi Kristen untuk membangun dan membaharui dunia. Orang Kristen di Indonesia terpanggil bukan untuk membentuk suatu komunitas agama eksklusif yang tidak peduli terhadap lingkungan hidup termasuk sesama manusia di dalam-nya. Sikap Kritis umat Kristen dapat dikembangkan bersama-sama golongan agama lainnya untuk berani menyampaikan kritik kenabian ketika melihat praktik industrialisasi mengancam kelestarian lingkungan hidup.

Umat Kristen mesti memandang sejarah berdasarkan atas matra penciptaan, sehingga suatu bangsa tidak lagi dinilai hanya dari satu titik pandang sejarah Israel dan Gereja. Umat Kristen mesti turut aktif bersama-sama dengan umat beragama lainnya untuk setia pada negara persatuan Indonesia sehingga ikut menentukan sejarah bangsa ini.

Dengan teologi penciptaan umat Kristen semestinya menghargai dan mengembangkan kebudayaan tradisional dengan nilai-nilai yang ada di dalamnya serta bentuk-bentuk yang mengekspresikan pergumulan kemanusiaan. Umat Kristen tak jarang mengambil sikap ekstrem terhadap budaya pribumi, karena warisan misionaris Barat. Budaya pribumi telah tercemari dosa. Padahal tidak ada namanya budaya Kristen. Yang ada ialah budaya lokal yang diwarnai dengan terang Kristus.

Teologi penciptaan dapat menciptakan umat Kristen hidup di tengah-tengah masyarakat. Umat Kristen mesti berpihak pada orang miskin dan perlu belajar berdialog kehidupan dengan umat beragama lainnya. Agama-agama harus semakin terlibat dalam pengembangan manusia sebagai keutuhan ciptaan Allah dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian.

Pergumulan Bersama

Tekanan pengajaran yang berat sebelah mengenai penebusan dosa sebagai pemulihan hubungan Allah dan manusia perlu diimbangi dengan pemahaman penebusan yang tidak terlepas dari penciptaan. Orang Kristen yang meyakini sudah diselamatkan mesti menjadi pejuang keserasian keutuhan ciptaan. Dengan demikian ia mampu merekonsiliasi sesama ciptaan dalam keterikatan dan solidaritas, yang tidak lagi bermental triumfalistik.

Pengajaran agama tidak boleh hanya menekankan kehidupan ritual seperti misalnya membuat orang makin khusuk berdoa. Pengajaran agama mesti mempunyai nilai praksis. Orang Kristen harus mampu keluar untuk menerobos kebekuan dogmatisme dan ritualisme untuk bersama-sama umat beragama lainnya menjawab tantangan yang ada. Tantangan itu sangat nyata saat ini adalah pandemi Covid19. Ini tidak boleh dijadikan partikular, tetapi harus bersatu dijadikan pergumulan bersama, karena dampak sampingan pandemi ini sungguh mengerikan: ekonomi masyarakat ambruk tak berdaya.

Umat Islam merupakan kelompok terbesar di negeri ini. Tantangan-tantangan yang disebutkan di atas sangat besar dan rumit. Penanggulangan tantangan sangat besar dan rumit itu sudah sepatutnya melibatkan juga kelompok terbesar. Sikap saling bergantung dan saling mendukung merupakan syarat mutlak. Kerjasama yang serasi ini juga merupakan prakondisi untuk hidup berdampingan dan bersalingtindak (interaction) secara damai tanpa perlu saling meng-kafir-kan.

Mengutip CEO FC Bayern Karl-Heinz Rummenigge, dalam situasi sangat sulit ini waktu yang sangat tepat bahu yang kuat menopang bahu yang lemah. Setiap unsur masyarakat mengambil bagiannya dalam menopang bahu yang lemah tanpa perlu melihat latar belakangnya. Sesama ciptaan harus di atas keyakinan beragama.[]

penciptaandua - Menyegarkan Ulang Teologi Penciptaan bagi Praksis Kerukunan Antarumat Beragama

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi