Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah refleksi

Bulan puasa tiba, dan Pak M harus berpuasa di penjara. Saya mengenal Pak M. Ia pensiunan pegawai negeri sipil, dan pernah menjadi pejabat pemerintah. Di hari tuanya, ia harus berurusan dengan pengadilan, karena tersangkut dugaan korupsi semasa menjabat.

“Saya lebih lega berada di penjara,” kata Pak M kepada saya. Kepalanya masih agak botak. Kumisnya yang tebal melintang semasa masih menjadi pejabat, kini terpangkas habis. Disuruh cukur kumis sama sipir penjara, kata dia.

Saya kurang bisa memahami, bagaimana seseorang justru merasa lega di dalam penjara. Tapi Pak M tidak hendak bercanda. Di penjara, ia justru bisa makan enak, tanpa beban, dan tidak diburu rasa khawatir. Padahal tak ada yang istimewa: ia makan dari katering yang sama seperti narapidana lainnya. Sanak-kerabat jarang dimintanya membawa makanan yang disukainya.

Baca juga:  Al-Biruni, Sang Eksperimentalis Besar

Pak M memperlihatkan kancing celananya yang tak tertutup rapat karena perutnya lebih gendut dari biasanya. Seorang narapidana kasus pembunuhan yang harus menjalani hukuman 15 tahun penjara iri kepada Pak M. Si napi tak bisa makan senyaman dan seenak dia. “Orang bilang, saya ini cepat menerima keadaan,” katanya.

Di luar penjara, jantung Pak M justru terasa berdegup lebih kencang jika ada nomor tak dikenal masuk ke ponselnya. Ia khawatir sang penelpon adalah tukang teror, tukang ancam, atau tukang peras. Namun ia juga takut salah sangka: sang penelpon justru orang penting.

Suatu kala, Pak M sedang berada di kedai bakso. Semangkuk bakso sudah tersaji di mejanya, dan telpon dari seorang aparat kepolisian masuk saat ia hendak menyantapnya. Si aparat mengabarkan, bahwa berkas kasus Pak M sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Pak M diminta mendatangi kantor kejaksaan.

Baca juga:  Hutang dan Asal-Usul Kebencian terhadap “Orang Luar”

Pak M bertanya soal kemungkinan dirinya ditahan. “Saya tidak bisa menjawab. Itu kewenangan kejaksaan,” kata si aparat.

Kabar itu membuat perut Pak M kenyang mendadak. Daging-daging bulat bakso sudah tak menarik minatnya. Ia menyorongkan mangkuk baksonya kepada salah satu pengunjung kedai yang sedang menanti untuk dilayani. “Anda dulu saja. Saya yang bayar,” kata Pak M kepada sang pengunjung itu.

Dan penjara tak seburuk apa yang dibayangkan Pak M. Senyumnya bisa mengembang lebih lebar, karena fase tersulit dalam hidupnya sudah terlewati: meyakinkan diri sendiri. Ia cepat menyesuaikan diri, dan menjadi tempat para sipir dan penghuni penjara lain menghibur diri. Pak M punya segudang cerita kocak yang bisa membuat orang terpingkal-pingkal.

Baca juga:  Seandainya Tak Ada Wahib

Pak M sudah lima bulan berada di lembaga pemasyarakatan, menanti sidang peradilannya berakhir. Jaksa menuntutnya dipenjara satu tahun, dan membayar denda Rp 50 juta. Ia tinggal menanti vonis hakim, dan ia merasa lebih menyadari keberadaan Tuhan di selnya. Di Penjara, sejak lama, ia membiasakan diri berpuasa dari Senin hingga Kamis, bangun tengah malam dan melaksanakan salat tahajud, membaca kitab suci: sesuatu yang tak bisa rutin dilakukannya semasa bebas.

Ramadan tiba, dan Pak M tetap bersyukur masih bisa berpuasa di penjara.[]

coverpakm - Pak M Berpuasa di Penjara

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi