Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Sepak Bola Indonesia

Saat mendengar Menteri Pemuda Olahraga Imam Nahrawi berniat menyewa Jose Mourinho atau Guus Hiddink untuk melatih tim nasional Indonesia, saya mendadak teringat Bill Shankly, Nil Maizar, dan Indra Sjafrie.

Anfield, 1 September 2013. Sebuah mosaik lelaki membentangkan tangan dan sebuah angka 100 terpampang di tribun The Kop, stadion markas Liverpool Football Club, saat tim berjuluk The Reds itu bertanding melawan Manchester United, 1 September 2013. Ini sebuah selebrasi, dan gol Sturridge yang membawa kemenangan 1-0 merupakan hadiah manis bagi perayaan seabad Bill Shankly.

William ‘Bill’ Shankly, dilahirkan di Glenbuck, Skotlandia, 2 September 1913. Ia meninggal pada 29 September 1981. Ia menjadi manajer Liverpool 15 tahun, pada 1 Desember 1959 hingga 12 Juli 1974. Selama menjadi bos di Anfield, ia memimpin mengomandani 783 laga Si Merah, dan menjuarai tiga gelar liga Inggris, dua gelar Piala FA, dan satu gelar Piala UEFA.

Dibandingkan Bob Paisley, asisten yang menggantikannya, prestasi Shankly sebenarnya kalah mentereng. Dalam jangka waktu 9 tahun, sejak 26 Juli 1974 hingga 1 Juli 1983, Paisley berhasil mendaratkan enam gelar juara liga Inggris, tiga gelar Piala Champions Eropa, tiga gelar Piala Liga, dan satu gelar Piala UEFA.

Namun, sebagaimana spanduk yang terbentang di Anfield, Shankly membawa kebahagiaan semua orang: ‘Shankly 1913-1981 He Made People Happy’. Hanya dia dan Paisley yang disebut-sebut dalam lagu ‘The Field of Anfield Road’, dan ada lagu khusus untuknya berjudul ‘Bill Shankly from Glenbuck.’

Apa yang membuat Shankly begitu dicintai? Mungkin jawabannya ada pada pernyataan Shankly sendiri. Cita-citanya sederhana. Ia mencintai sepakbola, dan ingin mengembalikan kegembiraan bagi orang Liverpool. “I wanted to bring back happiness to the people of Liverpool.”

Dalam suatu kesempatan, Shankly juga berkata: ” Above all, I would like to be remembered as a man who was selfless, who strove and worried so that others could share the glory, and who built up a family of people who could hold their heads up high and say ‘We’re Liverpool’.”

Memang demikian adanya. Orang mengenang Shankly sebagai orang yang membangun sebuah keluarga, dan membangun sebuah kebanggaan menjadi bagian dari tim dan kota bernama Liverpool. Kebanggaan yang bermakna luar biasa, karena Shankly datang saat klub Liverpool terpuruk.

Liverpool terakhir menjuara liga Inggris musim 1946/1947. Artinya, saat Shankly datang, Liverpool puasa gelar 12 tahun. Lebih parah lagi, Liverpool terperosok ke kompetisi kasta kedua alias Divisi II (saat ini setara Divisi Championship).

Selama masa suram itu, Scouser (sebutan untuk orang Liverpool, kira-kira setara dengan sebutan Arek untuk orang Surabaya) menyaksikan klub-klub di luar kota mereka bergantian juara: sang musuh besar Manchester United dan Wolverhampton Wanderers masing-masing menggondol 3 gelar.

Shankly datang dengan kedisplinan yang dingin dan keras. Ia tak peduli dengan ‘rerasan’ orang yang memandangnya sebelah mata, karena sebelumnya hanya melatih klub kecil seperti Carlisle, Grimsby, Workington, dan Huddersfield. Ia memodernisasi Liverpool dan memotivasi anak-anak asuhnya dengan kata-kata tajam.

Shankly ingin membangun Liverpool yang tak tersentuh. “Saya tak percaya dengan cara berlatih dua kali sehari. Kami berlatih keras dengan pantas,” katanya.

Shankly tidak menoleransi kegagalan. Menang atau tidak sama sekali. Berada di posisi kedua bukanlah opsi. Ia membuat orang mencintai sepakbola dan Liverpool melampaui imajinasi. Salah satu kata-katanya yang terkenal adalah: “Football isn’t a matter of life and death – its much more important than that!” Sepakbola lebih penting daripada urusan hidup mati.

Baca juga:  Sadumuk Bathuk. Sanyari Bumi. Ditohi Pati

Shankly merasa Liverpool seperti ditakdirkan untuknya. Maka, ia menjalankan klub ini dengan polanya sendiri, dan menampik intervensi dari pihak direksi. Menurutnya, ada trinitas suci dalam sepakbola: manajer, pemain, dan suporter. Para direktur di jajaran pengelola klub hanya berfungsi menandatangani cek untuk urusan finansial.

” My idea was to build Liverpool into a bastion of invincibility. Had Napoleon had that idea he would have conquered the bloody world. I wanted Liverpool to be untouchable. My idea was to build Liverpool up and up until eventually everyone would have to submit and give in.”

Dalam diri Nil Maizar dan Indra Sjafrie, saya melihat sosok Bill Shankly di sana. Sebagaimana Shankly sebelum menangani Liverpool, reputasi Nil dan Indra tak begitu mentereng. Nil melatih Semen Padang dan Indra selama menjadi pemain hingga pelatih berada di bawah naungan Persatuan Sepakbola Padang.

Mereka sama-sama bekerja di tengah keterbatasan dan saat tim nasional di berbagai tingkatan sedang terpuruk. Mereka sama-sama disiplin, tak mau diintervensi, dan memperlakukan ‘tak ada bintang’ di sebuah tim.

Mereka hanya ingin membuat banyak orang bangga dan gembira melalui sepakbola seperti yang dilakukan Shankly. “Kami ingin membuat bangsa kami bahagia,” demikian Indra menulis dalam akun media sosialnya.

Nil Maizar menjadi pelatih Indonesia saat federasi tengah koyak. Sejumlah klub Liga Super yang bernaung di bawa Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) melarang pemain memenuhi panggilan tim nasional. Pemain pun ketakutan, dan hanya segelintir yang tetap berjiwa nasionalis memenuhi panggilan negara. Salah satunya Bambang Pamungkas, sang legenda.

Alhasil, Nil Maizar hanya memilih dengan opsi terbatas. Namun itu tak membuatnya kendur dan menjadi bahan untuk mendongkrak semangat anak-anak asuhnya. “Saya selalu katakan pada pemain, bahwa mereka sekarang dalam timnas yang kondisinya tidak normal. Resistensi terlalu besar di dalam maupun di luar lapangan, juga sisi teknis dan nonteknis. Dalam kondisi abnormal seperti itu, hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah membuat pemain saya tetap bersemangat dan bangga membela timnas mereka,” katanya.

Uda Nil, sapaan para suporter kepadanya, agaknya berhasil. Tidak diperhitungkan dalam penyisihan Piala Asia, anak-anak Garuda merepotkan Irak di Timur Tengah. Mereka bermain spartan dan disiplin. Hanya satu gol yang berhasil disarangkan Irak, dan itu pun karena kesalahan pemain belakang yang lengah.

Hasil di Irak ini membuat Nil bangga. “Kami kalah 0-1 di saat orang memperkirakan kami akan jadi ajang pesta gol lawan. Berkesan, karena saya punya pemain yang siap mati bertarung di lapangan,” katanya.

Sederet pemain yang siap mati di lapangan. Loyal kepada bangsa dan negara. Bagi Nil, boleh jadi itu lebih berharga daripada sederet pemain dengan teknik berkualitas namun setengah hati. Militansi yang juga ditunjukkan saat timnas bermain di Piala AFF 2012 di Malaysia.

Mereka memang gagal melaju ke semifinal. Namun para pemain menunjukkan jiwa petarung luar biasa. Mereka menorehkan sejarah, menghancurkan Singapura 1-0 melalui gol spektakuler Andik Vermansyah, setelah selama bertahun-tahun timnas tak bisa melakukannya di Piala AFF.

Baca juga:  Gegeran Mencari Sekolah yang Tetap Menyisakan Ruang Resistensi

Semangat luar biasa ini juga dimiliki pasukan Indra Sjafrie di Tim Nasional U-19. Tak ada yang memperhitungkan tim ini sebelumnya, bahkan PSSI sendiri. Indra menolak keras tradisi pemain titipan tak berkualitas. Ia memilih berkunjung ke berbagai daerah untuk mencari talenta-talenta muda. Ia percaya, dari 250 juta orang di negeri ini, tak sulit mencari sebelas pemain hebat.

Indra berhasil menemukan komposisi pemain timnas itu. Ironisnya, semua bukan berasal dari hasil kompetisi Liga Super Indonesia, kecuali Dimas Drajad yang sempat memperkuat Persegres U-21. Pemain seperti Evan Dimas berasal dari Persebaya (1927) yang tak diakui PSSI, Mukhlis Hadi Ning berasal dari Persekap Pasuruan, Ravi Murdianto dari Perserang Serang, atau Zulfiandi dari PSSB Bireun.

Sejarah mencatat, Indra bahkan nyaris tersingkir dari kursi pelatih Timnas U-19. Badan Tim Nasional semula hendak menggantikan Indra dengan Blanco, pelatih asal Argentina, pada medio April 2013 lalu. Namun, karena Blanco menolak melatih tim yunior, maka Indra kembali dipasang dengan target menjuarai Piala AFF U-19.

Luar biasa. Indra tak hanya memenuhi target itu. Ia juga berhasil membawa Evan Dimas dan kawan-kawan lolos ke putaran final Piala Asia U-19 tahun 2014 di Myanmar. Luar biasa, di pertandingan terakhir, mereka menekuk sang juara bertahan Korea Selatan 3-2.

Bermain dengan pola menyerang 4-3-3, Timnas U-19 menyuguhkan permainan tak kenal lelah selama 90 menit. Bahkan saat final Piala AFF di Sidoarjo, Jawa Timur, mereka membuat Vietnam kepayahan sebelum akhirnya menjadi juara melalui adu penalti.

Mental juara, mental tak manja, dari mana semua berasal? Tidak bisa tidak, pendekatan pelatih pegang peranan. Sebagaimana halnya Shankly, Uda Nil dan Coach Indra adalah ‘master of mind’, jago psikologis. Lihatlah, bagaimana Indra dengan gagah berkata: ‘bilang kepada Korea, kami akan kalahkan mereka’.

Semangat yang menular kepada anak asuhnya. Sang kapten Timnas U-19, Evan Dimas, pun berkata: ‘semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan’.

Bukan kebetulan, baik Nil dan Indra memiliki pendekatan yang sama di ruang ganti: membawa bendera merah putih ke ruang ganti. “Biasanya, sebelum keluar ruang ganti menuju lapangan, semua pemain saya minta pegang bendera, menyatukan tekad dan siap bertarung hingga batas kemampuan, siapapun lawan yang dihadapi,” kata Nil.

“Saat itulah saya menyuntikan kata-kata motivasi, dan juga mengajak mereka mereka merenung beberapa detik beberapa detik, untuk apa dan untuk siapa mereka bertanding. Cara sederhana sebenarnya, tapi saya kira saya sudah bisa mengeksplorasi semangat kebangsaan mereka, karena bendera adalah simbol kenegaraan nomor satu,” jelas Nil.

Paulo Oktavianus Sitanggang, salah satu pemain Timnas U-19 asal Jember United, menceritakan kebiasaan serupa di ruang ganti. “Di kamar ganti sudah seperti tradisi, berdoa sambil pegang bendera merah putih besar. Di depan bendera sepertinya kami semakin termotivasi.”

“Kita tuan rumah. Ini rumah kalian. Kalian jangan kasih mereka bikin malu kalian, jangan mau diinjak-injak di Indonesia. Indonesia tanah kalian,” kata Indra, sebagaimana dikutip Paulo.

“We were a team. We shared the ball, we shared the game, we shared the worries,”

Kendati keras, tiga pelatih ini menyayangi para pemain. “We were a team. We shared the ball, we shared the game, we shared the worries,” kata Shankly. Ya, mereka semua berbagi nyali, berbagi kecintaan terhadap sepakbola, dan berbagi kecemasan.

Baca juga:  Strategi Kebudayaan Ansor

Suatu saat, Tommy Smith, salah satu pemain Liverpool dinominasikan menjadi pemain terbaik Liga Inggris. Shankly meyakini, anak asuhnya itu harus terpilih. “Kalau tidak, sepakbola sebaiknya dihentikan saja dan orang-orang yang memilih pemain lain untuk menjadi pesepakbola tahun ini selayaknya dikirimkan ke Kremlin,” katanya.

Saat pemain timnas diremehkan dan disebut sebagai ‘timnas emprit’ oleh sebagian kalangan, Nil Maizar berada di depan untuk membela. Di berbagai status media jejaring sosial Facebook saat itu muncul kalimat yang dinisbatkan kepada Nil: ‘silakan mencaci-maki saya, namun jangan pernah menghina dan mencaci-maki pemain saya.’

Kesalahan Handi Ramdan dalam memberi umpan, membuat Irak mencetak gol tunggal dalam penyisihan Piala Asia di Dubai. Hamdi saat itu menangis, karena merasa bersalah. Namun Nil tak menyalahkannya usai laga. “Itu biasa dalam sepakbola. Satu blunder tak akan mengikis semangat juang Handi selama 90 menit. Meskipun, melihat bagaimana perjuangan anak-anak, hasil imbang sepertinya lebih adil untuk mereka,” kata Nil.

Indra menjadi ayah bagi para pemainnya yang masih berusia belasan tahun. Ia melindungi mereka dari berbagai gangguan, mulai dari klub Indonesia yang mendadak tergoda untuk merekrut sejumlah pemain hingga godaan ‘infotainment’ dan tawaran jadi bintang iklan. Dalam sebuah tayangan televisi, ia menyindir klub-klub Indonesia yang seharusnya mencetak pemain untuk timnas, dan bukannya justru mengambil pemain dari timnas.

Kesamaan lainnya yang saya sukai dari Shankly, Nil, dan Indra adalah penghargaan terhadap pemain ke-12: suporter yang bernyanyi dan berteriak di stadion. Shankly biasa berselebrasi khas di depan tribun penonton setiap kali Liverpool juara. Dengan memakai syal merah, ia membentangkan tangan.

“Saya hanya satu dari orang-orang yang berdiri di The Kop (tribun belakang gawang di Anfield). Mereka memikirkan apa yang saya pikirkan dan sebaliknya. Ini seperti perkawinan orang yang menyukai satu sama lain,”

“Saya hanya satu dari orang-orang yang berdiri di The Kop (tribun belakang gawang di Anfield). Mereka memikirkan apa yang saya pikirkan dan sebaliknya. Ini seperti perkawinan orang yang menyukai satu sama lain,” kata Shankly.

Indra merasakan pentingnya ikatan antara suporter dan anak-anak asuhnya. Saat Gelora Bung Karno sepi penonton dalam penyisihan Piala Asia, ia menyatakan, itu bisa mempengaruhi penampilan anak-anak asuhnya. Timnas U-19 memiliki semangat berlipat saat bertanding di Sidoarjo dalam Piala AFF U-19. Apresiasi kala itu ditunjukkan Indra dan para pemain Timnas U-19 dengan berkeliling lapangan, mendekati tribun penonton sembari membawa bendera merah putih.

Namun mungkin yang paling fenomenal untuk diingat adalah aksi Nil Maizar di Surabaya usai uji coba melawan Vietnam. Ia mendatangi para suporter di belakang gawang, berdiri tegap, memberikan hormat ala militer kepada mereka, dan kemudian bernyanyi bersama-sama.

“Fire in your belly comes from pride and passion in wearing the red shirt.”

Api di dadamu datang dari rasa bangga dan gairah memakai seragam merah.

Sekali lagi, Shankly benar. []

ode - Ode untuk Shankly, Nil, dan Indra

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi