Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Entah siapa yang menanam pohon beringin di tengah desa itu. Entah umur berapa pohon beringin itu, begitu besar dan rimbun, dahan dedaunanya menaungi sebuah musala kecil. Entah siapa yang memulai kebiasaan menabur berbagai bunga dan menaruh makanan, minuman dan rokok di dekat pohon beringin. Yang jelas pohon beringin itu lebih tua dan lebih besar dari musala kecil itu.

Semula aku ingin bertanya pada guru bahasa inggrisku. Aku berpikir guru bahasa inggrisku tahu karena aku pernah melihatnya ikut dalam kegiatan keagamaan di musala tersebut. Namun aku membatalkanya karena guru bahasa inggrisku bukan penduduk dan berdomisili di desa itu.

Kemudian sempat pula aku punya pikiran bertanya pada iwan, teman sekolahku yang memang tinggal di desa itu. Namun aku batalkan, dia toh masih remaja, mana tahu riwayat pohon beringin yang usianya lebih tua dari bapaknya.

Maka begitulah, sejak kecil hingga dikemudian hari aku tidak tahu bagaimana riwayat pohon beringin di desa itu, siapa yang menanamnya, untuk apa menanam pohon beringin dan kapankah pohon beringin itu mati, ambruk berkalang tanah.

-*-

Di antara para guru sekolah, guru bahasa inggrisku dari segi fisik paling beda, paling kurus dan paling tinggi. Rambutnya hitam, lebat, keriting. Kumisnya tipis, janggutnya tebal. Guru bahasa inggrisku, pak Suhadi namanya, satu-satunya guru di sekolah yang memakai sepeda ontel tua, sepeda unta, sepeda lanang, sementara kebanyakan guru memakai sepeda motor, kepala sekolah memakai mobil tua, beberapa guru jalan kaki karena rumahnya dekat dengan sekolah, sekitar 500 meter.

Pak Suhadi dalam mengajarnya selalu ada nyanyian dan guyonan. Bahasa Inggris tidak menjadi mata pelajaran menakutkan bagi kami murid-muridnya, seperti matematika dan fisika. Dalam memberikan pengajaranya pak Suhadi memberikan contoh yang mudah dan selalu dihubungkan dengan tuhan.

Tidak suka marah-marah, tidak pernah menjewer apalagi menempeleng. Meski murid-muridnya termasuk diriku tidak mengerjakan pekerjaan rumah, datang terlambat, mbolos sekolah, dan bicara sendiri bahkan main di kelas. Pak Suhadi hanya menggeleng-gelengkan kepala atas tingkah laku muridnya yang nakal. Kalau berkata tidaklah panjang-panjang, sekedar memperingatkan, “jangan telat lagi ya”, “hei kalian jangan main di kelas, saya sedang mengajar ini”, “eh mainnya nanti, pas jam istirahat atau pulang sekolah”, “kalau di kelas tidak boleh main, nanti kalian sulit pintar dan masa depan kalian akan suram”.

Di mata para guru, sosok dan tingkah laku pak Suhadi jadi perbincangan rerasan tak berkesudahan. Hampir 70 persen guru sekolah kami adalah perempuan. Yang pertama adalah pak Suhadi adalah satu-satunya guru di sekolah yang belum menikah di usianya hampir 50 tahun. Yang utama cara mengajar menyimpang dari pakem dan menghadirkan sosok guru pak Suhadi kurang berwibawa.

Baca juga:  Cinta Dunia Maya

Wali kelasku pernah bilang sebelum memulai proses belajar mengajar di kelas di hadapan murid-muridnya; “guru itu kan digugu dan ditiru, entahlah dengan pak Suhadi, kalian sendiri pasti tahu, seorang guru itu harus punya wibawa. La pak Suhadi itu guru gimana, kurang berwibawa dan membiarkan saja kondisi itu. Masak ketika pak Suhadi mengajar ada anak-anak di dalam kelas main pingpong dibiarkan saja. Ah itu kan menyulitkan kami sebagai guru.”

Murid-murid mendengarkan termasuk diriku. Memang aku juga merasakan bagaimana memperlakukan pak guru Suhadi memang beda, memang aneh, beda dengan guru lainya. Aku merasakan terkadang dan seringnya kami sebagai murid kurang menghormati pak guru Suhadi.

“Aku mengharapkan kalian jangan terlalu kurang ajar pada pak guru Suhadi….biar bagaimanapun dia itu guru, orangnya sabar, taat beribadah, alim….ya tapi aku sadar memang itu susah bagi kalian, karena, entah bagaimana benarnya, pak Suhadi memang begitu.”

Di mata murid-murid, sebenarnya menyukai pak Suhadi namun sekaligus menyayangkan kondisinya sebagai guru yang lemah dan kurang terhormat. Aku sendiri tak bisa berkata, bersikap dan berbuat apa-apa. Aku menyukainya. Aku sebenarnya tak rela teman-teman sekolah kurang menghormati pak Suhadi. Tapi aku tak berani menegur mereka. Jadi?

-*-

“Suf, Yusuf, ayo salat sunat dhuha, bersama aku”

Ajak pak Suhadi padaku untuk melakukan salat sunat dhuha pada jam istirahat. Entah berapa kali pak Suhadi mengajak, namun aku selalu menolak, dan pak Suhadi tak pernah bosan mengajak, bukan kepadaku saja, melainkan pada murid lainya yang ditemuinya di sekitar musala milik sekolah.

Enak mbakso ketimbang salat sunat dhuha pak, begitu kata hatiku setiap kali diajak. Namun aku tak pernah mengatakan terus terang karena segan. Memang jam istirahat ada setengah jam, dari jam 9 pagi sampai jam setengah sepuluh pagi. Mbakso paling butuh waktu 10 sampai 15 menit. Masih ada waktu untuk melakukan salat sunat dhuha kalau mau. Namun setelah mbakso, enakan ngobrol, bermain dengan teman-teman, menggoda cewek-cewek, belajar pacaran cinta monyet, ketimbang salat sunat dhuha.

“Suf, Yusuf, ayo salat dhuhur berjama’ah sama aku”

Begitu pak Suhadi mengajak aku untuk melakukan salat dhuhur berjama’ah sehabis jam pelajaran, waktu mau pulang ke rumah. Entah berapa kali pak Suhadi mengajak diriku dan teman-teman lainya, namun aku selalu menolak, dengan berbagai alasan, misalnya “lapar pak”, “besok-besok aja pak”, dan pak Suhadi tak pernah bosan mengajak salat dhuhur berjama’ah.

Baca juga:  Gagasan Pokok Pesantren dan Kebudayaan

Namun suatu ketika aku menerima ajakanya. Alasanku ingin tahu kaitan antara pak Suhadi dengan musala di bawah naungan pohon beringin. Aku pernah melihat pak Suhadi di suatu sore hari berada di musala, bersama banyak orang, ketika aku sedang bermain ke rumah Iwan, bermain bola menantang desa tetangga.

Setelah ikut salat dhuhur berjama’ah bersama pak guru Suhadi, aku menyempatkan diri bicara beberapa saat denganya.

“Pak Suhadi, aku pernah lihat pak Suhadi di musala yang dekat dengan pohon beringin, ada acara apa itu pak?”

“Itu acara pengajian”

“Kok yang kukenal hanya pak Suhadi, kok nggak ada masyarakat sekitar, pak?”

Untuk beberapa saat begitu tenang. Pak Suhadi kemudian tersenyum sebelum memberikan keterangan.

“Kami ini orang islam. Mungkin berislam kami berbeda dengan kebanyakan ormas islam di Indonesia. Tidak seperti NU dan Muhamadiyah. Kami menjalankan berislam kami secara sungguh-sungguh, konsekuan. Kami melihat kebanyakan berislam di Indonesia kurang murni. Untuk itulah kami tampil mempertahankan dan memunculkan Islam yang murni dari rasulullah.”

Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang dikatakan pak guru Suhadi. Jangankan islam murni, islam NU, islam Muhamadiyah aku gak ngerti benar mana bedanya mana persamaanya. Dan tentunya aku lebih tidak ngerti mana islam yang sebenarnya, benar manakah cara berislamnya NU, Muhamadiyah, atau berislamnya pak Suhadi berikut organisasinya. Paling yang aku mengerti islamnya NU itu pakai qunut Muhamadiyah tidak pakai. Islamnya pak Suhadi kalau ada acara keagamaan di musala tidak ada penduduk sekitar yang ikut, sementara islamnya NU atau Muhamadiyah kalau ada acara pengajian penduduk sekitar ikut, acaranya gayeng.

“Musala kami dirikan di tempat itu, karena di tempat itu banyak terjadi kesyirikan, sementara umat islam, ormas islam seperti membiarkan saja, maka kami masuk dengan jalan mendirikan musala di tempat seperti itu.”

Rasa lapar membuatku berpamitan pada pak Suhadi untuk segera pulang selain alasan banyak omongan dari pak Suhadi tidak kupahami.

-*-

Sampai di rumah aku bercerita pada ayah tentang guru bahasa inggrisku setelah salat asar berjama’ah. Aku cerita bagaimana cara mengajarnya, bagaimana sikap teman-temanku dan guru-guru lainya terhadap guru bahasa inggrisku itu. Entah mengapa ayah sepertinya tertarik mendengar ceritaku kali ini. Terutama ketika kuceritakan tentang hubungan guru bahasa inggrisku dengan musala di bawah naungan beringin dan kegiatan keagamaan yang dilakukan.

Baca juga:  Hujan Melahirkan Anjing

“Mereka itu bukan penduduk sekitar, mereka kebanyakan dari luar, datang-datang bikin musala, yang njaga dan nunggunya harus mbayar orang, jama’ahnya sedikit, acara kegamaanya tidak mengikutkan penduduk, berislam bagaimana itu, uh, selalu makai hadis-hadis, merasa paling ahli soal hadis, tidak suka berkumpul dan bermusyawarah dengan umat Islam, dengan suka tampil Islam beda.”

Ayah bicara keras, cepat dan panjang. Ayah marah.

“Nak, Suf, Yusuf, anakku, ayah berpesan, meski mereka itu, meski guru itu, sama-sama beragama islam seperti kita, aku harap engkau berhati-hati ya nak, jangan suka turut ajakan mereka ya nak, tanyakan dulu pada orang tuamu.”

Semenjak ayah memberikan nasehat seperti itu, aku menjadi menjaga jarak simpatiku pada pak guru Suhadi. Simpatiku tidak membabi buta. Aku sesekali ikut salat sunat dhuha dan salat berjamaah dhuhur dengan pak Suhadi. Namun aku tidak menyetujui tingkah laku teman-teman yang meremehkan pak guru Suhadi dan aku tidak sreg jika guru-guru lain membicarakan pak Suhadi di kelas dengan nada mengeluh dan hanya mengeluhkan saja sosok guru yang menurut mereka gagal berwibawa.

Aku teringat perkataan ayahku bahwa slogan golongan islam kalangan pak Suhadi ingin menyingkirkan sumber kesyirikan di desa itu dengan mendirikan musala, nyatanya pohon beringin masih menaungi musala kecil itu dengan rimbunya. Aku teringat perkataan pak Suhadi, sulit untuk merobohkan pohon beringin itu, bukan saja karena banyak penduduk desa yang melawan, tapi dalam kalangan islam pak Suhadi sendiri, kalangan bermodal, berkuasa dan bersenjata menolak melawan kemusyrikan dengan jalan merobohkan pohon beringin itu.

Sore itu, diusiaku yang ke-40, pohon beringin masih berdiri masih rimbun. Aku menyempatkan mampir ke musala itu untuk salat asar dan kencing. Musala kecil itu sepi dan terkunci. Beranda musala yang pendek. Tiada air mengalir di tempat wudhu. Pintu WC tertutup. Rumah penjaga atau penunggu itu sepi dan terkunci.

Duh, lebaran ini aku ingin bertandang ke rumah pak Suhadi. Namun aku tak tahu alamatnya dan selama sekolah tak pernah bertanya alamat rumahnya dan belum sekalipun bertandang ke rumahnya.

Sore hampir habis aku segera meninggalkan musala kecil di bawah naungan pohon beringin yang masih rimbun.[] Temanggung, Juni 2016

masjidistiqlal - Pak Guru Suhadi, Musala, dan Pohon Beringin

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi