Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Mulanya adalah perdagangan. Lalu politik, dan hidup bersama. Orang-orang Suku Hokkian meninggalkan Tiongkok, menyebar. Sebagian menuju Indonesia, dan mendarat di Jember, Jawa Timur. Kondisi perekonomian yang berat memaksa mereka pergi.

Jember tentu bukan tempat spesifik yang mereka sasar dari awal. Jember hanyalah bagian dari sebuah rumah besar Nusantara, dan sulit memastikan kapan orang-orang Hokkian ini menapakkan kaki ke kota ini pertama kali. Akhir abad 18 dan awal 19, Jember yang merupakan distrik dari Kabupaten Puger sudah dihuni mereka. Mereka datang dari daerah Besuki, Panarukan, Pasuruan dan Surabaya. Ada pula yang datang Jawa Tengah dan dari China Daratan langsung.

Tampuk kekuasaan di Puger sempat dipegang oleh seorang China peranakan, Kiai Tumenggung Suro Adiwikrama (1795-1801). Ia digantikan menantunya, Kiai Tumenggung Surio Adiningrat (1802-1813).

Mereka adalah Keluarga Han dari Surabaya, dan memberikan jabatan-jabatan strategis kepada orang-orang Tionghoa. Jabatan-jabatan rendah diberikan kepada warga lokal pribumi. Ini menunjukkan betapa kuatnya posisi mereka secara politis.

Di sektor perdagangan, orang-orang Tionghoa menguasai perdagangan hasil bumi, pertanian, kelontong, menjadi tukang kredit, dan rentenir. Mereka menjadi perantara antara kelompok pribumi yang menjadi produsen hasil perkebunan dengan para eksportir asal Belanda.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerapkan politik segregasi antara warga kulit putih, Tionghoa, dan pribumi di Indonesia. Goenawan Mohamad menulis: penggolongan sosial di Hindia Belanda dasarnya adalah ras, bukan agama atau lainnya.

Sejarawan dari Universitas Jember, Retno Winarni mengatakan, orang-orang Tionghoa masuk dalam kelompok masyarakat Timur Asing (Vremde Osterlingen), yang awalnya terdiri orang Jepang, Tionghoa, Arab, dan lainnya. Mereka berada di tengah-tengah struktur masyarakat masa kolonial, dijepit masyarakat Eropa di atas dan masyarakat inlander atau pribumi di bawah.

Baca juga:  Hak Sipil

Orang-orang Tionghoa memiliki pemukiman sendiri di distrik Jember. Mereka tinggal di daerah yang sekarang dikenal sebagai daerah Pasar Tanjung, sebuah pasar induk di Jember. Setelah Jember menjadi kepatihan yang berdiri sendiri (Kepatihan Selfstandig), pemukiman mereka berada di jalan yang saat ini disebut sebagai Jalan Untung Suropati dan Samanhudi.

“Si inlander harus berada dalam kalangan inlander dan berperilaku inlander, si China harus berada dalam kalangan China dan berperilaku China…Mereka umumnya tinggal di pecinan…Untuk melintasi ghetto mereka, orang Tionghoa harus mendapatkan pas jalan yang dikeluarkan oleh kapten China,” tulis Goenawan.

Memiliki strata sosial lebih tinggi daripada orang-orang inlander, membuat orang Tionghoa menjadi sasaran kebencian warga lokal. Apalagi, pemerintah Hindia Belanda memberikan kepercayaan lebih, salah satunya, pada tahun 1906, dengan memberikan kewenangan kepada sejumlah orang Tionghoa untuk menjalankan pegadaian.

Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya ‘Hoakiau di Indonesia’, membantah, jika keturunan China adalah anak emas Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dan, di Jember, prasangka rasial tak selamanya bisa membuat demarkasi dalam urusan kawin-mawin dan cinta.

Para lelaki China datang ke Jember tanpa didampingi istri mereka. Generasi awal pendatang ini memilih kawin dengan perempuan-perempuan Jawa atau Madura. Anak-anak generasi campuran ini dididik dengan tradisi China dan tradisi ibu mereka. Perkawinan campuran ini berkurang pada akhir abad 19, setelah banyaknya perempuan China yang bermigrasi ke Jawa.

Namun asimilasi kultural ini sudah terjadi. Orang-orang Tionghoa pada akhirnya tak menjalani laku budaya murni dari China daratan, kecuali masih bertahannya tradisi pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

Baca juga:  Sesisir Pisang di Surga

“Berdasarkan penelitian saya pada 2010, mereka tidak canggung berbahasa Madura, makan makanan orang pribumi juga. Dalam hal ritual, misalnya, ketika ada orang China yang meninggal, selain mereka menggunakan tradisi China misalnya tentang pemakaman, mereka juga melakukan selamatan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seperti penduduk setempat, meskipun mereka sudah beragama Katholik,” kata Winarni kepada saya.

Dalam hal pernikahan, orang-orang Tionghoa di Jember melangsungkan ritual berdasarkan adat China, namun menikah secara agama yang dianut sekarang. Mereka melakukan midodareni seperti adat perkawinan Jawa. Saya merasa orang-orang Tionghoa ini berlaku seperti aliran air sungai: bisa melewati bebatuan, kelokan, dari hulu sampai hilir, tapi tak pernah terputus dari mata airnya, dari tradisinya. Mereka agaknya paham, sungai yang terputus dari mata airnya akan mengering.

Mungkin karena itu, kendati ada demarkasi wasangka yang diciptakan pemerintah Belanda, pemerintah Orde Lama, dan Orde Baru, tak pernah ada kerusuhan besar antaretnis di Jember.

Jember disebut daerah Pedalungan, karena dihuni etnis Jawa dan Madura. Namun, etnis China tak merasa menjadi minoritas tertindas di sana. “Ayah saya bisa berbahasa Madura dan Jawa,” kata Andreas Harsono, seorang wartawan Tionghoa asal Jember yang saat ini bekerja di Human Right Watch.

Retno Winarni tak berani mengambil kesimpulan, mengapa di Jember tak pernah ada kerusuhan besar antaretnis. Namun, ia membenarkan, bahwa Jember adalah zona aman bagi warga China. “Justru Jember menjadi tempat pengungsian orang-orang Tionghoa saat terjadi kerusuhan di Kabupaten Situbondo tahun 1967,” katanya.

Salah satu faktor pemicu kerusuhan antaretnis adalah kecemburuan sosial dan ekonomi. Saya menduga, tiadanya kecemburuan itu dikarenakan kultur Jember yang agraris. Daerah selatan Jember dikenal sebagai daerah yang subur, dan ditempati orang-orang Jawa. Tidak ada pergolakan di sana, kecuali masalah tanah yang itu melibatkan rakyat dengan negara.

Baca juga:  Abu Al-Zahrawi

Di daerah utara agak tandus dan lebih miskin. Namun, di daerah ini, komoditas tembakau menjadi andalan, dan warga beretnis Madura hadir sebagai pemeran utama dalam rantai perekonomian. Sementara etnis China di tengah kota mengelola perniagaan.

Berbeda dengan saya, Andreas menilai, peran Nahdlatul Ulama sangat besar menjaga harmoni antaretnis di Jember. Ia punya kenangan tentang pesantren di Talangsari, kawasan pesantren terkenal di Jember. “Saya diajak bapak saya jualan es tebu di sana,” katanya.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Di Talangsari, Andreas terkesan pada sosok KH Achmad Shidiq, ulama besar yang pernah menjadi Rois Am Pengurus Besar NU. “Dia orang baik. Saya kira, dia yang paling punya peran besar untuk menjaga toleransi. Orang NU menjadi mayoritas di Jember, menjadi ‘mas paling gede’ (kakak tertua) yang mengayomi semua,” katanya.

Dan, bagi Kiai Achmad, demikian orang akrab menyapanya, menjaga toleransi adalah bagian dari konsistensi dia merawat Pancasila. Desember 1983, dalam Musyawarah Nasional NU di Situbondo, dia berdiri menegaskan sikap: “NU menerima Pancasila berdasar pandangan syariah, bukan semata-mata berdasar pandangan politik.”

Memang pada akhirnya, di Jember, tak ada ruang bagi kebencian untuk sebuah etnis bernama Tionghoa. Terutama, jika kita masih suka mengudap martabak, tahu, bakso, mie, ronde, atau bakpia. []

bajucapwayang - Orang-Orang Hokkian di Jember

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi