Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Belajar dari Banyuwangi

“Bahwa dalam rangka mendorong tumbuhnya semangat ikut serta memiliki daerah dengan segala kebudayaannya yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pembangunan di bidang kepariwisataan,maka perlu adanya upaya meningkatkan promosi pariwisata di kabupaten Banyuwangi.”

Demikian salah satu bunyi pasal konsideran A pertimbangan dalam Surat
Keputusan (SK) Bupati Banyuwangi Samsul Hadi bernomor 173 tertanggal 31 Desember 2002. Terlepas pada pendapat pro dan kontra yang ada, SK Bupati tersebut nampaknya merupakan salah satu tonggak penting peran negara dalam menjaga keberlangsungan seni budaya yang berkembang di daerah Banyuwangi, Jawa Timur tersebut.

Sejatinya SK Bupati tersebut tentang pembakuan maskot pariwisata dan
pembangunan patung penari seni tradisi (Gandrung Banyuwangi) di salah satu
sudut terstrategis di kota Banyuwangi. Bupati Banyuwangi dengan didukung
Dewan Kesenian Blambangan (Banyuwangi) beranggapan pendirian patung
Gandrung setinggi 18 meter dengan dana 2,5 milyar rupiah itu penting bagi
eksistensi seni budaya dan identitas Banyuwangi di tengah arus globalisasi.

Kalangan budayawan dari Dewan Kesenian Blambangan, yang merupakan salah
satu institusi penting dalam penentuan kebijakan kebudayaan di Banyuwangi,
berpendapat bahwa SK yang menandai gerakan Jenggirat Tangi di Banyuwangi
itu nantinya tidak hanya potensial menumbuhkan ekonomi wisata tetapi juga
bagian penting dari pelestarian seni budaya Banyuwangi. Ibarat pepatah,
pemerintah Banyuwangi, ingin sekali mendayung, 3 atau 4 pulau terlampaui.

Para pengampu kepentingan di Banyuwangi pada kebijakan tersebut nampaknya
berharap; disatu sisi keberlangsungan seni terjaga, disisi lain keuntungan ekonomi
pariwisata tidak hanya didapat oleh pemerintah, tetapijuga akan mampu
meningkatkan taraf ekonomi para pelaku seni budaya Banyuwangi. “Biarkan para
seniman itu berkarya, berkarya, berkarya dan memberikan kebaikannya pada
masyarakat,” ungkap salah satu budayawan Banyuwangi.

Dari kacamata politik, kebijakan kebudayaan Jenggirat Tangi yang digagas
Bupati Samsul Hadi (2000-20005) dianggap sebagai euforia pasca reformasi yang
terayakan lewat UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dimana
segala bentuk klaim lokalitas, etnis, bahasa dan sebagainya dirayakan secara berlebihan. Mungkin pendapat itu tidak 100 % salah, namun lacakan sejarah
menunjukkan dialektika seni budaya dan identitas Banyuwangi telah berlangsung
sejak lama. Pada tahun 1992, pemerintah kabupaten Banyuwangi dan Propinsi
Jawa Timur membangun Desa Wisata Using sebagai pusat seni budaya lokal
Banyuwangi. Dari dua desa yang dinominasikan, akhirnya terpilih Desa Kemiren
yang terletak di kaki gunung Ijen yang memiliki nuansa alam sejuk dan berjarak
tempuh singkat dari ibukota Banyuwangi sebagai Desa Wisata Using.

Meski akhirnya, dalam praktik Desa Wisata Using Kemiren, terkesan
membendamatikan dan memuseumkan seni budaya a la Taman Mini Indonesia
Indah; dimana bentuk-bentuk bangunan, ritual, seni, dan budaya material Using di
atur lewat peraturan daerah untuk terjaga keutuhan dan keasliannya. Alih-alih
ditolak dengan keras, pembangunan Desa Wisata Using tidak hanya didukung
oleh suku Using yang merupakan mayoritas penduduk Banyuwangi tetapi juga
oleh penduduk Jawa yang berada di Selatan Banyuwangi, Madura yang ada di
Utara dan pantai-pantai Banyuwangi, Bali, Mandar, Arab dan sebagainya yang
banyak tersebar di seluruh Banyuwangi.

Baca juga:  Sejarah Kubah

Kebijakan kebudayaan Jenggirat Tangi tidak hanya pemaskotan gandrung sebagai
ikon pariwisata dan pembuatan patung gandrung, secara bersamaan pula di
barengi penerbitan kebijakan-kebijakan lokal Banyuwangi dalam bentuk SK atau
sejenis peraturan daerah di Banyuwangi. Beberapa diantaranya adalah SK Jejer
Gandrung, salah satu seni hasil pengembangan dari seni pertunjukan tradisi
Gandrung, sebagai tari wajib penyambutan tamu-tamu di hotel, tempat wisata atau
dijadikan tarian selamat datang pada acara-acara resmi di kabupaten Banyuwangi.
Tidak hanya, tari yang juga dikenal sebagai gandrung sanggar ini juga wajib
diajarkan di sekolah-sekolah dan sanggar-sanggar tari.

Tari Jejer gandrung adalah versi pendek tari tradisi gandrung, dimana dalam tari
ini sisi pertunjukannya yang ditekankan. Hingga jika dibandingkan dengan tari
Gandrung tradisi yang berdurasi 8-9 jam, tari Jejer gandrung hanya berdurasi 5-10
menit. Sangat Singkat. Lebih-lebih para pelaku tari Jejer Gandrung juga tidak
diwajibkan untuk mempunyai kemampuan menyanyi, jelas berbeda sekali dengan
tari gandrung tradisi. SK Gandrung tari ini nampaknya memang membidik tujuan
ekonomi selain juga memperkenalkan untuk menumbuhkan kecintaan tari
gandrung tradisi lewat jejer gandrung.

Selain jejer gandrung, pemerintah Banyuwangi juga mengadakan sekolah
gandrung sebagai sarana pengkaderan generasi muda seni pertunjukan tradisi
gandrung. Dasar pemikiran sekolah gandrung ini adalah semakin menipisnya
minat generasi putri Banyuwangi untuk menjadi penari gandrung, dari tahun ke
tahun para penari gandrung senior mengeluhkan semakin kurangnya pentas dan
sulitnya mencari generasi penerus di grup gandrung mereka. Kenyataan seperti ini
dirasakan sejak awal tahun 1990an, yang berbarengan dengan regulasi siaran
televisi swasta. Hubungan sebab akibat yang paralel atas isu ini memang belumlah
terbukti.

Namun hal ikhwal yang harus segera diatas dalam adanya sekolah gandrung
adalah tidak hanya mencari generasi baru penari gandrung, tetapi juga mereka
yang memang menguasai teknik menari a la sekolahan, tidak yang hanya berbakat
alam . Dalam rangka kesuksesan sekolah gandrung, pihak departemen pariwisata
Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan, budayawan dan elemen terkait
bersatupadu mengabarkan pentingnya menjaga keberlangsungan seni gandrung
sebagai budaya adilihung mereka.

Tak pelak para gandrung tradisi yang telah pensiun maupun senior yang ahli
dalam syair-syair klasik gandrung, cengkok gandrung, goyang gandrung terlibat
dalam sekolah ini. Para gandrung yang mempunyai ketramilan terbaik berhak
menjadi tentor sekolah gandrung yang berlangsung tiga bulan setiap tahunyna.
Sekolah gandrung ini sempat berjalan lancar pada tahun 2003 dan 2004, dan pada
tahun selanjutnta kosong. Pada tahun 2009 ini, penyelenggaraan sekolah gandrung
terkendala oleh belum cairnya dana dari pemerintah daerah Kabupaten
Banyuwangi. Praktik sejak digagas tahun 2003 hingga sekarang sekolah gandrung
Banyuwangi telah melahirkan 63 alumni dan 4 diantaranya menjadi gandrung
baru yang populer di Banywangi masa kini.

Baca juga:  Egrang dan Sebuah Revolusi Harapan di Ledokombo

Pada masa sekolah gandrung, pemerintah daerah tidak hanya menyiapkan tentor
tetapi juga menyiapkan segala keperluan sekolah gandrung dan kebutuhan
siswanya. Para siswa diberi seragam gandrung yang kelak bisa dimanfaat pula
ketika pentas di panggung profesional, diajarak etika, merek juga diajarkan
teknik-teknik menari dan menyanyi gandrung, selain juga bagaiamana mengelola
sebuah kelompok pertunjukan. Tidak ketinggalan dengan yang menyangga
pembangunan software budaya, melalui SK Bupati Banyuwangi pula lagu
“Umbul-umbul Blambangan” yang merupakan lagu pop berbahasa daerah (Using
Banyuwangi) ciptaan Andang Chatif Yusuf dijadikan lagu semangat pembangunan
di Banyuwangi.

Di ranah bahasa daerah, Banyuwangi yang konon penduduk asli penghuni asli
adalah orang-orang sisa Majapahi yang menyingkir karena Islamisasi Demak,
Mataram dan serang dari kerajaan Bali, mengidentifikasi dirinya sebagai orang
Using. Using secara etimologi Banyuwangi berarti “yang tidak“, merujuk
identitas bukan Jawa Mataraman ataupun Bali. Para birokrat, intelektual dan
budayawan Banyuwangi dalam politik Jenggirat Tanggi, mencoba mengkrabkan
kembali bahasa Using dalam bahasa sehari-hari Banyuwangi, salah satunya adalah
melalui kurikulum muatan lokal bahasa Using.

Ide pengunaan bahasa Using sebagai bahasa daerah Banyuwangi sendiri telah ada
sejak tahun 1990, yaitu sejak adanya makalah Kemungkinan Bahasa Using
Sebagai Muatan Lokal dalam Kurikulum SD, SLTP, SLTA di Banyuwangi .
Perdebatan pun semakin bergulir dari satu seminar ke seminar, dari satu
workshop ke workshop namun tidak membuahkan hasil hingga Samsul Hadi,
seorang bupati sipil keturunan Using menjadi bupati pada tahun 2000. Bahkan Suparman Herusantoso dalam disertasinya di Universitas Indonesia mengatakan
bahasa Using adalah bahasa daerah kecil atau dialek bahasa Jawa karena dalam
sejarahnya tidak ada karya sastra atau kodikologi yang lahir dalam bahasa Using.
Pernyataan hampir senada juga diungkap oleh Prof. Dr. Saripan Sadi Hutomo.

Pernyataan para pakar dan kelompok penentang nampaknya semakin mendorong
penggagas Bahasa Using untuk menertbitkan karya sastra dan tulisan dalam
bahasa Using. Para tokohnya adalah Hasan Ali yang membikin kamus Using dan
Hasan Singodimayan yang menulis dalam bahasa Using, yang masing-masing
sebetulnya berdarah Pakistan dan Jawa. Tak pelak hingga saat ini tidak lagi sulit
diketemukan karya sastra dan majalah yang tertulis dalam bahasa Using. Hal ini
didorong oleh prakarsa pegiat Dewan Kesenian Blambangan. Pada masa
pemerintahan Bupati Samsul Hadi pada hari jadi Banyuwangi diwajibkan setiap
pegawai pemda berbahasa Using sebagai bahasa pengantar dan ditetapkan pula
pekan bahasa Using. Dalam peran negara dalam keberlangsungan bahasa Using,
melalui SK pemerintah kabupaten Banyuwangi membidani lahirnya muatan lokal
bahasa Using di sekolah, majalah bahasa Using dan kamus bahasa Using.

Dalam paket Jenggirat Tanggi ini pula, pemerintah batik produksi lokal atau khas
daerah Banyuwangi yang terancam punah pun kembali digali dan diwajibkan
untuk dikenakan oleh para pegawai dijajaran pemerintahan daerah kabupaten
Banyuwangi. Batik yang dikenal dengan motif Gajah Oling kenakan satu pekan
dalam setiap tahunnya.

Baca juga:  Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia

Di ranah masyarakat sendiri, penggalangan dana demi keberlangsungan seni
budaya khususnya Gandrung berlangsung secara alamaih dalam tradisi komunitas
pemaju dan kalangan. Komunitas ini adalah komunitas penonton seni gandrung
yang dikelola oleh kalangan mereka sendiri. Biasanya yang menjadi ketua dari
komunitas ini adalah mereka yang mempunyai wibawa dan kekusaaan hingga
berbagai kemungkinan kepentingan bisa dikurangi. Dalam komunitas ini, nalar
bisnis para pemaju dan kalangan dengan semangat melestarikan gandrung bersatu
padu. Komunitas ini tidak hanya menyediakan kepentingan makanan dan
minuman seperti soft drink, bir atau anggur dalam pertunjukan tetapi juga
mengatur jadwal pentas kelompok gandrung yang tergabung dalam komunitas itu.
Hubungan antara mereka disinyalir adalah hubungan simbiosis mutualisme,
hampir mirip dengan arisan untuk mementaskan Jaipong dalam masyarakat
pecinta Jaipong di pantai utara Jawa Barat.

Fasilitas pendokumentasian dan penggandaan seni musik daerah Banyuwangi
yang dipelopori oleh Bupati Djoko Supaat Slamet nampaknya membuahkan hasil
luar biasa hingga hari ini. Jika pada awalnya para seniman dan stasiun radio
berkumpul untuk dihimbau sebisanya menciptakan dan menyiarkan lagu-lagu
dalam bahasa Using untuk kelestarian budaya maka kini usaha itu tidak perlu.
Bahkan anda jangan heran ada ungkapan bahwa Banyuwangi adalah tempat
matinya musik pop a la Jakarta. Dari satu desa ke desa, dari satu bus ke bus, dari
satu radio ke radio, dari satu jalan ke jalan yang terdengar adalah musik pop lokal berbahasa daerah Using Banyuwangi. Nama-nama penyanyi lokal begitu terkenal
dan wajib mengisi hajatan di Banyuwangi, mereka berpentas dipadu dengan
Gandrung atau seni lainnya. Data yang kami temukan, peredaran kaset lagu Using
ini tidak hanya beredar di Banyuwangi tetapi juga Jember, Situbondo,
Bondowoso, Probolinggo hingga Jakarta dan Surabaya. Hasil penjualan album
daerah ini sendiri mencapai ratusan juta.

Lepas dari segala bentuk kontroversi dan pergulatan kekuasaan yang ada salah
pelajaran menarik adalah Banyuwangi memberi pelajaran filantropi baru seni
budaya oleh negara, dimana akses keberlangsungan seni dibuka selebar-lebarnya
dengan fasilitas cukup dan dukungan nyata tidak hanya dari negara, intelektual,
budayawan tetapi juga dari pelaku seni.

Membaca pergulatan Banyuwangi dalam menjaga keberlangsungan seni budaya
dan identitasnya sebenarnya seperti membaca Indonesia, dimana ketika kekuasaan
beralih ke kekuasaan yang lain, selalu ada usaha menghapus jejak simbolik
kekusaan sebelumnya, meski belum tentu yang diupayakan dihapus tersebut
membawa mudharat pada rakyatnya. Namun masyarakat pula pada akhirnya yang
memutuskan, hingga seperti saat ini seni budaya Banyuwangi telah menjadi tuan
rumah di daerah mereka sendiri.[]

negaradanfilantropiseni - Negara dan Filantropi Budaya

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi