Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah refleksi

Ada hubungan apa antara Jalaluddin Rumi dengan tanggal 30 September? Di tanggal itulah seorang sufi besar, yakni Jalaluddin Rumi lahir ke dunia. Sayangnya, hiruk pikuk isu G30S yang sudah agenda rutin di Indonesia setiap masuk bulan September, menenggelamkan berbagai sambutan atas hari kelahiran Rumi. Seharusnya, hari tersebut bisa diisi dengan berbagai kegiatan di kalangan para pengaji, pengkajinya dan pencintanya.

Padahal, sosok Rumi sebagai tokoh pemikiran Tasawuf sangat populer di seluruh dunia. Bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan diadaptasi ke berbagai medium lain, seperti surat cinta, penelitian hingga meme.

Di kalangan mahasiswa satu jurusan saya, nama Rumi begitu populer karena berbagai pemikirannya yang begitu indah selalu menggoda untuk dijadikan bahan kajian dan banyak skripsi. Dengan mengambil tema cinta dari pemikiran sosok manusia yang lahir di Balkh, Pakistan, banyak teman saya berhasil lulus dari almamater.

Sayangnya, setiap tanggal 30 September tidak terlihat sama sekali geliat kegiatan atau diskusi untuk memperingati hari lahir tokoh penting dalam skripsi mereka. Padahal sudah seharusnya mereka mengadakan berbagai acara untuk mendalami pemikirannya sekaligus memperingati hari lahirnya Rumi, atau minimal bacakan al-fatihah buat Rumi.

Mungkin hal tersebut bagi sebagian orang terlihat sepele, namun sebagai bagian dari penghormatan kepada Rumi sudah sepantasnya mereka melakukannya. Di sisi lain, saya pernah mendengar cerita dari sepupu saya yang sedang menyelesaikan tugas akhir, bahwa dia selalu “mengirimkan” surah al-fatihah setiap kali menjumpai sosok dalam tugasnya tersebut. Tak sekedar membaca surah pembuka Alquran, dia juga menyempatkan ziarah ke makam mereka. Dia melakukannya sebagai ucapan terima kasih dan penghormatan kepada pada sosok-sosok tersebut.

Baca juga:  Maulana Jalaluddin Rumi

***

Jika kita membaca esai Iqbal Aji Driyono pada 22 September kemarin, berjudul “Hari Ketika Ucapan Duka Tinggal Di-“Copas” Saja” maka kita akan mendapati gambaran kehidupan sosial kita yang dangkal. Kita tidak ada lagi merasakan rasa emosional dalam setiap tindakan kita, itulah sebagian pesan yang terselip dalam esai Iqbal kemarin.

Berikut sedikit kutipan dalam tulisan tersebut, “Mungkin kita tak akan lagi menangis. Tak akan lagi terpekik kaget mendengar satu-dua kabar duka. Dan kalimat “Innalillahi wainna ilaihi rojiun, turut berduka sedalam-dalamnya” yang kita sampaikan di kolom komentar Facebook atau di grup Whatsapp pun sudah kita sediakan template-nya. Tinggal pencet copy, pencet paste, simpel, dengan segenap kehambarannya.” Bukankah kondisi ini tidak asing dalam keseharian kita?

Namun, kehidupan digital kita sebenarnya tidak sesuram sebagaimana digambarkan Iqbal di atas. Masih ada beberapa cerita dalam kehidupan sehari-hari kita yang masih dapat mengisahkan tentang adaptasi dengan kehidupan sosial yang humanis. Seperti, beberapa hari yang lalu, seorang teman bercerita kepada saya tentang seorang ulama yang setiap kali mengangkat telepon dari gurunya, beliau duduk bersimpuh terlebih dahulu sebagai tanda ta’zim kepada gurunya.

Baca juga:  Losing a Job in the time of Corona

Aneka teknologi di dunia maya memang menghadirkan berbagai kemudahan. Tentu, kondisi tersebut sedikit banyak mengubah model hubungan sosial atau Interaksi sosial sesama manusia. Namun, tubuh digital yang diwakili akun-akun itu dapat dilihat sebagai bagian lain dari diri kita. Sebagaimana dijelaskan oleh Sherry Turkel, bahwa teknologi digital telah menjadikan kita memiliki tubuh digital yang memiliki dunianya sendiri. Sesekali dia bagian dari kehidupan nyata kita, namun juga dia juga kadang terlepas dari kita.

Benarkah kita memiliki kemerdekaan dalam mengatur tubuh digital tersebut? Andai pertanyaan ini kita sodorkan pada Tristan Harris, mantan pegawai Google, yang menjadi sosok utama dalam dalam film “The Social Dilemma” , kemungkinan jawabannya adalah tidak.

Bahkan Tristan malah akan menambahkan bahwa kita sebagai manusia, entah merasa atau tidak, malah akan terseret atau dipengaruhi banyak oleh model kehidupan di dunia maya tersebut. Namun, jika kita berkaca pada cerita sepupu saya atau ulama di atas maka masih ada harapan bahwa kita masih beradaptasi dengan model interaksi sosial yang mendukung nilai-nilai humanis.

***

Kembali ke soal Rumi dan tanggal 30 September, memperingati hari lahir seorang sufi besar seperti Rumi tidak boleh berhenti hanya pada pemasangan atau mengunggah meme, apalagi dengan menuliskan kata al-fatihah pada kolom komentar. Pemikiran Rumi yang begitu indah yang telah mempesona banyak orang itu harus terus diselami lebih dalam biar kita terus mendapatkan hikmah-hikmah dari sana.

Baca juga:  Di Negeri Ini, Kaum Buta Dikalahkan Dua Kali

Berbagai kajian atau diskusi tentu pilihan paling dekat yang bisa kita pilih untuk mendalami pemikiran Rumi, sebagai bagian memperingati kelahiran sosok besar dalam ilmu tasawuf itu. Sebagaimana sebuah kalimat indah yang disampaikan oleh Nashruddin Itr, ulama Hadist yang baru saja meninggal dunia, “Wirid paling baik seorang penuntut ilmu ialah menelaah ilmu itu sendiri”.

Jika kita hubungkan dengan keriuhan persoalan G 30 S yang selalu mengemuka setiap bulan September, maka menelaah kejadian paling banyak memakan korban tersebut adalah pilihan terbaik. Namun, kita harus memulainya penelaahan dengan mengesampingkan dulu berbagai stigma dan imaji yang telah melekat lama atau memeriksa apa yang selama ini telah kita percayai sebagai fakta, itulah inti dari sebuah penelaahan ilmu.

Akhinya, pilihan untuk berkhidmat pada nilai dan hubungan yang lebih humanis adalah pilihan yang masih tersedia bagi kita semua. Jika kita terus menerus mengabaikan kesadaran kemanusiaan dalam penggunaan media sosial, maka bukan tidak mungkin hoaks terus beredar, ilmu semakin tenggelam dan relasi kita dangkal sebagaimana yang digambarkan di atas atau kita alami sendiri. []

coverrumi - Merayakan Rumi di Bulan September

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi