Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Refleksi atas New Normal

Sejarah manusia adalah peristiwa apresiasi ruang. Orang jawa bilang “urip kudu empan papan”, istilah sekarang adaptable atau mampu memposisikan diri di dalam setiap tempat. Posisi yang dimaksud bukan disesuaikan dengan tempat secara fisik, namun lebih kepada fenomena/kebiasaan yang terjadi dalam sebuah tempat. Bayangkan Ketika dirimu berada di ruang kelas, sendiri atau mungkin ditemani oleh beberapa teman, tanpa ada dosen, professor atau rector. Dibandingkan dengan Ketika dirimu berada di ruang kelas yang sama dengan teman-teman juga dan ada dosen, professor atau rektor. Apa bedanya? Meskipun kelas yang dimaksud adalah mengacu pada sebuah tempat yang sama.

Bumi kita adalah ruang, kota kita adalah ruang, rumah kita adalah ruang bahkan forum diskusi ini adalah ruang. Ruang adalah entitas yang terbangun di dalam fisik sebuah tempat berupa interaksi, tindakan, peristiwa, lebih jauh segala hal yang terjadi dan dilakukan oleh manusia. Untuk itu tempat dalam hal ini hanya mengacu pada bentuk fisik bumi, kota, rumah dan forum diskusi. Kemudian ruang adalah apa yang terjadi di dalam tempat tersebut. Sehingga dengan demikian sepanjang hayat manusia hanya melakukan penyikapan terhadap ruang.

Nick Hopkins dan John Dixon dalam jurnalnya berjudul “Space, Place, and Identity: Issues for Political Psychology” tidak membedakan secara spesifik antara ruang dan tempat, karena hal tersebut seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Namun terkait ruang, meskipun dalam sebuah tempat yang sama, menurut Hopkins & Dixon (2006) dan juga beberapa peniliti lain, dalam situasi tertentu akan ada perbedaan yang bahkan seperti terpisah antar benua, yaitu antara yang private dan yang public. Ruang private mengacu ruang di mana individu (meskipun bukan berarti tunggal) dapat melakukan apapun tanpa tujuan yang pasti, artinya lebih bersifat “terserah”.

Sedangkan ruang public, seperti yang di afirmasi oleh banyak peneliti (Najih & MInza, 2016; Bernardo & Oliveira, 2012; Hardiman, 2010; Hopkins & Dixon, 2006; Hebermas, 2004; Dixon & Durheim, 2000) adalah ruang pastisipasi politis setiap individu yang membentuk sebuah konsensus Bersama. Partisipasi politis bukan berarti adalah cara untuk memperoleh kekuasaan atau berkaitan dengan partai (seperti yang mungkin terlintas dalam pikiran anda sekalian), tetapi adalah setiap tindakan individu yang memiliki tujuan yang jelas dan terukur. Sehingga Ketika tujuan setiap individu tersebut membentuk sebuah konsensus bersama, maka tujuan tersebut dalam pemenuhannya adalah bersifat public.

Baca juga:  Air Kebahagiaan

Partisipasi politis dalam term yang dibangun dalam ruang public, setelah berpindah tangan ke beberapa peneliti akhirnya berkamunflase menjadi berbagai istilah yang sebenarnya memiliki makna sama seperti halnya yang saya sampaikan di atas. Hegel (Najih & Minza, 2016) menganggapnya sebagai kebutuhan subjektif dan egoistis yang dalam proses pemenuhannya individu-individu harus membangun consensus Bersama untuk menciptakan kebutuhan universal. Sunardi (Hardiman, 2010) menganggapnya sebagai sebuah visi politik intern dan kesadaran manusia sebagai subjek particular yang tidak akan dapat memenuhi visi poilitik intern-nya tanpa adanya subjek/individu lainnya. Untuk itu prinsip resiprokalitas atau pertukaran saling menguntungkan dimungkinkan terjadi (Najih & Minza, 2016).

Meskipun terkesan partikular dan individualistik, namun pertukaran yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dengan membentuk sebuah konsensus tersebut pada dasarnya bersifat sosial dan didasarkan pada identifikasi dirinya dengan berbagai keanggotaan kelompok sosial. Sehingga, identitas sosial dalam hal ini dapat dipahami telah menggabungkan dimensi-dimensi ruang dan tempat tersebut.

Mengacu pada contoh sederhana tentang ruang kelas di awal, yang sedikit menjelaskan kepada kita bahwa interpretasi terhadap ruang tidak bisa terlepas dari identitas sosial seseorang. Hal ini dikarenakan identitas sosial seseorang merupakan kerangka interpretasi itu sendiri, dan melalui kerangka interpretasi tersebut ruang ditransformasikan menjadi tempat-tempat yang bermakna. Sehingga dapat dipahami bahwa ruang yang sama dapat ditafsirkan oleh kelompok yang berbeda dengan cara yang berbeda (Hopkins & Dixon, 2015).

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa semua kelompok tersebut kemudian ditempatkan untuk bertindak berdasarkan pemahaman pribadi. Karena seringkali konstruksi tertentu mendominasi dan sangat efektif dalam membentuk perilaku spasial masyarakat sehingga seseorang menjadi kabur bagaimana cara kerja dari konstruksi dominan tersebut. Seseorang akan mampu menyadari sejauh mana konsepsi tempat tertentu mengendalikan perilaku spasial hanya ketika seseorang dihadapkan pada praktik yang tampak aneh dan tidak pada tempatnya (Hopkins & Dixon, 2015).

Baca juga:  Pandemi Covid -19 dan Kebusukan Sistem Kapitalisme

Lalu apa keterkaitannya dengan New Normal?

New Normal adalah tatanan baru, bahkan kondisi sebelumnya terkait lock down wilayah dan PSBB juga merupakan tatanan baru yang terpaksa terbentuk karena COVID-19. Setiap tempat yang (khususnya) membangun ruang public telah terjangkit oleh virus dan menuntut setiap individu untuk mengendalikan perilaku spasialnya, kemudian mencari dan menemukan publisitas baru dalam ruang yang mampu mengakomodir kebutuhan spasial dan partikular-nya.

Tentunya di awal praktik ini tampak aneh, dan keanehan tersebut seperti halnya dikatakan Hopkins & Dixon (2015) akhirnya benar-benar memberikan kesadaran kepada kita bahwa konsepsi atau konstruksi terkait tempat sangat kuat dalam mengendalikan perilaku spasial.

Kebutuhan particular setiap individu di dunia bahkan hampir dimungkinkan dapat ditarik garis simpul hanya bermuara pada satu hal, yaitu bagaimana terhindar dari virus. Itulah konsensus baru yang pemenuhannya benar-benar harus menuntut adanya publisitas baru. Akhirnya publisitas baru tersebut terwujud dalam sebuah ruang bernama #DiRumahAja dengan segala aktivitas yang menyertai, Work From Home, PSBB, masker, cuci tangan adalah printilan dari itu.

Dari sinilah jarak antar benua terlihat, antara ruang private dan ruang public. Meskipun saat ini perjalanan lintas benua sangat memungkinkan untuk dilipat menggunakan pesawat terbang atau mode transportasi lain, tetapi hampir tidak mungkin untuk menyatukan itu. Realitasnya misal apakah kita bisa menerima orang-orang yang berdesakan di mall, bandara, ataupun tempat ramai lainnya Ketika PSBB masih dijalankan dan virus benar-benar belum bisa ditaklukkan? Tentu tidak, itulah realitas ruang yang membentuk identitas kita sebagai kelompok #DiRumahAja Ketika melihat kelompok lain yang mengganggu stabilitas ruang yang telah kita bangun Bersama.

Namun, peristiwa tersebut adalah juga sebagai bukti bahwa terdapat pemahaman yang berbeda mengenai definisi simbolis terkait ruang dan tempat (Hopkins & Dixon, 2015). Dixon, Levine, dan McAuley (Hopkins & Dixon, 2015) mengeksplorasi bagaimana place identity dibangun dengan mengacu pada evaluasi orang terhadap makna moral dari perilaku sehari-hari dan mempertimbangkan pendapat orang secara umum terkait dengan individu yang tidak memiliki akses di tempat umum. Mereka mengeksplorasi kompleksitas yang dapat ditemukan terkait dengan pertimbangan masyarakat atas makna dari public drinking dan ruang publik.

Baca juga:  Merekam Jejak Kehancuran Ekologi di Tanah Sulawesi

Eksplorasi Dixon dkk. (Hopkins & Dixon, 2015) menyimpulkan bahwa individu bukan hanya penerima pasif dari sebuah representasi sosial yang dianut bersama, namun individu adalah entitas yang secara aktif terlibat dalam pembahasan mengenai dilema ideologis yang lebih luas (Billig, Condor, Edwards, Gane, Middleton, & Radley, 1988 dalam Hopkins & Dixon, 2015) yaitu mengenai keseimbangan antara kebebasan dan kontrol di ruang publik.

[1] Ditulis sebagai bahan diskusi di Simposium “New Normal: Menakar Tatanan Kehidupan Baru dalam Berbagai Perspektif” yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang pada Jum’at, 12 Juni 2020

Sudah terang bahwa pada kurun selanjutnya #DiRumahAja sebagai sebuah konsensus baru juga melahirkan kelompok yang tidak hanya bisa menjadi penerima pasif dari sebuah representasi sosial yang dianut Bersama tersebut. Tetapi mereka juga memiliki alasan bahkan bersifat ideologis dan tidak bisa diganggu gugat. Misal mempercayai bahwa COVID-19 adalah konspirasi sehingga tidak membahayakan, atau kebutuhan ekonomi yang tidak bisa dicukupi jika hanya #DiRumahAja. Bahkan yang terakhir ini selanjutnya spektrumnya meluas, karena banyak terjadi PHK sebab perusahaan melakukan pengetatan anggaran, tidak bisa berproduksi, eskpor impor ditutup. Simple-nya ekonomi mandeg.

Bagaimana selanjutnya? Mari kita jalankan New Normal sebagai konsensus baru dalam ruang publisitas yang sama. Masalah perut dan isi otak adalah kebutuhan subjektif dan egoistis, tapi karena kita sama-sama butuh maka tidak ada salahnya kita penuhi bersama-sama. Selebihnya, kita percayakan komando kepada negara.[]

covernajih - Ruang, Tempat, dan Sebuah Identitas

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi