Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip 1000 Tahun Nusantara

Tempe, selain tahu, sudah dikenal sebagai makanan sehat yang berasal dari kacang kedelai; baik kacang kedelai maupun tahu, sebenarnya sudah lama sekali dikenal oleh Cina. Kacang kedelai sendiri sudah sejak 5.000 tahun lalu dikenal di Cina, sedangkan tahu, di negara yang sama sudah dikenal ratusan bahkan mungkin ribuan tahun.

Orang Eropa baru mengenal kacang kedelai dalam abad ke-19, jadi baru 100-200 tahun lalu. Oleh karena itu, mungkin sekali penyebaran secara luas kacang kedelai di Pulau Jawa -yang kini justru mengimpornya- juga mulai abad ke-19. Dengan demikian, tempe  yang menjadi produk lain dari kacang kedelai, diduga lahir dalam abad ke-19 pula.

Hasil terpenting dari kacang kedelai, yaitu tempe dan tahu, sering disebut oleh ahli nutrisi sebagai “daging dari pertanian”. Soalnya, seperti halnya daging, tempe dan tahu juga kaya protein. Tidak mengherankan bila orang mengatakan, ternpe dan tahu telah menyelamatkan kesehatan penduduk-baik di Cina maupun Jawa yang padat-yang berpenghasilan relatif rendah. Tempe dan tahu, telah menjadi makanan rakyat mulai dari yang miskin sampai kaya.

Cina sejak berabad-abad, bahkan ribuan tahu11, memiliki penduduk yang sangat padat. Kepadatan penduduk ini pula, yang mempengaruhi seni masak Cina. Sejak dulu kepadatan penduduk ini berkompetisi dengan hewan-hewan yang memerlukan ladang-ladang rumput luas bagi hidupnya, terjadilah persaingan ruang antara manusia dan hewan.

Maka, di Cina tidak ada peternakan sapi atau domba yang luas ataupun penggunaannya dalam jumlah besar. Akibatnya, seni masak pun berkisar pada hewan peliharaan rumah, seperti babi, ayam, dan bebek.

Di Jawa, kondisinya tidak jauh berbeda. Pekarangan adalah penunjang ekonomi dan mewarnai apa yang dihasilkan dari dapurnya. Ayam, kambing, sayur-sayuran, pohon kelapa, dan lain-lain merupakan contoh yang paling jelas.

Walaupun begitu, sebenarnya Jawa baru menjadi padat penduduknya dalam abad ke-19. Pada tahun 1814, jumlah penduduk Jawa baru mencapai sekitar 4,5 juta jiwa, sementara sebelumnya jauh lebih tidak padat lagi. Oleh karena itu, ditinjau dari pola menunya, bahan makanan hewani orang Jawa pada tahun 1810-an jauh lebih tinggi dibandingkan menu-menu sesudah masa itu.

Baca juga:  Teologi Asy’ariah di Era Kontemporer

Baru dalam abad ke-19, menu hewani akhirnya berubahmenjadi tempe. Ini akibat kenaikan jumlah penduduk yang amat tinggi pada abad ke-19, sehingga Pulau Jawa menjadi wilayah pertama yang sangat padat di Asia Tenggara. Di sisi lain, meluasnya perkebunan-perkebunan kolonial membuat wilayah hutan menciut.

Meluasnya perkebunan kolonial diikuti tanam paksa dengan petani sebagai kulinya, membuat kesempatan berburu, beternak ataupun memancing, banyak berkurang. Dampaknya, menu makanan orang Jawa yang tanpa daging.

Kondisi semacam itu yang tampaknya memunculkan tempe. Tanam paksa makin membuat bahan makanan seperti tempe menjadi sangat vital sebagai penyelamat kesehatan penduduk.

Tahu sendiri dibawa oleh orang Cina ke Jawa, yang mungkin sudah ada sejak abad ke-17. Tahu makanan khas Cina, sedangkan tempe makanan Jawa.

tempe 300x169 - Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia

Sumbangan

Bisa dikatakan, penemuan tempe merupakan sumbangan Jawa pada seni masak dunia. Sayangnya, seperti halnya banyak penemuan makanan sebelum zaman paten, penemu tempe pun anonim.

Penemuan tempe pada hakikatnya berhubungan erat dengan produksi tahu di Jawa, karena keduanya dibuat dari kacang kedelai. Tidak hanya bahan yang sama, tetapi mungkin juga secara langsung penemuan tempe berkaitan dengan produksi tahu.

Tahu dibuat dari unduk (cream), atau susu dari kacang kedelai yang direndam dalam air selama berjam-jam di bawah suhu tertentu. Sementara tempe dilukiskan dalam Encyclopaedia van Nederlandsch Indie (1922), sebagai “kue”. “Kue” yang terbuat dari kacang kedelai melalui proses peragian dan merupakan makanankerakyatan (volk’s voedsel).

Penemuan tempe ini diduga tanpa sengaja. Artinya, hanya diperoleh secara kebetulan, namun kemudian mendapat respons luas. Penemuan tempe ini mungkin bisa diparalelkan dengan penemuan rokok kretek yang memang ada catatannya.

Cengkih yang memberikan rasa khas pada rokok kretek, merupakan bahan yang bisa mematikan rasa tajam tembakau murni (sedative). Pada pembuatan rokok putih (sigaret) misalnya,diperlukan ekstrak minyak dari cengkih.

Baca juga:  Solidaritas Kemanusiaan

Maka, yang tertinggal pada para petani hanya ampas cengkih. Lalu, ada yang mencoba memakai campuran cengkih dan tembakau ini, sehingga melahirkan rokok kretek.

Pada mulanya, mungkin yang dipakai sebagai campuran rokok kretek hanya ampas cengkih. Namun, dalam perkembangannya kemudian, dipakai cengkih utuh. Bahkan kemudian diketahui, hanya cengkih-cengkih dari jenis tertentu yang dianggap menghasilkan rokok kretek terbaik.

Dahulu cengkih yang paling cocok untuk kretek diimpor dari Zanzibar. Namun, kini sudah diproduksi dalam negeri. Penemu rokok kretek 1ini dikenal dalam 􀈧ejarah dengan nama Nitisemito dari Kudus, yang karena penemuannya menjadi kaya raya pada zaman sebelum Perang Dunia II.

Sayang, di Indonesia hampir tidak ada riset tentang teknik, ilmu, dan bahan makanan, khususnya pada zaman kolonial. Tidak mengherankan, bila penemuan dan inovasi di bidang makanan, sering terjadi tanpa sengaja. Padahal, dampak akibat inovasi itu sendiri banyak yang luar biasa.

Pada tempe, sekarang disadari bahwa makanan sederhana itu bermanfaat sangat besar sebagai sumber protein masyarakat. Namun, sampai sekarang produksi tempe itu masih bersifat industri kerakyatan dan primitif dalam teknologi.

Masih menjadi pemandangan yang biasa, produksi tempe di sepanjang sungai, karena memerlukan banyak air dan laki-laki yang bertugas menginjak-injak kedelai dalam ember-ember. Penggunaan kaki laki-laki ini mengingatkan pada produksi minuman anggur dari buah anggur yang dilakukan melalui teknik yang sama dan juga hanya oleh kaki laki-laki.

Suatu aspek khas tempe yang lain lagi adalah sampai sekarang menu tempe masih terbatas pada orang Jawa. Kalaupun disebutkan tersebar di Indonesia, tempe sebenarnya hanya ada di kalangan transmigran yang berasal dari Jawa. Menu tempe hanya ada dalam menu Jawa.

Tempe tidak ditemukan misalnya dalam dapur Melayu, Minang, Batak, Bugis, Manado, dan lain lain. Tempe-seperti yang disebutkan sejak awal-khas menjadi kontribusi Jawa pada seni masak.

Selera Jawa memang cocok dengan tempe. Pertama, makanan Jawa pada umumnya dimakan dalam kondisi suhu ruangan (room temperature) yang bagi Orang Barat, Cina, dan lain lain akan dikatakan dingin. Masakan hewani dingin pada umumnya kurang enak. Demikian juga tahu, karena rasanya bisa seperti karet.

Baca juga:  Pendidikan Kita Hari Ini

Sementara tempe, dingin atau panas tidak menjadi persoalan. Kini, memang ada sedikit perubahan dengan popularitas tempe, yakni dengan perkembangannya yang pesat di Amerika Serikat dan Eropa. Di wilayah-wilayah itu, tempe justru berkembang di kalangan muda dan kampus universitas sebagai makanan vegetarian ataupun makanan alternatif bagi yang alergi daging. Tempe memang kemudian dikenal sejalan dengan kesadaran akan kelangsingan dan kesehatan tubuh, serta tumbuhnya perasaan sayang pada hewan sebagai “mode” terbaru di Barat.

Kalau tempe waktu itu tidak dikenal baik di Cina, Jepang   maupun Korea -biarpun sudah mengenal kacang kedelai dan memakainya untuk bahan baku tahu selama berabad abad- hal ini terjadi akibat perbedaaan selera dan budaya.

Masakan Cina terbatas pada tahu, sebab tahu dalam berbagai jenis dan mutunya dapat menjadi makanan dengan saus. Saus adalah salah satu aspek sangat penting dalam masakan Cina sebagaimana halnya masakan Perancis. Dengan saus, masakan dari kacang kedelai dapat diangkat menjadi masakan mewah dan lezat.

Sebaliknya, tempe tidak memiliki rasa untuk bisa menjadi lebih mewah atau lezat dengan penggunaan saus. Substansi rasa tempe sebagai “kue kedelai” sudah dominan dan kompak.

Jadi, untuk mempopulerkan tempe lebih besar lagi, tidak hanya perlu pertimbangan selera dan kecocokan budaya, tetapi juga ketersediaan bahan bakunya. Soalnya, dari sudut protein dan kandungan gizi, tempe jauh lebih kaya daripada tahu. Oleh karena itu, perlu sw􀈩sembada kacang k􀈪delai, lebih daripada beras.

Beras relatif murah di pasaran dunia dan pasti akan selalu disediakan oleh pemerintah dengan harga terjangkau karena menjadi kebutuhan pokok rakyat. Maka, untuk meningkatkan kondisi kesehatan rakyat, tempe yang jadi kuncinya.[]

coveronghokham - Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi