Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

DUA puluh tahun setelah Peristiwa Rengasdengklok, Soekarno melukiskan peristiwa itu dengan hidup, lewat gaya teatrikalnya yang khas. Suatu perutusan pemuda menunggunya di beranda. “Sekarang, Bung. Sekarang, malam ini juga (15 Agustus 1945),” perintah Chairul Saleh. “Mari kita kobarkan revolusi besar-besaran malam ini. Kita punya pasukan Peta, pemuda, Barisan Pelopor, bahkan tentara pembantu Heiho. Semuanya siap. Dengan satu isyarat Bung Karno, Jakarta akan menjadi lautan api. Beribu-ribu pasukan bersenjata sudah siap sedia mengepung kota dan menjalankan revolusi bersenjata yang sukses serta mengalahkan seluruh tentara Jepang.” mobil presiden

Anak buah Bung Karno sendiri berusaha memaksanya bertindak, menggunakan kesempatan atas menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Bung Karno memang mampu membuat para pemuda meninggalkan rumahnya. Namun beberapa jam kemudian, pada 16 Agustus dini hari (sekitar pukul 03.00), mereka datang kembali, dan kali ini dengan strategi revolusi yang lain.

Pemuda bernama Sukarni membawa sebilah pisau panjang dan pistol. Dia mencabut dan menghardik, “Berpakaianlah Bung… Sudah tiba saatnya.” …”Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat aman.”

Soekarno, seorang politisi kawakan, kali ini memutuskan untuk mengalah kepada para pemuda. “Aku mengenakan seragamku. Aku tampak menggelikan. Pakaian itu terlalu kecil, dan tak guna menerangkan, bahwa rencana mereka tidak dipikirkan secara masak. Mereka berlagak dan berpikir seperti petualang jagoan. Kukira, seandainya mereka berhenti berpikir sejenak tentang apa yang sesungguhnya terjadi, mungkin mereka mati ketakutan dan sama sekali tidak akan pernah bertempur untuh tanah airnya. Bagaimanapun juga, aku mengenakan seragam itu menutupi piyamaku.”

Sekitar pukul 04.00 pada 16 Agustus 1945, Soekarno beserta keluarga dan Hatta meninggalkan rumah mereka di Jakarta, menuju Rengasdengklok dengan dua mobil dan dikawal pemuda berseragam. Para pemuda perlu dua mobil untuk melaksanakan misi penculikan revolusionernya. Mereka, para penculik itu, adalah para bapak-perintis penjemput dan pengantar hari ini, yang mobil-mobilnya menyesaki jalanan Jakarta.

Meskipun para pemuda menguasai dua mobil, halaman-halaman selanjutnya dari otobiografi Bung Karno, Soekarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams mendedahkan kepada kita perihal kondisi yang harus dihadapi para bapak perintis muda itu untuk memperoleh mobil pada 1945. Pada 18 Agustus, dua hari pasca Peristiwa Rengasdengklok dan sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno terpilih menjadi presiden pertama.

Para pengikut Bung Karno menganggap sudah seharusnya seorang ‘Presiden’ mempunyai kendaraan, karena itu mereka ‘mengusahakannya’. Sudiro tahu ada sebuah Buick yang muat tujuh penumpang dan ini adalah ‘yang terbesar dan tercantik di Jakarta, serta memiliki tirai di jendela belakang’.

Sayangnya, limusin kepresidenan ini ternyata milik Kepala Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) berkebangsaan Jepang. Akan tetapi, soal kecil begini tidaklah membikin pusing Sudiro. Tanpa diketahui Bung Karno, dia pergi berburu mobil itu dan mendapati kendaraan itu berada dalam sebuah garasi.

Kebetulan Sudiro mengenal pengemudinya dan menyampaikan kepada orang itu, “Heh, saya minta kunci mobilmu.” “Kenapa?” tanya anak muda itu kaget. “Kenapa?” Sudiro mengulangi kembali, kaget karena kebodohan anak muda itu. “Karena saya hendak mencurinya untuk presiden kita.” “Oh, begitu, baiklah,” patriot itu meringis, dengan riang gembira keluar dari tempat duduknya di belakang kemudi dan menyerahkan kunci.

“Cepat,” perintah Sudiro, “pulang segera ke kampungmu di Jawa Tengah sebelum ada yang tahu kejadian ini. Dan bersembunyilah baik-baik, karena sekali sudah ketahuan berbahaya bagimu berkeliaran di sini.”

Sudiro sudah punya kunci dan limusin indah, hitam, besar, yang muat tujuh penumpang, pakai tirai di jendela belakang–tapi dia tidak bisa menyetir. Jarang di antara orang Indonesia yang bisa di masa itu. Orang Indonesia tak punya mobil selama zaman Belanda dan hanya para pejabat boleh menggunakannya di zaman Jepang.

Dengan demikian, Indonesia meraih kemerdekaan setelah mampu menggunakan mobil secara bebas dan melaksanakan penculikan politik. Sepeninggal Soekarno dan Hatta, di Jakarta terjadi perdebatan penuh emosi ketima Nishijima berusaha mendesak Wikana untuk  mengungkapkan tempat persembunyian dua pemimpin itu. Jika Wikana bersedia, Nishijima dan Admiral Maeda berjanji membantu sepenuhnya deklarasi kemerdekaan Indonesia.

Akhirnya, Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta larut malam itu juga. Teks proklamasi disusun dengan tergesa-gesa di rumah Maeda, dan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pagi berikutnya, pada 17 Agustus 1945, pukul 10.00. []

mobilpresiden - Mobil Presiden

Mohamad “Zuk” Marzuki

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi